
Saat malam hari di rumah Rheva.
Gadis itu tidak bisa tidur dikarenakan merasa gelisah. Dia merasa seperti ada seseorang yang mengintainya.
“Kenapa dari tadi siang perasaanku selalu tidak enak... tapi aku tidak melihat apapun.” gumam gadis itu bangkit dari tempat tidurnya.
Dia lalu menyisir di sekitar tempat tinggalnya untuk membuktikan kecurigaannya itu. namun lagi-lagi dia tidak menemukan siapapun yang ada di sana.
“Aneh sekali... tidak ada siapa-siapa di sini padahal barusan aku merasakan ada seseorang yang datang ke sini.”
Gadis itu melihat isi beberapa drum yang ada diluar kamarnya. Karena dia curiga, terasa kekuatan di sana.
“bang...!” Gadis itu memukul drum kosong itu dengan kesal karena tidak menemukan siapapun di sana.
Gadis itu beralih ke sisi lain kamarnya dan mencari di semak-semak yang ada di sana namun lagi-lagi dia tak menemukan siapapun.
“Ah Siapa yang berani mempermainkan ku seperti ini?”
Gadis itu kembali menyisir di luar rumahnya. Dari kejauhan dia melihat ada yang bergerak dari balik semak-semak dan dia segera berlari ke sana.
“Keluar kau... !” teriaknya sambil mengeluarkan kekuatannya.
“whoosh... ” Angin kencang keluar setelah dia berteriak dan menerjang semak itu.
“srak...” gadis itu mendengar suara dari balik semak dan mengejar suara itu yang membuatnya kembali kecewa.
Dia melihat seekor ular di balik semua itu yang sedang terkapar di sana.
“Hah... hanya seekor ular derik... ?” ucapnya yang merasa kesal lalu mendekati ular itu dan menginjaknya sebelum ular itu membahayakan yang lainnya.
Rheva akhirnya kembali setelah melakukan penyisiran ulang dan tidak menemukan apapun yang bisa membahayakan di luar sana.
Gadis itu kembali masuk ke kamarnya. Dia lalu memasang Array tipis di sekitar tempat tidurnya untuk melindungi dirinya jika ada serangan mendadak.
Dua jam berikutnya gadis itu tertidur.
“whirr....” suara angin masuk ke jendela kamar gadis itu.
__ADS_1
Disaat dia tertidur lelap sebuah titik hitam muncul di kamarnya yang semakin lama semakin tampak jelas membentuk sesosok manusia.
Sosok itu kini semakin jelas. Dia terlihat memakai jubah hitam dan berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
“Di sini rupanya kau tinggal. tak perlu menunggu waktu lama lagi aku akan....” sosok itu tidak melanjutkan perkataannya dan melangkah maju mendekati tempat tidur gadis itu.
“drrt....” sosok lelaki berjubah hitam itu terkena setrum dari array yang di buat oleh Rheva.
Lelaki itu langsung mundur dan segera menghilang dari ruangan itu.
Rheva terbangun setelah mendengar array nya bereaksi.
“Hah... penyusup.... !” gadis itu langsung duduk lalu melangkah dan mendapati array nya sedikit koyak. Dia lalu melihat ke lantai dan ada jejak yang di tinggalkan di sana.
“Jejak siapa ini... ?” ucapnya memeriksa jejak itu dan menganalisa, namun dia tidak bisa mengenalinya karena pada jejak itu sudah di pasang semacam mantra yang membuatnya tidak bisa dilacak.
Dia lalu berjalan ke jendela dan melihat keluar untuk mencari penyusup yang barusan masuk ke kamarnya. Namun di luar sana tampak sepi tak ada siapa pun.
Gadis itu tidak percaya begitu saja pada pandangan matanya, dia segera melompat keluar dari jendela untuk mengejar penyusup itu sebelum semakin jauh.
“Keluarlah... aku tahu kau ada di sini. Tunjukkan dirimu... ! teriak gadis itu sambil mengaktifkan pedang cahaya miliknya.
