
Dirga dan Andrew terlihat semakin kesakitan. Lin Han sudah mencoba berbagai upaya untuk membantu mereka lepas dari rasa sakit itu namun tak ada satupun dari usahanya yang membuahkan hasil.
“Kalau kondisinya berkelanjutan seperti ini bisa gawat. Jalan satu-satunya mungkin aku harus membawa mereka keluar dari sini dulu sebelum aku juga merasakan hal yang sama dengan mereka.” batin Lin Han yang juga mulai merasakan sedikit sakit di tubuhnya.
“Apa kalian masih bisa bergerak ?” tanyanya pada Andre dan Dirga. Mereka berdua mengangguk menatap lelaki itu.
“Kalau begitu lebih baik kita segera keluar dari sel ini secepatnya ! Ayo cepat kita keluar sekarang dari sini !” ajak Lin Han pada mereka berdua. Dia pun segera bergerak cepat menembus sel itu dan keluar dari sana dalam wujud tak kasat mata di ikuti oleh Dirga dan Andrew yang berjalan di belakangnya dalam wujud tak kasat mata juga.
“Rheva... tunggu aku, aku akan datang menyelamatkan mu.” batin Dirga dan kembali melihat gadis itu sebelum keluar dari sana.
Saat sudah berada diluar sel, tubuh mereka pun seketika terbebas dari rasa sakit seperti tersetrum yang menderanya tadi.
“Bagaimana kondisi kalian berdua sekarang ?” tanya Lin Han lirih pada mereka berdua karena menghawatirkan kondisinya.
“Kami sudah merasakan baikan sekarang setelah keluar dari sel tadi, kau tak perlu mencemaskan kami.” balas mereka berdua agar lelaki itu tidak khawatir pada mereka.
“Baiklah jika kalian sudah merasa baikan sekarang alangkah baiknya jika kita segera pergi secepat mungkin dari sini. karena ku yakin setelah mereka mengetahui ada seorang penjaga yang tumbang mereka pasti akan mengejar kita.” ucap Lin Han kembali menjelaskan panjang lebar pada Dirga dan Andrew. Mereka pun menyetujui usulan dari Lin Han dan segera bergerak cepat keluar dari area sel.
Mereka berjalan dengan hati-hati saat melewati beberapa sel. setelah sampai di luar lokasi sel dan agak jauh dari sana, barulah mereka kembali ke wujud aslinya.
“Apa menurut kalian aman jika kita menunggu yang lainnya di sini ?” tanya Dirga pada Lin Han dan Andrew yang duduk sejenak untuk mengatur nafas mereka di balik bebatuan besar.
“Lebih baik kita waspada saja dan mengantisipasi serangan mendadak yang mungkin saja akan mereka lakukan setelah ini.” jawab Andrew memberi usul demi keamanan mereka semua.
Setelah rasa lelahnya hilang mereka bertiga pun kembali masuk ke hutan, tempat di mana mereka sebelumnya bersembunyi untuk menunggu yang lainnya kembali.
__ADS_1
Di lain tempat enam orang yang masih satu tim dengan Lin Han sedang bergerak menuju ke balik gunung di mana di sana depan benteng yang masih belum selesai pembangunannya.
Mereka menyamar menjadi pengawal Infinix lalu masuk ke lokasi benteng di bawah pimpinan Edie. Mereka ikut berjaga dan menyisir di sekitar area benteng.
Terlihat para tahanan yang melakukan kerja rodi di sana secara beramai-ramai.
“Cepat selesaikan tugas hari ini. Bawa semua batu itu ke sana atau kalian tak akan mendapatkan jatah makan siang !” bentak salah satu pengawal Infinix pada para tawanan yang di rasa lambat bekerja.
Edie yang kebetulan melewati pengawal itu menghampirinya dan berjalan bersamanya. Dia tidak tega melihat para tahanan Ighist yang masih satu rumpun dengannya itu terluka dan menderita selama berada di sana.
“Hey... kau pergilah istirahat dulu biar aku menghentikan tugasmu kali ini.” ucapnya membujuk pengawal itu. Pengawal itu menatapnya tanpa rasa curiga. Seperti mendapatkan angin segar, pengawal yang merasa lelah itu pun dengan senang hati pergi dari sana.
