Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 113 Kembali Ke Goa Es


__ADS_3

Dirga tidak tahu kemana lagi tubuhnya akan terpental. saya tidak bisa menahan gerakan tubuhnya yang terus terdorong.


“Argh.... ayah... ibu... tolong aku.. !!” teriaknya memanggil Biana dan Achille.


Tubuh Dirga terdorong dengan kecepatan cahaya dan terus melesat. Dalam hitungan detik dia pun akhirnya kembali terlempar ke awan.


Setelah sampai di awan tubuhnya terpental lagi jauh dan akhirnya jatuh menembus bagian belahan awan lainnya.


“whoosh...” tubuhnya terus melesat ke bawah tanpa dia bisa menahannya.


Dia tak menyangka jika dia melihat sebuah lubang besar tempat dirinya keluar dari goa es di bawahnya.


“Aku kembali... !!” teriaknya yang merasa senang bisa kembali ke tempatnya.


“buuk...” tak beberapa lama kemudian tubuhnya terus melesat dan memasuki lobang goa itu lalu jatuh ke lantai dan membentuk es yang menyebabkan lapisan es dalam goa itu retak.


Dia segera bangkit dan berdiri berjalan ke luar goa untuk mencari kakek guru. Baru setengah jalan dia berhenti dan melihat kakek Sanca yang masuk dan menghampirinya.


“Anak muda akhirnya kau kembali juga ke sini. Bagaimana apa kau sudah menguasai teknik menyerap kekuatan es ?” tanyanya sambil tertawa menatap pemuda di depannya itu.


“Ah... maaf kakek guru, kurasa aku belum menguasai teknik itu dan malah terlempar ke dimensi lain. Aku tidak tahu berapa lama aku ada di dimensi lain...” jawabnya berterus terang pada gurunya itu.


“Kau menghilang dari goa selama tujuh hari.” ucapnya sambil melihat perubahan penampilan anak itu.


“Kau sudah bisa menguasai tekniknya sebelumnya. Coba praktekkan lagi dengan perubahan diri mu yang sekarang.” ucap kakek Sanca sambil kembali tersenyum menatapnya dan memegang jenggot putih panjangnya.


Dirga menurut saja pada perkataan gurunya. Dia lalu duduk di sebuah lempengan batu datar yang ada dalam goa itu dan duduk bersila melakukan meditasi.


“Fokuslah... serap energi sedikit saja. Lakukan secara berkala dan jangan menyerap semua energi sekaligus atau tubuh mu tak akan kuat menahan nya.” ucap sang kakek guru menjelaskan agar tidak mengulangi kesalahan yang sebelumnya pernah dilakukannya.

__ADS_1


Dirga tidak menjawab dan melakukannya sesuai instruksi yang diarahkan oleh kakek Sanca. Dia mulai bernafas dan menghirup udara dengan perlahan sambil mengalirkan sedikit energi.


“wuus....” udara di sekitar tubuh Dirga mulai bergerak berputar mengelilingi tubuhnya. Terlihat udara itu mulai masuk ke tubuhnya sedikit demi sedikit. Dia pun mulai merasakan tubuhnya pelan-pelan berubah menjadi dingin. Setelah seluruh tubuhnya terasa dingin dia pun membuka mata.


“Kakek guru... apakah aku sudah berhasil menguasai teknik penyerapan ini ?” Terlihat tubuh Dirga berubah warna menjadi biru transparan.


“Ha ha ha... anak mudah kau berhasil menguasai teknik penyerapan ini, selamat untukmu.” ucap kakek Sanca sambil tersenyum puas mengatasi latihan kali ini.


Dirga kembali menutup matanya dan melakukan meditasi. Dia kembali bernafas serta menghembuskan nafas perlahan sambil mengalirkan sedikit demi sedikit energi yang telah diserap nya tadi lalu melepaskan kembali energi itu ke goa itu.


Perlahan udara di sekitar tubuh anak itu yang terasa hangat kini mulai terasa dingin kembali seperti es.


Dirga yang merasa bersemangat ingin melanjutkan latihan berikutnya.


“Guru apa latihan selanjutnya ?” tanyanya penasaran dan tak sabar ingin segera berlatih. Kakek guru diam dan hanya tersenyum saja.


“Istirahatlah dulu besok baru kita akan mulai latihan selanjutnya.” ucapnya lalu pergi dari goa itu.


“Kakek guru... tunggu... !” panggilnya pada sang guru namun kakek sanca tidak menoleh dan terus berjalan hingga hilang dari pandangannya.


