
Di lain tempat pasukan Infinix masih gencar menembakkan asap hitam pekat ke udara untuk melakukan pencarian kelompok lain. Namun setelah kurang lebih dua minggu mereka bergerak, asap pelacak itu tidak mendeteksi keberadaan kelompok lain.
Dan atas perintah pimpinan mereka, Arthur. Mereka menyudahi aksi penyisiran mereka. Asap hitam yang tersebar merata di beberapa kota dan sempat menahan warga untuk tetap tinggal di rumah itupun kini sudah menghilang dan para warga kembali bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Satu pasukan Infinix yang sudah mendapat perintah untuk mundur dari tempatnya bertugas diam-diam kembali ke suatu tempat untuk melakukan penyisiran ulang tanpa pengetahuan Arthur di karenakan dia masih merasa belum puas akan kinerjanya yang masih gagal melacak keberadaan kelompok yang di carinya.
Tanpa ada yang tahu pasukan khusus Infinix itu menyamar menjadi manusia biasa dengan menutup aura kekuatannya agar terlihat sebagai manusia tak berkekuatan dan membaur di tengah para warga.
“bruk...” seorang lelaki tak sengaja menabrak seorang lelaki yang berjalan melewatinya.
“Maaf...” ucap lelaki itu mengambil dokumen yang tercecer di jalanan milik dari pria yang di tabraknya barusan.
“Iya tak apa...” ucap pria itu menerima dokumen dari lelaki yang tadi menabraknya. Tanpa dia sadari, lelaki tadi menyentuh kulit tangannya dan seketika pria tadi merasa kesemutan di area tangan selama tiga detik. Namun pria itu mengabaikan hal itu dan mengira hanya kesemutan biasa lalu terus berjalan meninggalkan lelaki tadi.
“Ah bukan....” ucap lelaki itu lalu kembali berjalan di tengah keramaian.
Dia berjalan menyibak kerumunan orang sambil menyentuh bagian tubuh mereka yang bisa dia sentuh.
“tap...” beberapa orang merasa bagian tubuh mereka merasa kesemutan selama tiga detik tanpa sebab. Namun hal itu tidak menghambat aktivitas mereka sehingga mereka semua mengabaikan hal itu.
“Bukan....” ucap lelaki itu melihat reaksi beberapa orang yang sudah di sentuhnya.
Dia kembali berjalan di tengah keramaian dan kembali melakukan hal yang sama.
Sementara itu di siang hari yang terik, Rheva sedang berjalan ke jalan raya yang padat untuk membeli minuman dingin karena merasa gerah sekali.
Gadis itu melihat sebuah toko di seberang jalan dekat dengan perempatan yang menjual soft drink dingin.
“Kau mau kemana ?” tanya Dirga yang berjalan di belakang gadis itu.
“Aku mau beli minuman dulu di sana. Kau mau minum apa, sekalian aku belikan ?” tanya gadis itu padanya.
“Aku tidak haus. Kau saja yang minum.” jawabnya
“Baiklah kau tunggu di sini dulu. Aku akan segera kembali.” ucap gadis itu meminta Dirga tidak mengikutinya.
__ADS_1
Dia lalu menyeberang di jalur penyeberangan. Tiba di toko itu dia mengambil tiga kaleng soft drink lalu kembali menyeberang.
Saat dia berjalan ada seseorang yang menyenggolnya dan membuat soft drink yang dia pegang jatuh di jalanan.
Gadis itu menoleh ke belakang mencari sosok yang menyenggolnya tapi tidak ada.
“din... din...” klakson mobil berbunyi di perempatan yang padat itu. Sebuah mobil berhenti tepat di depan gadis itu dan memberinya kode agar segera menyingkir dari jalan.
Melihat hal itu Rheva langsung memungut tiga kaleng soft drink nya yang terjatuh tadi dan buru-buru pergi dari jalan raya itu sebelum mobil itu kembali membunyikan klaksonnya.
“Ini untuk mu...” ucap gadis itu setelah menyeberang dan menyerahkan satu kaleng soft drink pada Dirga.
Mereka berdua menghabiskan soft drink Itu dan membuang kaleng kosong itu ke tempat sampah terdekat lalu kembali berjalan menuju kampus mereka.
