Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 73 Lembah Salju 2


__ADS_3

Satu kata itu terus bertambah sampai bagian bawah lembaran kertas yang ia pegang. Dia mencoba membaca satu per satu kata yang membentuk sebuah kalimat itu.


“Mon bébé, quand tu lis ceci, cela signifie que nous étions partis de cet endroit....” Dirga membaca keras kata demi kata dalam lembaran itu sambil mencerna maksudnya. Rheva yang mendengar anak itu membaca seketika kaget dan berdiri.


“Jangan-jangan itu surat yang di tulis oleh ayah dan ibu untuk ku?” batinnya dan meminta surat itu dari Dirga.


Dia lalu membaca surat itu. Kata demi kata kalimat yang muncul itu menghilang saat sudah di baca dan kembali menjadi lembaran putih bersih setelah Rheva selesai membacanya.


Raut wajahnya tampak lega setelah mengetahui isi surat itu dan meletakkan kembali ke meja. Berbeda dengan Dirga yang malah tambah penasaran dengan apa isi surat itu. Dia pun mengambil kertas putih polos itu lalu muncullah huruf demi huruf berwarna kuning di kertas itu. Dia membacanya dalam hati surat itu. Setelah selesai dia meletakkan kembali surat itu ke meja.


“Syukurlah... aku ikut lega setelah membacanya.”ucapnya pada gadis itu. Rheva heran dengan apa yang barusan di ucapkan Dirga. Apa benar anak itu bisa membaca surat itu dan mengerti maksudnya ? Sedangkan huruf itu setahunya hanya kelompok ighist yang bisa membacanya.


“Kau... apa kau bisa melihat tulisan dalam lembaran kosong ini ?” tanyanya curiga dan beranggapan bahwa Dirga mungkin saja adalah keturunan Ighist.


“Ah... iya... aku, aku ikut merasa senang setelah mengetahui keluarga mu aman dan akan kembali setelah kondisi disini tenang.....”belum selesai kalimatnya, Rheva kembali memotong ucapannya karena merasa terkejut dan tak percaya jika temannya itu mengerti bahasanya.


“Bagaimana kau bisa membaca huruf di lembaran surat ini ?” Dirga yang merasa tak ada yang aneh padanya tidak merasa terintimidasi oleh pertanyaan gadis itu dan tampak tenang.


“Aku... ? Aku... sejujurnya aku tidak tahu pasti bahasa apa ini. Tapi entah kenapa aku merasa familiar dan aku bisa mengerti maksudnya meskipun mungkin aku tidak hafal dan tidak bisa mengucapkannya dengan sempurna.”jawabnya jujur tanpa ragu berkata yang membuat gadis itu yakin jika dia memang bisa bahasa itu.

__ADS_1


Hal itu semakin membuat Rheva penasaran akan jati diri Dirga. Apa dia benar-benar keturunan Ighist ?


“Dengarkan aku... hanya kelompok Ighist dan kelompok lainnya yang serumpun dengan kami yang bisa membaca huruf ini. Apa mungkin kau keturunan Ighist ?” tanyanya kembali pada Dirga yang di jawab dengan anggukan. Karena memang dia benar-benar tidak tahu.


“Sudah kubilang padamu aku tidak tahu, aku tidak mengetahui kelompok Ighist yang kau sebutkan.” jawabnya kembali menegaskan.


“Sudahlah lupakan saja...” ucap gadis itu putus asa mendengar penjelasan Dirga yang membuatnya putus asa mengungkap jati diri sebenarnya anak itu. Karena masih penasaran dia pun mencoba berbicara dengan bahasanya.


“Je me sens fatigué aujourd'hui après avoir marché longtemps.” menatap Dirga dan menunggu jawbannya.


