Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 90 Petunjuk Kedua


__ADS_3

Malam hari di kamar, setelah Dirga kembali dari ruang keluarga dan berbicara dengan ibunya dia duduk di kursi lalu merenung sendiri memikirkan siapa keturunan Infinix yang di cari Rheva itu. Dia merasa tidak puas dengan jawaban dari ibunya tadi, tapi mau gimana lagi dia tidak bisa memaksa ibunya menceritakan semua rahasia itu padanya jika dia memang belum siap. Dia pun mulai teringat kembali pada perkataan Rheva yang menyatakan bahwa dirinya mungkin saja orang yang dicari gadis itu selama ini.


Semakin berpikir mendalam membuat kepalanya semakin terasa pusing. Dia pun akhirnya pindah ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya sekedar mengistirahatkan otaknya untuk berpikir mencari sesuatu yang tidak dimengerti nya sama sekali.


Sementara itu Elsa yang menjadi tidak tenang segera masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Dia melihat suaminya yang belum tidur dan masih duduk memeriksa pekerjaan kantor.


“Sayang kau masih belum tidur... ?” tanyanya pada Hadwan sambil meraih baunya dan mengajaknya ke tempat tidur karena malam sudah larut.


“Iya baiklah akan aku lanjutkan besok kalau begitu... aku juga lelah dan mengantuk.”


Hadwan lalu menutup dokumen yang dibacanya dan merapikannya. Dia menyambut ajakan istrinya dan berbaring di tempat tidur. Saat itu dia juga melihat kalau istrinya terlihat seperti mencemaskan suatu hal.


“Sayang ada apa... kenapa kau kelihatan gelisah ?” melihat Elsa yang pikirannya melayang entah kemana. Bahkan dia tidak mendengar apa yang barusan di katakan suaminya itu.


“Sayang...” panggil Hadwan lagi karena istrinya tidak menjawab sambil memegang bahunya.


“Aah... apa kata mu barusan ?” tanyanya yang membuat lelaki itu semakin yakin jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Ada apa... apa yang kau pikirkan.. ?”


“Sayang aku tidak tahu harus menjelaskan apa pada anak kita. Kau tahu tiba-tiba Dirga datang padaku dan menanyakan tentang Biana Roussel.” terlihat gugup karena takut salah bicara.


“Anak kita tahu tentang wanita itu... ? Bagaimana mungkin dia bisa tahu sedangkan ayah dan ibu saja tidak tahu akan hal itu...” ikut terkejut setelah mendengar cerita dari istrinya.

__ADS_1


“Tadi dia tanya padaku apa aku mengenal wanita itu ? Juga apa hubungan ku dengan wanita itu... ?” tambahnya menjelaskan kekhawatirannya itu pada suaminya.


Ingatannya kemudian melayang pada kejadian 22 tahun silam itu. Dia mengingat dengan jelas sosok wanita berdarah Perancis itu tiba-tiba saja mendatangi dirinya setelah dia merasakan perutnya sakit sekali saat memasuki usia kehamilan tujuh bulan di karenakan dia tergelincir dan jatuh dari tangga.


Wanita yang datang dengan wajah sedih dan terpukul itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan padanya.


“Mungkin ini adalah suratan takdir kita. Kau sangat menunggu kehadiran bayi dalam kandungan mu yang sekarang sudah meninggal itu, dan aku juga ingin membuat anakku tetap hidup meski jauh dariku. Jadi aku titipkan anak ini padamu. Jaga dia baik-baik dan anggap anak ini sebagai anakmu sendiri. Kelak suatu saat tolong beritahu dia tentang diriku. Terima kasih sudah membantu ku. Semoga kita bisa berjumpa lagi suatu hari nanti.”


“Sayang kau tahu... aku belum siap memberitahukan itu semua pada Dirga...” ucapnya gemetar setelah membayangkan kejadian pertemuannya dengan Biana Roussel.


Hadwan yang melihat istrinya semakin gelisah dan ketakutan menenangkannya dengan memeluknya.


