
Sebuah acara besar sebentar lagi di mulai dimana acara ulang tahun perusahaan keluarga Aldarberto bertepatan dengan pengumuman sebuah Sempel obat yang di racik oleh seorang dokter ahli akan di luncurkan sebelum di kirim ke berbagai rumah sakit besar dan rumah sakit di berbagai penjuru.
Bukan hanya kolega bisnis dan juga para pejabat negara yang hadir melainkan berbagai profesor dan dokter juga ada di dalam acara besar itu karena memang perusahaan Kaka bergelut di bidang properti, hotel dan juga farmasi yang bekerja sama dengan rumah sakit Shofi.
Tentu keluarga Al-biru akan hadir di sana namun Aurora tak tahu itu karena itu akan menjadi kejutan untuk Aurora sendiri.
Di bawah naungan profesor Tuner sudah berbagai macam obat ia luncurkan hingga sudah tak asing lagi bagi semua orang siapa beliau.
Bahkan banyak sekali calon-calon para dokter yang ingin belajar langsung dari beliau namun hanya mahasiswa beruntung saja yang di terima jadi muridnya.
Sebuah obat langka untuk penyakit langka akan keluar berharap dengan obat itu orang yang menderita bisa tersembuhkan. Profesor Tuner memproduksi tentu di bantu oleh orang-orang handal di bawah bimbingannya.
"Para hadirin semuanya, terimakasih atas kedatangan anda semua. Saya tak bisa menyebutkan para jajaran namun rasa hormat saya tak pernah luntur terutama pada sang Jendral Kaka Aldarberto yang sudah nampak hadir!"
Prok ...
Riuh tepuk tangan menggema melihat antusiasnya mereka oleh kedatangan Kaka.
Aurora yang duduk di samping Kaka tersenyum bangga ternyata suaminya seterkenal itu.
"Suatu kehormatan pada pak Mentri kesehatan dan juga kepada keluarga besar Al-biru!"
Deg ...
Aurora terdiam mendengar nama keluarganya di sebut membuat Aurora langsung menatap sang suami tapi Kaka malah pura-pura tak sadar akan tatapan sang istri.
Aurora mengedarkan pandangannya mencari di mana keluarganya berada namun Aurora sulit menemukannya karena banyaknya orang.
"Saya persilahkan pada tuan Aldarberto untuk naik keatas podium!"
Tuan pertama dengan gagahnya berdiri ke atas sana.
Jepretan kamera terus berbenturan dari setiap penjuru sungguh acara ini selalu di nanti oleh mereka.
"Tiga puluh lima tahun perusahaan ini berdiri dan di malam puncak ini tepat ulang tahun yang ke tiga puluh enam berdirinya perusahaan Aldarberto!"
Riuh tepuk tangan kembali menggema membuat tuan pertama sejenak menghentikan ucapannya.
"Di malam ini juga saya akan mengumumkan CEO baru perusahaan Aldarberto, sosok yang memang berhak atas semuanya!"
Suasana semakin antusias menanti pemimpin baru mereka entah siapa yang akan menggantikannya karena semua ini sudah di rapatkan jauh-jauh hari.
"Kita sambut CEO baru kita tuan Edward Aldarberto!"
Prok ... Prok ...
Edward langsung menatap Kaka terkejut dengan pengumuman itu pasalnya Kaka maupun tuan pertama tak pernah membahasnya dengan dia.
__ADS_1
"Lord!"
"Pergilah!"
"Tap--"
"Anggap ini misi mu!"
Krek ...
Edward mengepalkan kedua tangannya kuat karena ia tak menginginkan posisi ini. Tapi bagaimana mungkin Kaka dan tuan pertama melakukan ini.
Apa Edward mampu mengemban tanggung jawab besar ini.
Dengan ragu Edward berdiri maju ke atas sana dengan perasaan campur aduk. Ingin menghindar namun tak mungkin Edward mengecewakan Kaka.
"Saya tak tahu harus berkata apa, ini begitu mengejutkan buat saya!"
Ucap Edward dengan raut wajah tegasnya menatap Kaka yang menatap ia tajam. Sungguh Edward masih merasa mimpi jika ia berada di atas sini dengan ribuan orang yang melihat bahkan seluruh dunia karena memang di siarkan langsung.
Sudah sambutan Edward kini giliran profesor Tuner orang tertua di keluarga Aldarberto termasuk pimpinan yang memegang perusahaan Farmasi yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar dan salah satunya perusaan Shofi.
