
Assalamualaikum pembaca yang budiman.
Author mau kasih tahu nih, di Ektra Part ini sebenarnya melanjutkan Kebencian : Peluruh Cinta season 2 nya. Namun, khusus buat season 2 ini author perbanyak kisah Edward dan dokter Vivi dan juga kisah Hanz dan dokter Emma di dalam.
Etttt, jangan takut kisah Kaka dan Aurora tetap ada kok membumbui kisah mereka berdua.
So, jangan lupa dukung terus Aurora ya dengan perbanyak Like, hadiah, komen, voteeee ...
Terimakasih atas waktu kalian yang selalu setia membaca karya-karya Author.
...----------------...
Di sepanjang jalan dokter Emma hanya diam saja.
Pakta tentang Hanz membuat dokter Emma tak habis pikir. Entah berapa kebohongan apa lagi yang Hanz sembunyikan darinya.
Mulai dari adik, orang tua dan rumah, bukankah Hanz hanya anak tunggal. Sungguh, dokter Emma benar-benar tak habis pikir bisa-bisa Hanz masih bungkam dalam masalah ini.
Hubungan mereka baru membaik, tapi Hanz selalu saja membuat kejutan yang tak terduga membuat dokter Emma merana.
Hanz mencoba diam juga membiarkan dokter Emma berpikir tentangnya. Kebenaran ini pasti sangat mengejutkan, Hanz tahu itu.
Hanz menghentikan mobilnya mereka harus bicara. Hanz tak mau dokter Emma kembali membencinya.
Lama mereka berdiam diri tak ada yang mau mengalah untuk memulai bicara.
Dokter Emma sendari tadi berusaha menahan segala gejolak di dada agar ia tak terpancing amarah.
Ia berusaha bicara dengan kepala dingin agar semuanya terselesaikan.
"Jangan berbohong lagi!"
Cicit dokter Emma mengigit bibir bawahnya agar ia tak menangis.
Hanz langsung menggenggam lengan dokter Emma lembut dengan kedua tangannya.
"Tak ada lagi, semuanya sudah terlihat!"
"Papa ku memang sudah meninggal ketika aku berusia sepuluh tahun dan ketika usia ku menginjak lima belas tahun mama menikah lagi dengan ayah Carles dan hadirlah Rafael. Maafkan aku sebelum nya tentang keluarga, pekerjaan dan semuanya. Tapi dua hal yang aku tak bohong!"
Dokter Emma menatap Hanz mencoba mencari jawaban. Dua hal apa yang tak Hanz berbohong apa itu hanya untuk menutupi kebohongan kebohongan lainnya seperti yang Hanz lakukan sebelumnya.
"Soal perusahaan memang benar, ayah Carles ingin aku yang memimpin tapi aku tak mau kamu tahu itu karena aku bukan seorang pebisnis tapi seorang Kopasus (Komando Pasukan Khusus) dan--"
Hanz memejamkan kedua matanya sangat sulit mengatakan satu kata ini karena ini hal yang pertama baginya dan dokter Emma wanita pertama yang ia cintai.
"Dan ak-aku mencintaimu!"
Hanz menundukkan kepala sungguh kenapa wanita harus memaksa pria mengatakan hal Kramat ini. Tak bisakah percaya oleh perlakukan saja bahwa itu menunjukan Hanz mencintainya kenapa harus di katakan. Wanita memang tak puas harus saja ada kata yang terucap membuat Hanz terasa aneh.
Kata Kramat yang sulit Hanz katakan sejak dulu kini terucap membuat dokter Emma tertegun. Apalagi melihat sikap Hanz yang berusaha mengatakannya.
Kenapa dokter Emma harus mencintai laki-laki kaku di hadapannya ini yang masih setia menggenggam lengannya walau kepalanya menunduk.
__ADS_1
Dokter Emma berusaha melepaskan tangannya namun Hanz semakin menggenggam erat walau kepalanya masih menunduk tak berani mengangkatnya.
Deg ...
Hanz terkejut akan usapan lembut tangan kiri Dokter Emma di wajahnya.
"Kita mulai dari awal!"
Duarr ...
Seketika Hanz mengangkat wajahnya hingga pandangan mereka bertemu.
Sebuah tatapan yang menggambarkan jika mereka saling mencintai walau berbagai rintangan yang membuat mereka berpisah namun cinta itu masih sama masih utuh tak pernah berubah.
"Kamu benar-benar memaafkan ku?"
"Jangan di ulangi lagi!"
