
Rheva berbalik dan memperhatikan anak itu yang sedari tadi bicara panjang lebar, tak seperti biasanya yang bicara singkat langsung ke intinya saja dalam menyampaikan suatu hal. Dia memang kesal padanya. Bukan karena serangan yang dia lakukan dan melukai tubuhnya itu, tapi karena ciuman yang barusan dilakukannya tadi. Dirga tidak menjelaskan hal itu padanya dan malah bersikap tanpa dosa.
“Semakin mengingatnya aku semakin kesal saja. Lupakan saja hal itu. Tunggu.... ada yang aneh darinya.” batinnya sambil terus memperhatikan anak itu.
“Kau sembuh Dirga... ! Terapi itu berhasil menyembuhkan mu... !” ucapnya yang seketika berubah menjadi riang sambil memegang bahu anak itu.
“Ah benarkah...?”tanyanya senang melihat gadis itu tak marah lagi padanya.
“Dengarkan ucapan mu sendiri. Kau sudah tidak mengulang pengucapan beberapa kalimat. Itu artinya kau sudah sembuh...” tambahnya lagi dengan riang dan tanpa sadar dia memeluk Dirga karena senang. Dirga pun membalas pelukan gadis itu sambil tersenyum kecil.
Setelah beberapa saat kemudian, Rheva yang tersadar telah memeluk Dirga duluan melepaskan pelukannya dan untuk menutupi rasa malunya itu dia kembali berpura-pura marah.
“Jangan senang dulu, masih ada tugas yang menanti mu. Kau bereskan kekacauan yang kau buat di dalam rumah.” ucapnya lalu pergi meninggalkan anak itu dan masuk ke rumah dengan detak jantung yang tak menentu.
Dirga memandangi kepergian Rheva dan membuatnya tambah bingung kenapa emosi gadis itu berubah tak menentu.
“Lebih baik aku bereskan kekacauan yang ku buat sebelum dia marah lagi pada ku. Tapi kekacauan macam apa yang telah ku perbuat ?” Dirga melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat seisi rumah yang berantakan dan juga pecahan kaca ada dimana-mana.
“Ini semua aku yang melakukannya ?” tanyanya tak percaya melihat kondisi rumah yang kacau dan berantakan.
“Huft...”Dirga membuang nafas melihat banyak hal yang harus dia bereskan. Tak perlu menunggu perintah dari Rheva untuk yang kedua kali, dia segera bergerak cepat.
__ADS_1
Dia mulai membersihkan pecahan kaca yang berserakan itu, mengeringkan air di lantai. Sementara itu Rheva hanya mengintipnya dari kamar sebelah sambil tersenyum kecil melihat Dirga yang bekerja sendirian membersihkan rumah. Sebenarnya mudah baginya merapikan semua kekacauan itu kembali cukup dengan menjentikkan jari saja semua beres. Namun ia memang ingin Dirga yang membereskan semua itu.
“Hosh... hosh...hosh....” Dirga merasa kelelahan dan ingin duduk sejenak sekedar membuat nafasnya kembali teratur. Dia duduk di kursi panjang dan mengambil buku yang ada di kursi itu. Iseng dia membuka halaman secara acak dan dia menemukan sebuah simbol yang membuatnya jadi tertarik untuk membacanya.
Dia membuka halaman berikutnya yang menjelaskan simbol-simbol kelompok yang hidup di zaman kuno. Dia juga menemukan simbol dari kelompok Ighist dan Pixy.
“Jadi selain Ighist masih ada kelompok lainnya juga yaitu Pixy...lalu bagaimana dengan simbol Infinix ?” ucapnya penasaran lalu membalik halaman berikutnya dan menemukan simbol kelompok Pixy. Dia membalik halaman lagi untuk mencari simbol kelompok Infinix. Namun Rheva keluar dari kamar.
“Apa kau sudah selesai ? Ku lihat sebagian ruangan masih berantakan.” ucap gadis itu yang melihat Dirga bukannya membereskan kekacauan yang dia buat, tapi malah duduk santai.
