Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 92 Keraguan


__ADS_3

Dirga tidak menyangka saja dia mempunyai dua simbol di tubuhnya, simbol Pixy dan juga Infinix. Dia ragu pada dirinya sendiri apakah dia benar-benar keturunan kelompok kuat itu ? Dia juga masih tidak percaya dengan gambaran yang dilihatnya saat mengunjungi makam keluarga Roussel itu. Rasanya dia tidak yakin jika dia adalah keturunan kelompok kuat itu dan tak pantas baginya menjadi keturunan mereka.


“Rheva tanda yang kau lukis di punggungku itu hanya sebagian simbol dari Infinix dan aku tidak yakin akan hal itu. Aku juga menemukan ada anda lain di dadaku. Bahkan tanda ini jelas sekali.” ucapnya sambil memegang tangan gadis itu dan meletakkan jari Rheva pada simbol taring yang ada di dadanya.


Gadis itu terkejut dan tak bisa berkata apa-apa melihat simbol Pixy yang terlihat jelas sekali pada dada Dirga.


“Ini... kau adalah...” ucapnya masih menyentuh simbol itu.


“Aku adalah Dirga... aku bukan keturunan Pixy ataupun Infinix seperti yang kau ucapkan ataupun yang ditunjukkan oleh buku yang kau punya.” ucapnya tegas pada gadis itu yang tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah keturunan Pixy maupun Infinix.


“Kenapa kau mengingkari takdirmu ? Akuilah kalau kau adalah orang yang selama ini kucari. Dan aku adalah Ighist yang ditakdirkan untuk...”


Dirga mengatupkan bibir gadis itu dengan jarinya agar dia tidak meneruskan ucapannya yang selalu diulangi karena dia tidak suka dan tidak mau menjadikan gadis itu sebagai pelindung ataupun pelayannya.


“Ssts.... sayang... status kita setara. Aku tidak ingin kau melindungi ku. Justru akulah yang harus melindungi mu mulai dari sekarang. Lupakan Infinix, lupakan Pixy dan Ighist, lupakan semuanya. Aku tidak mau kita terikat pada cerita masa lalu itu.” ucapnya sambil memegang tangan gadis itu.


Rheva hanya diam saja mendengar penjelasan itu dan dia bingung mau menjawab apa. Karena dia merasa kecewa disaat dia benar-benar mencari dan menunggu dia, namun setelah dia menemukan anak itu bahkan ragu makan identitasnya dan tidak mau mengakui itu semua yang menjadi beban baginya.


Entah kenapa hari ini dia melihat Rheva berbeda dari biasanya. Gadis itu terlihat sangat menawan saat dilihat dari dekat. Dia juga merasakan keanehan pada tubuhnya. Darahnya tiba-tiba terasa panas dan bergejolak saat bersentuhan dengan gadis itu dan dia merasakan tubuhnya berenergi penuh tanpa batas.


Tiba-tiba Dirga menyentuh bibir merah gadis itu lalu menciumnya. Entah kenapa dia ingin melakukan hal lebih dari itu dengan Rheva.


“bruk....” Dirga memegang erat tangan gadis itu dan membaringkan tubuhnya di atap itu lalu memeluknya erat.

__ADS_1


Dia kembali mencium bibir gadis itu lalu beralih mencium lehernya.


Rheva merasakan ada yang aneh pada anak itu kali ini. Karena tidak biasanya dia seagresif ini. Dia merasakan nafas anak itu memburu dan suhu tubuhnya meningkat.


“ Kenapa dia tiba-tiba menjadi berhasrat seperti ini... apakah itu karena semua titik meridian di tubuhnya terbuka? Ya... pasti karena hal itu...” batin gadis itu mencari penyebab kejanggalan yang terjadi pada Dirga.


“Dirga... sadarlah... berhenti ! Kubilang berhenti jangan teruskan lagi...” ucap gadis sambil mendorong tubuh anak itu menjauh dari tubuhnya. Namun sial dia tidak bisa mendorong tubuh anak itu yang terasa sangat berat mungkin disebabkan karena titik meridian yang terbuka dan mempengaruhi kekuatannya yang semakin meningkat berkali-kali lipat dari biasanya.


