
Rantai di kedua kaki gadis itu patah dan dia pun bebas. Ia lalu mengulurkan tangan ke atas berusaha meraih tangan Ayahnya.
“Kau... akhirnya kau bisa menggunakan kekuatan mu, nak.” ucap ayah yang tersenyum senang melihat putrinya.
Ayah gadis itu lalu mengeluarkan kekuatannya untuk membawa putrinya keluar dari perangkap itu. Dengan menyentuh tangan gadis itu yang kemudian terbang ke atas ke luar dari lubang dan mendarat di tanah. Ayahnya sengaja tidak langsung menolong anaknya supaya putrinya berusaha sendiri dan menggunakan kekuatannya.
“Maaf ayah... ibu... aku ingin bertemu dengan kalian lagi. Aku tak mau berkahir disini. Maaf aku akan menggunakan kekuatanku untuk melindungi diriku. Aku tak bermaksud menunjuk kan identitas ku...” batin anak itu lalu dia berkonsentrasi dan mengumpulkan kekuatannya.
“Thaak...”
Suara duri besi yang patah oleh sesuatu kekuatan dan tubuh anak itu terbebas dari himpitan duri besi. Meski sudah terbebas namun tubuhnya terluka parah dan banyak mengeluarkan darah.
“Ha ha ha ha.... kau memanglah keturunan Ighist bocah kecil. Bagus kalau begitu. Sekarang cepat katakan dimana kau dan sekelompok mu tinggal !!” mendekati anak kecil itu dengan tertawa lantang.
Arthur akan memulai menyiksa gadis kecil itu lagi meski dia sudah tampak tak berdaya. Gadis itu hanya meringkuk di sudut sel merasakan sakit yang teramat sangat. Belum hilang rasa sakit di tubuhnya, kini lelaki kejam di depannya itu mengeluarkan kekuatan api.
“Crash...”
Api terlempar ke arah gadis kecil itu dan membakar tubuhnya.
“Ha ha ha...rasakan akibatnya jika tak mau menurut perkataan ku. Aku sudah memberi mu kesempatan tapi kau menyia-nyiakan !” tertawa puas melihat api ******* tubuh gadis kecil itu lalu keluar dari sel hampa.
Tanpa sepengetahuan Arthur, gadis kecil yang di kiranya sudah hangus terbakar tadi masih hidup. Dia berhasil keluar dari tahanan itu dengan sisa-sisa tenaganya dengan menggunakan kemampuan teleport.
“Zink....”
Gadis kecil itu berhasil keluar dari tahanan hampa dan muncul di suatu tempat yang jauh dari tahanan hampa dengan kondisi sekarat.
Kembali ke goa dan para peri yang masih berusaha menyadarkan Rheva. Setelah merapalkan mantra. Tiba-tiba detak jantungnya berdetak kencang, lebih cepat dari biasanya. Para peri bersorak akhirnya usaha mereka membuahkan hasil juga.
__ADS_1
Baru saja mereka tersenyum, kini mereka harus melihat kenyataan tragis di depannya. Betapa tidak, detak jantung gadis itu melemah dan terus melemah dan akhirnya berhenti.
“Tidaak... usaha kita sia-sia...” ucap salah satu peri melihat gadis yang mereka tolong sekarang terbujur kaku.
“Aku rasa kita masih bisa menyelamatkan dia. Jiwanya masih bersemayam dalam tubuh gadis itu. Kita harus cepat sebelum rohnya keluar dari tubuhnya kita harus melakukan itu...” ucap Mona meyakinkan para temannya.
Mona lalu bergerak cepat. Dia terbang lalu turun di dekat bibir gadis itu. Dengan cepat dia meneteskan darah dari tangannya ke mulut gadis itu.
Satu tetes darah masuk ke tubuh gadis itu dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh memperbaiki jutaan sel-sel dan neuron yang telah mati hidup kembali.
Perlahan tubuh yang terasa dingin dan pucat itu berangsur-angsur menjadi normal. Bahkan kulit dan wajah gadis itu terlihat lebih segar dan kelihatan lebih muda dari sebelumnya.
“Rheva....” gadis itu mendengar dan melihat ibu dan ayah yang memanggilnya.
“Rheva...” kini gadis itu mendengar dan melihat Nathan serta Tomy yang menarik ke dua tangannya.
