
Kaka tersenyum melihat istrinya yang masih tertidur. Teringat jelas dengan apa yang sang istri lakukan sungguh Kaka tak menyangka jika sang istri akan meminta terlebih dahulu.
Kaka beranjak dari ranjang membiarkan istrinya tetap tidur karena memang keberangkatan mereka berbeda.
"By ... hubby!"
Gumam Aurora membuka kedua matanya berat merasa sang suami tak ada di sampingnya.
Aurora menarik selimut dan melilitkan di tubuh polosnya.
Aurora yakin sang suami pasti berada di kamar mandi. Dengan pelan tapi pasti Aurora masuk dan benar saja sang suami sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.
"By!"
Deg ...
Kaka terkejut ketika sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Rindu!"
"Benarkah!"
Kaka membuka lengan sang istri lalu berbalik guna bisa melihat wajah cantik sang istri.
"Jam berapa berangkat?"
"Jam delapan kenapa, hm?"
"Kangen!"
Cicit Aurora mengendus dada bidang sang suami yang begitu wangi.
Entah kenapa Aurora tak mau jauh dengan sang suami. Rasanya ia selalu rindu dan ingin begini terus.
Padahal baru semalam mereka menghabiskan waktu bersama walau harus ada drama di mana Aurora selalu gugup awal di masuki.
Tapi, pagi ini perasaan Aurora terasa berubah bahkan ini mengalir dengan sendirinya.
"Selesai kan mandi ya!"
Bujuk Kaka membuat Aurora menggeleng kuat. Kaka diam mencoba memahami sikap lain sang istri yang selalu berubah-ubah dalam waktu tertentu bahkan Kaka belum bisa memahaminya.
Kadang manja, merajuk, ngeyel, keras kepala dan susah di atur.
Kaka sulit memahaminya karena sikap Aurora sulit di tebak. Kadang kala terlihat tegas namun nampak rapuh.
Entah apa yang harus Kaka lakukan karena dia ada pekerjaan penting. Tapi mana bisa Kaka membiarkan istrinya seperti ini.
"Kangen, hm?"
Aurora mengangguk cepat menatap sayu sang suami membuat Kaka tak tahan jika di biarkan.
Grep ...
Dengan ringan Kaka langsung menggendong sang istri keluar kamar mandi menuju ranjang.
Jangan di tanya apa yang mereka lakukan. Tentu mengulang kenikmatan yang semalam. Ada rasa heran dengan tingkah sang istri namun Kaka mencoba tenang.
Jika seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi sama seperti Aurora meminta yang pertama.
Karena tak mau kenikmatan itu terganggu Kaka mencoba menepisnya menetralisir kenikmatan yang sang istri berikan.
Ia harus cepat karena tak mungkin terlambat sedang sang istri terus membelenggu ia dalam sebuah kenikmatan.
Andai saja tak mengingat pekerjaan sudah di pastikan Kaka memilih menghabiskan waktu bersama sang istri sampai mereka benar-benar puas.
__ADS_1
Karena waktu sudah semakin menipis Kaka mencoba menyelesaikan ya.
"Terimakasih sayang!"
"Kasih kembali!"
Jawab Aurora lemah menatap penuh damba, Aurora melirik sekilas jam di dinding sana dengan senyum tipis namun penuh dengan rahasia.
Entah ada apa di otak cerdas itu sampai Aurora melakukan hal begini.
Aurora membiarkan suaminya mandi dengan tenang sedang ia sendiri bangkit guna mempersiapkan baju sang suami.
Baru kali ini Aurora bisa menyiapkan baju kebanggaan ini. Tak lama Kaka keluar dengan wajah cerah segarnya membuat Aurora tersenyum.
Dengan telaten Aurora memakaikannya dengan penuh kebanggaan. Kaka hanya bisa pasrah saja walau ia gatal ingin memakai nya sendiri karena sudah telat.
Aurora seperti sengaja membuat suaminya telat namun Kaka tak tahu itu.
Grep ..
Aurora menahan pinggang sang suami yang akan beranjak.
"Kenapa sayang?"
"Tampan!"
Ucap Aurora tersenyum lembut menatap pahatan sempurna ini.
Cup ...
Kaka mengecup kening sang istri lembut penuh kasih sayang dan cinta.
"Sudah ya, hubby berangkat!"
"By!"
Tegas Kaka dengan wajah memohonnya karena Kaka tak bisa menolak pesona sang istri.
Dret ...
Ponsel Kaka berdering tanda ada telepon masuk.
Dengan cepat Kaka mengangkat telepon tersebut.
Entah siapa yang menelepon membuat wajah Kaka menegang bahkan tangannya meremas ponsel kuat.
