Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 36 Sebuah Jejak


__ADS_3

Dirga membawa buku bersampul merah yang berdebu itu ke meja setelah membersihkan debu tebal yang terdapat pada sampul buku itu. Dia segera duduk dan segera membuka buku tebal itu. Dia membaca daftar isinya dan tidak menemukan apa yang dia cari. Lalu dia membalik halamannya satu persatu dan membaca sekilas sampai akhirnya berhenti di suatu halaman.


“Simbol-simbol ksatria zaman kuno negeri awan... apa ini, simbol ini...” melihat gambar-gambar simbol pada buku. Ia melihat ada simbol phoenix api yang merupakan lambang dari sang penakluk dunia. Lalu dia membalik halaman berikutnya dan melihat ada simbol rajawali es yang merupakan lambang penguasa abadi.


“Apakah ada simbol pedang terlilit daun? Dimana aku bisa mencari simbol itu?” terus membalik halaman yang bergambar simbol dewa perang yang berlambangkan berbagai hewan dan mencari simbol pedang.


“Ini dia simbol pedang...simbol pedang pengunci, simbol pedang pemusnah.” membaca dan melihat simbol di buku itu dan terus mencari simbol yang mirip dengan bros milik Raneea.


“Kriek...” suara pintu terbuka.


Tiba-tiba ayah masuk ke ruang baca dan menghampiri Dirga yang terlihat serius membaca buku. Dia penasaran pada apa yang dia baca. “Buku apa yang kau baca, nak?” melihat halaman yang Dirga buka. Seketika dia terkejut melihat buku yang dibaca anaknya itu.


“Simbol pedang... apa yang kau cari? Kenapa kau membaca buku historical seperti ini. Kau belum bisa mencernanya.” memegang buku itu dan berniat mengambilnya namun Dirga segera menariknya. Terjadi tarik-menarik yang mengakibatkan buku itu terjatuh.


“Buk...” buku jatuh di atas lantai dengan halaman terbuka yang menunjukkan simbol pedang yang terliliti oleh daun.


“Brak...” suara jendela yang terbuka terkena hembusan angin yang sangat kencang.. Seketika hujan deras di sertai dengan petir yang menyambar.


“Sepertinya cuaca tidak mendukung.” ucap Hadwan mengambil buku yang tadi jatuh dan menutupnya lalu menatanya kembali ke tempat semula. Setelah itu dia berjalan ke arah ujung dan menutup jendela yang terbuka.

__ADS_1


“Ayo pergilah tidur, sudah malam. Besok kau tidak boleh terlambat sekolah.” mengajak Dirga berjalan keluar dari ruang baca dan mereka berpisah di depan pintu lalu kembali ke kamar masing-masing.


Di dalam kamar Dirga masih belum tidur. Dia masih saja memikirkan simbol-simbol tadi. Sudah hampir tengah malam namun hujan tak kunjung reda. Bahkan kilat masih menyambar dengan dahsyat yang mengakibatkan listrik padam.


Dia keluar dari kamar lalu berjalan melewati kamar ayahnya yang masih tertutup, menandakan bahwa orang tuanya masih tidur. Lalu dia terus berjalan dan masuk ke ruang baca yang gelap gulita. Ia berjalan ke rak buku berisikan historical ksatria kuno.


Matanya menyala berwarna ungu pekat di tengah kegelapan yang membuatnya tetap bisa melihat dengan jelas dalam gelap. Dia mengambil buku bersampul biru lalu membawanya ke meja dan mulai membuka halaman demi halaman sampai ia menemukan gambar sebuah simbol pedang. Dia melihat dengan teliti dan mencari simbol pedang terliliti dedaunan sampai halaman akhir, namun tidak ada.


“Tidak ada... tidak ada simbol itu.” Lalu dia membalik lagi halaman buku itu dan mencari simbol yang hampir mirip. Dia melihat ada simbol pedang terliliti daun berduri. Di jelaskan di buku itu pedang itu merupakan pedang milik ksatria di era perang Maxillus. Dikisahkan pedang itu merupakan pedang sejarah di era Peradaban Perancis yang telah membawa perubahan besar di era itu.