Tegas dokter Emma membuat Hanz mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sesaat dokter Emma terpaku melihat senyum yang terukir indah di bibir Hanz. Senyuman yang dulu dokter Emma paksa walau hasilnya tak sesempurna seperti sekarang.
Mungkin, karena senyuman ini keluar dari hati Hanz yang benar-benar tulus.
"Terimakasih sudah mau percaya lagi!"
Dokter Emma mengangguk ia sudah putuskan akan memulainya lagi. Bukan hanya Hanz yang berbuat salah mungkin ia juga berbuat salah namun Hanz tak pernah mengungkitnya.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa menemukan ku? Bukankah kamu pergi untuk bertugas!"
Tanya dokter Emma sendari tadi sebenarnya dokter Emma ingin menanyakan akan hal ini.
"Aku!"
Beo dokter Emma tak terima kenapa ia yang harus dipersalahkan.
"Bagaimana aku bisa fokus jika mataku melihat mobil mu yang terjebak salju, entah kemana pikiran mu kenapa kau selalu berada dalam zona bahaya!"
Kesal Hanz mengingat kejadian tiga hari lalu dimana misinya menjadi gagal apalagi badai salju tiba-tiba datang dan sialnya dokter Emma malah ada di bawah sana.
"Sekarang katakan, kenapa kau membawa mobil sampai sana?"
"Aku tak tahu!"
"Tak tahu!"
Jengah Hanz tak suka akan jawaban itu yang benar-benar tak memberikan sebuah makna.
Andai saja Hanz tahu apa yang dokter Emma lakukan entah apa reaksi Hanz. Sungguh itu sangatlah memalukan walau pada akhirnya hukum alam membawa Hanz kembali pada dokter Emma.
Bisa jatuh harga diri dokter Emma membayangkannya saja membuat dokter Emma malu.
"Ayo jalan, aku tak sabar bertemu Daddy!"
Cetus dokter Emma mengalihkan pembicaraan. Walau memang itu tujuan mereka segera kembali di saat kondisi dokter Emma belum stabil.
__ADS_1
Hanz menarik sudut bibirnya tipis melihat gelagat mencurigakan dari dokter Emma sendari dulu memang dokter Emma tak pandai berbohong.
"Emma Yara Mosha!"
Deg ...
Dokter Emma diam membeku mencengkram erat kemeja Hanz. Matanya mengerjap-enjap lucu seolah tak menyangka dengan apa yang terjadi.
Dokter Emma semakin mencengkram kemeja Hanz ketika Hanz malah semakin menyesap bibirnya.
Dokter Emma menepuk-nepuk pelan pundak Hanz mengisyaratkan untuk berhenti menciumnya.
"Kenapa?"
"Kita sudah dewasa, aku takut!"
Jujur dokter Emma apalagi suasana di luar sana sangat mendukung dengan turunnya salju walau tak separah beberapa hari lalu.
"Aku hanya merindukan mu!"
Sial, kata Kramat lain keluar dari bibir Hanz yang paling anti mengucapkan kata-kata itu. Biasanya dokter Emma yang selalu seperti itu jika bertemu.
"Jangan takut, aku tak akan lebih dari ini!"
Hanz mengusap bibir dokter Emma yang basah karena ulahnya.
Hanz terlihat lembut berbeda dengan Hanz yang dulu membuat dokter Emma tertegun.
"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan!"
Hanz kembali menghidupkan mobil membuat dokter Emma bernafas lega ternyata Hanz mengerti.
Entah seberapa lama perjalanan yang harus mereka tempuh mungkin memakai waktu lama mengingat mereka tak menggunakan jalur udara atau pun jalur kereta.
Tak masalah bagi Hanz yang terpenting dokter Emma pulang dengan selamat dan ia hanya merasa lega jika dia sendiri yang mengantarkannya.
Dokter Emma menatap Hanz yang sedang fokus menyetir. Masih terlihat ada memar di pelipis dan ujung bibir Hanz mungkin bekas pukulan dia.
Apa aku sekuat itu memukulnya!
Batin dokter Emma miris ia tak menyangka jika pukulannya akan membekas bahkan berhari-hari.
Dokter Emma tak tahu jika luka itu menjadi bahan tertawaan ayah Carles dan juga Rafael karena merasa lucu ada perempuan yang berani menyentuh Hanz bahkan sampai babak belur seperti itu.
"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku ingin berhenti kembali!"
"Dasar!!"
"Jangan memancing baby!"
"Hah!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....