
Sementara itu beberapa tim mengawal para tahanan yang berisi orang tua, wanita dan anak-anak yang akan kembali ke tempat tinggal mereka hari itu juga di karenakan kondisi di sana tidaklah aman.
“Ayo kita berangkat sekarang !” ucap salah satu tim Lin Han yang mengawal para tanaman yang akan pulang ke tempat tinggalnya.
Semua tawanan sudah berbaris dan berjajar rapi segera mengikuti instruksi dari salah satu anggota Lin Han.
Sementara itu di lain sisi Lin Han bersama Dirga dan yang lainnya mulai bergerak menuju ke markas Infinix. Tak berapa lama kemudian mereka tiba di depan markas Infinix.
“Ternyata jumlah pasukan yang berjaga di sini meningkat berkali lipat daripada sebelumnya.” ucap Andrew yang memantau keadaan di sana dan melihat banyak sekali pasukan Infinix di setiap tempat.
Para tawanan yang ikut bergabung bersama tim Lin Han nyarinya menjadi jiwa dan tampak gemetar setelah melihat banyaknya jumlah pasukan Infinix yang berjaga di sana.
“Jangan menyerah dulu sebelum mencoba. Jangan takut pada bayangan semu ciptaan kalian sendiri !” ucap Lin Han melihat gelagat para tawanan yang barusan bebas tampak gentar untuk menyemangati mereka.
Meskipun simple ternyata ucapan dengan barusan memberikan efek yang besar pada para tawanan yang ikut membantu. Tampak mereka terlihat bersemangat sekali dan rasa takut yang mendera mereka sekarang telah hilang entah kemana.
“Sekarang ayo kita bergerak... !!” ucap Lin Han mengajak yang lainnya untuk menyerang. Tambak semuanya yang ada di sana mengganggu menetap Lin Han. Dan mereka semua mulai bergerak.
Para tim Lin Han bersama para tawanan yang membantu kini sudah berada di sekitar markas Infinix di mana pasukan yang menjaga di sana tampak terkejut dengan serangan yang mendadak itu.
“Mereka datang menyerang... ! Tidak sesuai dengan prediksi... bagaimana ini ?” tanya salah satu pengawal pada temannya yang ikut berjaga.
“Kenapa tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh tuan Arthur ?” jawab pengawal itu pada rekannya.
Tampak kepanikan terjadi di kelompok pasukan Infinix yang memang mereka kurang persiapan jika ada serangan dadakan.
“Bak-buk-bak-buk....”baku hantam mulai terjadi di antara mereka. Terjadi adu kekuatan antara tim Lin Han dan pasukan Infinix.
“Trang... clang...” sebagian dari mereka yang menggunakan pedang mengayunkan pedangnya selama baku hantam terjadi.
Setelah beberapa saat adu fisik tampak tim Lin Han mulai menguasai medan perang dan tampak para pasukan infinix kewalahan menghadapi mereka.
Namun di tengah pertarungan, pasukan Infinix kembali mengeluarkan asap hitam di Tengah area pertarungan.
__ADS_1
“Argh.... !!!” satu per satu tim Lin Han jatuh kalau terkena asap hitam.
Pasukan Infinix yang ada di sana tampak tersenyum menyeringai saat melihat keadaan sekarang berbalik dan satu per satu lawan mereka tumbang. Kini mereka mulai menguasai keadaan.
“Asap ini berhasil melemahkan mereka. Keluarkan asap akan lebih banyak lagi !” ucap salah satu pengawal pada rekannya.
Dan para pasukan Infinix yang ada di sana dengan cepat membuat asap hitam yang melingkupi ares perang.
“Uhuuk... aku tidak tahan lagi dengan asap ini... !” ucap beberapa anggota tim Lin Han yang batuk setelah terkena asap sambil menutup hidungnya, sehingga membuat pergerakan mereka terhambat.
“Jika terus di biarkan seperti ini.... sudah bisa di pastikan pihak kita akan kalah !” ucap salah satu anggota tim Lin Han lainnya.
Tampak pasukan Lin Han mulai panik setelah terkena serangan asap hitam dan konsentrasi mereka menurun drastis di tengah pertarungan.
Dirga yang saat itu berada di tengah area pertarungan, segera melakukan tindakan cepat.
Kali ini dia mencoba melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan dari kedua orang tuanya.
“Kalian semua tenang... aku makan mengatasi ini ! Kalian tetap konsentrasi dan jangan sampai lengah !” teriak Dirga pada timnya.
