
Edward tak mengingkari ucapannya, ia benar-benar mengurung Vivi dalam artian mereka belum pernah jalan-jalan setelah kepulangan mereka dari mendaki.
Edward menghabiskan waktunya dengan Vivi karena mereka punya misi yaitu membuat Vivi hamil.
Vivi tak protes sama sekali dengan apa yang Edward lakukan karena Vivi yang sudah memutuskan semuanya bahkan Vivi sudah siap jika hamil mengingat usia dia tak lagi muda.
Bahkan Vivi tak merasa bosan sama sekali seharian berada di Villa. Bagaimana merasa bosan jika Edward mengajak Vivi bercocok tanam bunga dan juga melakukan aktivitas lainnya seperti gym dan juga melukis.
Itulah keseharian mereka dan Vivi tak merasa bosan karena dia akan selalu menjadi objek lukisan Edward dengan gaya apapun.
Hari yang menyenangkan karena Edward tak pernah membuat Vivi merasa bosan sama sekali. Mengingat banyak kegiatan yang mereka lakukan di Villa bahkan ada sebagian tanaman yang sudah berbunga walau belum mekar. Tak cuma tanaman bunga Edward juga menanam beberapa buah-buahan di pinggiran taman agar Vivi tak merasa bosan dan tak merasa terkurung oleh Edward.
Bahkan Edward menyisikan di tengah taman itu supaya kosong dimana Edward di sana membuat tenda untuk mereka menikmati suasana sore.
Villa itu memang sudah menjadi milik Edward karena Edward sudah membelinya dengan harga fantastis karena awalnya sang pemilik tidak ingin menjualnya. Edward menaikan harga dua kali lipat hingga sang pemilik memberikannya. Siapa yang tak tergiur oleh uang sebanyak itu bahkan sang pemilik Villa bisa membuat dua villa dengan hasil penjualan uang tersebut.
Jadi bebas buat Edward melakukan apa saja terhadap villanya. Edward sengaja membeli karena tak ingin kenangan ia bersama Vivi terhapuskan. Mungkin Edward akan sering mengunjungi Indonesia nantinya setelah mereka kembali ke Jerman. Bahkan Edward tak datang ke pernikahan Hanz dan dokter Emma karena misinya.
Hanz mengerti dengan apa yang terjadi dan ia tak masalah apa lagi Edward memberikan hadiah honeymoon ke Selandia baru yang Juluki negara Aotearoa. Aotearoa ini merupakan kata dalam bahasa Maori yang artinya adalah tanah berawan putih panjang.
Selain mempunyai nama Aotearoa sebagai nama julukan, Selandia Baru juga punya satu nama julukan lagi. Nama tersebut adalah Negeri Kiwi.
Dua nama julukan negara Selandia Baru, baik Aotearoa maupun Negeri Kiwi tentu mempunyai historisnya masing-masing.
Julukan Aotearoa pada negara Selandia Baru erat kaitannya dengan populasi masyarakat di sana. Berdasarkan sejarah, Selandia Baru atau New Zealand merupakan daratan utama yang paling terakhir di mukim oleh manusia.
Setelah berabad-abad lamanya, para pemukim ini kemudian mengembangkan budaya yang berbeda. Budaya tersebut adalah Maori. Oleh sebab itu, tak heran bila Selandia Baru memiliki julukan Aotearoa yang merupakan kata dalam bangsa Maori.
Dan julukan negara Selandia Baru sebagai Negeri Kiwi adalah sebutan yang cukup populer. Pasalnya, masyarakat negara Selandia Baru juga dikenal dengan sebutan Kiwi People atau Kiwi sejak Perang Dunia I selesai.
Asal-usul julukan Negeri Kiwi bagi negara Selandia Baru adalah adanya burung darat unik di Selandia Baru yang bernama burung Kiwi. Burung Kiwi ini merupakan ikon negara Selandia Baru dan sangat dihormati oleh suku Maori.
Selain mempunyai julukan yang unik, Selandia Baru juga mempunyai pemandangan alam yang super cantik. Oleh sebab itu, banyak wisatawan menjadikan Selandia Baru sebagai destinasi wisata tujuan.
Tentu cocok untuk Hanz dan dokter Emma honeymoon di negara itu.
"My heart!"
Panggil Vivi mencari Edward karena tak ada di kamar. Bahkan di taman pun tak ada entah kemana perginya Edward.
"My heart!"
