Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 22 Melihat Dunia Lain


__ADS_3

Beberapa hari setelah penglihatan Dirga kembali. Ia kembali melihat semua makhluk astral. Namun ia tak pernah menceritakan pada Ayah dan Mamanya. Apalagi sampai keceplosan di depan mereka dan anggota keluarga lainnya.


Saat ia melihat makhluk tak kasat mata di depan matanya, ia berusaha menahan diri dan berpura-pura tidak melihat keberadaan mereka saat dia berada dekat dengan orang tuanya.


Suatu malam Dirga terbangun di tengah malam. Ia bangkit dari duduk dan merasakan hawa di sekelilingnya menjadi berbeda, ada kabut tipis di dalam kamarnya.


Ia kemudian berjalan keluar dari kamar untuk mengecek keadaan di rumah dan di luar rumah. Kabut tipis ternyata menyelimuti seluruh isi rumah. Ia melihat tak satupun anggota keluarga lainnya yang bangun.


Dirga lanjut berjalan ke luar rumah dan melihat asap menyelimuti seluruh area teras depan, bahkan kabut di sana sangat tebal.


Ia berjalan ke sudut teras untuk mencari Firoz, namun ia hanya melihat tali pengikatnya saja. Ia tak tahu kemana elang itu pergi. Biasanya hanya di sekitar teras situ dia berada.


“Firoz... Firoz...” memanggil-manggil Firoz namun tak kunjung datang juga.


“meow... meow...” suara kucing di balik kabut.


Selain mendengar suara kucing dari balik kabut, Dirga melihat sorot mata berwarna hijau yang bersinar terang di balik tebalnya kabut.


“Itu pasti Firoz... Firoz kembali...!!” berteriak memanggil lagi.


Karena burung elang nya tidak mau kembali, akhirnya ia berjalan menembus kabut itu untuk mengambil Firoz kembali.


Di balik kabut, ia melihat seekor kucing berwarna putih keperakan yang ia yakini itu adalah perubahan Firoz. Dia semakin mendekat ke tempat dimana kucing itu berada.


Ia sudah berada dekat sekali dengan kucing itu. Dirga berjongkok dan mengangkat tubuh kucing itu lalu mengelus bulunya yang lembut sambil berjalan keluar menembus kabut tebal untuk kembali ke teras rumah.


Namun ia tercengang saat melihat rumahnya tak lagi ada di hadapannya. Dan sekeliling area itu berubah menjadi suatu daerah asing yang tidak ia kenal.


Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Yang hanya terlihat hamparan tanah kosong dan gelap gulita. Bahkan bintang ataupun bukan saat itu juga tidak ada di langit.

__ADS_1


“Dimana ini... Firoz dimana ini ?” menatap kucing yang ia gendong.


“meow...” menatap Dirga kemudian lepas dari gendongan Dirga dan melompat turun.


Kucing itu kemudian berubah kembali ke wujud aslinya menjadi seekor elang putih. Ia kemudian terbang menjauh dari Dirga.


Dirga berlari mengejar Firoz. Ia melompat untuk meraih tubuh burung itu agar tidak terbang semakin tinggi, dan ia akhirnya mendapatkannya.


Ia memegang erat Firoz dan berjalan untuk mencari jalan kembali. Lagi-lagi jalanan yang ia lewati kembali berubah. Kali ini ia berada di sebuah area yang terasa sangat dingin. Ada sebuah jembatan dari kayu yang terbentang di hadapannya di tengah dua tebing dengan jurang yang dalam di antaranya.


Saat ia menoleh ke belakang, di belakangnya adalah jurang. Tak ada jalan lagi selain dia harus melewati jembatan gantung itu.


Dengan terpaksa ia melewati jembatan itu. Ia melangkahkan kaki pelan pada kayu selebar 15 senti dan rapuh itu. Ia berpegangan pada tali di sepanjang jembatan.


Ia berhasil berjalan sampai ke tengah jembatan. Lalu ia berhenti sebentar karena merasa kakinya gemetar. Ia bermaksud menenangkan dirinya dengan melihat ke bawah, dan seketika pandangannya menjadi berputar.


“kratak...”


“Tidak....”


Saat jatuh Dirga sempat menarik tali jembatan sehingga menahan tubuhnya. Namun tak berapa lama kemudian ia melihat ujung tali yang ia pegang terkikis dan akhirnya tali yang ia pegang putus karena tak kuat menahan beban tubuhnya.


