
Satu bulan berlalu, setiap malam tiba Master Hideyoshi masih membimbing dan mengajari Dirga untuk semakin memperdalam ilmu reiki dan segera menguasainya.
Setiap hari Dirga mencoba mempraktikkan reiki yang ia pelajari pada hewan-hewan yang ia temui saat di sekolah, maupun di rumah tanpa sepengetahuan teman ataupun keluarganya. Semakin hari ia semakin mahir me-reiki sekumpulan hewan yang ia kumpulkan untuk praktikum. Dan setelah para bintang itu sehat, kembali ke posisi sedia kala, ia melepaskan hewan-hewan itu.
“Terbang lah kembali ke udara dan kembali ke habitat mu. Carilah teman mu...” melepaskan dua ekor kupu-kupu berwarna biru-hitam dan putih ke udara.
Dirga lalu mengambil hewan lain yang masukkan ke sangkar.
“Kau sudah kembali sehat, ayo pergilah. Pergilah frogi...” melepas katak dan melihatnya melompat lalu menghilang di balik semak-semak, mencari keberadaan sumber air.
Ia kemudian juga melepaskan seekor merpati berwarna hitam ke udara.
“Dovy... sudah saatnya untuk mu bebas. Kau bebas sekarang...” tersenyum melepaskan hewan terakhir yang ia reiki terbang bebas ke udara.
Ia melihat burung itu terbang menembus cakrawala lalu menghilang.
Ia pun kembali mencari hewan lainnya untuk ia jadikan objek bahan praktikumnya.
Ia mencari di belakang rumah, namun tidak menemukannya. Ia kemudian duduk, menunggu kedatangan Peter untuk mengajaknya bermain bola, karena sudah satu minggu lebih dia tidak berjumpa dengannya.
Dia memang bisa berbicara dengan Peter, namun ia tak bisa memanggilnya. Pernah suatu ketika dia mencari anak kecil itu, untuk mengajak nya main bola. Ia memanggil-manggil Peter di pohon mangga, tempat yang pernah di bilang adalah rumahnya. Juga memanggil di semak-semak, tempat Peter biasa main, namun tak ada juga. Ia tak tahu kemana perginya teman main bolanya itu.
Karena tidak berjumpa dengan Peter, ia pun kembali masuk ke dalam rumah. Kali ini ia melihat Kakeknya yang sedang duduk di ruang baca. Sedang membaca koran sambil terus memegangi pipinya dan terlihat wajahnya seperti menahan sakit.
“Kek... Kakek kenapa ? Kenapa wajah Kakek begitu ?”
Dirga menggeser kursi di sebelah Kakek, lalu duduk.
Kakek menoleh ke Dirga yang ada di sebelah sisi kanan tubuhnya, lalu meletakkan koran yang sedang ia baca ke meja untuk menjawab pertanyaan Dirga.
__ADS_1
“Gigi Kakek sakit sekali, sejak kemarin. Rasa sakitnya terasa menyebar kemana-mana dan sampai susah tidur saat malam hari.” mengelus pipi sebelah kanan.
“Mana Kek biar Dirga sentuh. Dirga sentuh ya...”
Dirga ingin mencoba menyembuhkan Kakeknya. Karena selama ini ia lebih banyak mempraktikkan kan reiki pada binatang daripada manusia. Dan ia ingin lebih mahir dalam mengatasi keluhan yang di derita oleh manusia. Mungkin ini saatnya bagi dia untuk mencoba melatih kemampuannya dan melihat hasilnya, sudah berkembang ataukah belum.
Dirga lalu berdiri dan menyentuh pipi kanan Kakeknya.
“Apakah bagian ini yang sakit Kek ? Bagian ini bukan ?” melihat bagian pipi yang sedikit bengkak.
Kakek mengangguk dan membiarkan cucu pertamanya itu menyentuh pipinya.
Dirga mulai mengalirkan energi reiki ke area yang sakit pada pipi Kakek. Ia mengalirkan sedikit demi sedikit energi reiki secara intens pada pipi Kakek. Kali ini ia sudah tidak kehabisan tenaga lagi saat mengalirkan energi reiki.
Ia sudah bisa menguasai dan mengontrol lalu lintas aliran energi di tubuhnya dan sudah mengetahui cara mengunci energinya agar tidak terus mengalir keluar sia-sia selama proses transfer energi.
“Bagaimana Kakek apakah merasakan ada perubahan ? Apa Kakek ada perubahan ?” masih mengulangi pertanyaan yang merupakan ciri khas dari anak autis.
