
Dirga bingung harus melakukan apa sementara para korban terus berjatuhan akibat asap hitam dari pasukan Infinix yang sudah ia musnahkan.
Dia menatap Lin Han yang masih terlihat sibuk mengevakuasi tahanan ke tempat aman.
“Lalu aku harus bertanya pada siapa... aku sama sekali tak mengerti teknik menggunakan asap Infinix ini...” batinnya melihat rekan lainnya yang mungkin saja bisa membantunya, dan nyatanya tidak ada.
“Huft... aku harus melakukannya sendiri kali ini. Aku pasti bisa...” ucapnya memotivasi dirinya sendiri. Dirga lalu memejamkan matanya setelah menonaktifkan pedang penghancur jiwa miliknya.
Dia lalu mencoba melakukan gerakan seperti yang dilakukan oleh pasukan Infinix sebelumnya.
“Apa begini....”
Dirga membuka telapak tangannya di udara. Lalu dia mencoba untuk menyerap energi udara yang ada di sekitarnya seperti latihan yang pernah dilakukannya sebelumnya saat sedang koma.
“whoosh... !” udara di sekitar Dirga berputar seolah tersedot dan berkumpul di sekitar anak itu.
Dirga melihat ke sekeliling dan ternyata asap hitam bukannya hilang malah bertambah pekat.
“Apa... ?!” ucapnya terkejut saat melihat asap yang semakin pekat di sekitarnya.
“Hey.... Dirga apa yang kau lakukan ?” teriak Lin Han dari kejauhan sambil mengevakuasi tahanan yang terkena asap Dirga.
“Ya.... aku sengaja melakukannya Kukira berhasil ternyata malah jadi seperti ini...” ucapnya merasa bersalah karena tidak membantai dan malah membuat mereka semakin susah.
Dia ingin mencoba lagi melakukannya namun takut jika terjadi hal yang tak di inginkan dan semakin buruk dari sebelumnya.
Di tengah keadaan yang mendesak dia teringat pada ayah dan ibunya.
“Ayah... ibu... aku sedang kesulitan. Aku butuh bimbingan dan bantuan dari kalian. Tolong aku agar bisa menggunakan dan mengendalikan kekuatan Infinix yang ada pada diriku.” batin Dirga sambil memegang pedang penghancur jiwa yang sudah tergantung di lehernya.
“blink...” pedang penghancur jiwa tiba-tiba bersinar terang dan berkedip dan muncul sebuah suara yang hanya bisa didengar oleh Dirga.
“Sayang... kami datang untuk mendampingi mu. Katakan pada kami kesulitan apa yang sedang kamu alami sekarang nak ?” ucap Biana Roussel dan Achille Roussel dari balik pedang penghancur jiwa
__ADS_1
“Ayah... ibu... aku tak menyangka kalian berdua benar-benar mendengar panggilan ku. Ayah ibu... aku tidak bisa menyerap kembali asap hitam Infinix.” ucap Dirga menjelaskan permasalahannya pada kedua orang tuanya.
“Keanu... dengar ayah. Ayah merupakan keturunan Infinix. Aku akan masuk ke tubuh mu dan membantu mengatasi asap pekat ini. Perhatikan ayah agar kau juga bisa mempraktekkan nya nanti.” ucap Achille Roussel.
Roh suci lelaki itu lalu merasuki tubuh Dirga dan membantunya menyerap asap yang semakin pekat itu.
“Zaap....” Dirga mengingat gerakan ayahnya yang mengontrol dirinya. Dalam sekejap asap pekat itu hilang dan udahlah kembali bersih seperti sedia kala bahkan asap yang sudah masuk ke tubuh beberapa para tahanan pun ikut terhisap keluar.
Terlihat beberapa orang yang tak sadarkan diri kini mulai bangun dan kembali bergerak mengikuti tim Lin Han menuju ke tempat yang aman.
“Kerja bagus.... !” teriak Lin Han memuji Dirga yang berhasil mengatasi asap pekat di sana.
Tampak pedang penghancur jiwa di leher dan Kak kembali bersinar terang dan roh ayahnya sudah keluar dari tubuhnya.
“Terima kasih ayah... ibu sudah membantuku.” ucapnya sambil tersenyum menatap perahu kedua orang tuanya.
“Kami pergi dulu nak. Panggil kami jika kau terdesak dan membutuhkan bantuan.” ucap Biana Roussel tersenyum pada Dirga. mereka berdua kemudian menghina salah pedang penghancur jiwa tak bersinar lagi.