Dirga jatuh ke bawah. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati sambil mengingat Ayah dan Mama. Saat tubuhnya jatuh semakin ke dalam, Firoz lepas dari dekapannya.


Firoz terbang melambung tinggi ke atas jauh di atas tubuh Dirga. Ia kemudian berubah menjadi seekor harimau yang mempunyai sayap.


Ia terbang menukik ke bawah dengan cepat berada di bawah tubuh Dirga dan menahan tubuhnya agar tidak semakin dalam terjatuh ke dasar jurang.


“Firoz... kau berubah di saat yang tepat. Firoz kau memang hebat. Kau berubah jadi hewan jenis apa ini ? Aku baru pertama kali melihat perubahan mu ini.” duduk dan memegang leher Firoz sambil tersenyum setelah tadi sempat merasakan takut dan putus asa.

__ADS_1


Firoz berubah menjadi makhluk dalam mitologi sejarah kuno seperti yang terdapat di buku peradaban Mesir kuno. Ia terbang melewati jembatan yang sudah putus itu dan mendarat di di ujung jembatan.


Sampai di ujung, ia menurunkan Dirga lalu berubah wujud kembali menjadi elang putih dan bertengger pada bahu Dirga.


Ia menampakkan kaki di tanah dan melangkah maju. Di sekitar tampak lengang, hanya ada rerumputan liar setinggi satu meter di sepanjang jalan. Ia terus melangkah dan menemukan secerah cahaya di tengah kegelapan itu.


Saat ia sampai di tempat sumber cahaya itu ia berhenti. Banyak kupu-kupu yang berterbangan dan bersinar di sekelilingnya.


Dirga berdiri dan menatap kupu-kupu yang beraneka warna itu. Warna kupu-kupu itu sungguh berbeda dengan warna kupu-kupu yang biasa ia temui. Di antara ribuan kupu-kupu berwarna putih mengkilap itu ada satu yang berwarna ungu.


Kebetulan kupu-kupu berwarna itu terbang rendah tepat di atas kepalanya. Ia menangkap kupu itu. Dan saat ia berhasil menangkapnya. Ia seolah melihat tempat yang ia pijak sekarang dulunya adalah sebuah tempat yang subur dan makmur. Rumput hijau terbentang luas dimana-mana, bunga bermekaran beraneka warna di sepanjang jalan. Terdengar tawa para warga di sepanjang jalan.


Tanaman padi dan gandum terhampar di beberapa areal persawahan, juga terlihat berbagai buah-buahan yang ranum dan siap di petik untuk di makan.


Dirga tertarik melihat buah blue berry karena ia tak pernah menemui dan memakan buah itu sebelumnya. Baginya apa yang ia lihat saat itu adalah nyata.


Ia berjalan menuju ke tengah perkebunan buah itu. Sesampainya di tengah, ia berhenti dan memetik beberapa blue berry. Saat ia hendak memakannya, ia merasakan tubuhnya seperti ada yang mendorong dan membuatnya terpental ke arah belakang dengan keras.


Ia merasakan pantat nya sedikit nyeri setelah terhempas pada tanah. Ia bangkit dan berdiri. Tiba-tiba kepalanya terasa berputar lagi yang membuatnya merasa pusing. Semakin lama ia merasakan pusing melanda semakin hebat dan ia tak kuat menahannya.


“Auw...auw...” memegang kepala sambil memegang mata.


Ia kemudian mencoba mengontrol nafasnya agar lebih tenang. Setelah merasa tenang dan pusing yang ia rasakan berkurang, ia membuka matanya kembali.


Ia melihat ke sekeliling dan ternyata ia sudah kembali ke rumahnya bersama Firoz. Kabut tebal di teras sudah menghilang. Ia kemudian berjalan menuju ke pintu masuk dan mengembalikan Firoz ke tempatnya.


Ia masuk ke rumah dan berjalan menuju ke kamarnya. Sampai di kamar ia membuka tangannya. Ada tiga butir buah blue berry yang ia petik tadi.


Sayangnya ia tidak memakan buah itu dan hanya menatapnya. Karena mengantuk ia menaruh buah itu ke meja dekat lampu tidur. Saat ia tidur, tanpa sepengetahuan nya, buah itu melayang ke atas tubuhnya lalu masuk ke dalam matanya dan menghilang.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2