Kakek menatap Dirga. Ia merasakan giginya sudah tidak terasa nyeri lagi secara mendadak, bertepatan dengan Dirga yang menarik tangan dari pipinya. Ia merasa aneh, kemana perginya rasa sakit yang tadi di deritanya ?
Ia kemudian memegang tangan Dirga dan melihat kedua telapak tangan cucunya itu. Ia menyentuh tangan Dirga dan merasakan telapak anak itu yang terasa hangat, namun beberapa saat kemudian menjadi normal.
“Apa mungkin Dirga yang menyembuhkan ku tadi ? Tapi bagaimana mungkin, anak sekecil dia bisa melakukan hal yang begitu besar. Selama ini dia juga tak pernah belajar ilmu pengobatan. Tapi aku sungguh yakin, rasa sakit ku hilang setelah cucuku menyentuh pipi ku tadi.” menatap Dirga heran dan penuh tanya dalam benaknya.
“Dirga pergi dulu Kek... Dirga pergi...”
Ia meninggalkan Kakeknya lalu masuk ke dapur untuk mengambil air minum, sebagai pengganti sedikit tenaganya yang hilang setelah me-reiki Kakek.
Kakek masih merasa aneh dengan kesembuhannya yang mendadak itu. Ia masih tidak tahu apa sebenarnya yang di lakukan Dirga padanya. Tapi ia yakin jika cucunya itu mempunyai sesuatu yang ia tidak ketahui sebelumnya.
__ADS_1
Sore pun berlalu dan malam tiba. Semua orang terlelap dalam buaian mimpi masing-masing. Entah kenapa malam ini Dirga belum merasakan ngantuk meskipun sudah tengah malam.
Namun ia keliatan tenang dan duduk di tempat tidurnya sambil mencari kesibukan. Ia bermain rubic, dan mengotak-atiknya sampai semua warna menjadi senada di setiap sisi rubic. Hal yang sulit di lakukan oleh orang normal seusianya ataupun orang dewasa.
Ketika ia selesai bermain rubic, ia merasakan hawa dingin masuk ke ruangan. Hawa yang biasa ia rasakan setiap malam. Master Hideyoshi mendatanginya.
Ia melayang turun ke bawah setelah menembus langit-langit kamar Dirga.
“Dirga...” berdiri tepat di depan Dirga.
Dirga langsung berdiri dan menghampiri Master Hideyoshi yang sudah ia anggap sebagai guru barunya itu.
“Hari ini adalah hari terakhir ku melatih mu. Kau sudah menguasai ilmu nya. Tinggal mempraktikkannya agar semakin menguasai dan menjadi master seperti ku.”
“Tapi kenapa harus pergi... aku belum bisa, Dirga belum bisa Master...” memeluk Master Hideyoshi seakan tak mau di tinggalkan olehnya.
“Sudah kubilang, waktuku sudah habiskan, karena kau sudah menguasai semua metode dan cara melakukan reiki. Maka tugas ku selesai.” mengelus rambut Dirga.
“Master...kata orang di rumah, Dirga sakit autis. Apakah Master bisa menyembuhkan Dirga ? Bisa kan Master ?” menatap dengan memohon.
“Untuk masalah yang satu itu aku tidak bisa membantu mu. Sebenarnya kamu itu tidak sakit. Apa yang kau pikirkan itu lebih cepat daripada apa yang ingin kau ucapkan, sehingga orang slot memahami mu. Selain itu kau memang berbeda dari lainnya karena kau merupakan anak pilihan.
Kelak akan datang seseorang yang akan membantu mu mengatasi masalah mu itu.” menjelaskan panjang lebar pada Dirga.
“Sekarang saatnya aku pergi. Teruslah berlatih agar kau semakin mahir. Satu hal terakhir yang belum kau ketahui. Saat kau sudah berada pada tingkatan tertinggi me-reiki, kau bisa melakukan hal sebaliknya. Kau bisa membuat orang atau apapun yang awalnya sehat menjadi sakit. Tapi jangan gunakan itu untuk hal negatif.” tersenyum lalu menghilang dari pandangan Dirga.
Dirga mencari-cari Master Hideyoshi, karena ia belum sempat mengucapkan rasa terima kasih padanya. Namun ia tak menemukannya, dan merasa sangat kecewa karena hal itu. Ia hanya bisa berdoa suatu saat bisa bertemu dengannya lagi. Entah kenapa ia mempunyai keyakinan jika kelak ia akan berjumpa lagi dengan gurunya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1