Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 105 Terpisah Dari Raga


__ADS_3

Satu minggu setelah kejadian itu sampai sekarang Dirga masih terbaring di rumah sakit dan tak sadarkan diri. Setiap hari Elsa dan Hadwan ke rumah sakit menunggu anak itu.


“Sayang... bukankah masa kritisnya hanya tiga hari saja, tapi kenapa sudah lebih dari batas waktu yang di tentukan anak kita masih belum sadar juga... ?” tanya Elsa pada suaminya yang duduk di dekatnya di rumah sakit.


Hadwan diam tak berkata apapun pada istrinya. Melihat suaminya yang diam tak merespon pertanyaannya dia pun merasa semakin khawatir dan berpikir jika suaminya itu menyembunyikan sesuatu padanya.


“Sayang apa kau tahu sesuatu ? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku ? Tolong katakan pada ku...


meski itu menyakitkan.” ucap Elsa lagi.


Melihat suaminya yang masih diam tak merespon ucapannya sama sekali, wanita itu mengguncang keras bahu suaminya.


“Elsa...” ucap Hadwan sambil memegang tangan istrinya dan memberanikan diri menatap langsung kedua mata istrinya itu.


“Katakan apa anak kita akan segera sadar ?” tanyanya lagi pada lelaki yang menatapnya dengan wajah sendu.


“Jangan bilang... anak kita tak akan selamat....” ucapnya lagi yang masih belum puas dan menuntut jawaban dari suaminya.


Melihat Hadwan yang mengangguk menatapnya, seketika tangis wanita itu pecah dan air matanya tumpah di bahu suaminya.


“Sudahlah sayang... itu hanya prediksi dari dokter. Aku percaya keajaiban itu ada. Dan semoga Dirga mendapatkan keajaiban itu.” ucapnya menghibur istrinya dan juga membesarkan hatinya sambil memeluknya.


Dua minggu berlalu dan sampai detik ini kondisi Dirga masih seperti sebelumnya. Suatu pagi datanglah seorang perawat yang masuk ke ruangan itu. Perawat itu membersihkan tempat tidur Dirga.


“buk...” suara sesuatu terjatuh dari tempat tidur pasien yang dibersihkan oleh perawat itu.


Perawat itu kemudian berjongkok dan melihat di bawah tempat tidurnya, ada sebuah benda yang jatuh di sana.


“Apa ini... ?” tanyanya saat mengambil benda yang jatuh itu dan ternyata adalah sebuah bros berbentuk pedang dengan sulut daun menutupi pedang itu.


Sesaat perawat itu merasa heran saat menemukan benda itu di sana. Namun dia segera menaruhnya kemeja yang ada di sebelah Dirga.


“Mungkin ini adalah milik pasien ini dan merupakan barang berharga.” gumamnya sambil menatap bros yang bentuknya unik itu lalu segera pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Siang hari kemudian, teman-teman Dirga datang menjenguk dan masuk ke ruangan tempatnya dirawat.


Nathan dan Tomy datang bersama tiga orang teman lainnya menjenguk anak itu. Mereka merasa tak percaya jika temannya yang selama ini baik-baik saja sampai sekarang masih tak sadarkan diri.


Mereka terus menatap dan memandangi dengan iba tubuh yang masih terbujur kaku dan sama sekali tidak bergerak itu.


“Dirga cepatlah bangun kami rindu padamu. Maksud ku aku rindu mengerjai mu...” ucap Tomy mendekat dan memegang tangannya.


“Kenapa nasib mu malang sekali. kau menolong orang tapi malah kau sendiri terluka parah seperti ini. Kau payah, cepatlah bangun....” ucap Nathan ikut berdiri di sebelah Tomy.


Saat Nathan duduk kembali dia melihat ke arah meja dan terdapat bros yang biasa di bawa temannya itu kemanapun dia pergi semenjak kepergian Rheva.


“Ini kan...” Nathan mengambil bros itu lalu meletakkannya di telapak tangan kanan Dirga.


“Sayang sekali semenjak gadis itu menghilang entah kemana kau jadi tertimpa sial seperti ini. Semoga bros ini bisa mengobati kerinduan mu pada gadis itu.” ucapnya lagi lalu menangkupkan tangan Dirga menggenggam bros itu.