Tak mau gadis itu kembali marah padanya, Dirga menaruh buku itu ke meja tepat halaman yang terbuka saat itu menunjukkan simbol Infinix. Dia segera melanjutkan membereskan kekacauan yang merupakan ulahnya.
Dua jam berikutnya semua kekacauan tadi sudah dia bereskan semuanya. Dia kembali duduk setelah meminum segelas air untuk melepas dahaganya. Dia masih melihat buku yang tadi di bacanya masih terbuka. Karena dia merasa lelah dia pun menutup buku itu dan menaruhnya ke meja karena sedang tidak mood untuk membaca. Dan beberapa saat kemudian dia tertidur di kursi itu.
“Bos... apa bos juga mencium ada aroma orang yang masuk ke daerah ini ?” tanya salah satu pasukan pada pemimpin pasukan.
Pemimpin pasukan itu mempertajam penciumannya dan benar saja dia mencium aroma keberadaan manusia di sana.
“Iya benar ada aroma orang disini. Cepat periksa dan geledah semua rumah yang ada di sini jangan sampai ada yang terlewatkan !” perintah pemimpin pasukan itu.
Para pasukan lainnya pun segera bergerak dan memeriksa semua daerah itu. Mereka masuk ke rumah para penghuni Ighist.
__ADS_1
“Di sini kosong !” ucap pasukan setelah memeriksa satu rumah dan masuk ke rumah lainnya. Sementara pasukan lainnya menyebar menyisir ke jalanan dan ke tempat lain di area itu untuk mencari.
Rheva saat itu sedang berdiri di dekat jendela melihat Dirga yang sedang tidur dari kejauhan tiba-tiba merasakan ada energi tak jauh dari tempatnya berada dan akan menuju ke rumahnya. Dia menjadi gelisah bercampur rasa takut mengetahui hal itu.
“Siapa mereka ? Kenapa jumlah mereka banyak... apa mereka jangan-jangan adalah pasukan Infinix ? Ah gawat.... aku harus cepat sebelum mereka sampai ke sini.” ucap gadis itu bingung. Dia lalu menutup semua jendela yang terbuka dan mematikan pemanas ruangan itu. Dia juga mencabut kembali array pelindung yang di buatnya. Terakhir dia merapalkan sebuah mantera dimana semua jejaknya dan Dirga yang ada di rumah itu terhapus.
Dua pasukan Infinix sampai di depan rumah Rheva. Dengan cepat Rheva segera menarik Dirga yang tertidur ke bawah kursi karena sudah tak ada waktu lagi.
Mereka berdua ada di bawah kursi. Rheva berada di atas tubuh Dirga.
“Rheva apa yang kau lakukan ?” tanya Dirga pada gadis yang menindih tubuhnya itu dan mengajaknya bersembunyi di kolong.
“Sssts... diam dulu. Jangan bicara lagi atau kita akan tertangkap. Nanti akan ku ceritakan pada mu.” gadis itu membekap mulutnya agar tidak bersuara lagi.
Dirga yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi menurut saja pada apa yang di katakan gadis itu. Sekali lagi Rheva merapal sebuah mantera tepat saat dua pasukan infinix itu menerobos masuk ke rumahnya.
Dirga semakin tidak tahu apa yang di lakukan Rheva barusan. Dia tetap diam dalam kebingungan.
“brak...” suara pintu terbuka.
Dua pasukan itu melihat ruangan itu kosong dan tak menemukan keberadaan manusia di sana.
__ADS_1
“Periksa ke dalam ! Dan aku akan periksa di sini !” ucap salah satu pasukan pada temannya. Satu pasukan lainnya masuk ke belakang dan menyisir ruangan lainnya yang juga kosong lalu dia kembali menghampiri temannya yang berdiri di dekat kursi tempat Rheva dan Dirga bersembunyi saat ini.
BERSAMBUNG.....