
Di Ruang keluarga suasana terasa mencengkram menunggu sebuah jawaban yang tak kunjung terucap.
Semuanya menunggu akan sebuah jawaban penting bagi sebagian orang tapi tidak dengan Edward.
Edward tak peduli akan apa pun jawaban Vivi akan pernikahan itu.
Yang penting ia tak menolak ataupun menerimanya tepatnya Edward bagaimana keputusan Vivi.
Edward orang yang anti memaksa dalam hal seperti ini berbeda ketika ia menjalankan tugas.
Uhuk ...
Uhuk ...
Profesor Tuner berbatuk membuat semua orang menjadi panik namun Profesor Tuner mengisyaratkan agar semuanya diam.
Profesor Tuner menatap Vivi lembut membuat Vivi langsung menunduk meremas ujung dress nya.
"Vi, katakanlah!"
Bisik Aurora ia sudah tak bisa menunggu lagi karena Kim sebentar lagi pasti akan terbangun.
Aurora memaksakan keluar karena ingin mendampingi Vivi agar tidak terlalu gugup namun ini sudah setengah jam lebih Vivi masih saja diam.
Profesor Tuner sendari tadi menahan segala gejolak rasa di dada. Ia tak bisa lagi menunggu dan ia juga tak bisa memaksa.
"Tak apa, jika tak mau!"
Ucap Profesor Tuner membuat Vivi langsung mengangkat kepalanya.
"Prof!"
"Tak apa nak, saya izin ke kamar sebent--"
"Sa-saya menerimanya!"
Deg ...
Profesor Tuner terdiam menatap Vivi dengan seulas senyum namun pandangan itu bulai blur hingga
Bruk ....
"Prof!"
"Dad!"
Pekik semua orang terkejut melihat profesor Tuner tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya.
"Dad, bertahan lah!"
Cemas Edward menggendong profesor Tuner. Semua orang nampak panik langsung memboyong dokter Tuner masuk kedalam kamar.
Kaka langsung menghubungi dokter Abe dan Emma agar datang kerumahnya.
Aurora tak bisa membantu lebih karena kondisinya nampak belum stabil.
Vivi yang bergerak menangani walau sebenarnya jantungnya serasa mau copot.
Vivi berusaha konsentrasi memeriksa profesor Tuner walau kepanikan Edward sedikit membuat konsentrasi Vivi menurun.
Prof, bertahanlah!
Batin Vivi melakukan injeksi karena jantung profesor Tuner semakin melemah.
Profesor Tuner harus selamat apapun caranya. Akan ada banyak hati yang terluka jika ia benar-benar tak ada.
Dokter Emma dan dokter Abe masuk tergesa-gesa membuat Kaka langsung menyeret Edward agar keluar kamar.
"Daddy, Lord ... Daddy!!"
"Kau harus tenang sialan!!"
__ADS_1
Geram Kaka karena Edward tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Pintu kamar kembali tertutup membiarkan ketiga dokter spesialis menangani. Untung di kediaman tersedia semuanya membuat semuanya mudah walau mereka tak tahu profesor Tuner selamat atau tidak.
Profesor Tuner memang sudah lama sakit namun ia selalu mengabaikan rasa sakit itu hingga membuat penyakit tumor, jantung dan ginjal semakin menyebar.
Komplikasi itu semakin akut namun profesor Tuner selalu tak mau di ajak berobat.
Ia akan selalu bilang, biarkan penyakit ini menemani masa tuanya.
Begitulah kiranya profesor Tuner katakan. Semenjak kepergian istrinya profesor Tuner memang selalu menghabiskan waktunya di lab. Tubuhnya tak ia perhatian hingga seperti ini.
Dokter Abe meminta dokter Emma mengecek jam dan detakan indikator sedang dokter Vivi terus memberi injeksi agar detak jantung profesor Tuner kembali normal.
Ayolah, ayo!!!
Batin Vivi terus berusaha walau keringat sendari tadi terus bercucuran. Ia tak akan menyerah begitu saja sampai profesor Tuner bisa melewati masa-masa menakutkan ini.
"Dok!"
Cetus dokter Emma membuat dokter Abe langsung memegang lengan profesor Tuner.
Vivi menunduk lesu dengan nafas memburu sungguh ini sangatlah menegangkan.
Di luar tak hentinya Edward bulak-balik, terlihat jelas wajah cemas dan paniknya. Ia tak mau kehilangan lagi, Edward belum sanggup.
