
Tampak Dirga dan Rheva terus menebaskan pedangnya dan membuat mereka berhasil keluar dari kepungan pasukan Infinix.
Dirga mengayunkan pedang penghancur jiwa miliknya pada salah satu pasukan Infinix namun dia hanya menyentuhkan ujung pedangnya pada leher pasukan itu untuk menakutinya.
“Hey... katakan dimana Arthur ?!” tanya Dirga masih menonton kan pedangnya pada salah satu pasukan Infinix.
“Aku tidak tahu... dimana tuan Arthur berada ? Bunuh saja aku !” jawab pasukan Infinix itu yang lebih memilih mati daripada memberitahukan posisi pemimpinnya berada.
“jleb....!!!” Tanpa pikir panjang dan Kapan segera menebaskan pedang penghancur jiwa miliknya.
Di lain tempat tak jauh dari mereka berada, ada dua orang pasukan Infinix yang tiba-tiba pergi dari arena pertarungan dengan cepat.
“Tunggu... kenapa dua pasukan itu pergi dari sini... ?” batin Rheva yang melihat dua pasukan Infinix seolah kabur dari arena perang dan merasa ada sesuatu yang tidak beres di sana.
“Aku mau mengikuti dua pasukan itu...” bisik Rheva ke telinga Dirga setelah mendekat dan Dirga mengangguk lalu mengikuti Rheva berjalan.
Tak berapa lama kemudian Dirga dan Rheva berhasil menyusul dua pasukan Infinix itu.
“Mau coba-coba lari ke mana kalian ?” tanya Rheva menghadang dua pasukan itu dan berada di depan mereka.
Dua pasukan itu melakukan serangan sebelum lari lebih jauh.
Namun Dirga menebaskan pedang penghancur jiwanya dan berhasil melenyapkan satu pasukan.
“Aku tidak boleh tertangkap di sini... !” batin satu pasukan Infinix yang selamat dan berhasil lolos dari Dirga saat melihat temannya yang sudah meregang nyawa.
Pasukan Infinix itu lalu bergerak secepat mungkin menuju ke tempat di mana Arthur berada sekarang.
“zink...” pasukan itu tiba di tempat Arthur menyembuhkan diri. Dia menekan tombol yang ada di pintu lalu segera masuk pintu terbuka.
“Celaka kita kehilangan jejak pasukan yang berhasil lolos dari kita !” ucap Dirga yang mengejar pasukan Infinix itu namun kehilangan jejak setelah pasukan itu kembali mengeluarkan asap yang menghalangi pandangan nya.
“Terus cari... pasti dia kabur tak jauh dari sini !” ucap Rheva menghampiri Dirga yang menyerap asap di sekitarnya. Mereka kemudian terus berjalan dan mencari pasukan itu setelah asap di sekitar mereka menghilang.
Sementara itu di lain tempat, pasukan Infinix yang tadi berhasil masuk ke tempat pemulihan segera melaporkan apa yang terjadi pada pimpinannya.
Pasukan Infinix itu berjalan menghampiri sebuah tabung besar dan berhenti di sampingnya.
“Tuan Arthur... maaf aku mengganggu mu. Ada hal penting yang harus segera melaporkan pada tuan.” ucapnya sambil memberi hormat pada Arthur.
Arthur saat itu dalam kondisi tertidur segera membuka matanya.
“Katakan ada hal penting apa yang mau ke sampaikan padaku ?” tanyanya dari dalam tabung pemulih.
“Gawat sekali tuan. Di luar pasukan kita mendapatkan serangan mendadak dari musuh dan banyak dari pasukan Infinix yang telah mati dalam pertarungan ini.” ucap pasukan itu panjang lebar menjelaskan pada Arthur.
“Apa... ?!! Kurang ajar sekali !! mereka memanfaatkan kesempatan di saat aku sedang terluka !” balas Arthur sambil menghentikan tabung pemulih itu berputar.
Kembali ke Dirga dan Rheva yang masih mencari keberadaan pasukan Infinix yang tadi kabur dari mereka. Di tengah jalan mereka menemukan sebuah ruangan yang tampak tersembunyi yang di balik asap.
__ADS_1
“Apa itu... ?” Rheva menunjuk sebuah ruangan yang melayang di balik asap tebal.
“Cepat kita ke sana segera !” ajak Dirga dan segera menuju ke tempat yang tampak aneh keberadaan nya itu dengan Rheva yang berlari mengikutinya.
“Ayo kita periksa !” ucap Dirga lagi mengajak Rheva. Mereka berdua melompat ke udara dan mendapati sebuah bangunan tertutup yang terbuat dari stainless.
Rheva mencoba membuka pintu dan setelah lama mencari akhirnya dia menemukan sebuah tombol yang sengaja ditutupi agar tak mudah menemukannya.
“klik....” Rheva gunakan tombol yang ditemukan dan pintu itu terbuka. Tanpa banyak bicara mereka berdua pun segera masuk ke ruangan itu.
“Siapa itu... ?” teriak pasukan Infinix saat mendengar suara pintu yang terbuka.
Dirga dan Rheva tidak menjawab dan terus berjalan mengendap-endap menyusuri ruangan itu. Mereka melihat banyak tabung besar di sana dengan selang besar di setiap tabung.
Mereka berdua berhenti tak jauh dari Pasukan Infinix yang ada di ruangan itu. Dirga menatap Rheva dan gadis itu mengangguk menatapnya.
“Slash... !” Dengan cepat Dirga menebaskan pedang penghancur jiwa begitu dia berada di belakang pasukan Infinix.
