
Kedua bodyguard Edward belum juga pulang mereka masih menikmati jalan-jalan karena memang itu waktu buat mereka.
Edward dan Vivi memilih menonton televisi namun membuat Vivi kesal karena Edward terus saja memainkan ponselnya.
Grep ..
Vivi merebut ponsel sang suami membuat Edward terdiam.
"Katanya mau nonton, dari tadi main ponsel mulu!"
Ketus Vivi menatap tajam Edward tak suka jika mereka sedang berdua tak boleh ada yang memainkan ponsel.
"Maaf my love, tadi uncle membahas masalah kantor!"
"Tapi bisakah nanti!"
"Iya .. iya .. , sudah jangan cemberut begitu!"
Bujuk Edward namun Vivi masih cemberut saja.
Edward menarik Vivi keatas pangkuannya lalu mengecup bibir candunya.
"Dari pada cemberut mending kita buat baby!"
"What!!"
Pekik Vivi melotot namun Edward sudah membungkam bibirnya membuat Vivi tak lagi protes.
"Seperti nya di sini tak jadi masalah!"
"Jangan gila, nanti ada yang lihat!"
Panik Vivi karena memang Villa mereka di desain dengan kaca.
"Siapa yang berani, di sini cuma ada kita berdua!"
"Tapi, kedua bodyguard!"
"Mereka sudah aku suruh menginap di hotel!"
"Tak ada alasan lagi my love!"
Jika sudah begini maka Vivi tak akan menolak apalagi Edward sudah mematikan lampu dan hanya ada cahaya pantulan lampu dari luar saja.
"Siap my love!"
"Kapanpun, tapi--------------"
Jawab Vivi sambil membisikan sesuatu pada Edward membuat Edward tersenyum. Entah apa yang Vivi bisikan membuat Edward tersenyum lepas seperti itu.
Mereka berdua hanyut dalam kenikmatan dunia tak peduli dengan yang lain lagi. Meluapkan kasih dan cinta lewat sebuah rasa yang begitu istimewa.
.
.
Sinar mentari begitu cerah membuat dua manusia itu enggan untuk bangun. Mereka berdua malah semakin merapatkan tubuh masing-masing seolah tak ingin lepas.
Namun keadaan yang memaksa mereka harus bangun apalagi Edward harus memeriksa pekerjaan yang semalam ia bahas dengan tuan pertama.
Cup ...
Edward mengecup lembut bibir bengkak sang istri seolah belum puas.
"Hm, Ed!"
__ADS_1
"Bangun my love?"
Bisik Edward namun Vivi sangat malas untuk bangun apalagi ia begitu lelah dengan permainan Edward yang tak henti.
Vivi malah semakin memeluk selimut membuat Edward tersenyum geli. Ide gila muncul di benak Edward, dengan sekali angkat Vivi sudah berada di gendongan Edward.
"Ed, apa yang kamu lakukan!"
Pekik Vivi terpaksa bangun ketika Edward menggendongnya. Vivi menatap tajam Edward yang masa bodo, Vivi benar-benar masih ngantuk.
"My heart, aku masih ngantuk!"
Rengek Vivi hampir menangis ketika Edward malah membawanya menuju kamar mandi.
Edward masa bodo, mereka harus mandi apalagi ini sudah sangat siang.
"Kita harus mandi my love dan sarapan apalagi aku harus mengerjakan pekerjaan yang uncle kirim!"
Cetus Edward tak mau di bantah, mereka harus segera mandi karena Edward tak cukup waktu.
.
.
Bibir Vivi terus mengerucut menatap Edward tajam, Vivi benar-benar kesal. Bagaimana tidak kesal jika Edward tak hentinya memakan dia. Bilangnya mandi nyatanya lebih dari sekedar mandi bahkan rasanya kaki Vivi tak bisa lagi berpijak.
Edward hanya diam saja seolah tak punya salah menyiapkan sarapan bukan sarapan pagi tapi ini pantas di sebut makan siang.
Sudah makan Edward meninggalkan sang istri dengan segala kekesalannya. Edward melanjutkan pekerjaan membuat Vivi mendengus kesal.
Dari pada melihat Edward lebih baik Vivi melihat taman saja toh dia belum menyiramnya juga.
Vivi asik dengan pekerjaan sudah selesai menyiram dan memotong tangkai yang mati Vivi istirahat di dalam tenda yang sudah siap. Vivi menikmati cuaca cerah bahkan trik matahari begitu menyengat.