Dari kejauhan lelaki yang tadi menabrak Rheva muncul di tengah keramaian sambil tersenyum menatapnya.
“Ketemu...” ucapnya tersenyum menyeringai lalu kembali menghilang di tengah keramaian dan meninggalkan angin berhembus yang mengiringi kepergiannya.
Rheva masih berjalan, sesekali dia menoleh ke belakang karena perasaannya tidak enak.
“Ah... tidak ada. Mungkin hanya perasaan ku saja seperti ada yang menatap ku.” ucap gadis itu lalu kembali berjalan bersama Dirga.
Sementara itu lelaki yang tadi menghilang kini muncul lagi di udara dan melihat kemana gadis itu pergi.
“Tunggu saja waktu mu...” ucapnya lalu tertawa dan menghilang dalam udara.
Di markas Infinix
Arthur mulai mempekerjakan para tahanan mereka untuk membangun armada perang dan membuat persenjataan untuknya di bawah pengawasan para pengawalnya.
Seorang lelaki dengan kaki terikat rantai terlihat membawa batu besar berjalan bersama tahanan lainnya yang juga membawa batu besar menuju ke suatu tempat.
“Argh....” rintih seorang lelaki yang membawa batu saat merasakan telapak kakinya terasa perih berjalan setiap hari di tanah berbatu.
Seorang pengawal datang dan menghampirinya saat melihat lelaki itu berhenti di tengah jalan.
__ADS_1
“Hei... kenapa kau berhenti ?” tanya pengawal itu pada tahanan yang menurutnya bermalas-malasan itu.
“Aku butuh istirahat sebentar. Telapak kaki ku berdarah.” jawab lelaki itu sambil meringis menahan rasa perih di kakinya.
“Dasar pemalas... ! Mau istirahat ?Enak saja... kerja yang benar baru kau bisa istirahat !” bentak pengawal itu pada lelaki tadi sambil memberinya pelajaran agar tidak manja.
“ctar...” Pengawal itu mengayunkan cambuk yang di pegang ya pada punggung lelaki tadi.
“Argh.... hentikan... ! Aku akan jalan sekarang...” ucap lelaki itu kembali berjalan dengan merasakan sakit di punggungnya yang berdarah terkena sabetan cambuk dari pengawal tadi.
Tahanan lain yang ada di sebelah lelaki tadi ikut berhenti dan melihat temannya mendapat siksaan. Hati kecilnya tidak terima melihat siksaan yang di lakukan oleh pengawal itu pada lelaki tadi, dan dia pun berontak.
“Jangan pukul keluarga kami ! Kau akan menyesal memperlakukan kami seperti ini !” teriaknya pada pengawal tadi.
“Kenapa kau ikut campur ? Baiklah kalau itu mau mu...aku juga akan memberikan pelajaran bagi Mu sekarang !”
Pengawal itu geram melihat tindakan protes dari tahanan yang merupakan seorang bocah itu. Dia lalu menghampiri bocah itu.
“ctar....” pengawal itu menyabetkan cambuknya pada kaki bocah tadi.
Terlihat bocah itu meringis kesakitan menahan luka akibat dari sabetan cambuk itu.
Tahanan yang lain ikut menatap, namun karena tak mau mereka juga terkena hukuman seperti itu mereka menutup mata pura-pura tidak melihat hal itu.
“Jahanam kau Infinix.... kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal nanti...” gumam tahanan lain yang melihat kejadian itu sambil berlalu melewatinya dengan membawa sebuah batu besar.
“Ini pelajaran kecil dari ku jika kalian membangkang perintah ku. Hahaha....” ucap pengawal itu sambil tertawa pada semua tahanan yang ada di sana.
“Bastian... kau tak apa ?” tanya anak yang berjalan di depannya.
“Ya tak apa... untung hanya luka luar saja di kaki, hanya luka gores. Aku masih bisa berjalan.” ucap anak itu berjalan agar tidak membuat temannya khawatir pada dirinya. Dia tetap berjalan meski sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya itu.
Dan semua tahanan mengerjakan tugas mereka masing-masing dalam pengawasan pengawal Infinix.
BERSAMBUNG....
__ADS_1