“Argh.... kau... kapan kalian masuk ke sini ?” ucap pasukan Infanteri itu sesaat sebelum tubuhnya hancur lebur terkena tebasan pedang.
“Pasti ada sesuatu di sini...” ucap Rheva lirih pada Dirga. Gadis itu melihat semua tabung yang ada di ruangan itu dan menurutnya aneh.
Dia terus mengecek semua tabung yang ada di sana hingga dia, menemukan sebuah tabung besar yang tampak berbeda dengan tabung lainnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada sesosok lelaki di dalamnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dia menarik Dirga menuju ke tabung besar itu. Betapa terkejutnya mereka berdua setelah melihat sosok orang itu ternyata adalah Arthur.
Dirga bersiap mengayunkan pedangnya untuk menebalkan lelaki yang masih dalam kondisi terpejam itu.
“Kau... !!!” ucapnya yang tersentak kaget saat melihat Dirga dan Rheva berada di sana. Dia pun segera keluar dari tabung pemulih sebelum mereka berdua menyerang nya.
“Gawat... bagaimana bisa mereka berdua mengetahui tempat ini ? Kondisi ku belum sepenuhnya pulih dan aku tidak boleh terkena serangan pedang milik bocah ini.” batinnya menatap pedang yang dibawa Dirga yang berhasil melukai dirinya sebelumnya.
“Hahaha... ku akui kalian berdua memang hebat bisa menemukan ku disini, tapi jangan senang dulu kalian berdua akan berakhir di tanganku hari ini juga...!!!” bentak Arthur dengan tertawa lantang.
Rheva dan Dirga dengan kompak langsung menyerang lelaki itu.
“Badai salju... !” Rheva mengeluarkan kekuatannya dan tampak salju lebat menutupi tubuh lelaki itu.
“Slash.... !” Dengan cepat Rheva menebaskan pedang cahaya miliknya untuk memotong tubuh lelaki itu.
Tapi ternyata hanya salju yang di tebasnya dan lelaki itu sudah berada di belakang tubuh Rheva.
“Rheva di belakangmu... !” teriak Dirga memperingatkan.
Gadis itu segera berbalik dan menebaskan pedangnya yang bisa di hindari oleh Arthur.
Dengan satu serangan meskipun dalam keadaan terluka, lelaki itu berhasil melukai Rheva dan membuatnya jatuh tersungkur.
“Rheva kau minggirlah dulu !” teriak Dirga dan Rheva segera menjauh dari Arthur. Sesaat kemudian Dirga sudah berada tepat dihadapan Arthur dengan menggenggam pedang penghancur jiwanya.
__ADS_1
“Kali ini kau akan bisa kabur dari ku ! Aku akan membalaskan dendam ayah dan ibuku yang telah kau bunuh !!!” teriak Dirga mengayunkan pedangnya.
Arthur menangkis dan terus menghindari serangan pedang Dirga.
“buk... !” Arthur berhasil melukai Dirga dengan satu serangan pamungkasnya dan membuat aneh itu jatuh terjerembab ke lantai dan pedang yang ada di tangannya terlempar jauh darinya.
“Hahaha.... ternyata kau hanyalah sampah tanpa pedang itu. Terima ini...” teriak Arthur sambil tertawa dan membuat tubuh Dirga tak bisa di gerakkan.
Rheva yang berada di dekat pedang itu terlempar, mengambilnya dan melemparkannya pada Dirga.
“Dirga tangkap ini... !” pedang penghancur jiwa meluncur ke arah Dirga namun lelaki itu tak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Aku harus bisa mengalahkan bajingan ini kali ini. Aku tidak boleh kalah di sini !” batin Dirga dengan segenap tenaga berusaha menggerakkan tubuhnya hingga Akhirnya dia berhasil menangkap pedang itu.
“Jleb.... !!!” Dirga menancapkan pedang penghancur jiwa itu tepat di jantung Arthur.
“Argh.... bajingan tengik kau....tidak... aku belum kalah !!!” teriak Arthur sesaat sebelum tubuhnya hancur menjadi butiran debu.
“Semuanya sudah berakhir...” ucap Rheva bangkit dari duduknya dan menghampiri Dirga.
“Kau tak apa ?” tanyanya lalu membantu Dirga berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.
“Kau luar biasa...” ucap Rheva lirih pada Dirga.
“Tidak... kau yang luar biasa.” jawabnya tersenyum lalu menyentuh pipi Rheva dan mencium bibirnya.
Sementara itu di luar tampak Tim Lin Han yang bersorak-sorai di tengah mayat para pasukan Infinix di area pertarungan.
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di Lembah Kematian tampak sesosok arwah yang barusan masuk ke tempat itu dan membuat semua roh yang ada di sana ketakutan padanya.
"Hahaha... bocah Infinix... tunggu saja aku akan segera membalaskan dendam ku padamu setelah kau menghancurkan ragaku !! teriak Arthur dalam kegelapan di Lembah kematian dan tampak dia malah beberapa roh yang ada di sana.
TAMAT....
--------------------------------------------------------Akhirnya kisah ini bisa tamat juga. Terima kasih banyak kepada para pembaca yang sudah mendukung karya ini. Maaf up nya terlambat di karenakan kesibukan.
Tetap stay di sini ya kak dan dukung karya baru ku lainnya
"Darah Campuran"
“Pembalasan Sang Penakhluk”
“Sang Mafia Penghancur Plaboy” (cerita fiksi yang akan tayang beberapa hari lagi)
Terima kasih semuanya,
Love you all...🙏🙏❤️❤️
Bisa baca juga serial detektif bagi yang suka sambil nunggu karya baru. Seru pokoknya!!!
__ADS_1