
Edward sangat kesal karena Vivi terus saja menempel dengannya bahkan Edward tak di izinkan memegang pekerjaan apapun.
Padahal banyak pekerjaan yang harus Edward selesai kan.
Tidak hanya malam gagal nonton kemaren dan hari ini tingkah Vivi benar-benar aneh bahkan Edward harus memakai pakaian yang Vivi siapkan walau kadang Edward tak mau. Bagaimana Edward mau jika Vivi menyuruh Edward memakai baju Vivi sendiri. Mau ditaruh di mana muka Edward masa harus memakai pakaian wanita walau itu bukan dress.
Sungguh Edward benar-benar pusing dengan apa yang Vivi lakukan. Jika kemaren-kemaren Edward mau tapi kali ini Edward menolak karena baju yang Vivi siapkan berwarna pink dengan celana pendek tak kebayang kegagahan Edward menjadi hancur.
"Cinta aku tak mau!"
"Ed, kau harus memakai nya!"
"Tapi itu membuatku malu!"
"Tak ada yang lihat hanya aku saja!"
"Aku tak mau, jangan memaksa!"
Kesal Edward benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Vivi. Bagaimana kedua bodyguard melihat mau di taruh di mana muka Edward.
"Kamu membentak ku, Ed!"
Cetus Vivi tak kalah kesal karena Edward tak mau menurut lagi.
Edward memejamkan kedua matanya menahan amarah yang meledak. Entah apa yang merasuki Vivi hingga bertingkah konyol seperti itu.
Edward memilih keluar dari kamar meninggalkan Vivi yang berkaca-kaca, hati Vivi sungguh sakit ketika Edward membentaknya. Apa salahnya jika tak mau kenapa harus membentak segala.
Vivi hanya ingin Edward memakai saja, hanya itu apa salahnya. Vivi juga tak tahu kenapa ia sangat suka melihat Edward seperti itu.
Glek ... Glek ...
Edward meminum air sampai tandas berusaha menguasai amarahnya. Edward berpikir sejenak apa yang membuat Vivi seperti itu. Tingkah Vivi berawal dari tak jadinya nonton dengan alasan tak mau Edward menjadi pusat perhatian. Lantas apa hubungannya dengan baju-baju sialan itu.
Apa Vivi ingin membuatnya jelek agar tak ada yang mendekatinya, ya ampun tapi tak seperti itu juga.
Edward berusaha menguasai amarahnya agar tak meledak. Seperti Edward harus bicara hati-hati mengingat ia tadi hampir lepas kendali bahkan Vivi pasti sedang menangis akibat bentakan tadi.
Seperti nya Edward harus menurunkan egonya sekali lagi apalagi memang Edward belum memakai baju sendari tadi akibat perdebatan tadi.
Edward kembali masuk ke kamar, di lihat nya Vivi sedang tertidur membelakanginya dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
Edward duduk di bibir ranjang menatap gulungan selimut.
"Maaf sudah membentak mu!"
Ucap Edward merendah agar hubungan mereka tak seperti ini.
"My love!"
Vivi menahan selimut dari dalam ketika Edward menariknya.
"Jangan begini ayo bicara cinta,"
"Apa kamu mau hubungan kita begini setiap harinya?"
Vivi mencengkram selimut benar yang Edward katakan. Tapi Vivi tak menemukan jawaban dengan keanehan dirinya sendiri.
"My love!"
Perlahan Vivi menurunkan selimutnya menatap sang suami dalam.
"Kenapa?"
Vivi menggeleng karena ia juga tak tahu alasannya. Keinginan itu melintas begitu saja tanpa Vivi cegah hingga Vivi tak tahu alasannya.
__ADS_1
"Aku tak bermaksud membentak mu, coba kamu bayangkan bagaimana penampilan ku jika harus memakai baju ini!"
Ucap Edward lembut sambil memperlihatkan baju tadi yang harus Edward pakai.
Vivi menatap pakaian itu, Vivi terdiam membayangkan nya saja membuat Vivi geli.
"Apa kamu tega melihat suami tampan mu ini menjadi laki-laki jadi-jadian!"
Ucap Edward lagi membuat Vivi semakin menggeleng tak mau.
"Maaf!"
Cicit Vivi merasa bersalah karena sudah memaksa Edward. Vivi sadar jika ia sudah kelewatan.
"Jangan di ulangi ya!"
Vivi mengangguk patuh memegang lengan Edward yang mengelus wajahnya.
"Ya sudah, aku pakai baju dulu kita juga belum sarapan!"
Vivi menahan lengan Edward lalu bangun dari tidurnya.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu mau?"
