Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 52 Masa Lalu


__ADS_3

Sekumpulan peri itu membawa tubuh Rheva ke sebuah goa yang ada di sekitar situ. Gadis itu masih terpejam matanya dan sama sekali tak bergerak.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang, lukanya parah sekali ?” tanya Mona pada teman lainnya.


“Cepat kita selamatkan dia. Kita bagi tugas saja agar cepat.” ucap Anna, peri lainnya pada para temannya.


Dua puluh peri itu lalu membagi tugas menjadi lima kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Ada yang bertugas mengobati area kepala, tangan, dan tubuh. Sementara lainnya mengobati area kaki dan yang terakhir mengobati tulang.


Pada area kepala mereka mengobati luka di bagian belakang kepala, dimana masih ada darah yang mengalir juga di sekitar wajah yang tergores.


Di bagian tangan banyak terdapat luka gores yang dalam bekas gigitan taring. Di area kaki pun juga terdapat banyak luka goresan yang masih mengeluarkan darah di tambah tulang pegelangan kaki kanan-kiri yang retak.


“Cling....”


Sinar-sinar memancar di dalam goa yang gelap dan menjadikannya terang. Sinar terang itu keluar saat mereka mulai mengobati Rheva.


“Hosh... hosh... hosh....”


Para peri kelelahan setelah satu jam mengobati. Mereka istirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi dan mengumpulkan tenaga kembali. Mereka terbang rendah mengitari tubuh gadis itu yang sekarang kondisinya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Luka di sekujur tubuhnya sudah sembuh dan kulitnya kembali bersih.


Mereka melihat gadis itu mengerakkan kelopak matanya dan mengira gadis yang mereka tolong sadar saat membuka mata lebar-lebar.


“Gadis ini sudah sadar...” ucap Mona mendekat dan mecoba menyapa gadis itu, namun tak ada respon sama sekali. Dan beberapa peri mencubit pipinya.


“Tak ada respons juga. Harusnya dia sudah sadar. Apa yang terjadi, ada apa dengan gadis ini ?” ucap Anna mendekat dan memeriksa kondisinya.


Menurutnya kondisinya baik-baik saja dan ia menyampaikan hal itu pada temannya serta mengusulkan untuk menunggu sebentar sampai kondisi gadis cantik itu stabil.


“Kejar... tangkap gadis itu.” teriak pemimpin suku pada para pengawalnya untuk mengejar seorang gadia kecil.


Gadis kecil itu berlari dengan cepat sambil menoleh ke belakang dan merasa lega.


“Aku selamat...” ucapnya sambil terus berlari meski sudah terengah-engah. Namun rasa takut kembali nampak di wajahnya saat melihat lima orang pengawal mengepungnya dari atas.

__ADS_1


“Mau lari kemana kau ?” ucap para pengawal itu dan langsung menangkapnya.


“Tidak... lepas... lepaskan aku !” teriak gadis kecil itu berontak dan memukul kuat bahu salah satu pengawal yang memanggul tubuhnya. Namun pukulannya tak berpengaruh sama sekali pada pengawal bertubuh kekar itu. Dan diapun hanya bisa pasrah berada di lengan kekar pengawal itu.


Dalam sekejap mereka menghilang lalu muncul kembali di depan pimpinan mereka.


“Tuan Arthur... ini gadis pembuat onar sudah tertangkap.” ucap pengawal yang membawa gadis tadi dan menyerahkan pada pimpinan mereka.


“Bawa dia dan masukkan ke tahanan hampa. Aku akan mengintrogasinya sendiri !” perintahnya yang murka melihat gadis kecil itu.


“Baik, tuan.” jawab para pengawal tadi serempak.


Mereka kemudian menjebloskan gadis kecil itu ke penjara hampa. Sebuah penjara dimana tahanan yang masuk ke dalamnya tak akan pernah bisa keluar dan merasakan siksaan seperti neraka di dalamnya.


“Bruk...”


Pengawal itu melempar gadis kecil itu dengan kasar lalu meninggalkannya sendiri. Beberapa saat kemudian pemimpin mereka masuk ke tahanan hampa.


Suara gemerincing kunci yang beradu setelah Arthur membuka kunci sel itu. Dia langsung mendekati gadis itu lalu dengan kekuatannya dia membelenggu tubuh gadis itu dengan kekuatannya yang membuat gadis itu tak bisa bergerak.


