
"Edward kau merasakannya?"
"Iya Lord,"
"Maaf lord!"
"Jangan membual Ed!"
"Tapi hanya itu lord, Lord harus bisa sedikit baik pada nyonya agar semuanya berjalan lancar!"
"Sial!"
Umpat Kaka kenapa harus melunak bagaimana cara ia melunak sedang ia sangat alergi dengan spesies satu itu.
Kaka tahu Aurora bukan orang yang akan menurut pada orang yang keras. Aurora akan patuh pada orang yang baik juga padanya.
"Wanita biasanya butuh kelembutan!"
"Diam Ed!"
Edward menunduk ketika mendapat tatapan tajam dari sang lord. Edwar hanya ingin memastikan sesuatu saja apa benar Aurora orangnya.
"Apa kau sudah mendapatkan nya?"
"Terlalu sulit Lord, seperti nya King Asia begitu menjaga nyonya!"
"Bagaimana dengan klan Barat?"
"Akan ada perdagangan organ di perbatasan Ceko besok malam,"
"Cih, tua Bangka itu berani mengotori wilayah ku!"
"Kenapa tak lord habisi saja!"
"Kematian terlalu mudah bagi tua bangka itu!"
Edward terdiam sang lord memang selalu punya rencana. Entah apa yang kali ini sang lord rencanakan selalu sulit untuk di tebak.
Kaka menatap kedepan sana dengan tatapan sulit di jelaskan.
Mudah bagi dia membunuh pengkhianat itu namun sampai sekarang Kaka masih menahannya karena Kaka yakin ada seseorang di balik semua ini yang sengaja memanfaatkan kelemahan tua Bangka itu.
Bahkan ini sudah lima belas tahun lamanya namun sampai sekarang Kaka belum bisa menemukan titik terang tentang siapa di balik kematian kedua orang tua dan kakak iparnya.
Apalagi perjodohan Cherry dan sang putra mahkota menjadi pertentangan besar di sebagian keluarga Kerajaan. Kaka ingin melihat siapa iblis itu yang selalu bersembunyi di dalam keserakahan.
"Tuan pertama menelepon!"
"Biarkan saja,"
"Tapi jika anda dalam sepuluh menit tak datang tuan pertama akan membunuh Oscar!"
"Sitt!"
Umpat sang lord sambil membuang rokok lalu menginjaknya tajam.
.
Di sebuah taman kastil sana Aurora duduk termenung dengan pikiran peliknya.
Begitu banyak yang terjadi dalam hidupnya semenjak pertemuan dengan suami kertasnya.
__ADS_1
Entah ini kebetulan atau memang sudah di rencanakan Aurora tak tahu.
Bahkan suami kertasnya pergi entah kemana meninggalkan ia sendiri di kastil asing ini.
"Seperti nya aku harus membuang ponsel dan laptop itu!"
Gumam Aurora takut jika di benarkan suami kertasnya bisa membobol kode laptop nya. Lebih baik seperti ini dulu Aurora ingin melihat bagaimana sepak terjang keluarga Aldarberto ini.
Yang Aurora tak habis pikir kenapa sang papa mengirimnya pada keluarga rumit ini.
Bagaimana cara Aurora mendapatkan ponsel baru sedang keuangan dia semuanya ada di dalam ponsel itu.
Walau ada banyak kartu kredit card tetap Aurora harus keluar sedang ia tak di izinkan sama sekali.
Bahkan terlalu banyak penjagaan membuat Aurora sulit untuk kabur. Cctv di setiap penjuru seperti nya Aurora harus memutar otak agar dia bisa kabur dari neraka ini.
Karl satu-satunya orang yang Aurora percaya namun bagaimana caranya Aurora bisa mengirim sinyal pada Karl sedang aksesnya hilang.
Hanya Karl saat ini yang bisa membantu Aurora dari ke pelik kan ini. Aurora bersumpah ia harus keluar dari sini karena jika terus berada di sini Aurora yakin hidupnya juga dalam bahaya.
Sekarang Aurora harus mencari tahu bagaimana sepak terjang keluarga Aldarberto. Setahu Aurora keluarga ini keluarga terpandang di Jerman bagian Timur.
"Vivi!"
Gumam Aurora baru ingat sahabat satunya itu seperti nya Vivi bisa membantu ia. Aurora berdiri menatap kesekeliling dengan banyaknya penjaga di setiap tempat.
