
Beberapa hari setelah Rheva dan Dirga bertemu pasukan Infinix, Gadis itu terlihat lebih sering bersama Dirga untuk menjaganya agar tidak tertangkap oleh pasukan Infinix itu dan menjadi lebih protektif pada anak itu.
Beberapa kali mereka berdua bisa menghindari lagi serangan Pasukan Infinix berhasil lolos darinya. Namun Serangan yang mereka dapatkan dari pasukan Infinity itu semakin Intens terjadi.
Suatu hari saat mereka berdua ada di luar sepulang dari kampus, di jalan raya yang padat menuju ke rumah.
“Jalanan macet sekali... lebih baik cari jalan lain saja atau kita akan terjebak satu jam lebih di sini...” ucap Rheva saat melihat barisan kendaraan panjang di jalanan itu yang sama sekali tidak bergerak sudah tiga puluh menit lebih.
“Lewat mana... ku perhatikan semua jalanan penuh, tak ada celah.” jawabnya setelah melihat sekitar dan mencari jalan keluar agar terbebas dari kemacetan yang menjebak mereka.
“din... din...” dering klakson berbagai kendaraan mulai terdengar ramai saling menyahut di jalanan yang padat itu.
“Apa sebaiknya kita jalan kaki saja...” ucap gadis itu memberi saran setelah melihat mulai terjadi keributan di jalanan.
“Kau tahu apa sebenarnya penyebab kemacetan ini ?” tanyanya pada gadis itu yang terus melihat ke belakang.
Rheva hanya menggeleng dan terus mengamati keadaan sekitar dan sesekali menoleh ke belakang.
Tiba-tiba dia merasakan suasana yang tidak enak di sana. Gadis itu menatap keatas dan terlihat ada titik udara yang bergerak.
“Gawat... jalankan lebih cepat. ada tamu tak diundang yang datang.” ucapnya pada Dirga.
Dirga yang tahu pada maksud adis itu segera membunyikan klakson dan kendaraan di depannya memberi jalan. Dia mempercepat mobilnya dan melaju mendahului kendaraan yg ada di depannya namun baru dua meter melaju di depan terjadi kemacetan lagi.
“Bagaimana ini di depan juga terjadi kemacetan sedangkan di belakang ada pasukan Infinix yang mengejar kita...” ucap Dirga yang melihat pasukan Infinix itu mulai menampakan dirinya dan terus mengejar mereka.
“Tak ada jalan lain... kita harus pergi dari sini secepat mungkin, tak mungkin kita melawan dia di sini. Aku tak mau ada korban yang menderita akibat pertarungan ini.” ucap Rheva pada Dirga.
Karena pasukan Infinix semakin dekat mereka berdua turun dari mobil dan berlari dari jalanan yang padat itu melewati kendaraan yang diam tak bergerak sama sekali.
Rheva terus berlari hingga keluar dari jalan raya dan menemukan jalan alternatif lain di sebuah gang yang ada di sekitar jalanan itu.
“Mau lari kemana kalian berdua ?” ucap pasukan Infinix itu saat menampakkan dirinya dan menghadang langkah mereka berdua.
Mereka berdua jadi mulai terbiasa dengan serangan pasukan Infinix yang muncul mendadak secara tiba-tiba.
Pertarungan pun mulai terjadi di antara mereka bertiga.
“Zap....”
Asap pekat muncul dan dengan cepat mengurung mereka berdua. Mereka pun terjebak dalam asap pekat itu.
__ADS_1
Belum terbebas dari asap pekat itu, mereka berdua kembali mendapatkan serangan dari pasukan Infinix itu.
Di tengah kepulan asap yang membuat gerakan mereka terkunci, pasukan Infinix itu mengaktifkan kekuatan matanya.
“Slash....” Sinar violet meluncur cepat ke arah mereka berdua yang masih terkurung dalam kepulan asap itu.
“Kau atasi asap ini.... biar aku yang atasi pasukan Infinix itu.” ucap Rheva pada Dirga untuk membagi tugas.
“Crash....” Dirga berusaha mengatasi serangan asap pekat yang melumpuhkan gerakannya dengan mencoba menghisap asap itu.
Sementara itu Rheva masih berusaha mengatasi serangan Pasukan Infinix itu. Gadis itu mengibaskan pedang cahaya untuk mematahkan serangan yang mengarah pada mereka.
“Trang....” sinar laser berwarna violet itu berhasil dia patahkan dengan pedang cahaya. Namun pasukan Infinix itu kembali mengarahkan serangan itu padanya.
Dirga yang belum berhasil mengatasi asap pekat itu membantu Rheva saat melihat gadis itu sedikit kewalahan melawan satu pasukan itu.
