Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 26 Jatuh sakit


__ADS_3

Tatapan tajam Kaka tak lepas dari wajah Aurora yang sampai pagi ini belum bangun. Kaka menatap rumit wajah damai sedikit pucat.


Lingkaran kain putih membelit kepala Aurora pertanda jika benturan itu sangat keras sampai kulit kepala Aurora sobek.


Tatapan datar tak merasa bersalah dengan hati yang dingin seolah bertolak belakang dengan kepanikan yang tadi sempat menghantam.


Kejadian tak terduga membuat Kaka mengetahui satu rahasia. Sudah tujuh tahun Kaka mencari sosok yang sudah menolongnya dan bau parfum yang di tinggalkan.


Selama ini Kaka memang selalu menahan nafas dari spesies satu in. Namun, semenjak tahu jika orang yang selama ini iya cari ada di hadapannya kini Kaka tak takut lagi apalagi DNA Aurora cocok dengannya walau mustahil.


Pantas saja Kaka sulit mencari siapa orang yang menolongnya nyatanya semuanya ulah king Asia.


Satu mafia itu terlalu sulit untuk di bobol database nya.


Walau Kaka sudah tahu siapa yang menolongnya masih banyak tuka teki yang harus Kaka pecahkan.


"Jika kau yang menolongku, besar kemungkinan kau adalah seorang dokter ahli!"


Gumam Kaka menghela nafas berat jika sampai itu benar berarti selama ini Aurora tahu di mana keberadaan dokter Jingga itu.


Kaka yakin Aurora tak akan mau buka mulut apalagi hubungan mereka tak baik, Entah bagaimana caranya Kaka mendapatkan informasi itu.


Terlalu banyak yang harus Kaka lakukan jika menginginkan jawaban dan pasti Aurora akan menentang.


Apalagi yang Kaka tahu Dokter Jingga sangat privasi bahkan datanya pun tak ada dan tak ada seorang pun yang tahu bagaimana kehidupannya.


Hanya segelintir orang memuji-muji kehebatan dokter Jingga tanpa tahu bagaimana wajahnya. Orang-orang menyebutnya Jingga bersanding dengan warna langit yang mulai menutup mentari menyemburkan warna penenang di antara mereka.


"Emmz,"


Erangan lemah keluar dengan bulu mata bergerak berat.


Perlahan mata bak logam hitam itu terbuka dengan tangan yang langsung memegang kepala yang berdenyut nyeri.


"Kau!"


Aurora terkejut ketika melihat keberadaan Kaka yang duduk bertopang kaki angkuh.


Aurora berusaha tenang sambil mengingat kenapa kepala ia bisa sakit bahkan di perban.


Bayangan-bayangan kejadian pagi buta terekam ulang di ingatan Aurora membuat Aurora mengepalkan tangannya di balik selimut.


Tatapannya kini menghunus tajam Kaka yang bahkan tak minta maaf sama sekali membuat Aurora muak. Rasa benci itu semakin tertanam di hati Aurora bahkan semakin berkobar dengan apa yang sudah Kaka lakukan.


Bukan hanya tempramen Kaka juga sangat kasar padanya bahkan tak pernah sekalipun Aurora di perlakukan seperti ini oleh keluarganya.


"Keluar!"


"Cih, ternyata kau masih hidup!"


Bugh ...


Dengan santai Kaka menepis bantal yang Aurora banting ke arah Kaka sungguh Aurora sangat muak melihat wajah tak bersalah itu.

__ADS_1


Keangkuhannya membuat Aurora ingin sekali mencekik lehernya namun ia bukan pembunuh.


"Belum puas kau mencelakai ku!"


"Sebelum kau memberitahu di mana Dokter Jingga!"


Tegas Kaka punya cara agar Aurora buka mulut karena keselamatan Cherry sangat lah penting jika keponakannya terus seperti itu maka penjilat kerajaan akan semakin memberontak.


Walau masalah kerajaan Kaka tak terlalu pusing karena ada tuan Aldarberto yang menangani sampai saat ini namun Kaka juga tak lepas tangan begitu saja karena penghianat itu pasti bersembunyi di ketiak seseorang yang mempunyai kekuasaan tertinggi.


Aurora menyipitkan kedua matanya menatap Kaka permusuhan. Kenapa dokter Jingga sangat di cari sebenarnya apa yang sedang di rencanakan Aurora harus waspada karena bisa jadi nyawanya dalam bahaya.


"Beritahu dokter itu saya ingin bertemu!"


"Bebaskan aku maka akan ku beritahu!"