Aurora yakin jika ia meminjam pasti tak akan ada yang meminjamkannya kalaupun ada pasti ponsel setiap penjaga sudah di sadap. Aurora terus memutar otak bagaimana cara ia bisa mengabari Vivi lewat Vivi Karl pasti tahu semuanya.
"Ayo pulang!"
Deg ...
Aurora terperanjat kaget ketika suami kertas nya tiba-tiba ada di hadapan ia.
"Ayo pulang!"
Kenapa tiba-tiba suaranya pelan walau terdengar jengkel membuat Aurora aneh merasa suami kertasnya ini pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Kau sakit!"
Krek ...
Kaka menahan amarahnya ketika Edward mengisyaratkan akan sabar membuat Kaka benar-benar jengkel berada dalam situasi seperti ini. Seumur-umur ia tak pernah bertingkah konyol seperti ini di hadapan perempuan.
"Pulang!"
Geram Kaka tertahan membuat Aurora benar-benar bingung membuat Kaka kesal dengan ke lambah an otak Aurora.
"Ok .. Ok ... Jangan salah paham!"
Kesal sang lord karena Aurora menatap dia aneh. Andai saja jika bukan karena ingin jawaban sang lord tak mungkin merendah seperti ini.
"Saya tahu kita orang asing yang terjebak dalam pernikahan paksa. Bisakah kita berdamai menjalani aturan tanpa ada bantahan!"
"Kau!"
Aurora jadi kesal sendiri sudah ia dengarkan yang ujungnya dia harus mematuhi aturan gila suami kertasnya ini.
"Aku bukan hewan yang kau kurung, jika kau menghapus aturan terakhir maka aku mau berdamai!"
"Jangan melunjak!"
__ADS_1
Geram Kaka kesal menatap tajam Aurora yang menghela nafas berat pikirannya tak salah jika suami kertasnya pasti sedang merencanakan sesuatu.
Seperti nya Aurora harus hati-hati bisa saja ia di bunuh. Aurora sudah terlatih jadi ia bisa merasakannya jika Kaka mempunyai aura lain dari sekedar tempramen.
"Hapus aku akan menurut!"
"Sampai kapanpun aturan itu tak akan terhapus kan, cari yang lain saja!"
"Kenapa kau mau mengurungku?"
"Kau milikku, jadi kau harus patuh!"
Deg ...
Aurora terhenyak akan kata itu benarkah ia milik suami kertasnya ini tapi kenapa kata itu terasa berbeda membuat Aurora semakin memasang kewaspadaan.
"Baiklah aku akan menurut dengan satu syarat!"
"Tak ada negosiasi!"
"Kalau begitu aku akan terus membantah mu!"
Kaka memejamkan kedua matanya menahan amarah yang akan meledak-ledak membuat para bodyguard di ujung sana merasa merinding dengan aura ini. Edward yang bersembunyi pun sudah menahan nafas takut sang Lord lepas kendali.
"Katakan!"
Edward menghela nafas lega ketika sang lord bisa menahan amarahnya namun Edward masih tak aman karena setelah ini pasti dia yang kena imbas amukan lord devil nya itu.
"Berikan ponsel!"
Brak ...
Sungguh sudah habis kesabaran Kaka Aurora salah menguji kesabarannya Kaka tak sesabar itu menghadapi perempuan.
"Kau!"
"Lord tenang!"
Edward berlari cepat menahan tubuh sang lord yang akan menghajar Aurora yang shok dengan apa yang terjadi.
Jantung Aurora rasanya mau copot melihat kursi yang sudah koyak tak terbentuk lagi oleh tendangan kaki kokoh Kaka.
"Lord, ingat ada tuan putri di sini. Dia akan sakit jika melihat semua ini!"
Edward terus berusaha merendam amarah sang lord agar tak lepas kendali karena bahaya jika itu terjadi apalagi.
Edward mengisyaratkan pada bodyguard untuk segera membawa Aurora pergi dari taman.
"Nyonya mohon ikut kami!"
Ucap salah satu bodyguard menunduk hormat pada Aurora yang masih linglung.
"Nyonya!"
Aurora berjalan kaku mengikuti arahan para bodyguard. Aurora tak menyangka jika Kaka akan semarah itu dan amarahnya sungguh mengerikan.
Tak pernah sekalipun Aurora di perlakukan seperti itu oleh keluarganya bahkan semarah-marahnya sang papa tak pernah sekalipun menghancurkan semuanya.
"Silahkan masuk nyonya!"
Aurora masuk kedalam mobil tanpa kata dengan jantung yang masih berdegup kencang tak menyangka akan di perlakukan seperti ini.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa like, hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...