
Dengan telaten Edward menyuapi Vivi makan walau Vivi masih merasa canggung dengan apa yang terjadi di antara mereka.
Edward benar-benar memperlakukan Vivi dengan baik bahkan sangat baik.
"Makanlah yang banyak, tubuhmu kurus begitu aku tak mau Arsen membenciku karena itu!"
Vivi berhenti mengunyah menatap Edward intens hingga membuat Edward menghentikan gerakan tangannya.
"Kenapa?"
"Terimakasih!"
"Untuk!"
Vivi menggeleng membuat Edward masa bodo ia kembali menyuapi Vivi sampai selesai baru dirinya sendiri makan dengan tenang.
Hari ini Edward tak mengizinkan Vivi keluar karena keadaan tangan Vivi yang masih sakit.
Vivi hanya pasrah saja karena itu semua salah ya sendiri.
"Aku akan keluar sebentar, jangan kemana-mana jangan membuka pintu untuk siapapun sebelum aku kembali!"
Ucap Edward tegas membuat Vivi hanya mengangguk saja.
Entah apa yang akan Edward lakukan seperti nya ada suatu urusan yang membuat ia harus keluar.
Oh jantungku!
Batin Vivi memegang dadanya ketika Edward sudah keluar villa.
Sungguh sendari tadi Vivi menahan detakan jantungnya yang ingin meledak.
Vivi belum terbiasa mendapatkan perlakukan manis dari seorang laki-laki hanya Edward yang pertama melakukannya.
Rasa asing itu selalu mengusik Vivi membuat Vivi sulit menjabarkannya.
Vivi menatap ke sekeliling Villa yang nampak sepi. Vivi memilih mengelilingi Villa besar ini dari pada jenuh.
Edward keluar dan ia di larang jalan-jalan dulu padahal mau. Vivi tak bisa menawar mengingat Edward akan marah jika ia melanggar perintah ya.
Mengingat itu membuat Vivi teringat akan om nya. Apa om nya menelepon atau tidak, Vivi tak tahu karena ponselnya masih di sita sama Edward.
Vivi berharap om nya mau menelepon dia, sepertinya Vivi harus bertanya pada Edward akan berapa lama mereka berlibur mengingat pasti banyak pekerjaan yang menunggu Vivi.
Merasa jenuh Vivi menghentikan mengelilingi Villa. Ia duduk di atas shopa sana sambil menonton televisi di temani cemilan ringan.
Waktu sudah berganti tak terasa sudah siang bahkan telah berganti sore namun belum ada tanda-tanda Edward pulang.
"Katanya bilang sebentar, ini sudah sore tapi belum pulang!"
Gumam Vivi mendengus kesal melihat pintu sana berharap Edward segera pulang. Vivi jenuh, ia ingin jalan-jalan.
"Dasar pembohong!"
Rengek Vivi entah kenapa menjadi kesal karena Edward belum juga pulang padahal waktu telah berganti lagi.
Vivi terus mondar-mandir di depan pintu sana berharap Edward segera pulang. Ia takut jika harus sendiri di villa sebesar ini apalagi ini sudah malam bukan siang lagi.
Tiba-tiba rasa takut mulai menggerogoti hati Vivi namun Vivi berusaha menyangkalnya berharap Edward tak pernah bohong padanya.
Tapi, rasa takut itu tak bisa Vivi tepis walau ia sudah sekuat tenaga percaya.
Bayang-bayang Vivi di tinggalkan mulai bermunculan menggangu pikiran dan hati.
__ADS_1
Jerman negri baru bagi Vivi apa Edward meninggalkan ia juga di sini sama seperti yang ke dua orang tuanya lakukan.
"Ed, jangan buat ku membenci mu lagi! Ak-aku mulai percaya dan tak takut!"
Gumam Vivi mulai gemetar kedua matanya berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening.
"Ja-jangan buat aku semakin membenci kaum kalian!"
"Pulanglah!"
Isakan Vivi mulai terdengar menatap sendu pintu di depannya. Vivi terus menggelengkan kepala mencoba meyakinkan diri jika Edward tak sama. Edward berbeda nama mungkin mengkhianati kepercayaan nya.
"Tidak! Aurora percaya Edward! Aku harus percaya juga! Aku harus percaya juga!"
"Dia tak sama dia tak sama!"
Trauma Vivi mulai terasa kembali setelah kehadiran Edward itu tak terjadi.
"Tidak!"
Jerit Vivi berjongkok menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.
Vivi beringsut mentok ke shopa sana sambil memegang kepalanya.
"Tidak hiks .. Dia sudah janji!"
