Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 112 K: PC 2 ( Kau melukisnya!)


__ADS_3

Perjalanan London Jerman tak membuat Edward sedikitpun kelelahan membuat Vivi merasa heran.


Entah terbuat dari apa tubuhnya kenapa terus di kerjakan bak robot.


Padahal mereka baru sampai di kastil tepatnya di bagian barat kediaman Edward. Kini Edward pergi lagi tanpa berkata apapun meninggalkan Vivi sendirian di sana.


Vivi mencoba masa bodo dengan apa yang Edward lakukan. Toh, hubungan mereka tak sedekat itu.


Vivi memilih mengelilingi kediaman Edward saja. Walau ia pernah ke sini apalagi masuk kamarnya tapi Vivi tak tahu bagian-bagian lain.


Ruangan yang cukup besar sama seperti bangunan-bangunan lain. Terlihat banyak sekali lukisan menghiasi dinding, bisa Vivi tebak seperti nya Edward menyukai seni.


Namun, anehnya rata-rata lukisan yang menghiasi dinding sana tergambar langit.


Tak ada lukisan lain, semuanya langit walau berbeda keadaan dan tempat.


Entah siapa yang melukis itu semua, tak mungkin Edward sendiri bukan!


Puas mengelilingi bagian dalam walau Vivi tak berani masuk kebagian pintu-pintu yang tertutup rapi.


Kini Vivi memilih melihat halaman belakang di mana terdapat beberapa macam bunga walau tak sebanyak di kastil milik Jendral Kaka.


Seperti nya Edward kurang menyukai Bunga terbukti dari rumahnya yang tak ada satupun hiasan Bunga menghiasi meja ataupun nakas.


"Aku tak sabar, meracik parfum baru!"


Gumam Vivi tersenyum mencium bunga sana sambil memejamkan mata seolah menikmati aroma bunga lili.


Otak Vivi terbang jauh berimajinasi wangi apa lagi yang akan ia ciptakan.


"Tapi, aku harus membuat parfum Aurora, stok dia sudah menipis!"


Gumam Vivi mengingat Aurora meminta parfum karena stoknya sudah menipis.


"Baiklah, aku akan meracik kamu sesudah meracik untuk Aurora!"


Monolog Vivi mengajak bicara bunga-bunga di sana seolah bunga di sana menjawab dan mendengarkan celotehannya.


Tanpa Vivi sadari, apa yang ia lakukan tak lekas dari tatapan elang seseorang.


Vivi bak anak kecil tertawa dan bicara sendiri pada bunga-bunga yang bisu. Seperti itulah dunia Vivi ketika ia berada di taman bunga.


Seolah dia berada di dunia paling indah dan itu juga membuat Vivi merasa nyaman dan tenang.


Vivi menghentikan tawanya ketika merasa ada yang memerhatikan. Ia berbalik namun tak ada orang.


"Mungkin, perasaanku saja!"


Gumam Vivi melanjutkan aktivitas nya.


.


.


"Kau melukisnya!"


Deg ...


Edward terkejut akan kedatangan Qennan tiba-tiba. Saking terkejutnya ia sampai menjatuhkan kuas yang ia pegang.


"Cantik!"


"Kau!"


Geram Edward menatap tajam sahabatnya yang selalu berani masuk keruang pribadinya.


Dengan cepat Edward menutup kertas kanvas mencoba tenang.


"Ada apa?"


"Kau menyukainya?"


"Katakan atau kau pergi!"


Bentak Edward membuat Qennan bergidik ngeri. Tidak Edward tidak Kaka, dua-duanya sama-sama tempramen tak bisa di ajak santai sedikit saja.

__ADS_1


"Tua Bangka itu semakin gencar mencari nona, bahkan dia menyuruh detektif internasional!"


Edward tersenyum seringai, ternyata musuh sudah bergerak lebih cepat dari dia.


"Biarkan!"


"Kau!"


"Biarkan mereka bergerak, sejauh mana mereka berani!"


"Tapi nona belum tahu kebenarannya!"


"Itu tugas ku, kau hanya perlu pantau pergerakan mereka!"


"Itu terlalu beres--"


"Keluar!"


Potong Edward membuat Qennan menghela nafas berat.


Qennan terkadang bingung dengan jalan pikiran Edward yang selalu santai akan apapun sama seperti sang Jendral.


Walau begitu Qennan tahu, Edward pasti sedang merencanakan sesuatu hal yang besar.


"Belum saatnya kau tahu!"


Gumam Edward menatap sebuah lukisan yang memang sudah jadi walau warnanya belum sempurna.


"Aku tahu rasanya di khianati oleh orang yang kita percayai dan aku tak mau ada Kaka kedua dalam hidup ku!"


Monolog Edward lagi, kenapa ia selalu berada dalam posisi yang tak menguntungkan.