Kaka dan tuan pertama saling pandang rumit entah apa yang ada di dalam pikiran dua manusia penuh misterius itu.
Tiba-tiba tuan pertama beranjak dari duduknya berlalu pergi begitu saja. Entah apa yang akan tuan pertama lakukan kenapa pergi di saat keadaan seperti ini.
Ini sudah dua jam namun tak ada satupun tanda-tanda dokter Emma, dokter Abe atau Vivi keluar.
Cklek ...
Semua orang langsung berbalik ketika mendengar pintu terbuka.
"Bagaimana keadaan Daddy?"
"Prof ingin bertemu anda, masuklah!"
Edward menatap Kaka yang mengangguk, Edward langsung menerobos masuk.
"Jantung prof tadi sempat terhenti, namun dokter Vivi berusaha semampunya. Tiba-tiba Prof sadar namun--"
Kaka mengisyaratkan agar dokter Abe diam, Kaka mengerti akan situasi seperti ini.
Perlahan Edward mendekat di sana Vivi menunduk menahan agar air matanya tak jatuh.
Melihat Edward mendekat membuat dokter Emma keluar membiarkan dokter Vivi dan Edward di dalam.
"Dad!"
Lilir Edward gemetar melihat keadaan profesor Tuner yang begitu tak baik-baik saja bahkan terlihat jelas di indikator sana detak jantungnya tak normal.
"Jaga dia untuk Daddy!"
"Dad!"
Ucap Edward menggeleng kuat, ia tak sekuat itu harus merasa kehilangan lagi.
"Berjanjilah!"
Profesor Tuner memejamkan kedua matanya membuat Vivi semakin menunduk sudah tak bisa lagi membendung air matanya.
"Dad, kau pasti sembuh percaya itu!"
Edward berusaha tenang walau hatinya terus berperang sungguh ini sangatlah menyakitkan.
"Prof, jangan banyak bicara hiks ,,,"
Isak Vivi langsung mengangkat kepalanya ketika tangannya merasa semakin di cengkram.
__ADS_1
"Nak, jangan pernah meninggalkan putraku apapun yang terjadi!"
"Dad!"
Sentak Edward tak terima kenapa harus seperti ini.
Profesor Tuner tersenyum dengan nafas yang mulai sesak kembali.
"Dad, buka mata mu, Daddy!"
Panik Edward mengguncang tubuh profesor Tuner sungguh jantungnya seakan meloncat melihat semuanya.
"Dad, hiks ... Buka matamu!!"
"Ed-edward Aldarberto!"
"Dad!"
Edward menyeka air matanya melihat profesor Tuner kembali membuka kedua matanya.
Seolah itu tatapan terakhir bagi mereka.
"Menikahlah!"
Duarr ...
Edward dan dokter Vivi saling tatap satu sama lain. Pandangan mereka begitu rumit sangat rumit hingga sulit di jelaskan.
Vivi menggelengkan kepala bahwa ini tak benar.
"Baik dad!"
Deg ..
Vivi terkejut akan keputusan mendadak ini. Bagaimana bisa mereka menikah dalam situasi seperti ini.
"Daddy janji akan sembuh ya, jika Ed menikah!"
"Sekarang!"
Edward mengepalkan kedua tangannya kuat dengan mata terpejam erat berusaha menguasai segala emosi yang ada.
"Apa pun, tapi Edward belum menyiapkan apapun!"
"Tak perlu!"
Edward dan Vivi langsung melirik kearah pintu di mana tuan pertama masuk dengan beberapa orang tak di kenal.
"Mereka yang akan menikahkan kalian!"
Glek ...
Vivi menelan ludahnya kasar menatap nanar sang adik yang menatapnya iba.
Ya, Arsen di jemput dari asramanya karena dia yang akan jadi wali nikah Vivi mengingat ayahnya sudah meninggal.
Sungguh, Vivi tak menyangka jika ia akan berada dalam posisi seperti ini. Posisi yang tak pernah terlintas dalam benaknya.
Ra, apa ini yang kamu rasakan dulu! Mungkin kamu lebih dari ini!
Jerit batin Vivi mengingat cerita awal Aurora menikah dengan Kaka di mana mereka dinikahi dengan paksa oleh warga.
Bedanya Vivi di nikahkan oleh satu keluarga.
Sungguh nasib yang hampir sama namun berbeda alur cerita.
Entah bagaimana pernikahan mereka nanti, yang pasti lihatlah kedepannya nanti.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1