
Aurora bernafas lega ketika ia sudah kembali ke tanah air.
Kenapa harinya selalu sial dan sial lebih sialnya lagi kenapa harus menolong orang dalam keadaan seperti itu.
Tak di Indonesia tak di Jerman kenapa ia harus menolong orang dalam keadaan mengerikan bahkan sudah dua mobilnya ia tinggalkan karena tak mungkin membiarkan orang tergeletak begitu saja dalam keadaan seperti itu.
Untung saja kedua orang tuanya tak curiga dan tak menanyakan kemana mobil.
Di bandara para bodyguard sudah standby menjemput sang nona muda.
Aurora berusaha menormalkan raut wajahnya agar para bodyguard tak curiga.
Karena kurang tidur Aurora tertidur di perjalanan menuju mansion. Para bodyguard tak berani membangunkan sang nona muda karena takut menggangu istirahat nya. Apalagi terlihat wajah damai nan lelah membuat Aurora tertidur nyenyak.
Queen mengerutkan kening melihat para bodyguard yang malah diam tepat di depan mobil.
Farhan berjalan mendekat membuat para bodyguard menunduk hormat.
"Ada apa?"
"Maaf tuan, nona muda tertidur!"
Farhan mengisyaratkan untuk mundur, perlahan Farhan membuka pintu mobil hati-hati karena takut sang putri terbangun.
Dengan pelan Farhan menggendong sang putri. Farhan diam sejenak menatap wajah lelah sang putri. Farhan merasa Dejavu dengan semua ini, seolah Aurora masih putri kecilnya.
Walau sudah tak lagi muda kekuatan Farhan jangan pernah di ragukan lagi. Queen hanya bisa mengekor dari belakang.
Dengan pelan Farhan membaringkan Aurora di atas ranjangnya. Queen dengan cepat menyelimuti sang putri yang nampak lelah terlihat sekali Aurora tak terusik sedikitpun dengan gerakan Farhan.
Sejenak Farhan terdiam menatap sang putri yang tertidur dengan pulas nya.
Perputaran waktu ternyata begitu cepat dulu Aurora masih manja padanya namun semenjak pertengkaran itu kini putrinya menjauh seolah sulit Farhan gapai.
Padahal mereka satu atap namun Aurora tak banyak bicara padanya berbeda ketika dengan Queen ataupun Aksara.
Queen mengelus pundak sang suami menguatkan. Farhan tersenyum seolah mengatakan ia baik-baik saja.
Farhan keluar begitu saja setelah mengecup puncak kepala sang putri.
Genangan air mata hampir saja jatuh jika tak Farhan tahan. Sebentar lagi akan di mulai menciptakan babak baru yang mengubah semua.
Keputusan yang sangat berat Farhan buat bahkan hatinya jauh lebih sakit di banding Aurora sendiri.
"Apa ini sudah benar yah?"
Ragu Queen untuk melangkah padahal langkah mereka tinggal satu lagi untuk mengubah semuanya.
__ADS_1
"Ini yang terbaik!"
Tegas Farhan membuat Queen hanya bisa mendukung saja apapun keputusan sang suami.
Semua juga demi masa depan Aurora menjadi apa yang ia inginkan.
Mencapai ketitik ternyaman itu sangatlah sulit di mana kita harus melewati berbagai rintangan.
Demi menutup perseteruan Farhan harus melepas Aurora. Farhan sudah berjanji pada sang mama jika kelak putra-putri nya tak boleh ada seperti dirinya bergelut di dunia bawah.
Untuk mencegah itu semua Farhan harus mengorbankan Aurora karena hanya Aurora yang bisa.
"Ayah, bunda sudah ngantuk!"
Farhan tersenyum sang istri bisa saja menghangatkan hatinya kembali.
Farhan membawa sang istri ke kamar Farhan tak bisa mengabaikan sang istri begitu saja karena kesehatan sang istri lebih penting dari apapun.
.
Di dalam kamar Aurora menggeliat merasakan tidurnya begitu nyaman padahal ia berada di dalam perjalanan namun ini terasa aneh.
Nyaman!
Batin Aurora enggan membuka kedua matanya. Aurora mengeratkannya pelukannya pada guling di sampingnya seolah Aurora sedang bermimpi tidur bersama seseorang.
Sayang!
Aurora terperanjat kaget mendengar suara asing yang menyapa telinganya. Bahkan Aurora sampai membanting guling yang ia peluk. Nafas Aurora memburu dengan dada turun naik.
