Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 50 Melepaskan!


__ADS_3

Kaka sangat marah pada dirinya sendiri merasa tak berguna. Kenapa kakinya sulit di gerakan membuat Kaka ingin mengutuk semuanya.


Bahkan ingin ke kamar mandi pun ia harus di bantu, sangat memalukan.


Bagaimana bisa seorang lord devi dan juga Jendral harus berbaring seperti itu. Bahkan Kaka tak mau Aurora mengurusnya bukan karena marah soal kemarin namun Kaka tak mau di kasihani.


Jika Aurora ingin pergi maka Kaka akan melepaskannya dan tak usah merasa berhutang nyawa karena Kaka tulus melakukan semuanya.


Kaka tak mau egois menahan Aurora tetap ada, jika Aurora ingin melanjutkan hidupnya maka Kaka tak akan melarang dan itu artinya pernikahan mereka sampai di sini.


Kaka sudah mengambil keputusan itu, bukankah Aurora juga membencinya karena dia Aurora tak bisa melanjutkan cita-cita maka dari itu Kaka akan melepaskannya karena semuanya sudah usai.


Dia sudah sadar bukan dan tugas Aurora sampai di sini.


Apalagi hubungan mereka masih abu-abu jadi buat apa di pertahankan.


Sedang Aurora merasa bersalah atas kejadian kemaren. Aurora tak bermaksud begitu, ia hanya tidak tahu. Aurora hanya takut jika Kaka memaksakan itu bisa berakibat patal.


Dan kini ia di larang masuk untuk merawat Kaka membuat Aurora tak terima.


Bahkan kini kamar itu di jaga ketat oleh Hanz dan salah satu ajudan lain membuat Aurora semakin merasa bersalah.


"Nyonya!"


Ucap Edward membuat Aurora langsung berdiri.


"Apa dia benar-benar marah?"


"Ini!"


Bukannya menjawab Edward malah memberikan sebuah berkas pada Aurora yang bingung.


"Apa ini!"


Edward bungkam tak berani karena itu sudah keputusan sang lord walau Edward sangat menyayangkan.


Melihat kebungkaman Edward membuat Aurora entah kenapa merasa takut dengan perlahan Aurora membuka berkas tersebut.


"Apa-apaan ini!"


Bentak Aurora melempar berkas tersebut pada Edward. Aurora menatap tajam Edward dengan rahang mengeras tak terima dengan semuanya.


"Itu keputusan lord!"


"Bagaimana bisa dia memutuskan secara sepihak!"


Bentak Aurora tak terima karena di sana tertulis Kaka membebaskan dia dari pernikahan ini dengan sebuah kompensasi yang cukup besar. Emang dia wanita apa yang harus di bayar bahkan dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan di sana juga Kaka membebaskan atas utang nyawa itu.


Sungguh Aurora tak benar-benar mengatakan itu, ia hanya sedang kesal saja hingga mengatakan semuanya.


Dia mengobati Kaka karena tulus bukan atas balas bui itu sungguh Aurora menyesal mengatakannya.


Bukankah ini yang ia inginkan tapi kenapa Aurora jadi semarah ini.


"Bukankah nyonya ingin cepat keluar, maka lord sudah mempermudahnya!"


"Bahkan lord sudah mengganti segala kerugian selama nyonya berada di sini!"


Deg ...


Aurora terdiam karena memang itu tujuannya, ia ingin bebas dan melanjutkan cita-cita nya tapi bukan berarti mereka harus bercerai.


Bagaimana bisa ia harus menyandang seratus janda dalam kurun waktu tujuh bulan, sungguh sangat memalukan.

__ADS_1


Bahkan Aurora tak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa ia bisa semarah ini. Harusnya ia bahagia bukan bukan malah kacau.


Sungguh Aurora sangat bingung sekarang untuk memutuskan padahal ia hanya tinggal tanda tangan maka semuanya selesai.


"Aku harus bicara!"


Tegas Aurora langsung melangkah menuju kamarnya. Membuat Edward lagi-lagi menghela nafas berat kenapa jadi serumit ini.


"Yang satu ingin menahan namun tak kuasa yang satu lagi ingin bebas tapi begini!"


Bingung Edward sungguh pusing melihat tingkah suami istri itu.


"Minggir!"


Tegas Aurora menatap tajam Hanz dan salah satu ajudan lain.


Hanz tetap diam bahkan tak bergeser sama sekali.


Bugh ...


Hanz membulatkan kedua matanya melihat temannya sudah tergeletak di lantai sana. Hanz tak menyangka jika istri sang jendral ternyata sangat menakutkan juga.


