
Setiap pagi hari Dirga selama satu bulan ini sering berteriak ketakukan, kadang berteriak keras dan juga marah tanpa sebab.
“Buk...!”suara buku dan tas yang di banting ke lantai. Buku-buku, tas, dan alat tulis di meja belajar Dirga berserakan di lantai. Dirga merasa melihat sosok lelaki yang biasa mendatanginya di malam hari meskipun saat ini masih sore hari. Dia kesal pada sosok yang ia lihat sekarang. Karena yang ada di dekatnya alat tulis, dia mengambil dan bermaksud melempar pada sosok itu.
Hadwan dan Elsa yang saat itu sedang berkemas segera berlari ke kamar anaknya. Benar saja mereka mendapati Dirga yang sedang emosi dan banyak barang berceceran di lantai.
“Dirga... tenang nak, ini ayah.” mencoba menenangkan anaknya.
“Pergi kau dari sini. Sudah ku bilang aku tidak tahu. Aku tidak tahu itu, tapi kenapa kau masih memaksa ku ?” teriak Dirga pada sosok lelaki di depannya itu. Dia semakin emosi karena sosok itu tak juga pergi, lalu dia mengambil tongkat kasti yang ada di meja dan akan memukulkan ke kepala sosok itu.
“Aah...hentikan ! Hentikan, jangan pukul ayah mu !” teriak Elsa histeris sambil berlari ke arah Dirga dan mencoba menghentikannya. Hadwan merebut tongkat kasti dari tangan anaknya itu dan melempar ke lantai.
“buk...” suara tongkat jatuh ke lantai yang menyadarkan kesadaran Dirga. Dia yang baru menyadari bahwa tadi yang ia lihat adalah ilusi shock dan terjatuh di lantai setelah ia mengetahui bahwa ia akan melukai ayahnya.
“Hiks... hiks...” suara tangis yang pecah. Hadwan segera merangkul anaknya dan menenangkannya kembali.
“Tak apa... kau akan baik-baik saja. Ayah dan mama akan membawa mu pergi ke suatu tempat. Ayo kita pergi sekarang.” merangkul anaknya lalu berjalan keluar dari kamar bersama Elsa.
“Kalian naiklah mobil dulu. Aku akan mengambil tas ku.” ucap Elsa pergi ke kamarnya dan mengambil tasnya lalu segera bergegas menyusul suami dan anaknya. Tak berapa lama kemudian mereka bertiga menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
Tiga hari sebelumnya setelah melihat keadaan Dirga yang semakin memburuk berhalusinasi, Elsa dan Hadwan berdiskusi harus mengambil tindakan apa terhadap anaknya itu. Mereka mencari info di surat kabar, Internet dan juga bertanya pada beberapa orang hingga akhirnya ada seorang kenalan Hadwan yang memberitahu dan menyarankan untuk mencoba terapi hipnotis.
Mereka mencari dan mengumpulkan berbagai literature mengenai hipnoterapi serta manfaat dan efek dari terapi itu. Setelah menimbang-nimbang mereka akhirnya memutuskan tidak ada salahnya untuk mencoba karena peluang keberhasikannya yang tinggi. Di buktikan dari banyak pasien yang awalnya phobia tikus tidak takut lagi pada tikus setelah mengikuti hipnoterapi. Ada juga pasien yang trauma pada masa lalu yang membuatnya merasa bersalah seumur hidup sembuh seketika dari depresinya.
Mobil berhenti di sebuah rumah beraksen china dengan warna dinding abu-abu dan pilar berwarna putih. Hadwan dan Elsa mengajak Dirga turun dari mobil.
“Kita mau kemana Ma? Ayah membawaku kemana ?” tanya Dirga pada orang tuanya. Ia melihat orang tuanya secara bergantian, lalu menayap rumah yang ada di hadapannya. Rumah yang menurutnya aneh terlihat dari warna catnya yang tidak umum dengan bentuk yang tidak familiar baginya.
“Sudahlah ayo masuk. Ini rumah teman mama. Nanti kau akan tahu, nak.” ucap Elsa sambil berjalan masuk ke rumah itu bersama suami dan anaknya.
Dirga berjalan memasuki rumah yang warna catnya dominan merah di sisi dalam. Banyak terpajang hiasan berornamen China di dalamnya. Ada sepasang patung berbentuk kodok menggigit koin yang mengapit sebuah kursi panjang. Di pintu terdapat kaca berbentuk hexagon yang tergantung di hampir setiap pintu ruangan di rumah itu. Di jendela terdapat hiasan yang di gantung bertulisakan huruf-huruf China dengan warna dominan emas.
Ada satu ruangan besar dengan pintu tertutup yang tergantung hiasan simbol ying-yang di depannya. Bau dupa tercium di seisi rumah itu walaupun tak terlihat ada yang membakar dupa.
“Master Ah tong...” sapa Hadwan saat lelaki tua itu duduk di hadapannya. Lelaki berbaju hitam dengan rambut panjang yang di kepang itu menatap sebentar ke Hadwan lalu beralih menatap Dirga.
“Jadi anak ini yang kapan lalu Pak Hadwan ceritakan ya...” menatap Dirga dengan tatapan menyelidik namun tidak bertanya lebih lanjut karena Hadwan sebelumnya sudah menceritakan semua permasalahan yang di hadapi anaknya pada master Ah tong.
“Ayo langsung masuk ke ruangan saja.” ajak master Ah tong berdiri dari duduknya dan masuk ke ruangan tempat dua orang sebelumnya keluar.
__ADS_1
Dirga yang tidak tahu apapun tentang siapa master Ah tong dan juga apa yang akan di lakukan padanya tetap duduk saat orang tuanya sudah berdiri.
“Kenapa masih diam saja, nak. Ayo kita ikuti master Ah tong.” ucap Elsa menarik tangan anaknya namun Dirga melepas tangan mamanya.
“Tidak mau ma... tidak mau. Dirga mau di apain ?” menolak ajakan mamanya.
“Tidak ada nak, master Ah tong akan membantu mu dan tidak akan menyakiti mu. Menurut ya sama ayah, jadilah anak baik...” ucap Hadwan menjelaskan dengan pelan sambil menggandeng tangan anaknya.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari ayahnya, akhirnya dia menurut dan berjalan masuk ke ruangan itu.
Dirga duduk di kursi hitam yang sudah di sediakan di sisi timur. Dia menatap etalase kaca bersisi pedang kayu dan benda-benda lain yang asing baginya di ruangan itu. Terdapat guci besar di sudut ruangan. Aroma dupa dalam ruangan itu sangat pekat dan itu membuatnya sedikit pusing karena tak biasa menghirup aroma seperti itu.
Master Ah tong berjalan dan menuju tempat dirga duduk.
“Rileks saja nak...” ucap master Ah tong sambil menyandarkan kepala Dirga ke sandaran kursi yang empuk. Dia mengeluarkan sebuah jam lingakaran berwarna silver dari sakunya. Ia lalu memegang rantai jam dan mengayun pelan jam yang ia pegang.
“Ikuti kemanapun gerakan ayunan jam ini.” jelas master Ah tong sambil terus mengayun jam di tangannya.
Dirga menuruti perkataan master Ah tong. Matanya mengikuti gerakan jam itu ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
“Sekarang pikirkan hal atau kejadian terakhir yang mengganggu mu.” sambil terus mengayun jam dan mempercepat ayunannya. Dirga membayangkan kembali kejadian hilanganya Raneea yang misterius dan juga sosok lelaki yang mengganggunya tiap malam sambil terus mengukuti gerak ayunan jam.
BERSAMBUNG....