
Dirga mencari buku-buku tentang martial art yang menjelaskan tentang titik meridian di meja belajarnya. Karena seingat nya dia pernah mempunyai satu buku tentang martial art tapi lupa menaruhnya dimana.
Dia mencari buku itu di meja belajarnya dan tidak menemukannya. Lalu dia mencari di rak buku juga di lemari yang ada di kamarnya namun masih tak menemukannya juga.
“Dimana aku meletakkan buku itu... kenapa barang kalau tidak dicari mudah ditemukan sedangkan kalau saat butuh susah sekali ditemukan ?” ucapnya kesal karena tidak menemukan buku yang dicarinya.
Meskipun tidak menemukan bukunya dia tetap tidak menyerah walaupun tidak tahu bagaimana cara membuka titik meridian yang ada di tubuhnya. Anak itu lalu duduk di lantai dan bersila. Dia mulai memejamkan matanya. Dia mulai merasakan titik-titik meridian yang di seluruh tubuhnya dan mencoba membuka titik itu.
Satu jam telah berlalu dan belum terjadi perubahan pada tubuhnya. Tak ada satupun titik meridian di tubuhnya yang terbuka dan hal itu membuatnya frustasi. Satu jam kemudian dia menyerah dan memutuskan berhenti untuk berhenti mencoba membuka titik meridian itu.
“Bagaimana sebenarnya cara membuka titik meridian yang ada di tubuh...? Kenapa sudah dua jam aku masih belum bisa membukanya juga ?!” gumamnya kesal sambil menghapus keringat yang keluar dari dahinya.
“Huft... rasanya energi ku jadi terkuras sia-sia.” anak itu berdiri lalu membuka kulkas yang ada di kamarnya dan mengambil sebotol air mineral dan langsung menghabiskannya.
Karena merasa lelah dia pun akhirnya memilih untuk tidur dan besok pagi akan mengulanginya lagi.
Pagi-pagi sekali Dirga bangun. Sekali lagi dia berlatih untuk membuka titik meridian yang ada di tubuhnya sebelum berangkat ke kampus.
Keringat mulai bercucuran dari tubuhnya dan tetap saja tidak ada yang terjadi dan titik meridian itu masih belum terbuka.
“Sudahlah sia-sia saja aku mengulangi. Lebih baik aku berangkat ke kampus sekarang daripada terlambat. Mungkin di sana ada yang bisa membantuku nanti.” ucapnya berdiri dan bergegas bersiap untuk berangkat ke kampus.
Beberapa saat kemudian dia sudah selesai dan membawa buku yang dipinjam dari Rheva sebelum dia meninggalkan kamarnya.
Saat jam istirahat dia mengembalikan buku yang dipinjam yaitu pada Rheva.
“Kau sudah selesai membaca semua isi buku ini ?” tanya gadis itu yang heran karena hanya dalam tiga hari anak itu berhasil menyelesaikan membaca buku setebal tujuh ratus halaman itu.
“Tidak... aku hanya membaca intinya saja, informasi yang ku perlukan.” ucapnya sambil berjalan keluar kelas mengikuti gadis itu keluar menuju ke kantin.
Dirga menarik tangan Rheva dan mengajaknya masuk ke perpustakaan.
“Aku harus kenapa kau malah mengajak ku kesini ?” ucap gadis itu melepaskan tangan Dirga saat sampai di depan pintu perpustakaan.
“Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu...”
__ADS_1
Melihat raut wajah kekasihnya yang serius itu dia membatalkan untuk pergi ke kantin dan memilih menemaninya.
“Ada apa... ? Apa kau punya petunjuk tentang keturunan Infinix yang kucari itu ? Atau kau menemukan sesuatu yang tidak lazim pada dirimu ?” tanya gadis itu bersemangat berharap Dirga menemukan sedikit petunjuk lainnya. Namun rupanya dia harus kecewa saat melihat anak itu menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa.. ??” tanyanya penasaran.
“Biar ku jelaskan didalam, sekarang kita masuk dulu.” ucapnya sambil menarik tangan gadis itu masuk ke ruang perpustakaan.
Mereka duduk bersebelahan dan Dirga menyampaikan maksudnya pada Rheva.
