Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 140 K: PC 2 (Balasan)


__ADS_3

Bukan hanya satu atau seminggu saja namun dalam sebulan ini sikap Vivi memang benar-benar berbeda terlihat hangat tak sedingin dulu.


Edward pikir Vivi berubah karena dia sakit saja waktu itu tapi sikap hangatnya nyatanya sampai sekarang bahkan bibir Vivi selalu saja tersenyum ketika berbicara dengannya.


Terlebih Vivi tak mau jauh dengannya setiap mereka keluar Vivi tak lepas menggandeng lengan Edward.


Hari ini rencananya mereka akan naik gunung, itu semua permintaan Vivi.


Edward selalu mengabulkan apapun yang Vivi inginkan asal Vivi bahagia. Perlengkapan sudah mereka siapkan tentu kedua bodyguard yang membawanya mereka berdua membawa yang ringan saja.


Entah tahu di mana Vivi naik gunung seperti nya melihat postingan-postingan orang lain di Instragram membuat Vivi menginginkannya bermalam di puncak gunung seperti nya menyenangkan.


Walau jalan yang mereka lalui tidaklah mudah bahkan Vivi beberapa kali harus di gendong oleh Edward karena kecapean. Namun, perjalanan mereka membuahkan hasil mereka sampai di atas sana.


Karena mereka mendaki bukan hari pendaki dan juga bukan hari libur tentu hanya sedikit pendaki yang mendaki.


Dua bodyguard menyiapkan tenda untuk tuan mereka dan juga untuk dirinya. Pekerjaan mereka memang cape dan lelah namun terbayar dengan gajih mereka yang sangat fantastik bahkan gajih mereka melebihi orang normal.


Tak bisa di bayangkan keindahan itu sungguh Vivi benar-benar puas. Walau udara semakin malam semakin dingin namun tak jadi masalah. Mereka membuat api unggun sambil membakar jagung, hal yang mereka lakukan sangatlah romantis.


Sinar rembulan di atas sana sangatlah indah di hiasi gemerlap bintang.


Dua bodyguard karena kecapekan membuat Edward menyuruh mereka tidur duluan. Edward bukan majikan jahat yang membiarkan bodyguard kelelahan.


kedua bodyguard itu sangatlah senang ketika Edward menyuruh mereka istirahat apalagi memang mereka butuh itu. Sudah makan rasanya enak langsung tidur menarik selimut apalagi cuaca sangatlah dingin.


Edward dan Vivi masih terjaga menikmati suasana di puncak gunung.


Mereka berbincang ringan dengan Vivi tidur di atas pangkuan Edward. Mereka bercerita sedikit tentang kehidupan masing-masing agar mereka lebih mengenal. Malam ini mereka seperti dua sahabat yang sedang memahami satu sama lain.


Edward menundukkan kepala guna melihat wajah cantik Vivi di bawah sinar rembulan. Bibir Vivi terus saja mengoceh membuat Edward terhipnotis, bibir itu seolah mengundang Edward untuk datang.


Edward menutup mata Vivi membuat Vivi menghentikan ceritanya.


"Ed kenapa menutup mata ku?"


Edward tak menjawab kepalanya terus menunduk hingga berhenti tepat di depan bibir Vivi.


"Ed--"


Cup ...


Vivi terdiam ketika Edward menciumnya lembut berbarengan dengan Edward menjauhkan tangannya.


Kecupan itu sangatlah lembut dan penuh perasaan membuat Vivi hanyut kedalamnya bahkan kali ini Vivi membalas apa yang Edward lakukan.


Biasanya Vivi hanya pasrah saja bak boneka jika Edward menciumnya kali ini Vivi membalasnya walau Edward sedikit terkejut namun Edward tak bisa melepaskannya.

__ADS_1


"Andai kita ada di villa aku tak ingin melepaskan kamu!"


Jujur Edward sungguh menginginkan Vivi saat ini.


Vivi tersenyum mendengarnya, tangan Vivi mengelus rahang Edward sensual.


"Kenapa tak lakukan saja!"


"Jangan memancing my love, kamu berkata begini karena tempat ini tak memungkinkan!"


"Aku tak memancing, kenapa tak kita jadikan momen indah di sini!"


Edward memandang Vivi serius namun di mata Vivi tak ada keraguan sama sekali.


Edward menggendong Vivi menuju tenda namun Vivi menggeleng.