“Sayang tidak usah kau ingat-ingat lagi kejadian itu. Dirga memang anak kita. Kau tidak mengalami pendarahan setelah jatuh dari tangga dan janin yang kau kandung itu selamat dan dia adalah Dirga. Sudah... sekarang kita tidur saja. Besok kita bicarakan lagi.” ucapnya mempertegas lagi agar istrinya itu tidak bimbang.


Sementara itu di kamar meskipun Dirga memejamkan matanya rapat-rapat namun pikirannya masih saja terjaga. Pikirannya masih melayang pada masalah Infinix yang di cari oleh Rheva.


Dalam kekalutan nya dia pun teringat pada sebuah buku yang dipinjamnya dari Rheva.


“Oh ya... buku itu... mungkin bisa sedikit membantu.” dia langsung bangun dari tempat tidurnya dan mengambil buku yang diletakkan di lemarinya itu.


Dia kembali duduk di kursi sambil membuka halaman buku itu satu per satu hingga akhirnya dia sampai pada halaman buku yang menceritakan tentang empat kelompok kuat dan berpengaruh di era kuno.


“Ya mungkin jawabannya ada di sini... aku harus banyak mendapatkan informasi tentang Infinix dan juga Pixy...” melewatkan informasi berkenaan dengan Ighist dan Excogryf.

__ADS_1


Pada tengah halaman dia berhenti dan menemukan informasi lengkap mengenai Pixy serta Infinix.


Dijelaskan di buku bahwa Infinix merupakan pembawa perdamaian sedangkan Pixy merupakan sang penguasa yang memimpin tiga kelompok lainnya. Namun karena kelompok Infinix lebih unggul dan maju dalam berpikir daripada kelompok Pixy, Infinix ketakutan jika suatu saat Pixy akan mengambil alih kekuasaan yang merupakan awal pemicu konflik dia antara mereka.


“Bukan ini yang aku cari...” ucapnya membalik halaman lagi dan mencari informasi yang di butuhkan nya.


“Bagaimana karakteristik Pixy ?”


Dia membaca keterangan yang menyebutkan karakteristik Pixy. Di jelaskan dalam buku itu jika mayoritas kebanyakan Pixy mengalami gangguan komunikasi saat masih anak-anak. Hal itu di sebabkan karena apa yang di pikirkan lebih cepat daripada apa yang di ucapkan, selain itu karena punya IQ di atas rata-rata, Karena hal itu mereka ditakdirkan menjadi pemimpin dan kemampuan lain yang tidak di jelaskan secara terperinci dalam buku.


Sedangkan kelompok Infinix dalam buku di jelaskan bahwa merupakan suatu kelompok yang sangat misterius. Mereka dikenal mempunyai banyak kemampuan dan mudah paham dalam menguasai suatu hal dengan cepat. Dijelaskan dalam buku bahwa Infinix mempunyai salah satu kekuatan yang mudah sekali di kenali yaitu kekuatan mata yang berwarna violet yang bisa menghancurkan segalanya dalam jarak tak terhingga juga kekuatan juga kemampuan bicara dengan beberapa jenis hewan tertentu.


“Apa... kenapa ini semua kebetulan sekali ?” ucap anak itu tak percaya setelah membaca penjelasan dari buku dimana banyak kemiripan dengan dirinya.


Anak itu semakin penasaran dan membaca lebih lanjut, dia mencari ciri khas simbol kelompok itu dan mendapati simbol taring adalah simbol khas dari Pixy, sedangkan Infinix mempunyai simbol khas matahari separuh.


“Jika aku menemukan simbol itu pada tubuhku berarti aku adalah salah satu dari keturunan mereka...” ucapnya membaca lagi buku tebal yang di pegang nya itu dan mencari bagaimana cara melihat simbol itu.


Di jelaskan di buku itu salah satu cara untuk melihat simbol pada diri sendiri adalah dengan membuka seluruh titik meridian yang ada di tubuh.


“Ah... kenapa harus membuka semua titik meridian di tubuh ?” ucapnya yang kesal karena dia tak tahu cara membuka titik meridian di tubuhnya.


Dia menutup buku itu dan mencari buku koleksinya yang menjelaskan tentang titik meridian.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2