Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 81 Mengambil Buku


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian di rumah Nathan, Dirga dan Rheva terlihat lebih sering bersama di manapun mereka berada.


Pagi hari di kampus setelah rheva, Dirga, Nathan dan juga Tomy selesai mengikuti jam perkuliahan mereka berempat berjalan bersama ke kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong di karenakan ada jam perkuliahan yang di majukan satu jam lebih awal dan itu membuat mereka tak sempat sarapan.


Mereka berempat makan satu meja. Tanpa Dirga dan Rheva sadari, Nathan dan Tomy sedari tadi mengamati mereka berdua yang kelihatan lebih dekat daripada hari-hari biasanya.


“Kau lihat itu tidak, apa kau tidak curiga pada mereka berdua ?” bisik Tomy di telinga Nathan saat melihat Dirga menghapus kotoran di bibir Rheva selain itu juga memberikan minumannya pada gadis yang bilang kalau dirinya masih haus setelah menenggak habis satu jus apel.


“Hahaha... sebenarnya kau hanya iri saja pada mereka kan ? Makanya kau juga cari gadis. Lihat itu ada gadis cantik lewat...” balas Nathan sambil tertawa dan menunjuk seorang gadis bertubuh gendut lewat di depan mereka.


Sontak Tomy langsung melihat gadis yang di tunjuk oleh temannya itu dan seketika kecewa dan kesal lalu menjitak kepala Nathan.


“Ya kalau menurut mu gadis seksi itu cantik, lebih baik dia buat mu saja... aku akan mengalah untuk mu sobat.” balas Tomy sambil terkekeh melihat temannya itu sekarang kesal.


Dirga dan Rheva saling menatap karena merasa di abaikan oleh dua temannya itu.


“Sebenarnya apa sih yang kalian bahas sampai seperti itu ?” tanya Dirga yang penasaran pada mereka yang tertawa tanpa sebab.


“Ehm... ehm... ini si Tomy iri pada kalian yang sudah menjadi kekasih...” ucapnya sambil menatap Rheva.


“Ah, bicara apa kalian ini. Kami tidak...” jawab gadis itu mengelak dan menyangkal hubungannya dengan Dirga sambil menatap anak itu.


“Sudahlah sayang tak perlu menyangkal hubungan kita lagi. Mereka teman dekat kita sudah sepantasnya mereka tahu.”jawab Dirga dengan tenang yang membuat dua temannya itu kaget dan sampai tersedak mendengarnya.


Sedangkan Rheva yang masih merasa malu dan belum siap mempublikasikan hubungan mereka, angkat kaki dari sana dan berjalan menuju ke suatu tempat.


“Jadi kalian benar sudah jadian ?Sejak kapan ?” tanya Nathan dan Tomy bersamaan yang kaget dan tak menyangka ucapan tak serius mereka ternyata benar.

__ADS_1


“Sebenarnya itu barusan, tepatnya saat perayaan di rumah mu kapan hari itu Nathan. Aku harusnya berterima kasih padamu.” jawab Dirga sambil tersenyum dan menoleh ke belakang takut gadis itu mendengarnya dan jadi marah padanya.


“Apa... ??? Sialan kau ! Benar-benar pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.” balas Nathan yang tak terima merasa di manfaatkan oleh temannya itu sambil menepuk bahu Dirga keras.


“Haha... bukan seperti itu maksud ku...” jawabnya pada Nathan sambil melihat ke belakang menunggu gadis itu kembali dan ternyata gadis itu tak kembali.


“Maaf aku pergi dulu...” ucapnya pada dua temannya itu lalu berjalan cepat mencari gadis itu.


Dirga tidak bertemu dengan gadis itu dan dia tahu ada dimana gadis itu. Dia kemudian berjalan menuju ke laboratorium, yang merupakan tempat favorit Rheva menghabiskan waktu luangnya.


Benar saja dia melihat gadis itu saat masuk ke laboratorium. Tapi gadis itu tidak melakukan penelitian, melainkan hanya duduk saja sambil melihat peralatan penelitian yang ada di meja.


“Hey Rheva... apa kau marah pada ku ?Kenapa tadi kau pergi begitu saja?” tanyanya mendekati gadis itu.


“Tidak...” jawabnya singkat tanpa melihat ke Dirga.


“Baiklah... aku akan pergi.” ucap gadis itu lalu keluar dari laboratorium itu yang membuat Dirga semakin tidak mengerti padanya. Padahal sebelum mereka jadian gadis itu selalu perduli dan lebih perhatian padanya. Tapi kenapa setelah jadian dia seolah tak bisa memahami jalan pikiran gadis yang sensitif itu.


“Hey...Rheva....! panggilnya ikut keluar dari laboratorium dan mengikuti gadis itu. Namun menoleh saja tidak, gadis itu tidak menjawab panggilan Dirga dan terus saja berjalan.


Dirga sebenarnya merasa kesal pada tingkah gadis itu belakangan ini, namun dia tetap mengikutinya masuk ke perpustakaan.


Gadis itu lalu mecari beberapa buku di rak lalu membawa beberapa buku tebal itu dan duduk di kursi paling belakang.


Sedangkan Dirga pura-pura mengambil buku secara random dan membawanya. Dia duduk satu meja, di depan Rheva. Dia melihat gadis itu membaca buku dengan serius dan membalik tiap halaman dengan cepat.


“Mungkin aku bisa menemukan simbol yang ada pada tubuh Dirga di buku ini...” batinnya sambil terus membalik halaman dan akhirnya berhenti pada sebuah halaman yang menunjukkan gambar beberapa simbol kuno.

__ADS_1


“Di sini tidak ada simbol itu juga.” ucapnya menutup buku yang di pegangnya lalu beralih membuka buku lainnya.


“Sebenarnya apa yang kau cari ? Mungkin aku bisa membantu mu.” ucap Dirga sembari memegang tangan gadis itu.


Setelah lama diam akhirnya gadis itu bicara juga.


“Simbol... aku mencari simbol yang ada di tubuh mu itu. Namun ternyata aku tidak menemukannya di buku ini..” jawabnya sambil menutup buku yang sedang di bacanya lalu menumpuknya dengan buku lainnya.


“Simbol apa maksud mu, aku tak pernah melihat ada simbol di tubuhku.” balas Dirga setelah mengingat-ingat lagi.


“Ternyata itu hanya ada di buku yang ku tinggalkan di rumah. Mungkin aku harus mengambilnya.” jawabnya menatap Dirga yang masih mencerna kata-katanya.


“Maksud mu mengambil buku yang ada di rumah mu ? Jangan bilang kita akan ke lembah salju dan masuk ke sana melewati Pantai Mahakam lagi.... jawab anak itu yang enggan pergi ke tempat itu apalagi harus melewati pantai tempat binatang parasit hidup.


Namun gadis itu menggeleng sambil tersenyum kecil menatap Dirga yang membuat anak itu semakin bertambah penasaran saja.


“Maksud mu... ada jalan lain ke sana ?” tanyanya kembali.


“Ada...” jawabnya singkat lalu mengambil bros yang dia sematkan di bajunya.


“Bukankah itu pedang cahaya yang biasa kau pakai ?” anak itu semakin tidak mengerti saja pada gadis itu. Apa yang bisa di lakukan dengan pedang itu untuk masuk ke Lembah Salju ?


Rheva melihat ke sekeliling yang kebetulan saat itu sepi. Dia lalu tak segan menunjukkan fungsi lain dari bros yang selalu dia kenakan itu.


“cling....” seketika bros itu berubah bentuk menjadi sebuah kunci berwarna keemasan dan bersinar melayang di udara.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2