Untuk sesaat anak itu tersadar setelah mendengar ucapan gadis itu. Namun malang dia tidak bisa mengontrol tubuhnya.


“Sayang... aku akan membantumu kali ini.” ucap gadis itu menatap Dirga sambil memegang wajahnya.


Dia merapatkan tubuh Dirga ke tubuhnya dan memeluknya erat sambil mencium bibirnya. Dalam hitungan detik dia mengeluarkan energi es dan mengalirkan ke tubuh anak itu yang terasa semakin memanas.


“Ah... apa yang ku lakukan pada Rheva ? Kenapa aku hampir...” batinnya masih merasakan bibir gadis itu yang sedingin es.


Beberapa saat kemudian Rheva mengakhiri ciumannya saat merasakan suhu tubuh anak itu sudah kembali normal.


“Maafkan aku... aku tidak bermaksud melakukan itu pada mu.” menarik tubuhnya menjauh dari gadis itu dan duduk.


Rheva ikut duduk dan langsung memeluknya. Dia hanya menatap mata anak itu tanpa berkata sepatah kata pun dan dia tanpa sadar mencium bibir Dirga untuk menunjukkan rasa kekhawatirannya yang begitu besar.


“Aku tidak mau kau melindungi ku. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku hanya ingin kau mau membantu ku menjalankan misi ku.” ucapnya setelah mengakhiri ciuman dan masih memeluk anak itu.

__ADS_1


“Ya... aku akan selalu bersama mu ke manapun kau pergi...” balasnya mengalah untuk menghindari perdebatan dan merusak moment romantis saat itu meski dalam hati dia masih tidak mengakui dirinya sebagai keturunan Infinix dan juga Pixy.


“Kau jangan pernah membuka titik meridian mu lagi jika tidak bersama dengan ku. Atau kau akan melakukan hal yang sama seperti tadi dengan gadis lain.” ucapnya sambil melepas pelukannya dan menggenggam tangan anak itu.


Dirga hanya tersenyum menanggapi perkataan Rheva yang jadi posesif padanya.


Angin berhembus kencang dan langit terlihat gelap. Rheva memakaikan baju Dirga yang tadi di lepasnya. Dia lalu menarik anak itu segera turun dari atap karena hujan rintik-rintik mulai turun.


Mereka berdua berteduh di bawah tangga karena hujan semakin deras. Gadis itu merasa senang dan lega sudah menemukan orang yang selama ini di carinya. Hanya masalah waktu, dia akan membuat anak itu menerima jati dirinya seutuhnya sebagai keturunan Infinix dan menjalankan misinya.


Jauh di suatu tempat pasukan Infinix mulai menyusun rencana setelah mengalami kegagalan berkali-kali menangkap Ighist yang kabur dari tangannya.


Saat itu Arthur, tengah mengumpulkan semua pasukan Infinix yang ada untuk membahas suatu hal besar yang akan segera lakukan.


“Bagaimana persiapan kalian untuk melakukan rencana kita ?” tanya Arthur pada setiap pasukan yang berkumpul.


“Semua sesuai dengan perintah tuan Arthur. Kami siap kapan saja melaksanakan perintah tuan Athur.” jawab semua pasukan itu serentak.


“Ha ha ha ha.... kita akan segera menangkap Ighist dan menemukan keturunan Infinix yang pasti juga ada di dunia itu. Ighist itu menuntun kita menemukan keturunan terakhir Infinix yang ku cari. Ha ha ha ha... ” ucap Arthur sambil tertawa lantang dan terlihat senang sekali.


Setelah selesai membahas persiapan rencana mereka, Arthur membubarkan pasukannya.


Petir bergemuruh menghiasi langit kala itu di tempat keberadaan Athur berada bersama pasukannya seolah mendukung rencana mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2