Ucap Aurora menyeringai ia tak akan bodoh dalam hal ini. Sudah Kaka duga jika Aurora pasti akan memancing itu. Tapi Kaka tak bisa membiarkan Aurora keluar dari menara neraka ini karena bisa jadi King Asia tak akan memberitahu satu rahasia besar tentang penghianat itu.


"Jangan harap!"


"Ya sudah aku akan tetap buka mulut!"


Ketus Aurora sambil menyibak selimut karena percuma berargumen dengan orang keras kepala ini.


Bruk ...


Aurora menggeram sakit ketika Kaka tiba-tiba menarik tangannya hingga kepala ia membentur dada keras Kaka. Rasa sakit yang sempat berkurang kini bertambah nyeri karena pasti luka itu kembali terbuka.


Geram Aurora merasa pusing kembali kenapa dadanya begitu keras bak batu karang sungguh Aurora benar-benar kesal.


"Katakan!"


"Apa-apa sih, lepas!"


Berontak Aurora ketika Kaka malah memeluknya.


Walau Aurora berada di negara BEBAS namun Aurora tahu aturan bahkan tak pernah sekalipun Aurora berpelukan dengan lawan jenis selain keluarganya.


Dan Kaka beraninya memeluk ia begini bahkan posisinya sangat berbahaya apalagi tangan Aurora sudah Kaka kunci ke belakang hingga membuat Aurora sulit bergerak.


Karena tak pernah se-intim ini dengan lawan jenis membuat Aurora merinding apalagi nafas segar mint Kaka menerpa hidung mancung mungilnya.


"Katakan!"


Aurora tetap bungkam mulai merasa lemas entah karena kepalanya yang pusing atau merinding akan jarak yang intim ini bahkan bulu kuduk Aurora meremang.


Apa seperti ini di peluk laki-laki kenapa membuatku lemas!


Polos Aurora yang memang tak tahu apa-apa tentang sebuah cinta.


Aurora hanya tahu mengagumi saja tak lebih dari itu.


Kaka yang melihat wajah Aurora nampak pucat menyerngit bingung apalagi merasakan aura yang berbeda.

__ADS_1


"Lepas!"


Lilir Aurora benar-benar pusing mungkin luka di kepalanya kembali basah.


Grep ..


Kaka langsung menahan tubuh Aurora yang sempat ia lepaskan.


"Bunda!"


Lilir Aurora mencengkram lengan Kaka yang menahan bobot tubuhnya.


Aurora benar-benar pusing sekali dan semua itu gara-gara Kaka.


"Hey kau kenapa?"


Cetus Kaka mengguncang tubuh Aurora yang matanya kembali sayu.


"Bu-bunda!"


Kaka kembali menggendong Aurora dan membaringkannya keatas ranjang. Ada apa dengan gadis ini kenapa kembali seperti ini.


Sekarang Kaka dengan jelas bisa merasakan bau parfum yang Aurora pakai benar-benar sama persis seperti yang menempel di jaket itu. Pertanda bahwa Aurora tak pernah mengganti baju parfum nya.


Aurora terus saja memanggil kata Bunda karena jika sakit Aurora memang seperti itu.


Kaka benar-benar tak menyangka jika perbuatannya membuat gadis ini sakit jika sampai king Asia tahu semuanya pasti di persulit.


Kaka menempelkan punggung tangannya di kening dan leher Amira yang tiba-tiba nampak demam. Mungkin karena efek benturan itu atau ada hal yang lain.


"Dasar menyusahkan!"


"Bunda!"


Kaka terdiam ketika tangannya di peluk erat oleh Aurora yang terus met rancu tak jelas.


Seperti nya Aurora benar-benar rindu pada sang Bunda sampai seperti ini. Terbukti hanya nama itu yang terus di lilir kan.


Sit!


Umpat Kaka ketika tangan kokohnya merasakan hal yang empuk dan nyaman. Sialnya kenapa Aurora malah memeluknya semakin erat membuat Kaka bisa merasakan kelembutan dan empuknya bagian yang selalu menjadi favorit kau Adam.


Kaka benar-benar tak menyangka jika DNA Aurora benar-benar cocok dengan penyakitnya. Bahkan tak ada reaksi sakit, panas yang menghantamnya hanya ada kenyamanan.


Kaka setengah berbaring karena tangannya sulit di lepas. Semakin Kaka berusaha melepas semakin Aurora memeluknya erat seolah itu tangan sang Bunda.


Cih, terkadang kau keras kepala, sok berani tapi lihatlah kau bertingkah manja seolah aku bunda mu!


Geram Kaka yang tak menyangka ada reaksi aneh menghantam dadanya.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2