Satu jam kemudian kelima temannya itu keluar dari ruangan tempat dia dirawat setelah merasa sudah cukup lama membesuk dan melihat keadaan temannya.


Malam hari Elsa dan Hadwan yang menunggu Dirga tertidur di kursi di ruangan. Pedang cahaya yang masih dalam wujud bros tiba-tiba bersinar terang dalam genggaman tangan anak itu.


“blink...” tiba-tiba pedang itu masuk ke tubuh Dirga dan menghilang.


Seketika anak itu langsung membuka matanya saat pedang itu memasuki tubuhnya.


Elsa yang merasa sekolah melihat kilatan cahaya di ruangan itu pun terbangun. Betapa terkejutnya dia saat melihat putranya kini sudah membuka mata.


“Dirga... sayang... akhirnya kau bangun nak. Ibu senang sekali.” ucapnya langsung berhambur dan memeluk tubuhnya.


Elsa lalu memegang tangannya dan terus mengajaknya bicara. Namun sama sekali tak ada respon baik suara maupun gerakan yang merespon ucapan wanita itu. Namun dia terus saja memanggil nama Dirga berulang kali.


“Dirga... Dirga.... bangun nak...” ucapnya terus memanggil nama itu.


Mendengar suara ibunya yang terus memanggilnya, dia pun bangun.

__ADS_1


“Ibu... aku sudah bangun bu, kenapa Ibu sangat sedih sekali melihatku... ?” ucapnya lalu memeluk ibunya.


Namun dia terkejut saat melihat dirinya tak bisa memeluk ibunya dan tubuhnya bisa menembus ibunya.


“Ada apa denganku... apa yang terjadi padaku ?” gumamnya heran lalu melihat kebelakang dan mendapati tubuhnya sendiri yang terbaring di atas tempat tidur dengan banyak bantuan berbagai jenis selang di tubuhnya.


“Jadi aku... aku...” ucapnya merasa shock setelah melihat keadaan dirinya sendiri yang sedang koma. Dia lalu mengingat apa yang terjadi sebelumnya pada dirinya.


“Ya... aku terkena tembakan peluru saat aku menyelamatkan orang di jalanan beberapa waktu yang lalu.” ucapnya setelah mengingat kejadian terakhir yang menimpa dirinya.


Elsa yang melihat Dirga masih tidak merespon ucapannya meskipun sudah membuka matanya, terlihat histeris dan seketika air matanya tumpah.


Melihat ibunya yang bersedih dia pun mendekati Ibunya dan menghampirinya.


“Ibu.... tolong berhentilah menangis. Aku disini... aku tidak apa-apa Ibu. Aku baik-baik saja.” ucapnya sambil terus memeluk ibunya meskipun dia tidak berhasil memeluk ibunya.


Dalam wujud roh, dia pun berdiri lalu menatap tubuhnya sendiri dan masuk ke tubuhnya sendiri. Namun tubuhnya menolak rohnya masuk kembali.


“Ah sial sekali.... !! Kenapa rokok tidak mau menyatu kembali dengan jasad ku ?” tanya anak itu yang merasa kesal.


Namun dia tidak menyerah dan dia kembali mengulangi masuk ke tubuhnya berulang kali namun hasilnya sama tetap saja tubuhnya menolak rohnya.


“Argh.... apa yang sebenarnya terjadi ? Apa yang harus kulakukan ?” ucapnya yang merasa frustasi setelah berkali-kali gagal masuk ke tubuhnya sendiri.


Dia pun duduk di samping ibunya yang masih terus menangisinya dan berusaha membangunkan dirinya karena tidak tahu apa yang bisa diperbuatnya.


Saat termenung, dia melihat seorang anak kecil memakai piyama di ruangan itu yang tersenyum padanya.


“Kenapa anak itu bisa tersenyum pada ku ? Berarti dia bisa melihatku ? Jangan-jangan dia...” ucapnya balas melihat anak kecil itu yang merupakan roh sama seperti dirinya.


Namun setelah tersenyum padanya anak kecil itu keluar meninggalkan ruangan itu.


“Hey tunggu... anak kecil tunggu...” teriaknya lalu berdiri dan mengikuti anak kecil itu pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2