Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 48 Kabur


__ADS_3

Dirga bergidik ngeri setelah mendengar apa yang barusaja mereka ucapkan bahwa dirinya akan di jadikan sebagai tubuh pengganti tuan mereka.


“Aku tidak mau...aku tidak mau menjadi tubuh pengganti tuan mereka. Aku tak mau menjadi abdi para demon...!!” ucap Dirga sambil menggertakkan giginya karena menahan kesal.


Dia berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu hari ini juga, tak perlu menunggu esok hari. Apapun resikonya dia akan terima itu.


“Nathan dan yang lain pasti menghakawatirkan aku. Apalagi Rheva... Rheva pasti dia mencari ku. Aku harus segera pergi dari tempat ini.” ucapnya tak sabar.


Dia pun keluar dari sel itu lalu mencari jalan keluar lain. Ia membuka setiap pintu yang ada di sepanjang lorong itu. Ada 20 pintu di sisi kiri dan 20 pintu di sisi kanan. Banyak ruangan yang berisikan kerangka manusia tak besdosa. Namun ia tak putus asa dan terus membuka pintu lainnya.


Sementara itu di hutan


Rheva berlari secepat kilat, terlihat seperti bayangan yang melesat cepat. Beberapa saat kemudian ia tiba di pohon tempat dimana Dirga jatuh tadi.


“crash...”


Gadis itu membuat api di tangannya untuk menerangi area yang gelap. Ia mendekat dan memeriksa sekitar pohon itu.


“Apa ini...” Menemukan lendir hitam yang lengket, lalu menyentuhnya untuk menganalisa. Sensor pada tubuhnya bekerja dan menganalisa cairan itu.


Setelah mengetahui tingkat kekenyalan cairan yang cukup tinggi dan ternyata bisa membahayakan karena merupakan lendir hidup yang bisa mengambil nyawa seseorang, dia segera membersihkan lendir itu dari tangannya dan memusnahkan lendir yang tersisa di tanah agar tidak membahayakan lainnya.


Ia lalu berjalan ke sekitar area pohon itu. Dia melihat ada array pembatas 2 meter dari pohon itu.


“Pasti Dirga di bawa masuk ke dalam sini.” menyentuh array itu untuk menganalisanya.


Dia mulai beraksi dan melompat di atas array itu. Ia lalu mencoba membuka formasi itu, namum tidak terbuka dan malah membuatnya terpental saat mengeluarkan kekuatannya.


Rheva berdiri dan kembali mendekati formasi itu dan melepas bros yang selalu dia kenakan.


“Sring...” bros berbentuk pedang itu berubah menjadi pedang lalu dia menebaskannya pada array itu. Sayang sekali pedang cahaya miliknya yang merupakan pedang kuat itu tak bisa merobek array. Namun dia terus melakukannya dan tak sadar ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.

__ADS_1


“Hosh... hosh... hosh...”


Rheva kelelahan dan energinya terkuras membuka array yang masi tak bisa di bukanya.


“Jika begini terus aku akan benar-benar kehanisan energi.” berhenti mengahancurkan array itu.


“Jika tak bisa di buka dengan kekuatan, maka apakah harus menggunakan mantra untuk membukanya ? Tapi mantra apa, aku tidak tahu...” berpikir sejenak dan mencari cara lain untuk membuka array.


Di saat dia masih berpikir keras. Tiba-tiba seekor beruang putih yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon menampakakkan diri.


“roar...”


Beruang putih itu bergerak cepat menghampiri Rheva dan langsung menghujamkan cakar tajamnya pada gadis itu.


Rheva yang tersentak dan lengah menghindari tebasan cakar tajam beruang itu. Dia heran kenapa bisa ada beruang kutub di tengah hutan.


“pow....”


Setelah beruang itu terkapar, tak beberapa lama kemudian muncul beruang putih lagi dari balik array. Satu, dua, tiga ekor beruang berhasil ia jatuhkan. Namun tiba-tiba keluar lagi banyak beruang yang tak terhitung jumlahnya. Ternyata beruang itu adalah penjaga array itu.


