
"Pah, apa-apa an ini!"
Baru kali ini Aksara meninggikan suaranya di depan sang papa.
Aksara tak terima jika sang kakak di nikahi paksa bahkan dengan orang yang tak di kenal.
Aksara tak percaya dengan cerita membual itu karena Aksara tahu siapa kakaknya.
"Kakak tak boleh pergi, dia tetap di sini!"
"Aksara!"
"Cukup pah, bagaimana dengan Bunda apa Bunda tahu!"
"Dia sudah tahu!"
"Tapi Aksa yakin, Bunda tak akan membiarkan Kakak pergi!"
"Bunda sudah menunggu di sana!"
"Maksudnya!"
Aksara tak habis pikir dengan apa yang sang papa lakukan. Orang yang ia banggakan ternyata tega membiarkan sang kakak pergi.
Aurora hanya bisa menangis mendengar perdebatan adik dan sang papa. Aurora tak kuat menyaksikan semua ini.
"Kak!"
Lilir Aksara tak bisa berbuat lebih kenapa sang papa setega ini.
Aksara menangkup pipi sang kakak lembut mengusap bulir bening yang sendari tadi keluar. Aksara tak pernah sekalipun melihat sang kakak serapuh ini.
"Katakan jika kakak tak mau pergi!"
Aurora terdiam dengan tangisan yang tak mau berhenti.
Andai saja Fatih ada di sini mungkin semuanya tak akan seperti ini.
Sang lord yang melihat drama di depannya sangat muak sekali. Ia duduk bertopang kaki angkuh tak ada rasa iba atau lebih melihat semuanya.
"Sudah cukup dramanya!"
"Diam sialan!"
Bentak Aksara ingin menyerang sang lord namun Edward dengan sikap menghalangi.
Farhan diam melihat kobaran amarah yang keluar dalam diri Aksara. Kobaran ini hampir sama persis dengan Fatih walau Fatih lebih mengerikan dari ini.
"Tak ada yang boleh membawa kakak!"
Aksara memeluk sang kakak erat sambil menghujani Aurora kecupan berharap Aurora tenang.
"Dia bukan lagi kakak mu!"
"Jangan membual!"
"Dia istriku!"
Aksara mengepalkan kedua tangannya erat menatap membunuh sang Lord yang berdiri santai menghampiri Aksara.
Bugh ...
"Dek!"
Pekik Aurora terkejut ketika Aksara tiba-tiba tak sadarkan diri.
Aurora menatap benci sosok angkuh di depannya yang menyeringai iblis.
Tak salahkah sang papa memberikannya pada manusia berwujud iblis ini.
__ADS_1
"Jangan membuang waktu ku!"
"Lepas apa-apa kalian!"
Aurora terus memberontak karena dua bodyguard menyeretnya keluar kediaman Al-biru.
Farhan membuang muka dengan tangan mengepal erat.
"Bunda!"
Hanya nama itu yang Aurora teriaki karena hanya sang Bunda yang Aurora butuhkan.
Aurora membuang muka sambil memeluk kedua lututnya dengan isakan yang terus tertahan membuat sang lord memejamkan kedua matanya kesal.
Ia tak sesabar ini menghadapi perempuan hanya Cherry saja yang bisa membuat sang lord sabar.
"Buang air mata palsu itu, jangan sampai orang menuduhku menculik mu!"
Aurora hanya diam saja tak bergeming karena malas berdebat.
Sang papa sudah membuangnya untuk apa Aurora harus menangisinya lagi.
Semuanya berubah sekejap mata di malam itu. Tak ada lagi yang Aurora harapkan dari semuanya karena ikatan ini sudah membuat nya hancur.
Apa yang harus Aurora lakukan kedepannya dan kemana ia di bawa pergi oleh suami kertasnya ini.
Aurora sudah tak peduli lagi bahkan jika takdir menghukumnya.
Saat ini Aurora benar-benar tak bisa berpikir jernih. Hidupnya sudah hancur dan tak bisa kembali lagi.
Aurora menundukkan kepala mengekor kemana langkah sang lord pergi.
Bahkan Aurora tak tahu siapa yang menikahinya Aurora hanya mendengar orang-orang memanggilnya Lord.
Aurora tak sebodoh itu jika tak mengerti dengan julukan itu namun Aurora mencoba masa bodo.