Di tengah keramaian Dirga mencari sosok Rheva karena khawatir pada gadis itu.
“tap...”
Dari arah belakang ada yang menepuk bahu Dirga dan dia menoleh ke belakang.
“Kau mencari siapa ?” tanya seorang gadis yang tersenyum padanya.
“Rheva.... aku mencari mu kemana-mana.” ucap Dirga yang terkejut melihat kekasihnya sudah ada di belakangnya dalam keadaan baik-baik saja.
Terlihat para tahanan yang di evaluasi tinggal 10% yang masih dalam perjalanan sementara sisanya sudah sampai di tempat yang aman.
“Sayang... ayo kita cepat pergi dari sini dan menyusul yang lainnya.” ucap Rheva pada Dirga saat melihat hanya mereka berdua yang masih ada di sana bersama sedikit para tahanan.
“Ya... ayo kita pergi.” jawab Dirga memegang tangan gadis itu lalu bergerak cepat menyusul Lin Han yang sudah berada jauh di depan mereka berdua.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian semua tahanan berasal di evakuasi ke tempat yang aman. Untuk sejenak mereka beristirahat sekedar untuk mengeringkan peluh yang membasahi tubuh mereka dan segera melakukan diskusi secepatnya setelah beberapa jam kemudian.
Sementara itu di markas Infinix sekarang tampak sel tahanan yang sudah kosong setelah para tahanan berhasil kabur semua dari sana. Juga terlihat beberapa mayat pengawal yang menjaga tempat itu beserakan di sekitar markas.
“Gawat apa yang harus kita lakukan sekarang ?” ucap seorang pengawal yang selamat pada salah satu rekannya.
“Kita harus segera melaporkannya pada tuan Arthur sekarang juga dan menunggu perintah darinya.” jawab seorang pengawal sambil memeriksa beberapa mayat dan mencari rekannya yang mungkin saja masih hidup.
“Tapi posisinya tuan Arthur sekarang sedang menyembuhkan diri di ruang penyembuhan dan kita tak boleh mengganggunya...” ucap pengawal lainnya yang ada di sana.
Melihat para pengawal yang tidak berani mengganggu pemimpinnya, salah satu pengawal maju.
“Jika kalian semua takut maka biar aku saja yang pergi ke ruang itu dan menghadap sendiri pada tuan Arthur.” ucap pengawal itu dan tanpa menunggu persetujuan dari rekan lainnya dia pun menuju ke ruang penyembuhan tempat Arthur berada saat ini.
Beberapa saat kemudian pengawal itu tiba di depan ruang penyembuhan. Dia menekan tanda di pintu yang membuat pintu itu terbuka.
“Kraak...” terdengar suara pintu yang terbuka dan terlihat ada seseorang yang masuk ke ruangan itu.
Arthur yang saat ini berada dalam suatu tabung dan memejamkan mata di sana seketika langsung membuka matanya saat mendengar pada seseorang yang berjalan ke arahnya.
“Maaf tuan Arthur aku ingin melaporkan sesuatu yang penting pada tuan.” ucap pengawal itu berdiri di samping tabung yang terus berputar dan membuat tubuh Arthur ikut berputar dalam tabung itu.
Arthur menghentikan ritual penyembuhannya sebentar untuk mendengar laporan apa yang akan disampaikan oleh pengawal nya itu.
“Katakan...” ucapnya tak sabar mengetahui berita yang ingin di sampaikan oleh pengawal itu padanya.
“Maaf tuan Arthur semua tahanan yang ada di sel berhasil kabur semua. Mereka di bebaskan oleh beberapa orang. bahkan beberapa pengawal kita ada yang tewas.” ucap pengawal itu segera menyampaikan laporannya agar dia secepatnya mendapatkan perintah dari pemimpinnya.
“Apa... ? mereka semua berhasil lolos dan pasukan kita dikalahkan ?” tanyanya kaget luar biasa mendengar laporan itu.
“Kalau begitu hari ini juga cari keberadaan mereka yang kalau membebaskan para tawanan di sini.” ucap lelaki itu dengan tatapan mata yang garang.
“Baik tuan Arthur... perintah akan segera kami laksanakan.” jawab pengawal itu kemudian undur diri dari sana dan sekarang menyebarkan perintah dari pemimpinnya.
__ADS_1
Sementara itu Athur kembali melanjutkan ritual pemulihan dirinya. dampak tabung itu kini mulai berputar dan memutar tubuh Arthur
BERSAMBUNG....