
Kaka tersenyum menatap wajah cantik tanpa polesan makeup ini. Sungguh pagi ini terasa berbeda dari pagi sebelumnya.
Kaka begitu bahagia bahkan Kaka merasa ia orang yang paling bahagia di dunia ini. Entah apa yang membuat Kaka sebahagia itu sampai matanya tak bisa berpaling dari sang istri.
Tak bosannya Kaka terus memandang bahkan tanpa berkedip wanita yang masih terlelap di sampingnya.
Entah berapa lama butuh berkedip seolah Kaka sedang melihat hal yang menakjubkan.
Aurora menggeliat tak nyaman membuat ia perlahan membuka kedua matanya.
Deg ...
Aurora terpaku melihat senyum indah terukir di bibir sang suami. Namun, hanya sesaat ketika Aurora bertatap dengan manik biru indah ini.
"Pagi my wife!"
"Jangan menatap ku begitu!"
Akhhh ...
Jerit Aurora menarik selimutnya menutupi tubuh polosnya. Melihat reaksi Aurora yang seperti itu membuat Kaka terkejut.
"Sayang kau kenapa?"
"Ke-kenapa aku tak pakai baju!"
Cicit Aurora terkejut bercampur malu membuat Kaka seketika mengulum senyum geli.
"Sayang, apa kau lupa apa yang kita lakukan semalam!"
"Malam!"
Beo Aurora mencoba mengingat apa yang terjadi.
Bluss ...
Seketika wajah Aurora merona padam langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut membuat Kaka terkikik geli.
Sungguh Kaka tak menyangka sang istri akan lupa momen indah itu walau ada rasa kesal.
"Jangan!"
"Ayolah sayang, aku tak bisa melihat wajah cantik mu!"
"Tapi aku malu!"
Sungguh jika bisa Aurora ingin berlari bersembunyi ke manapun agar tak terlihat oleh sang suami. Bagaimana bisa Aurora begitu bodoh bisa lupa akan hal indah itu.
"Kenapa mesti malu, hm!"
"Maaf!"
Cicit Aurora perlahan menyembulkan kepalanya hanya kepala, catat.
Sungguh rasa malu, bersalah dan juga bahagia bercampur jadi satu.
Kaka menarik selimut itu pelan agar bisa melihat wajah sang istri dengan jelas.
"Kau sangat menggemaskan sayang!"
"Ini kenapa?"
Tanya Aurora polos sambil mengelus luka di bahu Kaka.
"Apa kau juga melupakan ini!"
Deg ...
Aurora benar-benar di buat mati kutu dengan semuanya kenapa ia begitu bodoh akan hal ini. Entah kemana perginya otak cerdanya kenapa jadi lemot seperti ini.
"Terimakasih untuk semuanya sayang!"
Ucap Kaka tulus sungguh ia sangat beruntung memiliki Aurora. Kaka merasa bangga karena ia yang pertama walau itu semua butuh perjuangan karena masalah ini Aurora benar-benar polos.
Padahal Aurora seorang dokter namun bagi dia ini benar-benar tabu sampai-sampai mendorong Kaka ketika mau memulai karena merasa sakit.
Begitu banyak drama yang terjadi walau begitu pada akhirnya Kaka bisa lolos.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku!"
"Tak akan pernah!"
Tegas Kaka, mana bisa ia meninggalkan Aurora setelah apa yang mereka lalui.
Kaka menarik Aurora bersandar di dada bidangnya. Dengan nyaman Aurora semakin menempelkan nya.
Aurora mengelus bekas luka di dada bidang Kaka. Seperti bekas sayatan namun entah karena Aurora tahu jika itu bekas peluruh.
"Begitu banyak bekas luka di tubuh ini, walau sebagian sudah memudar. Apa hidup mu begitu berat!"
"Jangan di pikirkan sayang!"
"Sekarang kau milikku, jadi apapun yang terjadi jangan menyembunyikan apapun!"
Tegas Aurora tak mau suami nya terus terluka seperti ini. Istri mana yang sanggup melihat setiap luka di tubuh suaminya. Sungguh itu sangat menyayat hati Aurora sendiri.
"Kaka!"
Aurora menatap wajah sang suami yang begitu tampan berkali lipat dengan rambut acak-acakan begini.
"Kenapa kau menangis waktu itu! Ketika kita akan begini?"
Tanya Aurora penasaran dengan air mata yang keluar di netra biru indah ini.
"Merasa bersalah!"
"Benarkah!"
"Ya! Waktu itu aku merasa menjadi laki-laki egois menginginkan sesuatu tanpa memikirkan perasaan mu!"
"Aku tahu diamnya kau bukan sebagai jawaban iya melainkan diam ketakutan!"
"Jika di lanjutkan aku tahu hanya akan ada penyesalan di hati kamu!"
Aurora menatap penuh haru nyatanya Kaka begitu menghormatinya sampai segitunya.
Ya, apa jadinya dulu jika terjadi mungkin Aurora akan menyesal pada akhirnya dan Kaka tak mau itu terjadi.
"Mana mungkin aku menyakitimu!"
"Karena kau yang terakhir!"
Cup ...
Setelah apa yang mereka lalui Kaka berani bertindak tanpa minta izin lagi karena semuanya sudah sepenuhnya miliknya. Tak perlu takut akan Aurora yang terpaksa karena kini Aurora juga menginginkannya.
"Siapa yang pertama?"
"Pikir saja sendiri!"
Sitt ....
Aurora menggeram ketika Kaka malah mengendus lehernya membuat tubuh Aurora meremang.
"Ka-kaka hentikan, siapa yang pertama!"
Kesal Aurora menjauhkan kepala sang suami di lehernya. Hingga manik mereka bertemu mereka sama-sama diam dengan Aurora menunggu jawaban Kaka.
"Aku, laki-laki ke berapa yang kau cintai?"
"Ya tentu yang terakhir karena yang perta--"
Aurora menghentikan ucapannya menatap sang suami.
"Kau tahu jawabannya sayang!"
Gemas Kaka membuat Aurora menatap tajam dirinya. Suaminya ini benar-benar selalu saja menggodanya dan sialnya Aurora selalu terpancing.
"Kaka!"
"Sayang!"
Mereka sama-sama memohon namun berbeda arti. Tentu Kaka menginginkannya lagi seperti yang semalam sedang Aurora memohon jangan karena itu saja masih sakit masa harus di tambah lagi rasa sakitnya.
"Apa masih sakit?"
__ADS_1
"Heem!"
"Ya sudah, kita mandi saja!"
Pasrah Kaka walau mereka sudah membersihkan diri semalam sebelum tidur tetap saja mereka harus mandi bukan.
Kaka langsung menggendong Aurora membawanya ke dalam kamar mandi tentu Aurora langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh sang suami.
"Berendam lah dulu agar badan kembali rileks,"
"Mau kemana?"
"Mandi di kamar sebelah!"
"Masuk lah!"
Pinta Aurora membuat Kaka diam mematung ragu akan ucapan sang istri.
"Ayo!"
Aurora menarik lengan sang suami membuat Kaka dengan senang hati ikut bergabung kedalam bathtub.
"Berbalik!"
Kaka menurut saja ketika Aurora menyuruhnya berbalik hingga Kaka membelakangi Aurora. Dengan pelan Aurora memijit pundak Kaka membuat Kaka merasa nyaman akan perlakukan istrinya.
Aurora begitu miris melihat bekas cakar dirinya di punggung sang suami. Apa aku sekejam itu, padahal aku tak suka memelihara kuku panjang, batin Aurora meringis.
Jika saja kukunya panjang sudah di pastikan punggung sang suami koyak.
Pijatan Aurora beralih ke kepala Kaka sambil menariknya menyandar di dada nyamannya. Jika begini mana bisa menolak apalagi ini terasa nyaman. Pijatan Aurora memang tak bisa di ragukan lagi sungguh tangannya begitu pawai.
"Belajar memijat dari siapa?"
"Gak belajar!"
"Istriku memang cerdas!"
Cih!
Aurora hanya berdecak malas mendengarnya karena memang sejatinya Aurora tak suka di puji.
"Sudah sayang, kini giliran kamu!"
Ucap Kaka mengganti posisinya di mana kini dirinya yang menyandarkan Aurora ke dada bidangnya.
Kaka mulai memijit dengan hati-hati karena takut menyakiti sang istri.
Aurora sangat nyaman sekali berada di posisi begini apalagi bisa merasakan detak jantung sang suami.
Sudah selesai saling pijat memijat kini mereka langsung menyelesaikan ritual mandinya karena gak baik juga terlalu lama berendam.
Saling mengobrol ringan dengan sedikit candaan karena Kaka terus menggoda Aurora.
"Sudah bi, geli!"
Kikik Aurora ketika Kaka menggelitik perutnya. Kaka menghentikan kejahilannya ketika mendengar Aurora memanggil dia lain.
"Sayang kau tadi panggil apa?"
"Gak ada!"
"Jangan bohong, di gelitik lagi!"
"Ampun ha .. ha .. Ampun Bi!"
"By!"
"Ampun my hubby, geli!"
Kikik Aurora menahan lengan Kaka yang terus menggelitik perutnya.
"Katakan lagi!"
"Hubby!"
Wajah Kaka merona mendengarnya sungguh hatinya berbunga-bunga mendengar panggilan baru dari sang istri.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....