Semakin lama Rheva semakin terdesak karena tenaganya sudah menipis dan mustahil baginya mengalahkan 100-an ekor beruang sendirian.


“Aku harus kabur mundur...”


Rheva berlari mundur dan kumpulan beruang itupun terus mengejarnya. Dia baru melihat ke belakang saat kakinya terpeleset dan ternyata ia jatuh ke jurang.


“Tidak...”


Gadis itu mengerahkan semua kekuatannya untuk kembali naik ke atas. Namun energinya sudah melampaui batas. Dan ia pun jatuh bebas ke jurang itu.


“Maaf... aku tidak bisa menolong mu Dirga, bahkan sekarang aku tak bisa menjaga diriku.” memejamkan mata karena kehabisan tenaga.

__ADS_1


Sementara itu Dirga belum menemukan jalan keluar. Saat dia ada di depan pintu terakhir, satu lelaki berjubah hitam mengejarnya setelah dia tahu pintu sel tempatnya di tahan terbuka.


“Hei... bocah... mau kabur kemana kau ? Jangan coba - coba melarikan diri atau kau tahu akibatnya...!!!” menangkap Dirga yang berusaha lari darinya.


Lelaki berjubah itu mengeluarkan belati tajam dari tangannya lalu menggores pipi Dirga. Beberapa saat kemudian tiga lelaki berjubah muncul karena merasakan ada yang tidak beres.


Dirga melakukan perlawanan pada ke empat sosok berjubah yang mengepungnya. Dia berhasil melukai satu di antara mereka yang menyulut amarah ketiga sosok lelaki berjubah lainnya. Satu di antara mereka mencekik lehernya, satu yang lainnya melepaskan kekuatan untuk melumpuhkan dirinya. Namun kekuatan itu terpantul dan mengenai lelaki berjubah yang menyerangnya tadi.


“Oh itu sebabnya... kekuatan kami tak bisa menyentuh mu.” ucap lelaki berjubah lainnya melihat kalung pelindung di leher Dirga yang ternyata punya kekuatan memagari dan melindungi anak itu. Ia kemudian menarik kalung pelindung itu dan menghancurkannya.


“Hahaha... mau kabur kemana lagi kau ? Kau tak akan pernah bisa lolos dari kami !” ucap lelaki berjubah itu semakin mendekat pada Dirga.


“Apapun kondisinya, aku harus bisa lepas dari mereka. Aku harus bisa lepas dari mereka dan pergi dari sini...” gumam Dirga.


Dirga yang terdesak melangkah mundur sampai ke gagang pintu. Ia kemudian menarik gagang pintu dan terbukalah pintu itu. Di balik pintu itu juga lagi-lagi jalan buntu, tak ada jalan keluar. Yang ada sebuah lautan luas tak berdasar. Dia memilih untuk melompat ke belakang dan jatuh ke laut lepas itu


Satu lelaki berjubah melempar belati dan mengenai dadanya. Sementara yang lainnya mengejarnya. Dangan kekuatam matanya, Dirga menghalau keempat orang itu yang akhirnya tak bisa mengejarnya.


“byur....”


Dirga jatuh ke lautan yang dalam. Dia berenang untuk menepi. Namun dia merasakan sakit yang yang teramat sangat di dadanya. Ia mencabut belati yang menancap di dadanya. Darah mengucur dan membuat air di sekitanya berwarna merah. Ia menyentuh bagian dadanya yang terluka dan menyembuhkannya dengan reiki sambil terus berenang.


Tak beberapa lama kemudian, dia kehabisan tenaga dan merasa lemas.


“bleb... bleb...”


Anak itu kehabisan energi lalu hilang kesadaran. Dia pun akhirnya tenggelam, jatuh semakin dalam ke dasar laut.


Sebelum matanya terpejam, terlintas dalam pikirannya sosok gadis kecil yang tersenyum dan memanggil namanya.


“Dirga...” panggil gadis kecil itu berulang kali sambil tersenyum. Gadis kecil berambut panjang itu entah kenapa seolah dia mengenalnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2