Asap hitam pekat yang menyelubungi area pertarungan saat itu tampak terlihat berputar di sekitar Dirga berdiri.
“Whoosh.... !” asap hitam itu kini tampak semakin berkurang dan terus berkurang hingga akhirnya hilang dan area pertarungan kembali bersih bebas dari asap hitam yang mengganggu pernafasan dan konsentrasi.
“Aku baru tahu kau bisa menyerap asap pekat itu.” ujar Rheva pada Dirga yang sedang mengayunkan pedang cahayanya menebas pasukan Infinix.
“Kau tahu.... banyak hal yang terjadi pada ku setelah kau ditangkap oleh Arthur.” balas Dirga pada gadis itu dengan melempar senyum manis padanya. Rheva hanya tersenyum kagum membalas senyuman Dirga dan kembali menyerang pasukan Infinix.
Setelah asap hitam hilang, keadaan kembali berbalik dan tim Lin Han menguasai pertarungan.
Pasukan Infinix mulai kalang kabut dengan serangan dari tim Lin Han.
“Hey... kenapa asep pekat bisa hilang begitu saja ?” tanya salah satu pasukan Infinix pada rekannya.
__ADS_1
“Seharusnya hanya Infinix saja yang bisa mengendalikan asap hitam. Apa mungkin di antara kita ada yang menjadi penghianat dan membantu mereka ??” jawab pasukan Infinix yang lain pada rekannya.
“Celaka.... ada penghianat diantara kita... ! Jika aku berhasil menemukan dia akan ku buat dia segan untuk hidup !” ucap pasukan Infinix yang lain dengan marah.
Dengan cepat rumor tentang adanya penghianat antara pasukan Infinix menyebar dengan cepat dan membuat pasukan itu saling curiga hingga mereka bisa terpecah belah.
Di pihak Dirga tampak terlihat para tim Lin Han yang tidak tahu-menahu telah terjadi konflik internal di antara para pasukan Infinix dan memberikan kesempatan besar bagi mereka untuk menang.
“Kenapa tiba-tiba pasukan Infinix itu seolah tercerai berai...” tanya Andrew pada Lin Han yang sedang melawan pasukan Infinix.
“Entahlah... tapi yang jelas kita harus manfaatkan ini sebaik mungkin.” jawab Lin Han pada Andrew sambil tersenyum kecil dan fokus mengayunkan pedangnya.
“buk...” tampak setengah pasukan Infinix yang berjaga saat itu tumbang dan menyisakan separuh lagi pasukan yang masih berjuang melawan tim Lin Han.
“Zrash.... !!” Dirga mulai melepaskan pedang penghancur jiwa miliknya dan membuat pasukan Infinix yang terkena tebasannya seketika mati di tempat dengan rohnya yang ikut hancur tak bisa pergi ke alam baka.
“Rheva kenapa aku sama sekali tak melihat Arthur di sini ? Dimana dia sekarang ?” tanya Dirga pada Rheva setelah berulang kali melihat ke sekitar dan masih belum menemukan Arthur juga.
“Aku juga tak melihatnya. Ku rasa dia ada di suatu tempat bersembunyi....” jawab gadis itu sambil terus menebaskan pedang cahaya yang di pegangnya.
“Bagaimana jika kita mencarinya setelah ini ?” ucap Dirga terus menebaskan pedang penghancur jiwanya.
“Ya terserah kau saja sayang...” balas Rheva dengan tenang.
Dirga berhasil menumbangkan banyak pasukan Infinix dengan pedang penghancur jiwanya. Hingga dia berada di garis depan.
Dirga yang merasa lelah melepaskan pedang penghancur jiwanya kini mengaktifkan kekuatan matanya.
“Buzz.... !” tampak matanya berubah warna menjadi merah dan sinar violet mulai menebas para pasukan Infinix yang ada di depannya.
“Apa... kau juga bisa menggunakan kekuatan mata Infinix ? Jadi... jadi kau keturunan Infinix seperti kami ??!” ucap pasukan Infinix yang mendapat serangan dari Dirga.
Dirga hanya tersenyum saja dan tak menjawabnya lalu kembali melepaskan pedang penghancur jiwanya karena mulai berisik lagi.
__ADS_1
Rheva mengikuti Dirga dari belakang sambil terus menjatuhkan pasukan infinix yang kini mengepung mereka.
BERSAMBUNG....