“Blar...” Dirga mengaktifkan kekuatan matanya untuk menahan serangan pasukan Infinix itu. Dia berhasil mematahkan serangan saat itu, namun pasukan Infinix itu semakin gencar dan intens melancarkan serangan pada mereka berdua.
“Evony... tolong bantu aku...” panggilnya pada roh wanita itu.
Dalam sekejap Evony meminjamkan kekuatannya pada Dirga. Namun meskipun dengan bantuan kekuatannya, dia tidak bisa mengimbangi kekuatan pasukan Infinix itu. Kekuatan Evony hanya bisa menghilangkan asap pekat yang mengurung mereka.
Pertarungan terus berlanjut dan keadaan tidak berimbang. Mereka berdua terlihat kewalahan dan mulai terdesak menghadapi serangan itu.
“Zlap....” Rheva melihat ada serangan dari pasukan Infinix itu yang mengarah ke Dirga saat mereka masih berjibaku menghadapi serangan yang terus menerus di lancarkan pada mereka dan menguras tenaga mereka.
“Dirga... awas...!!”
Rheva bergeser dan melindungi anak itu dari laser yang mengarah padanya.
“bruk....” Gadis itu jatuh setelah terkena serangan dari Pasukan Infinix itu.
“Rheva... kau tidak apa ?” tanyanya lalu menghampiri gadis itu dan mengangkat tubuhnya.
“Ya aku tak apa... ” ucapnya sambil tersenyum.
“Tunggulah di sini. Aku akan segera mengakhiri pertarungan ini...” ucapnya setelah membawa gadis itu ke tempat yang aman.
Dirga lalu kembali ke medan pertempuran dan menghadapi pasukan Infinix itu.
“Lawan mu adalah aku....” ucapnya maju mendekati lawannya bermaksud untuk melakukan serangan jarak dekat.
__ADS_1
“Hahaha.... kau sudah kalah bocah...” ucap pasukan Infinix itu sambil tertawa dan menarik asap putih ke tangannya.
Dirga tidak tahu apa yang di maksud oleh pasukan itu.
“Bicara apa kau ? Aku yang akan mengalahkan mu kali ini... !” ucapnya dengan marah dan mulai melakukan serangan.
“greb....”
Dirga berhasil memegang tubuh pasukan Infinix itu setelah berusaha keras berusaha dan mengeluarkan segenap tenaganya. Dia menyerang titik vital pasukan itu dengan teknik Krav Maga yang di milikinya.
“Argh...” pasukan Infinix itu merasakan kesakitan setelah terkena serangan darinya.
Pasukan Infinix itupun mundur setelah merasakan kesakitan di tubuhnya. Namun dia tertawa menyeringai melihatnya sebelum dia pergi dari hadapan anak itu.
“Hah... hah...” Dirga mengatur nafasnya yang tidak stabil.
Dia segera berlari ke tempat di mana dia mengamankan Rheva sebelumnya.
“Rheva ayo kita pulang... aku sudah berhasil mengalahkannya.”
Dia duduk di samping gadis itu dan mengangkat tubuhnya.
“Tidak... duduklah dulu. Dengarkan aku...” ucap gadis itu yang tubuhnya terlihat berkilauan.
Dirga kembali duduk dan membawa gadis itu dalam pangkuannya. Dia merasakan tubuh Rheva dingin sekali dan membuatnya khawatir.
“Akhirnya aku bisa menjalankan tugas ku sebagai pelindung mu sejak kau masih kecil dulu...” tersenyum menyentuh pipi Dirga.
“Apa... berarti kau adalah Raneea yang dulu juga selalu melindungi ku ? Kenapa kau merahasiakannya dari ku ?”
“Tidak.... waktu ku sudah tak lama lagi. Aku hanyalah doppalganger, tubuh ku yang asli sudah di bawa oleh pasukan Infinix... jangan cari aku....” terus menatap Dirga dan tersenyum.
“Rheva apa yang kau bilang ? Aku tidak mengerti maksud mu...”
“Bawalah pedang cahaya ini dan gunakan untuk melawan pasukan Infinix. Maaf aku tak bisa melindungi mu lagi sayang...” ucapnya memberikan pedang cahaya itu pada Dirga. Seketika tubuhnya semakin bersinar terang dan bayangan dirinya semakin memudar dalam sinar itu lalu perlahan hilang dari genggaman tangan Dirga.
“bruk...”
Seketika anak itu jatuh lemas melihat gadis itu hilang dari sisinya. Kesedihan tergambar jelas dan dari raut mukanya saat melihat kembali pedang cahaya di tangannya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1