"Nasi goreng!"
"Baiklah, nanti aku buatkan!"
Namun Vivi masih menahan lengan Edward membuat Edward harus sabar apalagi yang Vivi inginkan.
"Apa ada lagi yang cinta inginkan?"
Edward berusaha akan tetap sabar asalkan permintaan Vivi tak aneh-aneh.
"Ak-aku mau kau tak pake baju memasaknya!"
Edward terkejut dengan permintaan sang istri ini lebih gila dari yang Edwar kira bagaimana bisa sang istri menyuruh ia tak pakai baju.
"Are you serious!!"
Vivi mengangguk malu, ia beranjak dari ranjang menarik Edward menuju lemari. Vivi hanya mengambil celana pendek Edward lalu memberikannya pada Edward.
"Pakai ini, tak usah pakai baju!"
Huh ....
Edward menghela nafas lega Edward pikir benar-benar tak memakai apapun ternyata hanya sebatas baju doang.
Edward memakai celana cepat karena tak mau membuat Vivi berubah pikiran lagi bisa-bisa menjadi masalah besar.
Mereka berdua pergi ke dapur guna membuat nasi goreng keinginan Vivi.
Vivi duduk melihat Edward memulai masaknya.
Wajah Vivi merona melihat keseksian sang suami.
Punggung lebar dengan otot tangannya yang menonjol belum lagi perut kotak-kotak Edward yang terekspos jelas membuat Edward terlihat gagah.
Rasanya Vivi ingin mengurung sang suami agar tak ada orang yang melihatnya apalagi ibu-ibu perkebunan sangat genit.
Jika dulu Edward yang mengurung Vivi kini Vivi yang ingin mengurung Edward. Entah kenapa Edward semakin tampan saja membuat Vivi tak ingin ada yang melihat suaminya.
"Sudah selesai!"
Vivi membuang muka jangan sampai ia ketahuan memerhatikan Edward dari tadi.
__ADS_1
Vivi seperti gadis yang malu-malu memerhatikan pujaan hatinya. Itu persis cocok untuk julukan Vivi saat ini.
Bahkan saat makan pun ia mencuri-curi pandang pada sang suami padahal jika ingin melihat kenapa bertingkah menggemaskan seperti itu.
Edward bukan tak tahu tingkah sang istri dari tadi namun Edward hanya diam saja ingin melihat sejauh mana tingkah sang istri agar Edward bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi.
Mengamati seseorang tanpa melihat itu sudah menjadi keahlian Edward.
Sudah makan Edward meminta izin mengerjakan pekerjaan ia ingin melihat apa yang akan Vivi lakukan.
Vivi terus saja menempel bahkan saat Edward kerja Vivi tidur di pangkuan Edward.
Vivi menatap Edward yang sedang fokus rasanya tak bosan terus menatap Edward dalam keadaan apapun.
Walau sedikit tak nyaman mengetik karena posisi kepala Vivi berada di atas pangkuan Edward membuat Edward sedikit pegal karena harus sedikit berjauhan dengan laptopnya.
Edward menghentikan sejenak pekerjaan menunduk menatap sang istri yang sendari tadi tangannya tak diam.
Bagaimana Edward fokus bekerja jika Vivi terus saja mengelus jakunnya sendari tadi.
"Kenapa berhenti, Ed?"
"Tanganku pegal cinta!"
"Biar ku pijit!"
Vivi bangun dari tidurannya menarik tangan Edward ke atas pangkuannya. Vivi memijit lengan Edward dengan senang hati.
Seperti nya Edward sudah tahu jawabannya kenapa sang istri bertingkah aneh seperti ini.
"My love!"
"Hm!"
"Cantik!"
Vivi tersipu mendengar pujian Edward membuat Edward tersenyum semakin yakin dengan dugaannya.
Grep ..
Dengan sekali angkat Vivi sudah berada di atas pangkuan Edward. Edward mengunci tatapan Vivi dengan tangan mengelus pinggang Vivi.
Tangan Edward bukan lagi mengelus melainkan masuk kedalam baju Vivi.
"Ed!"
"Aku tahu kamu menginginkan ini sendari tadi!"
Cup ...
Edward membungkam bibir sang istri tak membiarkan sang istri protes akan hal apapun.
Sekarang Edward tahu dan ia akan mengabulkannya.
"Nanti kita kerumah sakit ya?"
Ucap Edward setelah menyelesaikan keinginan Vivi.
"Kamu sakit , Ed?"
Panik Vivi ingin beranjak dari pangkuan Edward namun dengan cepat Edward menahannya.
"Kita lanjut ronde kedua dulu!"
Bluss ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....