Panggil Vivi sekali lagi namun tak ada sahutan dari Edward. Langkah Vivi terhenti ketika melihat sesuatu di balik shopa sana. Vivi berjalan menuju ruang tamu seketika Vivi tersenyum melihat Edward ternyata tidur di sana dengan ponsel di dadanya.
Vivi menyingkirkan ponsel itu mengelus wajah Edward lembut.
"My heart bangun!"
"Hm!"
Edward hanya bergumam saja enggan untuk bangun, ia sangat ngantuk sekali apalagi ia bergadang karena banyak pekerjaan yang ia harus selesai kan.
"Bangun, ini sudah sore kamu harus mandi!"
__ADS_1
Bisik Vivi lembut namun tak membuat Edward bangun ia malah berbalik memunggungi Vivi. Tak kehabisan akal Vivi memainkan telinga Edward membuat Edward benar-benar terusik.
"Masih ngantuk my love!"
"Udah sore, kamu harus mandiiiiii!!"
Pekik Vivi terkejut ketika Edward menarik tubuhnya hingga berada di atas tubuh Edward. Perlahan Edward membuka kelopak matanya tersenyum lembut walau masih terlihat wajah bantalnya.
"Sudah sore, kamu harus mandi!"
Cup ...
"Aissttt, bangun ayo!"
Cup ...
Lagi-lagi Edward mengecupnya membuat Vivi kesal hingga memukul pelan dada Edward.
"Sakit my love!"
"Alasan saja, ayo bangun tak baik terus tidur di sore hari!"
"Mandikan!"
"Mana ada, aku harus masak!"
"Baiklah, beri aku ciuman dulu!"
Cup ...
Ciuman itu begitu lembut membuat Vivi lupa pada niat awalnya membangunkan Edward.
"Ed, aku sudah mandi!"
"Aku tahu, tak masalah mandi lagi bukan!"
Jahil Edward membuat Vivi melotot, Vivi semakin membulatkan kedua matanya ketika Edward malah menggendongnya.
"Ed, aku harus masak!"
"Mandikan aku dulu!"
Tegas Edward membuat Vivi menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi ia juga tak bisa menolak.
Vivi benar-benar memandikan Edward namun tak lebih hanya sekedar memandikan Edward pun tak jahil ia diam nyaman ketika Vivi memandikannya.
Sudah selesai memandikan Vivi menyiapkan baju gantinya.
Hari ini seperti nya Edward benar-benar menjadi baby besar. Bahkan menyisir pun Vivi yang melakukannya.
"Sudah tampan!"
"Benarkah!"
__ADS_1
"Heem!"
"Baiklah, karena sudah memujiku biarkan aku yang masak hari ini!"
"No, biar aku Ed!"
"No!"
"No!"
"No!!"
"Masak berdua!"
"Yes!"
Pada akhirnya mereka berdua kompak masak untuk makan malam mereka sedang kedua bodyguard sedang jalan-jalan dan berbelanja memanjakan diri mereka karena Edward memberikan bonus pada mereka. Bahkan kedua bodyguard Edward tebar pesona pada gadis-gadis bening, mereka berdua benar-benar menikmati hidupnya.
"My heart, jangan terlalu pedas!"
Protes Vivi kurang suka makan pedas apalagi ia seorang dokter tentu makanannya di jaga.
"Cuma sedikit my love, ia tak akan pedas!"
"Aissttt, awas saja kalau nanti sakit perut!"
"Kan ada buk dokter!"
Vivi mengerucutkan bibirnya kesal dengan apa yang Edward lakukan.
Biasanya perempuan selalu suka pedas berbeda dengan Vivi. Vivi kurang suka pedas sedangkan Edward menyukainya bahkan setiap Vivi masak tak ada satupun makanan pedas dan untuk itu membuat Vivi tak mau jika Edward yang memasak.
"Seperti nya aku harus membuang itu semua!!"
Kesal Vivi membuang semua saus yang pedas-pedas lainnya. Edward hanya tersenyum saja melihat kelakuan istrinya bahkan Edward tak marah justru ia menikmati wajah lucu sang istri.
"Sudah!"
"Awas kalau terasa pedas!"
"Sudah jangan ngomel mulu, ayo kita makan!"
Ajak Edward membawa Vivi ke meja makan, mereka makan malam.
"Ini khusus buat kamu dan ini buat aku!"
Ucap Edward karena ia memang memisahkan masakannya yang pedas buat dia dan yang standar buat sang istri tercinta.
" Makasih my heart!"
"Untuk mu!"
Vivi tersenyum melanjutkan makannya, mereka memang sering berdebat masalah masak namun itulah mereka selalu melupakan jika sudah selesai.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ..