Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 48 Kisah sebenarnya


__ADS_3

Keluarga Kerajaan datang melihat bagaimana kondisi Kaka.


Cherry tak bisa membendung kesedihannya melihat keadaan Kaka seperti itu. Semua itu demi melindungi posisinya Cherry tahu itu.


Sungguh pengorbanan yang sangat besar membuat Cherry harus membalas dengan cara apa.


Karena terdapat luka bakar membuat Kaka harus tengkurap karena tak mungkin berbalik karena luka itu ada di punggung Kaka.


Jarvis juga tak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.


Cherry sudah tahu semuanya namun Cherry bingung sendari tadi tak melihat istri dari pamannya itu.


Cherry menyeka lelehan bening di pipinya lalu menatap sang suami.


"Kenapa sayang?"


"Di mana istri Kaka!"


Deg ...


Semua orang terkejut mendengar Cherry menyebutkan kata istri. Pasalnya tak ada yang tahu jika Kaka sudah menikah.


Tentu keluarga kerajaan sangat terkejut bagaimana mungkin sang Jendral menikah tak memberi tahu mereka.


"Semuanya di luar kendali!"


Tegas tuan pertama karena tak ingin besannya terus berpikir.


Biarkan Kaka yang menjelaskan semuanya karena semuanya hak dia.


Raja dan Ratu tak bisa berlama-lama di sana karena tak mungkin mereka meninggalkan istana terlalu lama.


Walau begitu mereka membiarkan pangeran Jarvis dan putri Cherry masih berada di sana sampai waktu di tentukan.


"Dad, di mana istri paman?"


Tanya Cherry lagi ketika Raja dan ratu sudah pergi kini tinggal mereka.


"Dia di rawat di ruang berbeda!"


Jarvis yang mengerti tatapan istrinya langsung menemani sang istri mencari di mana ruang Aurora berada.


"Tak perlu pergi!"


Deg ...


Mereka terpaku melihat Aurora yang sudah berdiri di depan pintu sana dengan baju pasiennya.


Wajah Aurora nampak pucat pertanda jika Aurora belum sembuh total.


Ya, semalaman Aurora sudah berpikir keputusan apa yang akan ia ambil hingga ia memberanikan diri berkunjung.


Aurora berjalan menatap Jarvis begitu lekat membuat Cherry tak nyaman akan tatapan itu. Entah kenapa Aurora selalu menatap suaminya seperti itu jika bertemu.


Pandangan Aurora teralih pada Cherry membuat Cherry membuang muka tak nyaman.


Tatapan Aurora sangat aneh namun Cherry selalu menyimpannya karena tak mau berpikir macam-macam.


"Izinkan ku merawatnya!"


Tegas Aurora menatap tuan pertama membuat tuan pertama tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kamu yang berhak atasnya!"


"Tapi dad!"


Cherry ingin protes namun Jarvis langsung mencegahnya.


Tak baik mencampuri urusan rumah tangga orang, seperti itulah isyarat dari Jarvis membuat Cherry pasrah.


"Terimakasih!"


"Jangan sungkan, jangan anggap kamu orang asing kita keluarga!"


"Jika kamu tak biasa panggil saya Daddy, seperti Cherry memanggil saya begitu!"


Aurora hanya diam saja dengan pandangan tertuju pada punggung lebar Kaka yang begitu miris. Luka itu cukup dalam dan butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.


Tuan pertama sangat paham apa yang di rasakan Aurora.


"Dia kuat, luka seperti itu sudah biasa baginya!"


Aurora memejamkan kedua matanya sesak dengan tangan mengepal erat.


Jarvis membawa sang istri keluar membiarkan Aurora di dalam di mana tuan pertama juga ikut keluar.


Aurora mendekat berdiri tepat di depan wajah Kaka yang menyamping namun setiap jangka menit akan di rubah agar ketika Kaka bangun leher Kaka tetap baik-baik saja.


Lama Aurora menatap dengan tatapan entah,


Tangan Aurora terulur mengusap pelan luka itu. Ada bagian perban yang berbeda membuat Aurora bisa menebak jika itu luka tembak.


"Kenapa kau senang sekali terluka!"


Aurora sudah memutuskan jika ia akan merawat Kaka sampai sembuh sebagai utang karena Kaka sudah menyelamatkan hidupnya.


Tentang pernikahan mereka, entahlah Aurora tak mau membahas itu dulu. Aurora ingin fokus atas kesembuhan Kaka sudah itu baru Aurora akan memutuskan antara pergi atau menetap.


