
Semenjak Aurora hamil Kaka melarang sang istri bekerja mengingat kehamilan Aurora yang renta.
Walau begitu Aurora tetap melakukan penelitiannya di mana Kaka menyuruh Hanz menyiapkan ruang lab khusus untuk sang istri takut sang istri jenuh dengan syarat hanya boleh dua jam sang istri di dalam lab selebihnya Kaka tak mengijinkan karena Aurora harus banyak istirahat.
Aurora tak masalah, yang penting baginya ia bisa tetap melanjutkan penelitiannya apalagi ada penelitian itu sudah di tunggu-tunggu oleh semua orang.
Harusnya Aurora menghadiri sebuah acara besar namun karena Kaka melarangnya membuat acara itu di tunda bahkan mereka rela menundanya hanya demi bertemu sang Dokter Jingga.
Dokter termuda namun prestasi nya jangan di ragukan lagi.
Mereka semua tak sabar melihat siapa dokter Jingga sebenarnya. Dokter yang membuat semua orang iri tanpa melihat siapa orangnya dan juga kagum dengan semua pencapaiannya.
Bahkan di kehamilannya Aurora mempersiapkan sesuatu untuk acara besar nanti yang di mana para profesor dan dokter akan hadir di sana. Tentu juga mahasiswa-mahasiswa kedokteran akan memenuhi aula nanti.
Aurora bukan hanya cerdas dalam bidang kedokteran namun juga cerdas dalam bidang menciptakan alat-alat untuk pasien akar memudahkan pasien terapi atau menginginkan sesuatu.
Berbagai obat sudah selesai dengan pengujian yang sangat sempurna bahkan obat-obatan hasil racikan Aurora sudah tersebar ke beberapa rumah sakit besar bahkan sampai pada rumah sakit yang Shofi miliki.
Di kehamilannya yang masih renta Aurora pun menjaga aktivitas nya karena takut membahayakan calon baby-nya apalagi tak mau membuat sang suami khawatir mengingat akhir-akhir ini pekerjaan Kaka sangatlah banyak.
Karena merasa jenuh Aurora pergi ke taman bagian timur di mana taman khusus mereka berdua.
Aurora tersenyum melihat rajang yang pernah menjadi saksi bisu dinas mereka.
Dengan hati-hati Aurora duduk di atas batu sambil mencelupkan kedua kakinya ke dalam air.
Suasana yang tenang dengan keharuman bunga membuat pikiran Aurora fresh kembali.
"Harusnya ada ikan di sini!"
Gumam Aurora karena terasa kurang jika tak ada ikan di dalam alur air yang mengalir dari air terjun sana. Di mana air tersebut tak ada aliran lagi selain akan tersedia kembali dan akan terjatuh di air terjun.
"Apa hubby akan mengizinkan jika aku memintanya?!"
Monolog Aurora lagi sambil bermain air, wajah Aurora berseri bahagia menikmati suasana sore ini.
Sudah puas bermain air, Aurora beranjak menuju ranjang Aurora membaringkan tubuhnya di sana. Wangi tubuh sang suami terasa jelas membuat Aurora nyaman.
Saking nyamannya membuat Aurora perlahan terlelap dalam tidurnya.
.
Entah sudah berapa lama Aurora tertidur, Aurora terbangun karena merasa ada sesuatu yang melingkar di perutnya.
Aurora tersenyum ketika merasa jika ini sang suami. Perlahan Aurora membalikan badannya hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Kaka.
Tubuh Aurora semakin merapat ketika Kaka menarik pinggang Aurora bahkan sampai hidung mereka saling bersentuhan.
Aurora mengelus rahang tegas sang suami. Ada yang berbeda seperti nya bulu-bulu wajah sang suami mulai tumbuh.
"Tidur lagi sayang!"
Gumam Kaka menelusup kan kepalanya di dada sang istri.
Entah kapan Kaka pulang kenapa Aurora tak menyadarinya.
"By!"
"Hm!"
__ADS_1
"Boleh minta sesuatu?"
Kaka langsung mengangkat kepalanya guna bisa melihat wajah cantik sang istri.
"Katakan?"
Jawab Kaka lembut sambil menatap sang istri.
"Apa boleh kolam di sana di ternak ikan!"
Deg ...
Kaka terdiam sejenak menatap sang istri serius.