“Jeder...” suara petir kembali menyambar di iringi suara langkah kaki dari kejauhan. Dirga segera menutup buku itu dan mengembalikan ke rak lalu keluar secepat mungkin dan kembali ke kamarnya. Dia yakin itu tadi suara langkah kaki ayahnya.


“Kriek...” Ayah membuka pintu kamar Dirga setelah mengambil lampu emergency dan melihat anaknya tidur di bawah selimut lalu keluar dan menutup kembali pintu kamar itu setelah merasa tidak ada yang terjadi pada anaknya.


“Besok akan ku pastikan. Rumah megah itu mungkin saja penghuninya juga orang dari Perancis.” ucap Dirga menarik selimut setelah berbaring lagi di tempat tidurnya dan memejamkan mata.


Keesokan harinya Dirga berangkat sekolah seperti biasanya. Hari bertambah siang dan tak terasa sudah saatnya pulang. Dia berlari dengan semangat ke pintu gerbang dan masuk ke mobil yang sudah menunggunya. Mobil putih itu pun segera meluncur setelah dia masuk.


“Mama... nanti tolong lewat jalan lain. Lewat Jalan Rasuna ya, tolong Ma.” ucap Dirga memohon pada Elsa.

__ADS_1


“Ya boleh...” jawab Elsa singkat dengan bertanya-tanya kenapa anaknya ingin lewat ke jalan itu. Apakah anaknya punya teman di kawasan itu? Tapi sejak kapan anak itu punya teman di kawasan situ? Setahunya dia tak pernah mendengar cerita dari ankanya tentang teman di daerah itu. Dan itu membuatnya penasaran. Tapi rasa penasaran itu ia tahan saat ia ingin bertanya dan melihat raut wajah anaknya yang ceria. Dan ia memilih untuk memunggu saja. Karena nanti dia juga akan tahu siapa temannya Dirga saat anak itu sudah tiba di tempat tujuan.


Dua puluh menit kemudian mereka melintasi kawasan Jalan Rasuna dimana kawasan itu kebanyakan di huni oleh pendatang asing dari luar negeri. Dirga melihat jalanan dengan rumah yang berjajar rumah megah dengan arsitektur luar di samping kiro dan kanan jalan. Matanya terpaku pada satu bangunan rumah kuno di antara bangunan modern itu.


“Berhenti disana Ma... Di sana saja.” tunjuk dirga.


Mobil berhenti di depan rumah kuno itu. Dirga turun dari mobil sedangkan Elsa menunggu di mobil. Dia berjalan ke rumah berpagar tinggi hitam dengan corak lotus dan menatap bangunan yang terlihat kuno tapi masih tampak megah. Dia lalu mencari bel dan menekannya. Tak berapa lama kemudian keluar seorang wanita berambut panjang coklat keluar dan membuka pagar.


“Maaf Bu... aku mencari temanku. Teman ku seorang gadis kecil bernama Raneea. Dia berdarah campuran. Apakah Ibu mengenalnya dan tahu dimana rumahnya?” tanyanya.


Wanita bermata coklat itu berpikir sejenak lalu menatap Dirga.


“Di kawasan ini tidak ada gadis yang seumuran dengan mu bernama Raneea. Apa kau bisa menceritakan ciri-cirinya padaku?” Dirga menjelaskan dengam detil ciri-ciri temannya itu. Wanita tadi berpikir lagi kemudian menyebut sebuah nama.


“Gadis yang kau sebut itu bernama Amy...” jawabnya dengan pelan.


“Lalu dimana rumahnya, bisakah Ibu menunjukkan rumah teman ku itu?”


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir wanita itu. Selain itu wajahnya terlihat gelisah setelah menyebut nama itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


Siapakah sebenarnya amy? Simak kelanjutan kisahnya di episode berikutnya. Jangan lupa dukung karya ini dengan memeberikan like, di akhir cerita ataupun vote. Terimakasih semuanya...


__ADS_2