Kaka melirik sang istri yang hanya tersenyum berlalu begitu saja masuk kedalam kamar mandi tanpa peduli.
"Hanz selidiki semuanya, apa tua Bangka itu terlibat atau tidak!"
Tegas Kaka langsung mematikan teleponnya. Kaka mencoba mengatur nafasnya yang memburu.
"Kau sengaja!"
Gumam Kaka melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapi.
Entah apa yang Kaka maksud semuanya seperti tuka teki yang harus di pecahkan.
Kaka langsung melangkah cepat menuju ruang kerja guna melihat cctv.
Entah siapa yang berani masuk ke kandangnya bahkan sampai menyabotase mobilnya.
Dan entah sejak kapan istrinya tahu akan hal itu tapi memilih bungkam.
Krek ....
__ADS_1
Kaka mengepalkan kedua tangannya erat menatap tajam layar di depannya.
Berani sekali menyelinap masuk tanpa perhitungan.
"Kau mau bermain-main dengan ku!"
Gumam Kaka geram tak suka dengan yang namanya pengkhianat. Jangan salahkan jiwa iblis itu keluar bahkan menghancurkan semuanya.
Jika itu terjadi maka Kaka tak pernah pandang bulu akan semuanya.
Berani mengusik keluarganya maka jangan salahkan orang itu akan tinggal nama.
"Sayang, kau memang wanita misterius!"
Gumam Kaka yakin jika yang sang istri lakukan kesengajaan agar dirinya tak memakai mobil itu.
Kaka tak habis pikir bagaimana istrinya bisa tahu bahwa ada penyusup sedang Aurora tak tahu apa-apa tentang semuanya.
Apa yang hari ini Aurora lakukan sungguh sebuah kejutan yang luar biasa. Nampak polos di luar nyatanya mematikan.
Andai saja yang berangkat dirinya sudah di pastikan ia yang akan mengalami kecelakaan namun nyatanya Qennan yang membawa mobil itu. Namun yang tak habis pikir bagaimana bisa Qennan berani memakai mobil kesayangannya itu dan tentu semuanya pasti ulah Aurora.
Sejak kapan istrinya bertindak bahkan tindakannya sangat lembut. Seolah tak terjadi apa-apa namun tingkahnya penuh perhitungan.
Seperti nya Qennan mulai memihak pada istrinya dari pada dia.
Namun keputusan Aurora berhak di acungi jempol karena pilihannya tepat. Andai saja yang Aurora suruh adalah Hanz mungkin nama itu akan tinggal kenangan.
Tapi, Qennan dia mantan pembalap handal tentu ia bisa mengendalikan mobil itu hingga kecelakaannya tak terlalu parah.
Walau begitu tetap saja Qennan harus di rawat karena mengalami benturan cukup keras.
Sudah mengerjakan sesuatu entah apa yang Kaka kerjakan dengan laptopnya ia segera beranjak guna menemui istri tercintanya.
Aurora tersenyum melihat suaminya dari pantulan cermin berjalan ke arahnya.
"Katanya mau berangkat?"
"Kenapa tak bilang, hm!"
Ucap Kaka membalikan kursi yang sang istri duduki hingga menghadapnya dengan posisi Kaka yang berjongkok.
"Kemaren hubby sedang tak baik, bagaimana bisa menjelaskannya!"
"Maaf, hubby hanya terlalu khawatir!"
"Kenapa harus minta maaf, ini salah Rora!"
"Terimakasih!"
"Itu hanya hal kecil, bahkan hubby lebih dari ini!"
"Bagaimana sayang bisa tahu jika mobil hubby di sabotase?"
"Kemaren ketika hubby sudah berangkat ke kantor, Rora berpapasan dengan salah satu penjaga sedang Rora tahu semua ajudan di sini tak akan menampakan wajahnya jika ada Rora dan hanya supir pribadi saja yang hubby siapkan. Rora hanya berusaha mencoba tenang akan semuanya namun semalam ketika sudah terlelap Rora terbangun karena merasa haus namun Rora melihat sebuah bayangan mencurigakan tanpa menunggu Rora hanya bisa memantau dan bersembunyi mengikuti bayangan itu hingga Rora tahu apa yang di perbuat nya!"
Jelas Aurora panjang lebar membuat Kaka mencoba tenang walau sejujurnya tangannya sudah gatal. Tapi di hadapan Aurora tak mungkin Kaka memperlihatkan sisi lainnya Kaka takut Aurora akan menjauh.
"Cerdik sekali istriku berakting!"
"Hubby yang mengajarkannya!"
Cih!
Kaka hanya mencebik gemas mendengar sang istri menudingnya. Padahal ia tak pernah mengajarkan apapun.
__ADS_1