
Operasi berjalan dengan lancar membuat Aurora bernafas lega.
Berbeda dengan tim dokter lain yang malah bungkam dengan keterkejutan mereka.
Awal yang meremehkan kini menatap kagum dengan kinerja Aurora. Sungguh mereka tak menyangka jika Aurora pawai dalam bidang medis bahkan operasi yang Aurora lakukan sangatlah sempurna.
Dari kejelian, kegesitan dan cekatan Aurora membuat mereka terpesona.
Baru kali ini mereka melihat seorang dokter muda yang begitu hebat bekerja sama dengan mereka.
Mengingatkan mereka pada dokter Jingga yang selama ini mereka kagumi namun sayang tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah dokter itu.
Aurora langsung keluar dari ruang khusus di mana langsung di sambut oleh senyuman hangat Kaka membuat Aurora yang tadi merasa lelah menghilang seketika ketika melihat senyuman itu.
Bahkan Qennan dan Hanz hampir saja meloncat kedua matanya melihat sang lord tersenyum. Seumur-umur mereka kenal baru kali ini mereka melihat sang lord tersenyum.
Sedang dokter sana diam terpukau melihat senyuman manis sang lord yang begitu mempesona membuat dokter cewe meleleh namun tak berani.
"Kenapa di sini?"
Tanya Aurora berjongkok sambil menaruh dagunya di paha Kaka berani dengan kepala yang menengadah.
"Harusnya kau istirahat!"
"Bagaimana operasi nya?"
Tanya Kaka membuat Aurora mengerucutkan bibirnya gemas.
Membuat Hanz dan Qennan langsung memalingkan wajah tak berani.
"Lancar!"
"Baiklah, ayo istirahat!"
Aura lembut itu membuat semua orang yang ada di sana terperangah. Pasalnya belum pernah sang lord bicara selembut itu. Entah pelet apa yang Aurora gunakan hingga membuat lord devil bertekuk lutut.
"Tapi, kau harus menjelaskan!"
"Hm!"
Aurora mengekor kemana Kaka pergi karena Kaka mengontrol kursi rodanya sendiri.
Aurora begitu penasaran dengan bangunan ini namun rasa lelah membuat Aurora urung bertanya.
Tak lama sebuah pintu terbuka nampaklah sebuah kamar yang begitu luas bahkan sama luasnya dengan kamar yang berada di menara.
"Istirahat lah!"
"Aku ingin mendengar--"
"Nanti akan ku jelaskan, jika kau tak lelah!"
"Sudah tidur, jangan membantah!"
Tegas Kaka mulai jengkel dengan tingkah Aurora.
"Kau ini!"
ketus Aurora tak kalah jengkel ketika Kaka mulai meninggikan lagi nada suaranya.
Aurora berbaring di atas ranjang sana karena benar-benar lelah.
Bagaimana tidak lelah, operasi Arsen membutuhkan waktu empat jam lamanya tentu membuat Aurora butuh istirahat dengan nyaman.
Sekedar merenggangkan otot-otot kembali agar Aurora kembali fresh.
__ADS_1
Kaka dengan setia menemani Aurora walau hanya sekedar memerhatikan saja. Kaka menatap lekat wajah cantik Aurora yang jika tidur terlihat nyaman.
Kaka tak menyangka jika ia akan mengatakan semuanya.
Bagaimana bisa Kaka jatuh cinta pada gadis yang berstatus istrinya sendiri. Entah sejak kapan perasaan itu muncul yang jelas sejak Kaka tahu jika Aurora orang yang menyelamatkan hidupnya.
Hingga ia berani lebih bahkan sampai melanggar janjinya.
Kaka terus menatap lekat Aurora bahkan tak teralihkan sama sekali. Tak pernah bosen bagi Kaka terus menatap Aurora karena baru kali ini Kaka melakukan hal bodoh itu.
Kaka mendekatkan kursi rodanya, karena Aurora tidur di samping ranjang membuat Kaka bisa menjangkau Aurora dengan mudah.
"Hari ini kau sudah berjuang, entah bagaimana perjuangan kamu dulu!"
Gumam Kaka tak pernah terbayang bagaimana Aurora mengurus para pasiennya. Pasti mata ini banyak bergadang dengan tubuh yang di paksa kuat.
"Kau penyimpan yang handal!"
Gumam Kaka lagi sangat kagum dengan apa yang Aurora lakukan. Bertahun-tahun menyembunyikan identitas bahkan tak ada satu orangpun yang tahu. Bahkan gelas dokter itu tak ada yang tahu bahkan Kaka tak menyangka lagi jika Aurora juga menyembunyikan dari keluarga walau sudah tahu namun mereka tetap bungkam karena ingin kejujuran Aurora.
"Nampaknya kau sudah benar-benar berubah!"
