
"Bunda!"
Suara cempreng melengking kedalam gendang telinga begitu nyaring terdengar bahkan sampai orang-orang yang ada di sana terkejut melihat siapa yang datang.
Gadis cantik memakai dress selutut itu berlari dengan rambut emasnya di biarkan tergerai.
"Bunda!"
"Zi-zilla!"
Lilir Aurora gemetar dengan bulir bening yang tak bisa ia tahan lagi.
Pelukan hangat mereka bertemu begitu erat menggambarkan jika mereka begitu saling rindu.
Seorang anak pada ibunya yang sudah lama tak bertemu beberapa bulan ini bahkan setiap malam selalu menanyakan kabar Aurora dan kenapa Aurora tak pernah meneleponnya.
Kini kerinduan itu telah usai karena sang bunda sudah ada dalam pelukan tangan mungil itu.
Semua orang yang melihat itu menitipkan air mata haru begitupun dengan seseorang yang berdiri tak jauh di depan pintu sana.
"Bunda kenapa lama pulangnya!"
"Bunda tak sayang lagi sama Zilla hiks,,"
"Kata ayah bunda sibuk ya!"
Isak Zilla membuat hati Aurora berdenyut nyeri. Sungguh Aurora sangat sakit mendengar isakan sang putri dengan segala ocehannya.
"Maafkan bunda sayang, maaf!"
Aurora mengecup seluruh wajah putrinya dengan gebuan kerinduan dan kasih sayang. Sungguh Aurora sangat merindukan putrinya ini.
"Bunda tak akan pergi lagi kan?"
Deg ...
Aurora terdiam dengan gejolak hati rapuh sungguh siapa yang mau berpisah dengan putri cantiknya.
"Tidak akan sayang!"
Zilla kembali memeluk Aurora begitupun Aurora.
Mata Aurora bertemu dengan mata Karl di ujung sana yang tersenyum lembut. Aurora segera menggendong Zilla yang langsung ber-koala membelit posesif leher Aurora.
Karl menautkan kedua alisnya ketika sadar jika Aurora tak memakai alas kaki membuat Karl dengan sigap membawakannya membuat Aurora tersentuh.
Karl memang sahabat nya yang sangat baik dan pengertian.
Aurora tersenyum pada para pekerja yang mengurus perkebunan di sana.
Wangi khas bunga blossom begitu menenangkan Aurora membuat Aurora selalu nyaman berada di rumah ini namun sayang ia selalu sebentar jika mampir.
Karl hanya diam saja tak berani bicara walau ingin. Ia membiarkan ibu dan anak itu saling melepas rindu apalagi memang Zilla selalu merengek ingin bertemu.
Aurora tersenyum terimakasih karena Karl selalu mengerti dirinya.
Perjalanan seharian membuat Aurora sangat lelah hingga ia memutuskan masuk ke kamar Zilla guna mengistirahatkan tubuhnya apalagi memang Aurora sampai pada hari yang gelap.
__ADS_1
Aurora memang seperti itu jika berkunjung ia akan mengurung diri bersama Zilla menghabiskan waktu di kamar bercerita atau tidur.
"Bunda, kenapa bunda kurusan apa di sana bunda tak di kasih makan?"
Cicit Zilla polos sambil mengusap wajah Aurora yang memang terlihat tirus. Bagaimana Aurora tak turun berat badannya sebulan ini nafsu makannya semakin berkurang karena pikirannya terus tertuju pada Kaka yang entah mau sampai kapan meninggalkannya.
"Bunda di sini saja ya, biar ayah masakin buat bunda. Masakan ayah sangat lezat bahkan Zilla jadi gendut begini!"
Aurora tersenyum mendengar ocehan sang putri yang selalu saja bisa membuat mood dia kembali membaik.
"Bunda tak akan lama sayang!"
Deg ...
Aurora berdenyut nyeri ketika Zilla melepaskan pelukannya bahkan tidur membelakangi dia.
Aurora memeluk putrinya dari belakang karena ia sudah memutuskan.
"Bunda memang tak akan lama di sini, tapi bunda akan bawa Zilla bersama bunda!"
"Benarkah!"
Girang Zilla kembali ceria mendengar itu semua. Benarkah sang bunda tak akan pernah meninggalkannya lagi seperti yang sudah-sudah.
Ia akan terus bersama sang bunda selamanya seperti anak-anak lainnya yang bersama kedua orang tuanya.
"Iya, bunda akan membawa Zilla bersama bunda, Zilla mau kan?"
"Mau bunda!"