Rheva berlari ke arah pohon tumbang itu namun lagi-lagi dia tidak menemukan siapa pun.
“Argh.... !” teriak gadis itu yang merasa kesal dan menatap langit di atasnya.
Sekejap dia melihat angin yang tidak wajar di udara dan kembali menebaskan pedangnya ke udara. Namun angin yang berwujud titik hitam itu menghilang dengan cepat di udara.
“Sial dia kabur.... !” ucapnya geram sambil menonaktifkan kembali pedangnya.
Rheva lalu berjalan kembali ke kamarnya dan duduk di sebuah kursi. Gadis itu berpikir menerawang jauh.
“Kira-kira siapa penyusup itu ? Dari jejak yang di tinggalkan aku belum pernah melihat jejak yang seperti itu. Sedangkan dari pergerakannya hampir mirip dengan Infinix...” ucapnya mengingat kembali ciri-ciri kekuatan penyusup itu dan menebaknya.
“Jadi apakah dia benar pasukan Infinix... mungkinkah dia dari level yang berbeda dan belum pernah ku temui selama ini...?” ucapnya lagi bertambah geram mengingat bahwa kemungkinan dia kembali di kejar oleh pasukan Infinix.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Rheva dan Dirga ada di perpustakaan kampus. Kali ini mereka duduk di kursi berhadapan tanpa ada setumpuk buku di meja yang senantiasa menemani mereka berdua.
“Seharian kemarin aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku sampai malam hari...” ucap Rheva tiba-tiba membuka pembicaraan mereka.
“Lalu siapa dia ? Apa kau sudah berhasil meringkusnya ?” tanya Dirga pada gadis itu berubah jadi serius.
Gadis itu tampak menggeleng dan terlihat sangat cemas. Apabila benar penyusup yang mengejarnya itu adalah Infinix, maka tak hanya dirinya saja yang dalam bahaya, namun juga kekasihnya akan dalam bahaya.
Melihat gadis itu diam dan terus menatapnya, dia bisa menyimpulkan sendiri. Dia lalu menggenggam tangan Rheva yang nampak cemas.
“Apa itu adalah pasukan Infinix yang selama ini selalu mengejar mu ?” tanyanya pada gadis itu.
“Aku tidak tahu pasti siapa penyusup itu. Aku tidak bisa mengenalinya. Aku harus lebih waspada lagi sekarang. Terutama kau....” jawab gadis itu memegang erat tangan Dirga.
“Kau tak perlu khawatir padaku... aku bisa menjaga diri ku. Justru aku yang cemas jika kau...” tak melanjutkan ucapannya karena dia tak ingin melihat gadis itu meninggalkan dirinya.
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari perpustakaan dan menuju ke area parkir.
“clack....” terdengar suara dari sebuah motor yang ada di area parkir itu.
Rheva dan Dirga saling menatap setelah mendengar suara itu.
“Ayo cepat...” ucap gadis itu lalu mempercepat jalannya ke area parkir di susul dengan Dirga yang mengikutinya dari samping.
Sesampainya mereka di area parkir yang masih sepi itu. Mereka memeriksa dan mencari arah sumber suara yang ternyata berasal dari salah satu motor yang di parkir di sana.
Dirga memeriksa motor itu dan melihat tidak ada apapun di sana, hanya sebuah spion yang jatuh di dekat motor itu. Dia lalu mengambil spion itu dan mendadak keluar asap dari spion yang di pegangnya itu.
“Apa ini.... ?” tanyanya melihat asap mulai keluar dari balik kaca motor yang di pegangnya itu.
“Lempar kaca spion itu sekarang ! Cepat.. !!” teriak gadis itu yang berjalan cepat menghampiri Dirga.
“prang...” Dirga segera melempar kaca spion itu seperti yang di ucapkan Rheva.
Gadis itu segera menarik tangan Dirga mundur dari sana.
“ceesz....” Asap mulai keluar lebih banyak dari balik kaca spion motor itu. Asap yang keluar semakin banyak dan mulai mengepung mereka berdua yang mencoba lari dari area itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....