"Terimakasih atas kehadiran kalian semuanya di acara puncak ini. Suatu kehormatan bagi saya bertemu dengan para profesor dan juga dokter-dokter hebat seperti kalian terutama pak Mentri kesehatan!"
"Seperti yang kalian ketahui bahwa Perusahaan Farmasi kami mengeluarkan obat yang di racik langsung oleh seorang dokter hebat tentu kalian tahu siapa orangnya!"
Pekik Aurora tertahan ketika melihat stempel obat yang Profesor Tuner pegang. Aurora tahu itu apa tapi bagaimana mungkin ada di tangan profesor Tuner bukankah obat itu masih dalam uji coba di lab dan itu harusnya di keluarkan dua bulan lagi.
"Dokter Jingga!"
Deg ...
Jantung Aurora berdetak kencang mendengar namanya di panggil. Saking terkejutnya Aurora tak mendengar apa saja yang profesor Tuner katakan.
Mendengar Dokter Jingga di panggil seketika suasana menjadi berbisik-bisik penasaran siapakah dokter Jingga itu.
Semua orang begitu penasaran pada sosok satu itu yang orang-orang juluki Dokter Jingga yang artinya seorang malaikat penenang jiwa sama seperti jingganya sore di atas sana memanjakan mata dan menenangkan jiwa-jiwa yang memandangnya.
Begitulah dokter Jingga yang selalu membuat semua pasien semangat akan kesembuhannya.
Seorang dokter yang sudah lama menghilang bak di telan bumi bahkan tak ada jejak yang tertinggal seolah-olah bersembunyi di balik gelapnya malam. Dan kini nama itu muncul kembali dengan sebuah penemuan hebat membuat semuanya penasaran siapa gerangan.
"Dokter Jingga!"
Sekali lagi Profesor Tuner memanggil membuat Aurora semakin mencengkram lengan sang suami.
Jika ia berdiri tandanya semua orang akan tahu siapa dia sebenarnya.
__ADS_1
"Pergilah!"
Aurora menggeleng kuat tanda tak mau ini terlalu mengejutkan buat Aurora pasalnya sang suami tak mengatakan apa-apa akan hal ini.
"Penghargaan itu pantas buat sayang!"
Sret ..
Seketika lampu lend di atas sana menyorot pada Aurora yang sudah berdiri.
Dengan anggun Aurora berjalan di atas sana walau tungkainya gemetar.
Semua orang yang hadir membulatkan kedua matanya tak percaya melihat siapa yang maju ke depan.
Terutama beberapa profesor dan juga dokter yang satu angkatan dengan Aurora.
Mulut mereka menganga saking terkejutnya ternyata dokter yang selalu mereka bicarakan akan pretasi dan keahliannya adalah teman mereka sendiri.
"Saya tak tahu harus mengatakan apa, ini terlalu mengejutkan buat saya. Saya sama seperti kalian gelar ini hanya sebatas nama saya adalah saya sama seperti kalian semuanya!"
Ucap Aurora lantang walau sedikit gugup pasalnya baru pertama dia di hadapkan dalam situasi seperti ini di mana ada seluruh keluarga nya.
"Saya tak akan bisa seperti ini jika tak ada yang mendorong. Penghargaan ini saya persembahan untuk nenek saya yang sudah bahagia di atas sana!"
Queen menitipkan air mata melihat pencapaian putrinya tercintanya.
"Terimakasih untuk papa dan Bunda yang membatu dan mendukung Rora walau pada awalnya Rora membenci kalian! Rora pikir kalian adalah penghalang dari segalanya tapi kini Rora sadar jika kalian tak menjatuhkan Rora, Rora tak akan bangkit sekuat ini dan tak akan ada di sini. Jadi untuk calon para dokter terus berjuang dan semangat jangan pantang menyerah, kalian manusia mulia karena dengan tangan kalian bisa membantu orang-orang yang membutuhkan!"
Semua orang yang ada di sana menitipkan air mata haru dan bangga. Ternyata perjalanan Aurora menuju titik ini begitu sulit dan Aurora pantas mendapat julukan itu.
"Terakhir, terimakasih pada orang yang saya benci namun sangat saya cintai!"
Ucap Aurora menatap sang suami penuh cinta. Namun membuat semuanya penasaran dan juga heran akan ucapan Aurora.
"Jika bukan karena dia, kalian tahu! Saya tak akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi indah ini!"
"Boleh kami tahu siapa sosok itu Dok, sepertinya beliau sangat spesial!"
Ucap sang pembawa acara membuat semua orang antusias dengan para kameramen semakin semangat.
"Dia suami saya!"
Duarr ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1