“Jika kau lelah maka istirahat saja dulu. Aku tahu kaki mu pegal. Kaki mu pasti pegal setelah berjalan cukup jauh ke tempat ini.” jawabannya membuat gadis itu kagum padanya karena ternyata dia bisa mengerti apa yang di ucapannya. Gadis itu mengira apa itu salah satu kelebihan yang ada pada anak autis ? Dimana dia bisa menguasai banyak bahasa asing ?


“Kurasa disini aman. Aman tak ada yang perlu di khawatirkan. Lebih baik kita masuk lagi. Mungkin bahaya yang di tertulis di surat itu sudah hilang.” ucapnya berbalik dan berjalan ke depan pintu rumah Rheva.


Tertulis dalam surat itu jika orang tua Rheva dan yang lainnya mengungsi ke tempat yang aman di karenakan ada pasukan Infinix yang mencium keberadaan mereka meskipun para Ighist menghapus jejak mereka agar tidak terlacak. Sebagai antisipasi para pasukan Infinix menciptakan makhluk penghisap darah yang bertugas menghisap habis darah mereka sampai kering tak bersisa. Karena tak mau makhluk itu mengancam yang lainnya, mereka menempatkan binatang itu ke lautan dan menyegelnya agar tidak bisa kembali ke lembah salju.


“Baiklah kalau begitu.” ucap gadis itu berbalik dan masuk kedalam rumahnya bersama Dirga. Dia lalu memasang array pelindung di rumah itu untuk menjaga mereka dari hal-hal yang tak di inginkan.


Hari semakin larut dan cuaca saat itu bertambah dingin. Dirga yang tidak terbiasa dengan musim salju merasa kedinginan meski dia sudah menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.

__ADS_1


Rheva yang melihat tubuh Dirga gemetar masuk ke kamar ayahnya. Dia menuju ke lemari baju lalu mengambil jaket bulu tebal dari dalam lemari lalu keluar lagi.


“Pakailah ini agar kau tidak kedinginan.” Rheva menyerahkan jaket itu pada Dirga yang langsung di kenakannya. Namun tubuhnya masih gemetar kedinginan.


“Kau masih merasa dingin ?” tanya gadis itu yang di jawab dengan anggukan oleh Dirga.


Rheva lalu menuju ke perapian yang ada di ruangan itu dan menyalakan nya. Cukup menjentikkan jarinya api keluar dari tangan gadis itu dan ruangan menjadi hangat setelah perapian menyala.


Dirga terus menguap dari tadi dan beberapa saat kemudian dia tertidur di kursi panjang yang ada di depan perapian itu. Rheva pun akhirnya ikut merasa ngantuk. Dia masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur nyaman yang sudah lama tidak di pakainya.


Satu jam berlalu namun dia belum juga bisa tidur meski matanya terpejam. Gadis itu lalu keluar dari kamarnya. Dia menuju ke ruang baca. Biasanya dia akan mengantuk setelah membaca buku. Itu yang sering dia lakukan saat insomnia melanda dan cara itu terbukti efektif.


Dia mencari buku yang menarik untuk di bacanya. Satu buku terjatuh dari rak buku dan mengenai kakinya.


“Aduuh...” ucap gadis itu merasa kesakitan lalu mengambil buku itu dan membuka halamannya.


“Buku apa ini... metode penyembuhan ekstrim dan akurat ?” ucapnya membaca judul buku itu. Ia lalu membawa buku itu dan mengembalikan dua buku lainnya yang tadi di ambilnya dari rak buku. Dia kembali ke kamarnya dan membaca buku itu namun dia merasa tak nyaman karena khawatir akan terjadi pada Dirga. Dia pun akhirnya kembali ke ruangan dimana Dirga berada.


Gadis itu duduk di kursi yang ada di hadapan Dirga. Dia mulai membuka halaman demi halaman dan sampai ia menemukan halaman yang menerangkan sebuah cara mengatasi penyakit gangguan komunikasi. Dia membaca bab itu sampai akhir dengan antusias. Beberapa saat kemudian gadis itu tertidur di kursi masih dengan memegang buku.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2