
Kemampuan Dirga semakin hari semakin bertambah tanpa ada yang mengetahui. Karena dia jarang menunjukkan pada keluarganya yang ada di rumah.
Sampai saat ini anak itu masih mengikuti berbagai kursus yang di daftarkan oleh orang tuanya sebelumnya.
Untuk kursus melukis yang di adakan satu minggu sekalipun, ia masih aktif mengikuti sampai sekarang. Walaupun hasilnya belum lah bagus, namun setidaknya, dia sudah bisa melukis pemandangan alam sederhana, yaitu melukis pepohonan di belakang rumahnya.
Untuk taekwondo, Dirga juga masih aktif mengikutinya. Dia mengikutinya seminggu dua kali. Awal-awal mengikutinya, ia tidak mau menirukan dan mengikuti gerakan yang di contohkan oleh pelatih.
Namun seiring berjalannya waktu ia bisa menguasai teknik menendang dan memukul. Tenaganya berisi, bahkan bisa menjatuhkan lawan saat bertanding. Hal itu di karenakan dia memang punya tenaga yang besar. Jadi memang tepat jika di saluran ke sana.
Sudah empat bulan Dirga mengikuti taekwondo, dan sekarang dia sudah naik ke sabuk kuning. Meskipun dia menguasai ilmu beladiri taekwondo yang lebih menekankan pada tendangan itu, ia tak pernah menggunakannya atau mempraktikkannya pada teman-teman nya.
Hari itu adalah hari Sabtu di siang hari. Hadwan mengantar Dirga untuk mengikuti kelas latihan taekwondo yang terletak di daerah pusat kota. Karena waktu latihannya dua jam, ia pun memilih untuk pulang dan nanti akan menjemput dua jam dari waktu sekarang.
Selama latihan, Dirga mengikuti arahan dari pelatih dan menirukan gerakannya. Ia berada di barisan paling belakang dari peserta latihan lainnya.
Saat pelatih meninggalkan mereka semua untuk berlatih sendiri dan memberi waktu 30 menit, beberapa anak langsung berlatih dengan anak lainnya. Ada anak lelaki yang berusia di atasnya berada pada barisan depan, menyatroni Dirga. Ia mengajak Dirga berduel.
“Hei Dirga... ayo kita tanding sekarang. Sabuk ku di atas mu, tidak mungkin sabuk kuning bisa mengalahkan sabuk hijau.” Made berdiri di depan Dirga dan memasang kuda-kuda.
“Dirga tidak mau... Dirga tidak mau Made...” terus mundur dan menolak berduel dengan nya.
Made terus memaksa, karena ia penasaran. Apakah benar seorang anak autis bisa bertarung sungguhan ? Karena ia melihat Dirga naik ke sabuk kuning dua minggu yang lalu. Ia ingin mencoba kekuatannya.
“Bukk... !!” Made melayangkan tendangan pada Dirga.
Dirga menangkis dengan tangan untuk menahan serangannya. Namun Made terus menendang dan kini melayangkan pukulan ke arah Dirga yang membuatnya semakin terdesak.
__ADS_1
Karena merasa terdesak, akhirnya Dirga pun melayangkan tendangan juga pada Made, dan tendangan nya itu mengenai Made.
“Berani kau melawan ku ya, aku akan mengajar mu setelah ini !!!” menangis pukulan Dirga yang akan mengenai dadanya.
Made kembali membalas pukulan Dirga dengan tendangan. Namun tendangan itu berhasil di kunci oleh Dirga yang membuatnya tidak bisa bergerak. Dan Dirga menjatuhkan tubuh Made dalam kuncian nya.
“Bruk...”
Suara tubuh Made jatuh ke lantai. Semua yang ada di situ menoleh ke arah mereka dan melihat aksi mereka berdua.
Made bangkit dan akan kembali menyerang, namun pelatih kembali di saat dia akan melayangkan tendangan pada Dirga dan menuju ke arah mereka.
“Sudah cukup hentikan kalian berdua, tidak perlu di lanjut lagi !!” melerai Dirga dan Made untuk menghentikan latihan mereka, karena ia melihat jika Made bukan hanya ingin berlatih, namun memang ingin menghajar Dirga.
“Sekarang kita latihan lagi. Semuanya bubar. Kembali ke tempat semula, sekarang !!!” mengawasi semua anak mulai dari barisan belakang sampai barisan terdepan.