“Katakan pada ku... gadis kecil keturunan Ighist. Dimana para ighist yang lain dan juga para Pixy berada ? Dimana mereka bersembunyi ? Katakan !!!” teriak Arthur lantang yang membuat gadis itu ketakutan.


“Aku tidak tahu... aku bukanlah keturunan Ighist. Aku tidak tahu yang kau maksud.” ucapnya menunduk.


“Tidak tahu kau bilang ? Jangan kira aku tidak tahu kau bohong. Jangan hanya karena kau seorang gadis kecil, maka aku akan menganggap ku tidak berani menindak mu ? Kau keliru....” mengangkat wajah gadis kecil yang tertunduk itu.


“Katakan... apa hubungan mu dengan Ighist dan Pixy ?” berkata dengan mata melotot.


Gadis kecil itu tetap diam seribu bahasa dan tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kecilnya.


“Kau tidak tahu atau pura-pura tak tahu hei gadis ?” bentak Arthur yang semakin mendesaknya.


Lelaki itu lalu mengaktifkan penyiksa dalam sel itu.

__ADS_1


“Klik....” sebuah duri runcing dari besi keluar dari arah atas dan tubuh gadis kecil itu siap untuk menghimpit tubuhnya.


Gadis itu bergidik ngeri melihat dirinya akan tertusuk duri tajam dan hanya bisa diam, meringkuk.


“Masih tidak mengaku juga ? Aku tak akan segan-segan menghukum mu !” bentak lelaki itu lagi.


Kedua duri besi itu kini berada tepat di atas kepala dan di bawah kakinya. Dia mulai merasakan kesakitan saat duri besi itu bergerak lagi dan menusuk kalinya.


“Aaaaargh.....” teriak gadis kecil itu kesakitan dan darah keluar dari kedua kakinya. Dia juga merasakan tekanan yang hebat pada kepalanya. Dia tidak tahu apakah duri besi itu sudah menancap di kepaalanya atau belum.


Sementara itu di goa tempat para peri berkumpul. Mona melihat gadis yang mereka selamatkan belum sadar juga dan malah gadis itu mengalami kejang sekarang.


“Semuanya coba kesini. Apa yang harus kita lakukan sekarang ? Kenapa dia mengalami kejang ?” memanggil para peri lainnya untuk mendekat.


Para peri lainnya yang tadinya beristirahat dan menunggu gadis itu sadar akhirnya mengerubungi tubuh gadis itu. Satu peri memeriksa kondisinya.


“Gawat, gadis ini sedang bermimpi dan membuat kondisinya kembali tidak stabil.” ucap salah satu peri


“Kita harus segera membuatnya tersadar dari mimpinya itu agar dia bangun. Jika tidak jiwanya akan meminggalkan raganya.” ucap peri lainnya.


Anna terbang ke telinga gadis itu dan merasakan sebuah mantra untuk membangunkannya dari mimpi buruk yang akan menelan jiwanya.


Kembali ke gadis kecil yang merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia juga merasakan tulangnya mulai bergemeretuk, entah dia tak tahu apakah tulangnya mulai patah atau tidak. Dia memejamkan mata dan terlintas senyum seorang wanita yang membelainya serta seorang lelaki yang memeluknya.


“Ibu... ayah... tolong aku...” ucap gadis itu lirih dengan menahan sakit yang teramat luar biasa.


Kembali dia melihat sosok kedua orang tuanya yang selalu menemani hari-harinya penuh kasih sayang yang melimpah. Suatu saat dia jatuh ke lubang perangkap yang biasa di buat untuk menjebak babi hutan.


“Ayah... tolong...”ucapnya pada Ayah yang juga berusaha mengeluarkannya dari perangkap itu.


Melihat ayahnya yang kesusahan, gadis itu pun ikut berusaha untuk melepaskan dirinya dari perangkap yang mengikat kakinya. Tiba-tiba dia merasakan dirinya penuh dengan energi yang meluap. Seketika dia bisa memutuskan rantai yang menjerat kakinya dengan mantera yang selama ini dia ucapkan namun tak pernah berhasil. Dan kali ini mantra itu bekerja.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2