“Rheva... Rheva... sadarlah...” gadis itu beralih mendengar dan melihat Dirga mengangkat tubuhnya.
“Ayah... Ibu... Nathan, Tomy... Dirga.”
Gadis itu akhirnya tersadar dan meliahat ke sekeliling.
“Dimana aku... aku di goa... ? Bukannya tadi aku di dasar jurang ? Dan tubuh ku...” melihat tubuhnya yang bersih tak ada satupun luka.
“Lalu siapa yang menyelamatkan aku ?” tanyanya bingung sambil menatap menyisir goa mencari keberadaan seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya, namun tak ada siapa pun disana.
“Ini aneh... kemana orang yang telah menyelamatkan aku ? Atau mungkin orang itu sedang keluar mencari makanan dan obat untuk ku ?” tebak gadis itu membuat prediksi.
Rheva kemudian duduk dan bersandar pada dinding goa, menunggu orang yang telah menyelamatkan dirinya datang. Ia ingat benar tubuhnya terluka parah sekali. Namun sekarang tubuhnya telah pulih tanpa ada bekas luka sedikit pun.
__ADS_1
Sementara itu di luar goa para peri tersenyum setelah melihat gadis itu sudah melewati masa kritis.
Rheva menunggu orang yang telah menyelamatkan dirinya, karena lama tak kunjung datang dia pun sampai tertidur. Para peri yang melihatnya sudah tertidur, kembali masuk ke dalam goa untuk melihatnya terakhir kali sebelum mereka akan pergi meninggalkannya dan memastikan kondisinya baik-baik saja.
Mereka mendekat tanpa suara yang keluar dari bibir mereka. Rheva yang dalam kondisi tidur tetap bisa mendengar dengan jelas suara sehalus apa pun. Dia mendengar suara kepakan di sekitar tubuhnya.
“Apa itu suara nyamuk... tapi kepakannya lebih pelan tidak seperti biasanya yang berdengung dan berisik sekali...”
Rheva mengerjapkan matanya dan terbangun dengan suara yang membuat dirinya penasaran. Betapa terkejutnya dia saat melihat yang ada di depannya bukanlah nyamuk tapi makhluk bersayap seperti dalam dongeng.
“Apakah aku bermimpi lagi ? Aku melihat peri di dunia ini ?” tanyanya sambil menepuk pipinya dan merasakan sakit.
“Ini bukan mimpi...” ucapnya lalu bangun dan mendekati para peri itu.
Para peri yang sebenarnya tidak ingin menampakkan diri mereka pada manusia kini saling menatap. Mereka sudah ketahuan dan tak bisa melarikan diri lagi.
“Apa kalian benar seorang peri ? Emm... Apa kalian yang sudah menyelamatkan aku ?” tanyanya mencoba menyentuh sekumpulan peri itu yang nampak ketakutan.
Peri itu terbang menjauhi Rheva karena mereka tak ingin ada kaum dari bangsa manusia yang mengetahui keberadaan mereka. Karena jika sampai tahu, mereka takut banyak para manusia yang akan datang dan memburunya di karenakan mencari darahnya. Darah peri mempunyai manfaat yang sangat besar. Setetes darah peri bisa meremajakan sel-sel tubuh dan membuat seseorang yang meminumnya akan awet muda seumur hidupnya.
“Tunggu... jangan salah paham... aku hanya ingin berterima kasih saja pada kalian semua. Aku tak ada niat lain.” ucapnya keluar dari goa mengejar para peri itu.
Mona tiba-tiba berhenti dan meminta semua temannya ikut berhenti. Feelingnya mengatakan gadis itu tidak berbahaya dan tak punya niat jahat.
“Kami semua memang telah menyelamatkan mu.” ucap Mona pada gadis di depannya itu.
“Aku berhutang budi pada kalian. Bagaimana caraku membalasnya ?”
“Kau bisa membalasnya dengan tidak menceritakan keberadaan kami pada siapa pun. Apa kau bisa ?” melihat Rheva yang mengangguk.
__ADS_1
Setelah bercakap-cakap sebentar para peri itupun segera pamit dari sana karena tak baik bagi mereka menampakkan diri terlalu lama. Namun tiba tiba terdengar suara lolongan hewan. Dan dalam sekejap terdengar derap langkah kaki cepat yang menjuju ke sana.
BERSAMBUNG....