Edie menggantikan tugas pengawal itu. Tanpa sepengetahuan pengawal Infinix yang lain, dia pun berbicara dengan para tawanan itu. Dia menghampiri salah satu tawanan, seorang lelaki paruh baya.
“Tenang... aku tidak akan menyakitimu, aku juga dari Ighist.” ucap Edie lirih saat berjalan di samping lelaki paruh baya tadi. Seketika lelaki paruh baya itu mengerutkan dahi menatap Edie, namun dia percaya pada ucapannya setelah Edie menunjukkan lambang Ighist padanya.
“Ya baiklah aku percaya padamu.” jawab tawanan itu setelah melihat tanda yang sama di tubuh Edie dengan tanda yang ada di tubuhnya.
“Oh ya... apa kau tahu apa saja yang ada di sini ?” tanya Edie lagi pada tahanan itu.
“Ya aku tahu...” jawab lelaki itu pada Edie sambil mengangguk padanya.
“Maukah kau menemaniku yang berkeliling di tempat ini dan menunjukkannya padaku ?” tanyanya Edie kemudian pada tahanan tadi yang tersenyum tipis padanya.
“Tentu saja aku akan mengantarmu memeriksa tempat ini sampai ke sudut, kawan.” jawab tawanan itu bersedia mengantar Edie dan menemaninya berkeliling.
__ADS_1
Mereka berdua pun memeriksa tempat itu tanpa sepengetahuan pasukan Infinix yang ada di sana. Mereka melihat gudang senjata, naas sekali dimana yang membuat senjata itu adalah kelompok Ighist dan senjata itulah nantinya yang juga akan digunakan untuk memusnahkan para Ighist.
“Sayang sekali... kelompok kita harus menderita di sini...” ucap Edie setelah berkeliling dan melihat penderitaan kelompok Ighist lainnya.
Sementara itu di lain tempat tim dua berpencar dan menyebar di sekitar area markas untuk menemukan jalan keluar untuk kabur dari sana dengan aman. Mereka mencari lokasi dengan melakukan penyamaran kembali agar identitas mereka tidak diketahui. Mereka mencari sampai ke dalam hutan lainnya yang ada di sana.
Di lain tempat Dirga bersama Lin Han dan Andrew kembali masuk ke hutan tempat mereka bersembunyi dan mencari bahan makanan untuk mereka makan hari itu. mereka masuk hutan lebih dalam dan menemukan beberapa hewan yang bisa dimakan.
“Lihat itu ada banyak babi hutan !” ucap Andrew saat melihat sekawanan babi hutan yang berlari dalam hutan setelah melihat kedatangan mereka. Tanpa pikir panjang lagi mereka bertiga pun menangkap beberapa babi hutan itu sebelum mereka karena tidak menemukan bahan makanan lainnya.
Setelah berhasil menangkap beberapa babi hutan, mereka kembali ke tempat persembunyian dan mulai mengolah babi itu dengan memanggangnya.
Dirga duduk dan memanggang babi hutan. Sementara Andrew tetap terjaga untuk antisipasi jika ada musuh yang mendadak muncul.
Dirga dan Lin Han pun mengobrol ringan saat memanggang makanan mereka.
“Kau tahu tidak dimana letak lembah kegelapan ?” tanya Dirga yang teringat kembali pada perkataan Rheva sebelumnya.
“Untuk apa kau ke sana !? Tempat itu berbahaya sekali.” jawab Lin Han sambil membalik daging panggang yang dibakarnya.
“Aku harus mencari embun es abadi di sana untuk menyelamatkan Rheva.” jawab Dirga.
“Tempat itu bukan tempat biasa. tempat itu dihuni oleh para roh kegelapan dan belum ada yang bisa kembali dari sana setelah memasuki nya.” jelas Lin Han pada Dirga. Namun Dirga terlihat tidak takut sama sekali mendengar penjelasan yang menakutkan dari lelaki itu. Dia akan melakukan apapun agar Rheva selamat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1