“Aku tidak tahu cara membuka titik meridian di tubuh. Apa kau tahu caranya ? Tolong bantu aku...” ucapnya berbisik di telinga gadis itu.
Gadis itu merasa aneh saja kenapa tiba-tiba anak itu meminta bantuannya untuk membuka titik meridian yang ada di tubuhnya.
“Untuk apa... ? Apa ada sesuatu ?” tanyanya penasaran.
“Tolong sayang ini mendesak... nanti aku jelaskan semuanya padamu saat sudah selesai.
Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang ada dipikiran anak itu. Namun sayangnya dia tidak bisa menolak permintaan kecilnya itu.
“Hey kau mau kemana ? Bukannya kau bilang mau membuka titik itu ?”
“Sebentar saja... aku akan membelikan mu minuman dan segera kembali.” jawabnya lalu berjalan jalan cepat menuju ke kantin untuk membeli dua minuman dingin.
“Ini untukmu...” ucapnya duduk di sebelah Rheva dan memberikan minuman itu padanya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua terlibat dalam percakapan serius. Rheva menjelaskan cara membuka seluruh titik meridian yang ada di tubuh pada anak itu.
“Sekarang aku mau mempraktekannya, tolong bantu aku jika aku masih kesulitan membuka titik meridian di tubuhku.”
“Apa kau serius mau melakukannya ditempat ini ? Bagaimana jika kau terekspos dan semuanya tahu ?” jawab gadis itu yang tak setuju Dirga
berlatih di ruangan itu.
“Lalu dimana tempat yang pas untuk berlatih ?”
__ADS_1
Rheva langsung berdiri dan menyeretnya keluar dari perpustakaan. Dia Lalu mengajak anak itu naik ke atap bangunan kampus yang selalu sepi dan jarang ada orang di sana.
“Di sini ??” tanyanya yang melihat gadis itu tersenyum.
“Baiklah kalau begitu aku akan melakukan latihan di sini...”
Dirga duduk bersila di depan Rheva yang masih berdiri. Dia lalu memejamkan matanya dan melakukan sesuai arahan dari gadis itu.
Satu jam berlalu dan dia merasakan seluruh titik meridian yang ada di tubuhnya terasa hangat.
“Reva apa kau bawa cermin ? Aku pinjam sebentar..” ucapnya pada gadis yang sekarang duduk di depannya itu.
Dia mengeluarkan kaca kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi dan menyerahkannya pada Dirga.
Dirga mulai bercermin dan melihat bagian dadanya untuk memeriksa simbol yang ada di tubuhnya.
Dan benar saja dia melihat ada simbol taring di dadanya.
“Apa... bagaimana mungkin ?” tanyanya yang terkejut dan tak menyangka kalau dirinya punya simbol Pixy.
Sedangkan Rheva semakin tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Dirga saat itu.
“Tolong bantu aku melihat tanda di punggungku. Aku tidak bisa melihatnya sendiri.” ucapnya menyerahkan cermin itu pada Rheva.
Dirga melepas bajunya dan Rheva tampak memerah pipinya saat melihat anak itu bertelanjang dada. Dia pun berdiri dan pindah ke belakang tubuh Dirga. Betapa terkejutnya dia saat melihat kembali separuh simbol Infinix di punggung anak itu.
“Bagaimana...apa ada simbol di tubuh ku?” tanya tak sabar ingin segera mengetahui apa yang di lihat Rheva.
Gadis itu menyentuh simbol di punggung Dirga yang bersinar karena meridian yang terbuka.
“Ini simbol yang ku lihat dulu. Simbol yang pernah ku ceritakan padamu. Mirip simbol Infinix.” jawabnya yang masih terkejut dan menggerakkan tangannya sesuai simbol itu agar anak itu lebih yakin lagi.
“Apa ini...mungkinkah kau adalah keturunan Infinix yang aku cari selama ini ?” tanya gadis itu terkejut.
Dirga berbalik dan mereka berdua saling menatap dan tidak percaya pada apa yang mereka lihat barusan. Detak jantungnya bergemuruh hebat saat menyadari tanda di tubuhnya sama seperti tanda yang di jelaskan pada buku.
__ADS_1
BERSAMBUNG....