Aurora menatap sekeliling ternyata ia sudah berada di kamarnya.
"Mimpi apa tadi!"
Lilir Aurora gemetar sambil menggigit bibir bawahnya. Sungguh mimpi tadi sangat indah namun mengerikan juga.
Aurora mengusap pipinya yang masih terasa nyata di mimpi itu ketika pipinya di elus lembut oleh lengan berotot seseorang.
Sungguh Aurora benar-benar terkejut baru kali ini ia bermimpi seperti ini mimpi yang tak pernah terlintas sama sekali di pikiran Aurora.
Siapa laki-laki yang tanpa izin menyelinap masuk kedalam mimpinya.
"Ini hanya mimpi!"
Monolog Aurora baru ngeh jika ini hanya mimpi karena saking terkejutnya hingga terasa nyata.
"Siapa yang membawaku ke kamar!"
__ADS_1
Aurora berusaha mengingat namun tak mengingat sama sekali namun harum parfum seseorang sangat menempel di tubuhnya dan Aurora tahu siapa yang memakai parfum wangi Woody floral musk.
"Papa!"
Hanya sang papa yang memakai parfum wangi menyegarkan ini. Apa benar sang papa yang membawanya ke kamar.
"Papa!"
Entah kenapa hati Aurora bergetar haru ia sangat merindukan ini namun egonya yang menekan enggan berbaikan dengan sang papa. Hati Aurora terlalu kecewa dengan semuanya hingga menyangkal kerinduan yang sudah lama membelenggu.
Tujuh tahun bukan perjalanan mudah bagi Aurora membenci sang papa akan semuanya. Ini sangat menyakitkan sekali bahkan lebih sakit dari apapun.
Aurora melirik jam di ponselnya ternyata sudah jam sebelas malam mungkin kedua orang tuanya sudah tertidur juga.
Berarti Aurora tidur sangat lama sekali sampai tak sadar seperti ini. Bagaimana Aurora tidak tidur pulas jika perjalanan panjang yang begitu melelahkan apalagi masalah yang membuat Aurora sampai bergadang.
Ingatan Aurora tertuju pada laki-laki yang ia tolong.
"Apa dia masih hidup!"
Entah kenapa Aurora malah mengingatnya padahal Aurora kabur karena tak mau berurusan.
"Apa peduliku!"
Monolog Aurora lagi kesal pada dirinya sendiri, ia sangat kesal sekali perasaan nya bercampur aduk.
"Aku dokter, wajar aku peduli!"
Tegas Aurora menyakinkan dirinya jika jiwa Dokter Aurora sudah kambuh ia akan selalu seperti itu.
Pantas saja semua pasien sangat nyaman jika Aurora yang memeriksanya karena Aurora begitu ramah dan murah senyum membuat siapapun nyaman di periksa Aurora apalagi Aurora bukan sekedar memeriksa namun juga memerhatikan sampai Pasien benar-benar sembuh.
Pantas gelar Dokter Jingga tersemat untuk Aurora karena jingga melambangkan warna ketenangan dan kenyamanan apalagi keahlian nya yang tak bisa di ragukan lagi. Otak Aurora begitu cerdas dalam hal medis bahkan Aurora sendiri tak tahu kenapa tangan dan otaknya sangat ahli di bidang medis. Padahal setahu Aurora keluarganya tak ada satupun yang menggeluti bidang kedokteran.
Tak ada yang tahu karena semuanya di tutup rapat-rapat oleh Farhan dan uncle Smith karena keluarga mereka yang mempunyai keahlian langka itu membuat semuanya hancur.
Bahkan uncle Smith pun di Jerman menekan anak-anak sendari kecil menggeluti bidang masing-masing namun tak bidang yang satu itu.
Keahlian yang langka yang jarang di miliki orang bahkan dengan cara memandang saja keahlian itu bisa menebak setiap penyakit yang di derita pasien.
Apa keahlian itu menurun atau tidak pada Aurora karena di lihat-lihat Aurora belum sejauh itu. Seolah harus ada yang di buka di diri Aurora untuk membuka semuanya.
"Sudah Aurora ini hanya mimpi, kamu terlalu takut!"
Aurora menyakinkan dirinya sendiri jika ini hanya perasaan sesaat saja.
Walau Aurora tak bisa menampik, mimpi dan kejadian ini bukan hal kebetulan bukan!
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...