"Terimakasih sudah menolongku!"


Aurora mengusap kening Kaka yang terdapat memar mungkin akibat benturan itu.


"Entah seberapa berat hidup kamu dulu sampai sekarang tetap sama!"


"Jika aku boleh meminta, bisakah kau jangan terluka!"


Aurora terus berbicara tak peduli Kaka akan mendengarnya atau tidak. Itu keluar sendiri dari hati Aurora.


Aurora sudah mempersiapkan semuanya untuk pengobatan Kaka dan ia sudah berbicara dengan Edward untuk menyiapkan alat-alat yang di perlukan.


Aurora tak tahu jika di menara itu semua alat sangatlah komplit.


"Apa kamu yakin sayang?"


Tanya Queen memastikan ketika Aurora sudah keluar dari ruang Kaka.


"Ya bunda, Rora akan mengurusnya!"


"Nak, apa kamu akan tetap seperti ini!"


"Maksud papa!"


Bingung Aurora tak mengerti dengan apa yang sang papa bicarakan.

__ADS_1


"Kami menunggu kejujuran kamu!"


Aurora menggigit bibir bawahnya bingung merasa ambigu dengan ucapan itu. Apa kedua orang tuanya tahu siapa dia, tapi itu tak mungkin bantah Aurora.


"Kami hanya mau bilang, kami sebenarnya bangga pada mu!"


Ucap Queen greget karena Aurora masih saja bungkam.


"Bun, pah!"


"Papa tahu semuanya, papa begini hanya tak ingin kamu terluka tapi keinginanmu tak bisa di cegah maka kali ini papa akan bebaskan kamu, lanjutkan perjuangan kamu!"


Duarr ...


Aurora membulatkan kedua matanya tak percaya jika selama ini kedua orang tuanya tahu namun dengan bodohnya mereka diam.


"Karena papa merasa lega sekarang ada yang menjaga kamu!"


Glek ...


Aurora menelan ludahnya kasar tahu maksud sang papa namun Aurora tak bisa lebih.


"Jika papa tahu kenapa jahat sekali!"


Kesal Aurora tak menyangka jika selama ini kedua orang tuanya tahu jika ia seorang dokter.


"Dulu eyang mu seorang dokter hebat beliau mengabdi pada keluarga kerajaan. Namun ada sesuatu insiden membuat eyang di fitnah sampai di bunuh. Kenapa papa melarang mu karena papa tahu nyawa kamu dalam bahaya sama seperti eyang mu. Papa ingin balas perbuatan keji pangeran Arnold namun papa terikat sumpah oleh nenek jika papa tak boleh berurusan lagi apalagi sampai menumpahkan darah. Untuk itu lah Papa meminjam tangan Kaka membalas semuanya karena nasib Kaka juga sama, kedua orang tua dan kakak iparnya terbunuh oleh orang yang sama. Papa hanya takut ketika kamu terluka Papa tak bisa mengendalikan diri untuk itu papa mempercayakan kamu pada Kaka, karena papa yakin iya orang yang tepat bisa melindungi kamu!"


"Kenapa harus dengan pernikahan!"


"Karena tak mungkin papa membiarkan kamu satu atap dengan orang yang bukan suami kamu!"


Aurora benar-benar bungkam dengan semuanya ternyata serumit itu, Aurora tak menyangka jika semuanya sudah di rencanakan dan entah bagaimana berada di posisi Kaka.


Pantas saja kamu terluka karena sendari dulu hidupmu penuh luka!


Batin Aurora tak bisa membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Kaka sungguh sangatlah berat.


"Apa papa gak percaya Rora!"


"Papa percaya tapi kamu bukan Fatih ataupun Aksara!"


"Maaf!"


"Maafkan papa yang mengorbankan masa depan kamu!"


Aurora menggeleng karena semuanya untuk dia, Aurora yang terlalu egois tak mau tahu akan semuanya.


Harusnya sendari awal Aurora mencari tahu bukan berlarut dalam kesedihannya dan dia menurut hingga semuanya tak akan begini.


"Apa sekarang Aurora bisa melanjutkannya!"


"Sekarang keputusan ada di suami mu!"


Aurora mengerucutkan bibirnya kesal itu sama saja dirinya akan terus terkurung.


Farhan dan Queen hanya bisa tersenyum geli melihat wajah masam sang putri. Aurora tak tahu jika di depan sana ada sebuah kejutan untuknya yang sedang menanti.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ......

__ADS_1


__ADS_2