Di dalam pesawat Aurora tertidur karena lelah. Lelah jiwa raga menghadapi nasib yang tak kunjung baik.
Perjalanan Indonesia-Jerman membutuhkan waktu yang sangat lama.
Sang lord hanya diam dengan pikiran jauhnya. Entah apa yang dia pikirkan kedepannya.
Deg ...
Sang lord terdiam melihat bulir bening keluar dari mata yang sendari tadi terpejam.
Jangan salahkan ku karena papa mu yang membawamu padaku. Entah apa istimewanya dirimu hingga dia mempercayakan kamu padaku!
Batin sang Lord penuh pertanyaan begitu besar. Semua ini seolah tuka teki yang harus ia pecahkan.
King Asia itu memang selalu punya rencana dan sang lord akui jika pengaruh laki-laki paruh baya itu sangat besar.
Sang lord bisa merasakan jika ada yang lebih besar dari semuanya. Ia harus mencari tahu jangan sampai ia di rugikan di sini semuanya harus impas dan menguntungkan.
Sungguh malang nasib mu bahkan kau tak di inginkan lagi di keluargamu!
Edward terdiam menatap sang lord yang memerhatikan istri dadakannya. Tatapan itu sangat mengerikan namun menyimpan sesuatu yang tak bisa di jelaskan.
Semoga saja nyonya bisa menyembuhkannya!
Batin Edward berharap jika sang lord bisa sembuh.
.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Brandenburg Berlin.
"Hey bangun!"
Edward tersenyum geli melihat bagaimana cara sang lord membangunkan nyonya seperti orang yang jijik.
__ADS_1
"Hey bangun, dasar kerbau!"
Aurora tetap tak bergeming dengan suara bentakan sang lord. Entah masih tidur atau pura-pura tidur padahal di sepanjang jalan Aurora tertidur.
Tanpa mereka sadari Aurora memang masih tertidur tepatnya Aurora minum obat tidur dengan posisi tinggi karena lelah akan hidupnya.
Aurora akan bangun memang di jam yang di tentukan.
"Maaf lord, biar saya menggendong nyonya!"
Glek ..
Edward menelan ludahnya kasar mendapat tatapan tajam dari sang lord.
Sang lord membuka jubahnya lalu menjadikan selimut membungkus tubuh ramping Aurora.
Dengan satu kali tarim Aurora sudah berada di gendongan sang lord.
Edward mengekor dari belakang berharap kehidupan sang lord berubah setelah ini.
Para pria berbadan kekar dengan pakaian senada membungkuk hormat pada sang lord.
Sebuah mobil sudah di siapkan membawa sang lord ke istananya.
"Menyusahkan!"
Gumam sang lord geram dan aneh menatap Aurora yang masih tertidur. Tak mungkin ada manusia yang tertidur sampai seharian begini pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Edward!"
"Suruh dokter Emma ke mansion!"
Edward langsung mengetik sesuatu di ponselnya.
Gerbang tinggi terbuka sempurna ketika mobil sang lord datang. Semua bodyguard berbaris terbiasa membungkuk hormat.
Sang lord melangkahkan kakinya menuju kamar dan meletakan Aurora sedikit kasar karena pegal.
Dokter Emma yang memang sudah standby langsung memeriksa gadis imut yang di bawa sang lord.
Dokter Emma menautkan kedua alisnya sambil memeriksa pasti. Dokter Emma menatap ragu sang lord akan semuanya.
"Katakan!"
"Maaf lord, seperti nya nyonya meminum obat tidur dosis tinggi!"
Sang lord mengepalkan kedua tangannya apa yang di lakukan gadis ini kenapa membahayakan dirinya sendiri.
" Maaf lord, kalau boleh tahu kapan nyonya tertidur?"
"Di pesawat!"
Dokter Emma melirik jam pergelangan tangannya.
"Harusnya sudah bangun, seperti nya masalah yang menekan nyonya enggan bangun!"
"Sial!"
Baru satu hari saja sudah cari masalah membuat sang lord menggeram marah.
Edward yang melihat perubahan wajah sang lord langsung menarik Emma keluar membiarkan sang lord melakukan sesuatu.
"Menyusahkan!"
Aurora mengepalkan tangannya di balik selimut. Ya, sendari tadi Aurora sudah bangun karena hanya ingin tahu siapa laki-laki ini.
Namun mulut pedas sang lord membuat Aurora muak.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...