“Kakek guru kau selalu seperti itu. Aku tidak mengerti Jalan pikiranmu. Baiklah jika kau memintaku bersantai.” gumamnya lagi memandangi mulut goa yang sudah kosong.


Dirga pun mulai merebahkan dirinya di atas lempengan batu lebar itu. Pikirannya melayang menembus awan yang terlihat dari dalam goa teringat kembali pada sosok ayah dan ibu kandungnya yang ditemuinya.


“Ayah ibu... seandainya saja aku masih bisa bertemu dengan kalian lebih lama lagi, pasti aku akan merasa senang sekali.” ucapnya sambil tersenyum membayangkan kembali sosok Biana dan Achille Roussel yang membuat dadanya merasa sesak karena harus cepat itu berpisah dan kehilangan mereka berdua.


Entah sudah berapa lama anak itu berbaring di atas lempengan batu itu dan hanyut dalam memorinya.


“Mungkin ini memang sudah suratan takdir hidupku, tapi aku sudah merasa senang sekali meskipun hanya bisa bertemu kalian berdua dalam waktu yang singkat.” ucapnya kembali tersenyum untuk membesarkan hatinya sendiri merasakan dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Dirga memutuskan untuk keluar dari goa itu. Dia pun segera bangkit dan keluar dari situ. Setibanya dia di ruang dimensi tubuhnya kembali melayang ke udara saat dia menapakkan kakinya di sana. Namun tak berapa lama kemudian dia kembali bisa menapakkan kakinya ke lantai karena sebelumnya dia sudah bisa menguasai teknik keseimbangan diri.


“Bagaimana keadaan diriku yang sekarang... aku tidak tahu sudah berapa lama aku ada di tempat ini.” ucapnya melangkah keluar dari ruang dimensi dan menuju ke rumah sakit ke ruangan tempat dimana dirinya di rawat setelah teringat kondisi dirinya yang masih belum sadarkan diri.


Dirga memasuki ruangan tinggal menembus dinding rumah sakit itu dan mendapati Elsa dan Hadwan yang sedang tertidur tak jauh dari tempatnya berada.


“Ayah Ibu... meskipun kalian berdua bukanlah orang tua kandungku tapi kalian berdua tetaplah orang tua ku. aku berterima kasih pada kalian berdua yang telah merawat ku dari kecil hingga sekarang.” ucapnya melihat kedua orang tuanya yang tertidur dalam kelelahan. Dia pun memeluk kedua orang tuanya itu.


Selepas memeluk Elsa dan Hadwan dia pun mendekati raganya yang masih terbujur kaku di tempat tidur itu.


“Ibu Biana bilang jika aku bisa kembali ke ragaku. Aku akan mencobanya sekarang.”


Roh Dirga masuk ke tubuh kasarnya. Saat rohnya menyatu dengan tubuhnya terlihat seberkas cahaya terang bersinar dari tubuh itu.


Terlihat perubahan penampilan fisik setelah mereka bersatu. orang berdiri gaya awalnya berwarna hitam kini berubah warna menjadi coklat gelap. Sedangkan matanya yang awalnya berwarna hitam kini berubah menjadi warna coklat yang merupakan perpaduan dari dua esensi.


“whups...”


tiba-tiba roh Dirga terlempar keluar dari tubuhnya dan menembus tubuh Elsa yang sedang terlelap, membentur dinding ruangan itu.


Elsa yang merasakan tubuhnya tiba-tiba hangat membuka matanya. pandangannya tertuju pada Dirga yang masih terbaring di sana dan menghampirinya. Betapa terkejutnya dia saat melihat penampilan fisik anak itu mengalami perubahan.


“Sayang... kemarilah. Lihat apa yang terjadi ...” panggil Elsa yang melihat suaminya yang sudah membuka matanya.


Mendengar panggilan itu Hadwan pun langsung bangkit dan menghampiri istrinya. Dia terbelalak kaget saat melihat tubuh anaknya yang berubah.


“Sayang apa yang terjadi pada anak kita ?” ucapnya bertanya pada Elsa yang menggelengkan kepala menatapnya dan masih tampak bingung.


“Ternyata aku belum bisa kembali ke tubuhku sekarang ini.” ucap Dirga.

__ADS_1


Dia berdiri lalu berjalan dan berada ditengah kedua orang tuanya itu menatap tubuh fisiknya yang masih terbujur kaku di sana.


BERSAMBUNG....


__ADS_2