
Setelah melihat ke sekitar dan menatap lama Dirga, rusa itu itu tidak berkata apa pun dan berjalan. Dirga yang tidak tahu kemana rusa itu pergi dan tak mau kehilangan mengikuti rusa itu dengan berjalan di belakangnya.
“Kau manusia dan masih hidup bagaimana bisa kau masuk ke tempat ini yang merupakan tempat khusus untuk orang yang sudah mati ?” tanya rusa putih sambil menoleh kebelakang dan tetap berjalan.
“Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya masuk ke tempat ini itu saja. Kau bilang tempat ini khusus untuk orang yang sudah mati... Apa karena sebelumnya aku pernah mati jadi aku bisa masuk ke sini ?” ucap Dirga bertanya balik pada rusa putih itu dan terus mengikutinya berjalan.
Tak terasa mereka berdua sudah berjalan jauh dan masuk ke lembah kematian semakin dalam. Tempat yang mereka lewati sekarang berbeda dengan sebelumnya di mana jalanan yang dipijak oleh Dirga merupakan salju.
Banyak pepohonan tanpa daun di sepanjang jalan yang mereka lewati. Tiba-tiba rusa putih itu berhenti di tengah jalan.
“Di sana letak embun es abadinya.” ucap rusa putih itu menunjuk ke sebuah tempat yang ada di depannya. Dimana di sana terlihat air terjun yang sangat tinggi yang terletak di tengah beberapa tebing dengan banyak pelangi yang melingkupi tempat itu.
“Indah sekali tempat itu. Apakah itu surga ??” tanya Dirga yang terlihat takjub pada keindahan tempat itu. Sementara rusa putih itu hanya menjalankan apa saja melihat Dirga yang masih kagum. Karena anak itu tidak tahu apa yang ada di balik tempat yang indah itu.
“Kau yakin embun es abadi ada di tempat itu ?” tanyanya lagi pada rusa putih agar lebih yakin lagi.
“Memang ada di sana yang kau cari itu. Tapi selama ini tidak ada yang pernah bisa kembali dari sana setelah mencari embun es abadi.” timpal rusa putih itu.
“Jadi maksudmu selama ini belum pernah ada yang berasa mendapatkan embun es abadi ?” tanya Dirga terkejut dan tak menyangka jika mencari embun es abadi akan sesulit itu.
Dirga segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat itu dan menoleh ke belakang.
“Hey... kau tidak ikut denganku?” ucap Dirga mengajak rusa putih itu turut serta pergi bersamanya.
“Tidak... kau pergilah sendiri.” jawab rusa putih itu singkat lalu tiba-tiba dia menghilang dari harapan Dirga.
“Terima kasih karena menyelamatkan aku dan mengantarku sampai ke sini.” ucap Dirga sesaat sebelum rusa putih itu menghilang dan rusa itu sama sekali tak merespon nya.
__ADS_1
Dirga mulai berjalan masuk ke tempat yang terlihat seperti surga itu. Ternyata meskipun tempat itu terlihat dekat namun sudah puluhan meter Dirga berjalan dan dia belum juga masuk ke tempat itu.
“Tempat apa ini sebenarnya ? Kenapa aku merasa jauh sekali dan aku mulai merasa lelah sekarang.” gumam Dirga yang terus berjalan meskipun dia sudah merasa kakinya pegal karena teringat pada Rheva yang masih menunggunya.
Setelah beberapa kilometer Dirga berjalan akhirnya dia masuk juga ke tempat yang seperti surga itu.
“Akhirnya aku sampai juga di surga ini...” ucap Dirga yang tersenyum lebar lalu berhenti sejenak menatap jutaan pelangi yang ada di tempat itu sambil berdecak kagum.
Setelah puas melihat pelangi berwarna-warni di sekitarnya dia pun kembali melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.
“Dimana letak embun es abadi berada ?” gumam Dirga memperhatikan tempat itu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari embun es abadi.