"Minggir!"


Glek ....


Hanz menelan ludahnya kasar melihat tatapan tajam seolah ingin menguliti dia.


"Buka!"


Tegas Aurora sungguh tak bisa menunggu lagi. Ia ingin mendengar langsung dari mulut Kaka.


Dengan ragu Hanz membuka pintu karena memang kodenya sudah di ganti.


Krek ...


"Kaka!"


Teriak Aurora karena Aurora yakin Kaka ada di kamar karena kamar ini banyak pintu rahasianya.


Krek ...


Pintu kamar mandi terbuka nampaklah Kaka yang di papah oleh Qennan.


"Kenapa kau mengambil keputusan sepihak, hah. Harusnya kau bicara dulu dengan ku!"


Bentak Aurora entah kenapa emosinya tak bisa di tahan apalagi Kaka melarangnya mengurus dia.


"Aku hanya tak ingin membebani mu, kejarlah apa yang ingin kau kejar!"


"Tapi itu tugasku, ak-aku tak merasa terbebani, soal ucapan itu aku minta maaf!"


 Kaka mengisyaratkan pada Queen untuk mendudukkan nya di atas shopa sana membuat Qennan paham langsung membawa sang lord menuju shopa.


Aurora belum ngeh jika Kaka sudah bisa menggerakkan tangannya walau kakinya masih kaku.


Qennan langsung keluar tak berani ikut campur.


" Ka-kau marah kan, aku minta maaf!"


Ucap Aurora duduk di samping Kaka dengan tatapan rumit bahkan Aurora sendiri bingung dengan dirinya sendiri.


"Aku janji tak akan mengucapkan kata itu lagi, aku akan merawat mu!"

__ADS_1


"Kau berhak bahagia, bebas dengan semuanya. Kau dokter hebat banyak orang di luar sana memerlukan kamu!"


Kaka merutuki ucapannya sendiri kenapa bicara seperti itu. Aurora akan benar-benar pergi jika begitu.


"Kau juga memerlukan ku!"


Tegas Aurora tak mungkin meninggalkan Kaka dalam keadaan seperti ini. Dia bukan wanita jahat yang meninggalkan Kaka dalam keadaan terpuruk.


Mereka berdua sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.


Ya, mereka tahu mereka saling membutuhkan namun ego mereka sulit berkata jujur membuatnya semakin berbelit.


"Butuh berapa lama aku bisa jalan?"


 "Satu atau dua bulan tergantung dirimu sendiri!"


"Apa kau tak merindukan putri mu! Selama itu kamu mau menahan!"


Deg ...


Aurora tertegun mendengarnya, bagaimana bisa Kaka tahu tentang putrinya. Bahkan tak ada satu orang pun yang tahu membuat Aurora cemas dan panik.


Aurora takut Kaka tahu dan mengambilnya ia belum sanggup akan hal itu.


"Di-dia aman, ak-aku ,,, dari mana kamu tahu ak-aku punya seorang putri!"


Gugup Aurora tak tahu kenapa ia malah semakin takut.


"Setiap tidur kau selalu menyebutnya!"


Aurora tercekat mendengarnya, benarkah seperti itu apa ia benar-benar terlihat merindu sampai seperti itu.


"Katakan sebenarnya apa yang kau inginkan?"


Ucap Kaka menangkup wajah Aurora membuat Aurora tersentak karena Kaka sudah bisa menggerakkan tangannya.


"Tangan kamu!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan!"


Tegas Kaka ingin tahu apa alasan Aurora bertahan dengannya. Apa karena kasihan atau lebih dari itu.


Aurora bungkam dengan pikiran kacaunya membuat Aurora sulit mengatakan apapun.


"Jika aku yang meminta apa kamu akan menetap?"


Aurora menghangat akan permintaan itu, namun Aurora masih abu-abu untuk memberi jawaban.


"Aku menginginkan mu di sini bukan sebagai seorang dokter namun sebagai istriku!"


Duarr ....


Aurora terperanjat menatap manik biru indah ini mencoba mencari kebohongan, namun tak ada di sana terlihat jelas jika Kaka tak main-main.


"Ak-aku--"


"Aku mencintaimu!"


Seketika mata Aurora melebar mendengar kata sakral itu keluar dari mulut Kaka.


Ya, Kaka akui jika ia jatuh cinta pada istrinya sendiri entah sejak kapan perasaan itu muncul yang jelas Kaka merasa nyaman dan Kaka menyadari itu ketika berani mencium Aurora dulu.


Ya, Kaka menciumnya karena keinginan hatinya bukan sekedar nafsu belakang.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2