"Dia sudah janji!"
.
.
Di luar sana Edward tersenyum sambil melirik kearah samping kemudi.
"Tunggu aku!"
Gumam Edward tak sabar untuk segera sampai di Villa. Bahkan Edward membawa mobil sangat kencang sekali karena sudah tak sabar bertemu Vivi.
Edward memarkirkan mobil asal ia segera berlari menuju pintu utama.
Edward menyimpan tangan kirinya di belakang punggung sebelum masuk.
"Aku pulang!"
Teriak Edward tersenyum namun langkahnya terhenti melihat pemandangan di depannya. Bahkan senyuman Edward menghilang seketika melihat wanita yang baru Edward sadari bahwa ia sudah jatuh cinta pada sosok yang kini sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Vivi!"
Teriak Edward menjatuhkan buket bunga yang ia bawa berlari kearah Vivi.
"Vivi, hey bangun!"
Teriak Edward mengangkat kepala Vivi keatas pangkuannya.
"Bangun, jangan buat ku takut, Vivi!"
Cemas Edward menepuk-nepuk pelan wajah Vivi.
Tergambar jelas di wajah Edward rasa cemas dan panik yang belum pernah Edward tunjukan pada perempuan lain.
Dengan cepat Edward menggendong Vivi menuju kamar namun langkah Edward terhenti ketika merasa sebuah tangan mencengkram erat dada bidang Edward.
Edward menunduk hingga mata mereka bertemu.
__ADS_1
Mata Vivi memerah menatap siapa yang ada di hadapannya. Rasa marah, kecewa, lega bercampur jadi satu membuat dada Vivi sesak.
Entah berapa lama ia pingsan hingga ia tersadar ketika mendengar suara Edward memanggil namanya. Awalnya Vivi ragu jika itu Edward namun ketika merasa tubuhnya melayang hingga mencium parfum khas Edward membuat Vivi memberanikan diri membuka mata dan benar saja.
"Pe-pembohong!"
Lilir Vivi semakin mencengkram dada Edward membuat Edward meringis. Bahkan remasan itu menjadi pukulan kecil hingga keras membuat Edward memilih duduk di atas shopa agar Vivi tak jatuh.
"Kenapa baru pulang hiks ... Katanya sebentar hiks .. !"
"Pembohong!"
Edward diam ketika mendapat amukan dari Vivi bukannya marah karena Vivi memukul-mukul dadanya keras Edward malah terdiam dengan bibir yang tertarik ke samping.
"Dasar pembohong hiks ... Aku benci hiks ..."
"Ak-aku pikir ka-kamu meninggalkan ku ak-aku pikir kam-"
Deg ...
Vivi terdiam ketika sadar dengan apa yang ia lakukan. Bahkan Vivi menghentikan pukulannya menatap Edward yang malah tersenyum menjengkelkan.
"Pukul lagi!"
Ucap Edward membuat Vivi diam saja bingung dengan apa yang ia lakukan.
Edward mengelus wajah Vivi yang basah oleh air mata.
"Maaf membuat mu menunggu, maaf sudah membuatmu ketakutan!"
"Apa kau takut aku benar-benar pergi, hm?"
Tanya Edward lembut masih mengelus wajah Vivi lembut sangat lembut sampai Vivi tak bisa berkutik.
Vivi hanya diam saja karena bingung harus menjawab apa. Semuanya sudah jelas bahkan tak usah di pertanyakan lagi itu salah satu kebodohan Vivi kenapa bisa keceplosan.
Melihat Vivi yang terdiam membuat Edward berani melakukan lebih dengan tangan yang tak henti mengelus wajah Vivi.
Cup ...
Satu kecupan mendarat di kening Vivi membuat Vivi refleks memejamkan kedua matanya.
"Aku tak akan mungkin meninggalkan mu, itu janjiku!"
Bisik Edward membuat Vivi terhipnotis, jarak mereka begitu dekat sangat dekat bahkan mereka berdua bisa merasakan nafas mereka masing-masing.
Cup ..
Sekali lagi Edward mengecup kedua mata Vivi bahkan pucuk hidung. Edward mengunci tatapan Vivi dengan tatapan mautnya.
"Kamu bisa menghentikan ku!"
Tegas Edward mengunci tatapan Vivi yang terlihat jelas masih ada ketakutan di sana. Namun Edward akan mencoba terus mendekat tanpa memutuskan tatapannya.
Edward hanya mengikuti naluri ia seorang laki-laki hingga
Krek ...
Vivi meremas lengan Edward ketika benda lembut itu menyentuh bibirnya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1