Dirga berjalan mendekati bebatuan besar dan tinggi yang mengelilingi tempat itu. Di mana di sana terdapat banyak sekali bunga terompet berukuran besar yang tertutup oleh air terjun.
“Sepertinya air di air terjun itu segar sekali. Aku ingin merasakan air surga itu sebentar saja.” ucapnya lalu melompat ke atas dan melewati bebatuan yang ada di sana sampai ke tempat air terjun berada yang terletak di tengah bebatuan itu.
“Kenapa disini terdapat sekali banyak bunga terompet ? Apa ada sesuatu dibalik bunga ini ?” tanyanya yang penasaran pada bunga berwarna kuning yang berukuran besar itu.
Untuk mengobati rasa penasarannya, dia pun memegang satu bunga terompet yang ada di hadapannya. Awalnya Ada hal janggal yang ditemukan dari bunga itu. Namun setelah dia mengamati dengan teliti ternyata ada sebuah kantung yang berada di dasar mahkota bunga itu.
“Apa itu ya ?” ucapnya semakin penasaran. Dirga lalu memasukkan tangan ke dasar bunga dan mengambil kantong yang ada di sana.
“krak...”
Dirga membuka kantong tadi dan tampak terkejut. Dari dalam kantong keluarlah setetes air yang dingin sekali dan berupa butiran embun.
“Apakah ini adalah embun es abadi yang dimaksud itu ? Mudah sekali mendapatkannya.” Dirga tampak tertawa lebar menatap butiran embun yang ada di telapak tangannya.
__ADS_1
Anak itu menggenggam butiran embun yang masih berada di telapak tangannya. Namun saat dia membuka telapak tangannya, butiran embun itu sudah hilang tak berbekas.
“Apa.... ?! Kenapa begitu cepat hilang? Lalu bagaimana caranya aku mengambilnya ?” ucapnya lagi yang terlihat kecewa dan berpikir mencari sebuah cara.
Dirga pun teringat pada wadah minuman yang selalu dia bawa. Dia lalu mengambil botol yang dia ikatkan di pinggang.
“Semoga saja ini bisa digunakan.” gumamnya sambil mengambil beberapa kantung yang ada di dasar mahkota bunga terompet.
Dirga membuka kantung itu lalu mengeluarkan isinya dan memasukkan ke dalam botol yang dipegangnya.
“Sepertinya berhasil... !” ujarnya saat melihat beberapa butir embun es itu tampak mengisi botol yang di pegang nya setinggi satu senti meter saja. Dia pun segera menutup botol itu agar tidak menguap ke udara.
Dirga kembali melihat botol yang masih dipegangnya untuk memastikan apakah butiran embun itu masih berada di sana atau tidak.
“Apa... ?! Ternyata butiran embun ini masih hilang juga meskipun aku sudah menutupnya rapat ?” umpatnya yang mulai merasa kesal dan frustasi karena masih tak bisa membawa butiran embun itu.
Dia pun tak menyerah dan mencoba berbagai cara. Dia mencoba memasukkan kantong berisi butiran embun yang masih utuh ke dalam botol, namun saat kantung itu masuk ke dalam botol seketika pecah dan butiran embun kembali hilang menguap.
Di tengah rasa frustasinya setelah mencoba berbagai cara lain dan masih belum berhasil juga, entah kenapa dia pun tiba-tiba mengambil satu kantung lagi dan kali ini meminumnya.
“Wow... rasanya segar sekali dan manis. Baru kali ini aku merasakan air yang senikmat ini.” ucapnya dan merasakan sensasi segar luar biasa pada tubuhnya.
Beberapa saat kemudian dia merasakan tubuhnya lumpuh dan tak bisa bergerak. Satu bunga terompet yang masih kuncup di depannya tiba-tiba terbuka lebar dan salah mempunyai kekuatan untuk menariknya.
“Argh..... !!!” Dirga berteriak saat terhisap masuk ke dalam bunga terompet yang ada di depannya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1