Bahkan Vivi sampai ketiduran di sana apalagi tenda yang Edward buat sangatlah nyaman. Bagaimana tak nyaman jika di dalamnya terdapat kasur dan juga beberapa kursi dan nakas.
Vivi merentangkan kedua tangannya terasa pegal Vivi keluar dari tenda guna membersihkan tubuhnya. Di lihatnya Edward masih sibuk dengan pekerjaan bahkan posisinya tak berubah sedikitpun terakhir Vivi lihat.
Vivi memutuskan menghampiri sang suami duduk di sebelahnya.
"My heart, apa belum selesai?"
"Kenapa cinta?"
Tanya Edward tampa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.
"Tidak!"
"Katakanlah?"
"Ak-aku hanya sedikit bosan jika kamu sibuk!"
Jujur Vivi membuat Edward seketika menghentikan ketikannya, baru kali ini Vivi mengeluh bosan mungkin karena Edward benar-benar sibuk hingga lupa tak memerhatikan sang istri.
"Katakan apa yang cinta inginkan?"
"Nonton!"
"Baiklah, kita nonton di luar sekalian makan malam!"
"Benar my heart!"
Girang Vivi setelah satu Minggu Vivi hanya melakukan aktivitas di villa ternyata lambat laun membuat Vivi sedikit bosan dan ini kali pertama mereka keluar lagi.
"Iya!"
__ADS_1
"Baiklah aku akan bersiap!"
Teriak Vivi berlari menuju kamar tak lupa memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Edward.
Edward hanya menggeleng saja melihat tingkah bocil Vivi yang kadang-kadang keluar. Edward memilih melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti namun Edward kembali menghentikan pekerjaan nya lagi mengingat sesuatu.
Edward sedikit berpikir entah apa yang ia pikirkan hanya dia yang tahu. Dari pada pusing lebih baik Edward menyusul sang istri guna bersiap juga.
"Jangan terlalu tebal cinta!"
"Tidak!"
"Awas saja kalau tebal, itu milikku!"
Teriak Edward sambil masuk kedalam kamar mandi hingga ocehan Edward tak lagi Vivi dengar.
Vivi memakai sedikit lipstik cocok untuk dia, sedikit karena tak mau Edward nanti marah. Edward memang tak suka jika Vivi keluar memakai makeup berlebihan karena kecantikan Vivi hanya untuk Edward seorang.
Vivi sudah siap tinggal menunggu Edward memakai baju.
Vivi menatap sang suami dari atas sampai bawah kenapa sangat tampan. Akhir-akhir ini memang Edward selalu tampan di mata Vivi bahkan memakai jeans dengan koas oblong di padu jaket kulit membuat Edward terlihat bak anak motor dengan rambut di biarkan menyisir asal.
Vivi menghampiri sang suami lalu membuka jaket kulitnya membawa Edward keruang ganti. Vivi berpikir pakaian mana yang cocok untuk sang suami agar tak menjadi pusat perhatian.
"Pakai ini!"
Edward mengerutkan kening melihat sebuah kemeja pendek yang sang istri berikan.
"Cinta, apa ini tak cocok di tubuh ku?"
"Ya!"
Dengan terpaksa Edward harus menggantinya. Vivi menatap sang suami, kenapa memakai baju apapun sama saja tak sedikitpun mengurangi ketampanan bahkan memakai kemeja Edward malah terlihat semakin hot.
Membayangkan banyak anak muda menempel membuat Vivi tak suka.
"Kita nonton di rumah saja!"
"Hah!"
Pekik Edward tak percaya dengan apa yang sang istri katakan. Sendari tadi mengganti pakaian dia dan gaya rambut namun ujung-ujungnya malah nonton di rumah.
"Gak jadi di luar, aku gak mau kita di rumah saja!"
"Katanya bosan, bukan kah tadi udah setuju!"
"Tidak ... Tidak ..."
Putih Vivi tak mau di bantah membuat Edward benar-benar heran dengan tingkah sang istri yang tak biasanya.
Bahkan Vivi membuka baju sang suami menyisikan kaus dalam sana dan menarik Edward menuju ruang televisi.
"Di sini saja!"
Ucap Vivi tak merasa bersalah sama sekali menggandeng lengan Edward posesif sambil menyandarkan kepalanya menonton film yang baru mulai.
Edward diam bak patung mencerna semaunya, bukankah tadi Vivi sangat antusias kenapa sekarang bertingkah aneh.
"Cinta aku lapar!"
"Tunggu bentar lagi, aku udah memesan makanan!"
Edward menatap Vivi heran dan sejak kapan Vivi memesannya.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...