
Kembalinya Kaka ke mansion di sambut hangat oleh para ajudan dan juga tuan pertama ternyata sudah ada di sana.
Kehadiran penerus Aldarberto membuat semua orang antusias bahkan Cherry meminta pergi untuk melihat namun tuntutan seorang Ratu tak bisa membuat Cherry seenaknya berpergian karena akan sangat bahaya.
Sungguh keluarga Aldarberto di hiasi oleh kebahagiaan.
Tuan pertama tersenyum melihat adiknya terlihat bahagia bahkan bibirnya tersenyum pada orang lain. Ini fenomena yang sangat langka.
Tak biasanya Kaka tersenyum bahkan tuan pertama sendiri jarang melihatnya. Namun, semenjak hadirnya Aurora membuat kehidupan Kaka benar-benar berubah.
Seperti nya tuan pertama harus berkunjung ke Indonesia bertemu Farhan mengucap terimakasih karena sudah memberikan Aurora pada keluarga mereka.
Sungguh kebahagiaan ini tak bisa di jabarkan tuan pertama benar-benar bahagia.
Beberapa mobil terparkir indah di halaman depan.
Semua ajudan bergegas membukakan pintu, mereka tahu siapa yang datang.
Profesor Tuner, Edward tak lupa ada Vivi ikut serta bersama mereka.
Namun tak ada Qennan di sana entah kemana manusia satu itu.
Vivi ingin sekali berlari dan bersorak riang memeluk sahabatnya namun Vivi tahu di mana posisi dia.
"Dad, pelan-pelan!"
Tegur Edward karena profesor Tuner tak memerhatikan jalannya.
Profesor Tuner sudah tak sabar ingin melihat cucu nya.
Edward hanya mendengus kesal melihat profesor Tuner yang antusias begitu padahal kondisinya sedang tak sehat namun selalu keras kepala.
"Uncle!"
Profesor Tuner hanya tersenyum membalas sapaan tuan pertama yang langsung siaga membawa profesor Tuner ke kamar utama di mana Kaka dan Aurora berada.
Cklek ...
Pintu kokoh itu terbuka membuat Kaka dan Aurora menoleh.
"Uncle, kau sedang tak seha--"
Tuan pertama menggelengkan kepala mengisyaratkan agar Kaka tetap diam.
Profesor Tuner mendekat sambil tersenyum melihat cucu yang sedang tertidur.
"Namanya?"
"Alice Kimberly Aldarberto!"
"Hm, nama yang bagus!"
Gumam profesor Tuner memegang tangan mungil Kim yang tertidur.
"Harusnya sendari dulu kau memberiku cucu!"
Ketus profesor Tuner membuat Kaka hanya diam saja sudah biasa dengan ucapan itu.
"Kaka, bujuk adik mu dia terus saja mengulur waktu!"
Edward menghela nafas berat mendengar ucapan profesor Tuner, lagi-lagi itu yang di bahas.
Edward bukan mengulur waktu tapi pekerjaan yang membuat dia tak ada waktu.
__ADS_1
"Vivi sini,"
Aurora melambaikan tangannya agar mendekat. Dengan ragu Vivi mendekat dengan kepala menunduk tak berani menatap orang-orang.
Aurora paham betul bagaimana posisi Vivi yang pasti tak enak.
Tak biasanya Vivi menahan diri ketika bertemu dengannya. Padahal biasanya Vivi tak akan peduli sekitar jika sudah dekat dengannya.
"Selamat ya!"
Aurora menautkan kedua alisnya aneh melihat ekspresi Vivi. Aurora yakin pasti ada sesuatu yang membuat sahabatnya seperti ini.
"Ed!"
Kaka mengisyaratkan agar Edward mengikutinya.
Edward lagi-lagi hanya bisa menghela nafas mengikuti langkah kaki Kaka yang sudah tahu kemana.
Profesor Tuner dan tuan pertama juga keluar ingin membahas sesuatu yang penting.
Kini tinggallah Vivi dan Aurora di dalam kamar begitu juga Kim yang memang di tempatkan di boks baby khusus di mana tak akan terganggu oleh suara.
"Kenapa?"
Aurora langsung to the point karena memang Aurora tak suka basa-basi.
"Jika tak mau jangan di paksa!"
Vivi mengangkat kepalanya menatap Aurora intens. Bagaimana Aurora tahu kegundahan hatinya, namun sejenak Vivi menghela nafas pasti Jendra Kaka yang memberitahu Aurora.
"Aku tak tahu, aku bingung!"
"Tak biasanya sahabat ku seperti ini, biasanya kau tak akan ragu setiap mengambil keputusan!"