"Ya sudah sekarang Zilla tidur ya!"
Aurora mengeratkan pelukannya lelah karena seharian menyetir membuat ia juga ikut tertidur.
Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan melihat ibu dan anak itu.
Karl yang mengintip di balik pintu tersenyum melihat kehangatan itu.
Ia berharap kembalinya Aurora tak ada kata pulang lagi. Karl merasa kasihan melihat Zilla yang selalu merindukan Aurora.
Sebisa mungkin ia berusaha menenangkan hingga Zilla mengerti apalagi ini sudah biasa bagi Zilla sejak kecil di tinggal terus.
Karl kembali menutup pintu hati-hati takut membangunkan.
Ia kembali menunggu di shopa sana karena Aurora pasti keluar jika Zilla sudah benar-benar tidur.
Karl memegang dadanya yang berdegup kencang seperti biasa jika melihat Aurora. Pesona Aurora tak bisa di bantah membuat Karl jatuh cinta.
Namun, bukan itu saja yang membuat Karl jatuh cinta melainkan sikap Aurora yang selalu lembut pada orang lain, membantu yang membutuhkan dan ramah pada sesama membuat Karl hari demi hari selalu di buat jatuh cinta.
Entah akan sehancur apa jika Karl tahu sahabat sekaligus orang yang ia puja sudah menjadi milik orang lain.
Jam terus berputar membuat Karl tak lelah menunggu bahkan berkali-kali ia akan jatuh karena menahan kantuk demi menunggu Aurora keluar.
Ini sudah larut membuat Karl menyerngit heran kenapa Aurora belum keluar juga.
"Apa dia kelelahan!"
__ADS_1
Gumam Karl mengerti ia memutuskan tidur saja karena tak mau menggangu. Mungkin Aurora benar-benar kelelahan hingga tertidur.
Bagaimana Aurora tidak lelah ia menyetir selama dua puluh jam tanpa istirahat untung saja tak terjadi apa-apa di jalan dan beruntungnya mobil itu sudah tersedia semuanya bahkan bensin juga sudah tersedia di sana membuat Aurora lega. Setidaknya Aurora tak takut tiba-tiba mobil ini berhenti kehabisan bensin.
Bahkan Aurora sangat nyaman sekali tidur di pelukan Zilla setelah sebulan ini dia tak bisa tidur nyaman.
.
Aurora mengerjap-enjap kan kedua matanya yang terasa berat. Aurora menepuk-nepuk tempat di sebelahnya namun ia tak merasakan ada Zilla di sana membuat Aurora mau tak mau membuka kedua matanya.
"Zilla!"
Panggil Aurora serak khas bangun tidur, Aurora langsung bangun ketika tak mendapati putrinya di atas ranjang.
"Zilla sayang!"
Panggil Aurora bangkit dari ranjang sambil merapihkan penampilannya karena tak mungkin keluar seperti ini.
"Zilla, nak kamu di mana!"
Teriak Aurora panik mencari keberadaan putri cantik nya.
"Pagi bunda!"
Deg ...
Aurora terpaku melihat putrinya yang tersenyum cerah. Namun bukan itu tapi penampilan Zilla yang berantakan bahkan banyak adonan yang menempel di bajunya.
"Sini, Zilla dan ayah sedang menyiapkan sarapan buat bunda!"
Ucap Zilla menarik lengan Aurora menuju meja makan yang memang sudah tersusun rapi beberapa menu di sana.
"Pagi Bu Dokter!"
Sapa bibi Nur dan paman Nu yang memang tinggal di sini juga.
Sepasang suami istri yang dulu gelandangan Aurora rawat hingga menetap di sana tempat tinggal yang memang Aurora sediakan.
"Pagi!"
Sapa Aurora canggung, bagaimana tidak canggung jika semua orang sudah rapi sedang dirinya masih berantakan.
"Ra, duduk!"
Ucap Karl menyuruh Aurora duduk untuk sarapan bersama.
Sungguh pemandangan pagi yang indah mereka seperti sepasang keluarga yang harmonis walau semua orang tahu tak ada hubungan lebih.
Karl tinggal di sana semata-mata menjaga Zilla dan mengembangkan penelitian bersama Aurora. Bahkan mereka memperkejakan warga di sana hingga semuanya tahu mereka berdua walau para warga sangat mendukung hubungan mereka.
"Bunda makan yang banyak, biar cepat gendut kaya Zilla!"
"Semua Zilla dan ayah yang masak!"
Celoteh Ezilla membuat Aurora hanya bisa tersenyum.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...