Masih ingat jelas di ingatan Kaka kali pertama mereka bertemu. Aurora gadis sopan dan anggun bahkan sedikit bar-bar. Tapi, kini Aurora tumbuh menjadi gadis dewasa, tegas dan berwibawa.
Pertemuan itu bukan pertemuan tujuh tahun lalu di mana Aurora menyelamatkan hidupnya melainkan pertemuan sembilan tahun lalu di mana tak sengaja Aurora menabraknya di hari pernikahan Fatih dan Shofi.
Kaka mengingat itu semua karena dia pengingat yang handal. Apalagi Aurora merupakan adik dari Fatih sendiri.
Sungguh Kaka tak menyangka jika ia akan berkeluarga dengan keluarga besar Al-biru. Salah satu keluarga yang terpandang di Jerman.
Hanya saja Farhan memang sendari kecil sudah di Indonesia.
Yang tertinggal hanya keluarga uncle Smith saja yang meneruskan kejayaan Al-biru bersama anak-anak nya sedang Farhan meneruskan di Indonesia.
Kaka memilih keluar membiarkan Aurora istirahat, istrinya itu pasti lelah belum lagi mengurusnya.
Ternyata Edward sudah menunggu sendari tadi di depan pintu sana.
"Bagaimana?"
"Keadaan gadis itu sudah membaik, ia terus memaksa meminta ponsel!"
Lapor Edward setelah menemani Vivi jalan-jalan Edward langsung melapor. Bukan tanpa alasan sang lord menyuruh Edward membawa Vivi. Sang lord hanya tak mau Aurora menyadari keberadaan Vivi sebelum ia memberi tahu kan.
Setidaknya Kaka akan membiarkan Aurora istirahat terlebih dahulu sebelum menghadapi kenyataan ini.
"Berikan!"
"Tapi lord!"
"Dia hanya ingin mengabari Aurora!"
Edward terdiam entah apa yang di pikirkan sang lord kenapa seberani ini. Padahal di sini tak ada yang boleh mengakses apapun sebelum waktu yang di tentukan.
"Jaga terus, kau bisa membawanya setelah ku perintahkan!"
"Baik Lord!"
Pasrah Edward kenapa sekarang ia harus menjaga gadis cengeng itu.
Ya, Edward menjuluki Vivi gadis cengeng karena tanpa hari selalu menangis. Edward tahu karena ia yang memantau terus tanpa sepengetahuan Vivi.
Dan sekarang tugas itu belum selesai membuat Edward bosan.
Lebih baik Edward di suruh mengintrogasi dari pada harus menjaga Vivi.
__ADS_1
Entah kenapa sang lord menyuruhnya menjaga Vivi padahal ada anggota lain.
Tentu!
Karena Vivi sahabat Aurora, Kaka hanya tak mau jika mereka di pertemukan keadaan Vivi masih kurang sehat bisa-bisa ia yang kena marah.
Entah sejak kapan Kaka tak mau Aurora marah seperti hal yang sering ia lakukan pada Cherry dulu.
Karena Cherry satu-satunya saudara perempuan membuat Kaka benar-benar menjaganya.
Kaka memang seorang penyayang di balik kedinginan nya. Namun kehangatan itu akan di berikan memang pada seseorang yang pantas di berikan.
"Kaka!"
"Pergilah!"
Perintah Kaka pada Edward karena mendengar suara istrinya memanggil.
"Kaka, kau di mana?"
"Di sini!"
Aurora menatap tajam Kaka yang tiba-tiba menghilang. Katanya akan menemani dia istirahat tapi ketika Aurora bangun tak mendapati Kaka berada di kamar.
"Kau pembohong!"
Ketus Aurora masih menatap tajam Kaka yang merasa bersalah. Kaka pikir Aurora akan tidur lama padahal ini baru sejam.
"Kenapa bangun, hm!"
"Kau menghilang!"
"Maaf, ya sudah kita kembali ke kamar!"
Bujuk Kaka namun Aurora menggeleng dengan mata yang tertuju ke luar.
"Kenapa?"
"Aku ingin mengelilingi bangunan ini!"
"Nanti, kau harus cukup istirahat!"
"Tapi aku tak ngantuk lagi!"
"Istirahat!"
Tegas Kaka tak mau di bantah membuat Aurora mencebikkan bibirnya gemas.
"Tapi aku sudah tak ngantu--"
Grep ...
Kaka menarik lengan Aurora kasar membuat Aurora terjatuh tepat di atas pangkuan Kaka.
"Kau!"
"Apa!"
Aurora bungkam di tatap manik biru itu yang begitu dekat dengannya.
Melihat Aurora diam Kaka menyeringai lalu menghidupkan kursi rodanya membawa dia dan Aurora.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1