Deg ....
Aurora terdiam paham betul bagaimana yang di rasakan Vivi. Aurora merasakannya walau jalan mereka sedikit berbeda.
"Jangan terlalu banyak pikiran, semua sudah berlalu dan itu demi kebaikan mu!"
"Tapi mereka membuatku menderita!"
Aurora menggenggam tangan Vivi, ia tahu perjalanan Vivi sampai saat ini tak mudah. Aurora kenal Vivi bukan satu atau dua tahun tapi sepuluh tahun.
Teringat jelas di ingatan Aurora saat pertama kali mereka bertemu di kampus. Vivi gadis ceria, periang, pekerja keras dan penuh tanggung jawab.
Itulah membuat Aurora tertarik berteman bersama Vivi saat itu di saat orang-orang menganggap Vivi rendah.
"Ada kalanya kita kecewa itu wajar! Tapi satu yang harus kamu ingat! Mereka melakukan itu demi kebaikan mu!"
"Kebaikan apa! Kenapa semua orang berkata begitu tapi tak pernah menjelaskan alasannya!"
Lilir Vivi menahan segala gejolak hati ya. Matanya mulai memerah menahan genangan air mata agar tak tumpah.
Aurora menarik Vivi kedalam pelukannya berharap Vivi akan tenang. Ia tahu Vivi selama ini sangat menderita bohong jika Aurora tak tahu.
Vivi selalu ceria hanya ingin menutupi segala luka di hatinya. Tapi, di hadapan Aurora Vivi tak bisa apa-apa. Aurora terlalu sulit di kelabui.
"Jika kamu tak mau tak apa, biar aku yang bicara dengan prof!"
Vivi hanya diam saja bingung akan semuanya. Vivi tahu Aurora tak akan pernah membiarkan ia dalam kesulitan namun entah kenapa Vivi tak bisa menolak.
Entah karena kebaikan prof Tuner, Jendral Kaka yang menyelamatkan Arsen atau entahlah Vivi pusing memikirkan semuanya.
__ADS_1
Vivi tak mau punya utang Budi pada keluarga Aldarberto terlebih Aurora ada dalam bagian Aldarberto membuat Vivi semakin sulit menolak.
"Ak-aku ...Ak-aku!!!"
"Sudah! Pikirkan baik-baik! karena semuanya menyangkut masa depan kamu!"
Tegas Aurora tak mau menekan, Aurora akan mendukung semua keputusan Vivi apapun itu.
Vivi terdiam kembali dengan pikiran kalutnya. Ada banyak hal yang Vivi pikirkan bukan tentang sekedar menerima pernikahan itu karena Edward pun tak memaksa akan hal itu.
Bahkan Edward terang-terangan bicara tak menyukai dia ia menerima karena tak mau mengecewakan profesor Tuner.
Apa hal yang sama juga akan Vivi lakukan namun Aurora pasti tak menyukai itu jika tahu.
Lalu apa yang harus Vivi lakukan, semuanya membingungkan. Di tambah Arsen sekarang sekolah di biayai oleh profesor Tuner.
"Vi!"
"Hm!"
"Ikuti kata hati mu!"
"Bagaimana dulu kamu menerima Jendral Kaka?"
Tanya Vivi karena memang hal satu ini belum Aurora ceritakan.
"Aku yakin pilihan papa sama bunda tak pernah salah!"
"Seyakin itu?!"
"Bukan aku tapi tatapan papa yang membuat aku melangkah sejauh ini!"
"Lalu!"
"Cinta itu tumbuh dengan sendirinya apalagi Kaka berbeda dengan Kaka di luar sana atau saat bersamaku!"
"Baiklah!"
"Apa!"
Bingung Aurora akan ucapan Vivi yang terdengar ambigu.
"Menurut mu!"
Deg ...
Aurora terkejut akan sikap Vivi bagaimana bisa Vivi melemparkan jawaban itu padanya. Ini hidup Vivi dan dia yang akan menjalani kenapa harus dirinya yang menjawab.
"Di dunia ini kau satu-satunya yang ku anggap saudara. Jadi katakan langkah apa yang harus ku ambil!"
"Vi, kau!"
Pekik Aurora tertahan tak menyangka akan jalan pikiran Vivi yang menurutnya aneh dan menyebalkan kenapa harus ia yang memutuskan.
"Aku tak mau menjawab!"
"Maka keputusan itu akan terus tergantung!"
"Kau!"
Murka Aurora menatap tajam Vivi yang tersenyum seringai. Gadis ini benar-benar kembali membuat Aurora pusing.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...