Mengingat bagaimana hancurnya hati Kaka dulu membuat Edward emosi, walau bagaimanapun sekarang Vivi tanggung jawabnya.


Setidaknya mereka tidak tahu kehadiran Arsen, itu jauh lebih baik dan Edward harus menjauhkan Vivi dan Arsen sementara waktu.


Edward membereskan alat-alat lukisnya ketempat semula. Sudah selesai ia keluar dari ruangan tersebut.


Semenjak tiba di kediaman Edward memang meninggalkan Vivi sendiri menuju ruang lukisnya.


Edward mengedarkan pandangannya tak mendapati Vivi, entah kemana perginya Vivi.


Ia mencari ke kamar, tetap saja tak ada membuat Edward masa bodo. Edward memilih membersihkan diri karena merasa tak enak.


Tak membutuhkan waktu lama Edward sudah memakai pakaian santai.


Sebentar lagi malam, Edward memutuskan masak untuk makan malam.


.


.


Di luar sana Vivi terlihat kelelahan mencari Edward.


Padahal di setiap tempat sudah ia datangi dan tanyai namun tak ada satupun yang melihat Edward.


"Dasar hantu!"


Gumam Vivi kesal entah kemana perginya Edward. Padahal sudah sendari tadi dan ini hampir malam namun Vivi belum melihat batang hidung Edward.


Vivi hanya ingin bertanya dimana kamar dia, tak mungkinkah Edward mengizinkan ia tidur di kamarnya untuk itu Vivi tak mau lancang.


Karena sudah malam bahkan salju mulai turun Vivi memutuskan menunggu di kediaman saja.


"Dari mana kau?"


Deg ..


Vivi mengangkat kepalanya menatap tak percaya sosok laki-laki yang sedang memakai apron di ujung sana.


"Kau!"


Emosi Vivi seketika meluap, bagaimana bisa Edward ada di kediaman mengingat sendari tadi ia mencari, dasar hantu memang benar-benar.


"Sejak kapan kau ada di sini, sendari tadi aku mencari. Kakiku sampai mau patah dan kau, dasar hantu!"

__ADS_1


Gerutu Vivi benar-benar meluapkan kekesalannya. Vivi seolah tak takut menatap tajam Edward.


Edward hanya diam saja melihat luapan amarah yang Vivi keluarkan.


"Kau berani!"


"Ak--"


Glek ...


Vivi menelan ludahnya kasar menyadari apa yang telah ia lakukan. Vivi hanya terbawa cape saja jadi seperti itu.


"Ada apa kau mencari ku?"


Tanya Edward kembali melanjutkan aktivitas nya.


"Ak-aku hanya ingin bertanya, di mana kamar ku?"


Cicit Vivi menunduk, ia ingin istirahat mengingat sendari tadi terus berjalan.


"Cuci tangan mu, kita makan dulu baru aku akan kasih tahu di mana kamar mu!"


Tegas Edward sambil membuka apron di tubuhnya.


Vivi mengangguk patuh karena tak mau berdebat. Ia hanya menurut bukan, seperti dalam perjanjian.


Vivi merasa canggung harus makan masakan Edward bukankah ia seorang istri!


Istri!


Vivi tersenyum getir mengingat kata itu, kata hanya sebuah status saja bukan berarti ia harus menjalankan kewajiban di dalamnya.


"Makanlah yang banyak, aku tak mau Daddy kecewa melihat mu kurus!"


Vivi hanya mengangguk saja makan porsi biasa dia. Berusaha bersikap biasa dan tak ada jaim-jaiman.


Makan malam kedua bagi mereka, walau begitu mereka makan dengan tenang tanpa ada percakapan sedikitpun.


Sudah selesai makan Edward kembali membereskan piringannya walau Vivi mencegah karena merasa tak enak namun Edward sudah biasa melakukannya sendiri.


"Ikutlah, akan ku tunjukan kamar mu!"


"Iya!"


Vivi mengekor Edward dari belakang menuju kamar yang akan ia tempati. Namun, Vivi merasa heran kenapa arahnya menuju kamar Edward sendiri.


"Di sini kau tidur,"


"Bu-bukankah ini kamar mu?"


"Lalu!"


"Ak-- aku .. Ak--"


"Kau istriku, tentu kau akan tidur di sini!"


Deg ...


Seketika tubuh Vivi menegang seolah tak percaya dengan apa yang Edward katakan. Vivi pikir Edward akan meminta mereka tidur terpisah.


Jika begini!


Ketakutan mulai menghantui Vivi membuat keringat dingin mulai membasahi pelipis nya.


Vivi tak bisa satu kamar dengan laki-laki selain Arsen karena itu mengingatkan Vivi akan kejadian kelam.


Edward menautkan kedua alisnya bingung melihat reaksi Vivi yang sama saat di hotel kemaren.


Edward mencoba mendekat guna memastikan sesuatu.


"Ja-jangan mendekat!"


Deg ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2