Itu air khusus buat berendam menghilangkan penat bagaimana bisa sang istri meminta di isi ikan.
Ingin menolak namun tak tega apalagi sang istri sedang hamil.
Melihat keterdiaman sang suami membuat Aurora tak enak hati.
"Tak apa jika hubby gak boleh!"
"Bukan begitu sayang, tapi di sana tempat kita mandi kalau di isi ikan hubby gak bisa berendam bareng sayang di sana!"
Ucap Kaka berusaha memberi pengertian agar tak menyinggung hati sang istri. Biasanya orang hamil akan seperti itu bukan!
Kaka membisikan sesuatu pada Aurora membuat wajah Aurora seketika tersipu. Entah apa yang Kaka bisikan sampai Aurora menjadi malu sendiri.
"Bagaimana kalau hubby beli akuarium yang besar, di dalam sana ikan akan aman!"
"Boleh, tapi janji yang besar ya!"
Kaka tersenyum melihat istrinya tak memaksa malah menurut. Padahal Kaka tadi sudah siap dengan segala omelan Aurora.
Karena yang Kaka baca di internet begitu, syukurlah sang istri mau mengerti dan tidak memaksakan kehendak.
"By, bunda dan papa belum tahu kehamilan Rora!"
"Nanti saja sayang! Papa kan lagi sibuk jangan buat beliau memilih terbang ke sini meninggalkan pekerjaan!"
"Tapi, Rora ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka!"
"Ada waktunya! Pokonya sayang jaga kesehatan akhir bulan ini hubby harus ke Jerman!"
"Untuk apa! Bukankah urusan di sana ada Edward yang menghandle!"
Bingung Aurora kenapa Kaka harus pergi, harusnya dia yang pergi kesana menghadiri acara besar di sana.
"Edward tak bisa di andalkan!"
Alibi Kaka tersenyum seringai tanpa di sadari Aurora.
"Rora di tinggal!"
"Mana mungkin, sayang akan ikut!"
"Benarkah!"
Girang Aurora, walau harusnya acara dia setidaknya Aurora bisa ke Jerman menghadiri acara sang suami yang entah apa.
__ADS_1
"Apa sayang bahagia selama ini menikah sama hubby?"
Aurora tersenyum lembut sambil mengelus wajah sang suami.
"Rora bahagia sangat sangat sangattt bahagia!"
Jawab Aurora berbinar membuat Kaka tersenyum lega.
"Bagaimana dengan hubby!"
"Lebih dari sangat!"
Aurora tertawa mendengar sungguh jawaban yang sangat menggelikan.
Kaka bangun dari tidurnya mengambil sesuatu di bawah sana.
"Kenapa by!"
"Bukalah!"
Kaka memberikan sebuah tatebag membuat Aurora langsung bangun. Aurora membukanya dan mengambil barang yang ada di dalamnya.
"By!"
Lilir Aurora menatap sang suami tak percaya jika yang sang suami berikan adalah jaket kulit dirinya yang tujuh tahun lalu Aurora pakai untuk menutupi luka Kaka.
"Hubby tahu sayang penasaran kemana jaket ini pergi karena tak ada di ruang rahasia!"
Aurora terdiam tak menyangka jika selama ini suaminya tahu dia masuk ke sana tentu karena setiap sudut terpasang cctv.
"Di mana hubby menyimpannya?"
"Hubby membawanya kemanapun hubby pergi!"
"Kenapa?"
"Karena wangi tubuh sayang membuat hubby tenang!"
Deg ...
Aurora terpaku mendengar ya, bagaimana bisa. Bukankah sendari awal Kaka terlihat membencinya.
"Awalnya hubby tak tahu jika pemilik jaket ini adalah sayang, namun hubby baru sadar ketika Hubby membuat sayang pingsan karena memegang tangan hubby. Hubby pikir sayang sama dengan mereka tapi nyatanya tidak!"
"Jika sudah sadar, kenapa waktu itu masih jahat!"
"Karena hubby belum mencintai sayang!"
"Lantas kapan hubby menyadari perasaan itu!"
"Ketika hubby sakit! Hubby sadar jika sayang sangat tulus merawat hubby!"
"Cih, pede banget!"
Kaka tersenyum mendengar umpatan sang istri yang menurutnya menggemaskan. Walau pada dasarnya Aurora malah senyum-senyum sendiri sambil memalingkan muka.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1