"Aku ingin menatap rembulan sana di bawah kungkungan mu!"


"Apa kamu tak takut?"


"Bersamamu aku tak takut!"


Jawaban Vivi sungguh membuat Edward tertantang, mungkin Vivi benar ini akan menjadi momen terindah bagi mereka apalagi susana sangat mendukung.


Edward menggendong Vivi menjauh dari tenda mencari tempat yang nyaman dan aman.


Entah kemana Edward membawa Vivi tapi Edward tahu tempat mana yang bagus karena dia tadi siang sempat melihat-lihat ketika mencari kayu bakar.


Edward menurunkan Vivi lalu merentangkan jaket tebal yang ia pakai. Edward menarik Vivi merapat pada tubuhnya.


Sebuah selimut Edward lilitkan pada tubuh mereka berdua, Edward tak mau buru-buru mereka benar-benar menikmati momen indah itu.


Hembusan angin yang cukup dingin tak menghalangi aktivitas mereka. Di bawah sinar rembulan Vivi bisa melihat dengan jelas wajah tampan Edward di atas tubuhnya.


Vivi menangkup wajah tampan Edward yang memerah terlihat semakin hot dengan tamaran sinar rembulan. Vivi menariknya pelan mengecup kepala Edward lembut membuat Edward memejamkan kedua matanya menikmati kelembutan yang Vivi berikan.


Edward merasa hidup ketika Vivi membalas setiap apa yang ia lakukan.


"Ed kau sangat tampan!"


Puji Vivi membuat Edward semakin memerah apalagi menahan hasrat yang ingin segera tersalurkan.


"Kemanapun kamu pergi pulanglah padaku, karena aku adalah rumah mu!"


Deg ...


Hati Edward berdesir mendengar kalimat yang Vivi ucapkan bak alunan syair yang membuat hatinya tentram.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hari ini, esok dan seterusnya aku adalah rumah mu dan kamu adalah rumah ku!"


Tes ...


Setetes air mata membelai wajah Vivi membuat Vivi terkejut melihat Edward malah menangis.


"Kenapa kamu menangis, hm!"


"Terimakasih my love, sudah mau menjadi rumah tempatku pulang!"


"Bukan hanya rumah tempat kamu pulang tapi rumah untuk anak-anak kita juga!"


Ucapan Vivi benar-benar bak magnet yang membuat Edward tak bisa lagi melepaskan Vivi.


Edward bersumpah Vivi satu-satunya rumah untuknya pulang dan Vivi sudah mengijinkan itu artinya itu adalah jawaban yang ingin Edward dengar sendari dulu.


Jawaban yang benar-benar membuat Edward bahagia pada akhirnya Vivi telah membuka hatinya membuka untuk ia masuk kedalam.


Sungguh tak ada kebahagiaan yang Edward rasakan sebelumnya. Ini suatu kebahagiaan yang benar-benar tak akan Edward lupakan.


Vivi sudah mengijinkannya makan Edward bersumpah tak akan melepaskan Vivi sampai kapanpun. Edward sudah menemukan rumah untuknya pulang dan ia benar-benar sangat bahagia bahkan perasaan sangat meledak.


Bukan hatinya yang puas namun juga jiwa raganya sangat puas.


Benar kata Vivi hari ini seperti nya momen yang sangat indah bagi mereka momen romantis yang tak akan pernah bisa mereka lupakan. Momen yang akan terus terukir di ingatan Edward dan Vivi.


"Terimakasih my love teri---"


Suttt ...


Vivi membekam mulut Edward dengan nafas memburu, cucuran keringat terlihat indah berkilau di bawah sinar rembulan.


Cup ...


Vivi mengecup bibir seksi sang suami dengan sedikit tekanan membuat Edward diam saja.


"Aku yang harus berterima kasih pada mu, terimakasih sudah menjadi rumah untuk ku pulang, My heart!"


Senyuman indah terukir di bibir Edward mendengar setiap pengakuan Vivi, sungguh setiap kalimat yang Vivi ucapkan membuat hati Edward berdebar kencang.


"Seperti nya waktunya aku mengurung mu, my love!"


"Aku tak akan kabur, my heart!"


Mereka sama-sama tersenyum, Edward menarik Vivi kedalam pelukannya menatap rembulan di atas sana menjadi saksi balasan hati Edward.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2