Satu jam berikutnya, latihan selesai. Semua murid keluar dari barisan dan berhamburan menuju ke tempat para orang tua sedang menunggu mereka selesai berlatih.
Dirga juga berjalan dengan santai. Belum sampai ia tiba di tempat orang tua menunggu, Ayahnya melambaikan tangan lalu berlari ke arahnya.
“Bagaimana latihannya, apa ada yang mengganggumu tadi ?” mengelus rambut Dirga.
Dirga menggelengkan kepala dan tersenyum pada Ayahnya, lalu ia menggandeng tangan Ayahnya dan mengajaknya berjalan, keluar dari tempat latihan.
“Pengen beli apa Nak ?” menggerakkan setir mobil sambil menoleh ke kiri menatap Dirga.
Hadwan selalu ingin membuat Dirga senang. Karena ia pernah membaca artikel, jika membuat anak senang, itu akan memengaruhi psikologisnya. Dan itu berarti mungkin saja hal itu akan membuat Dirga berangsur-angsur sembuh dari autis yang di idapnya yang merupakan bawaan sejak lahir.
__ADS_1
“Dirga mau es, Ayah... Dirga mau es...” menatap Ayahnya lalu menatap beberapa penjual es yang ada di jalanan pulang.
“Iya Nak, tunggu sebentar.”
Hadwan memelankan laju mobilnya dan melihat ke sekitar jalanan untuk mencari penjual es degan. Ia sengaja mencari penjual es degan, karena itulah yang menurutnya paling sehat dan paling aman untuk Dirga. Karena selain gulanya asli, air dari es merupakan air kelapa yang di percaya bisa melunturkan racun yang sudah mengendap dalam tubuh.
Ia kemudian berhenti dan turun di depan penjual es degan di sisi barat jalan dan meminta Dirga untuk menunggu di dalam saja.
Beberapa saat kemudian ia masuk kembali ke mobil dan membawa tujuh bungkus es degan untuk di minum bersama di rumah nanti bersama yang lainnya.
Malam harinya di saat Dirga terlelap dalam tidurnya ia kembali terjaga setelah merasakan ada yang mengganggu tidurnya. Dengan terpaksa ia membuka matanya, karena merasakan ada yang menarik ujung jari kakinya bersamaan dan membuatnya merasa kesakitan.
Dirga melihat sesosok lelaki berusia sekitar 50 tahun-an memakai seragam tentara dengan corak loreng yang mirip dengan seragam tentara pasukan Israel. Pria itu menjentikkan jarinya, dan seketika tubuh Dirga melayang di udara, lalu mendarat dan berdiri tepat di depan lelaki itu.
“Siapa kau... siapa kau... pergi dari sini...” menatap tajam lelaki di depannya itu.
“Aku tidak akan pergi sebelum kau mau berlatih ilmu beladiri baru dengan ku.”
“Tidak mau... tidak mau, kenapa harus berlatih dengan mu ?” menolak dan berusaha mundur, namun kakinya sama sekali tak bisa bergerak.
“Suatu saat kau akan berterima kasih padaku dengan apa yang aku ajarkan pada mu hari ini. Aku Aroon, secara khusus akan melatih mu menguasai ilmu bela diri Krav Maga.” melepaskan kuncian pada tubuh Dirga dan membuatnya kembali bebas bergerak.
Krav Maga merupakan bela diri campuran yang sering di gunakan oleh militer. Bela diri itu di ciptakan oleh Lichtenfeld, yang merupakan bela diri yang berbahaya juga brutal. Bela diri ini mampu mengalahkan lawan dengan cara yang tabu, seperti cekikikan tusukan ke mata dan serangan langsung ke titik vital tubuh. Beladiri itu sering digunakan oleh pasukan khusus Israel seperti Syahtetet 17 dan Sayeret Matkal.
Aroon mulai menyerang Dirga di beberapa titik vital tubuhnya, namun Dirga bisa menangkisnya dengan tendangan yang ia pelajari selama belajar taekwondo. Namun itu tak bertahan lama dan kemudian ia terdesak setelah tidak bisa menahan serangan berupa cekikan yang membuatnya kesulitan bernafas. Di tambah beberapa serangan lain di beberpa bagian titik vital di tubuhnya.
Dirga menyerah sebelum Aroon kembali menyerangnya dengan brutal. Sehingga Aroon pun melepaskannya. Beberapa saat kemudian Aroon menghilang dari hadapannya, dan Dirga berjalan menuju ke tempat tidurnya dan merasakan sakit pada beberapa anggota tubuhnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...