
Setelah pulang dari rumah Ustad Fawwaz di malam harinya, Dirga tertidur seperti biasanya. Menjelang tengah malam tiba, ia terbangun seperti biasa. Namun ada yang aneh saat itu.
Biasanya ia melihat penampakan para makhluk astral di jam segitu. Saat itu ia tidak bisa melihat sosok makhluk lain walaupun dia bisa merasakan kehadirannya.
Dirga bangun dan melihat ke sekeliling. Tak ada siapa pun di dalam kamar selain dirinya.
“Dirga...” mendengar suara seorang lelaki memanggil dari depan pintu.
Ia kemudian berjalan menuju ke pintu dan membukanya, tak ada siapa-siapa di depan pintu.
“Aneh, aku bisa mendengar tapi tidak bisa melihatnya, anehnya...” terus berjalan.
Dirga berjalan menyisir rumah yang terasa hening, karena semua tertidur dan hanya dirinya saja yang terjaga. Ia menuju ke ruang makan, dimana ia melihat sesosok wanita tua di sana. Namun ia tak menemukannya.
Ia pun keluar dari ruang makan dan menuju ke teras depan. Karena biasanya di depan banyak makhluk astral yang terlihat di jam segitu. Lagi-lagi ia tak menemukannya. Akhirnya ia menghampiri Firoz.
Seperti biasa, Firoz berubah wujud menjadi berbagai jenis hewan di malam itu. Saat itu ia berubah menjadi cheetah setelah melepaskan diri dari tali pengikatnya. Ia kemudian berjalan mengitari halaman rumah. Setelah beberapa kali putaran, ia menghampiri Dirga dan berubah menjadi kucing Persia berwarna putih bersih dan duduk di pangkuan Dirga yang saat itu sedang mengamati sekitar.
“Dirga tidak tahu, kenapa kau bisa berubah wujud menjadi jenis hewan lain ? Selain berubah wujud, kau hanya menunjukkan perubahan mu padaku saja ?Mengapa Firoz ?” menatap dan mengajak bicara burung elangnya itu sambil mengelus-ngelus tubuhnya yang masih berwujud kucing itu.
“Meow...meow...” menjilati tangan Dirga yang membuat anak itu menjadi geli.
Dirga terus mengelus sambil berpikir. Mencoba mengingat-ingat lagi apa yang membuat dirinya tak bisa melihat seperti biasanya. Ia kemudian teringat jika sore tadi di ajak pergi ke rumah teman Ayahnya. Ia mengingatnya lagi dan ia merasa aneh saat teman Ayah nya tadi menutup matanya untuk beberapa saat.
Ia sempat merasa ada sesuatu yang di tarik keluar dari tubuhnya, walaupun ia tak tahu apa itu. Karena tidak merasakan sakit ataupun lemas saat itu terjadi.
“Pasti karena itu, pasti itu tadi yang membuat ku tidak bisa melihat lagi.” menggosok-gosok dagu Firoz dan membuat kucing itu tampak sangat senang seperti di gelitik saja.
__ADS_1
Karena sudah satu jam dia beras di luar dan merasakan udara malam yang semakin dingin, ia pun masuk kembali ke dalam rumah dan masuk kembali ke kamar karena merasa ngantuk.
Kejadian itu berulang terus-menerus sampai beberapa malam selama hampir tiga minggu. Di awal minggu ke empat saat ia terlelap dalam tidurnya, ia bermimpi ada seorang gadis kecil berusia di bawahnya mendatanginya.
Ia tidak mengenal siapa gadis itu, dan tidak pernah bertemu dengannya, baik di kehidupan nyata maupun di alam mimpi.
Ia merasa jika ia berubah menjadi sangat kecil, sukuran semut hitam. Seseorang memungut dan meletakkannya dalam sebuah wadah yang menurutnya seperti sebuah kurungan saja.
Orang itu kemudian menutup wadah itu rapat. Satu jam berlalu, dia masih bisa bernafas dengan normal. Satu jam berikutnya ia mulai merasa udara yang ada dalam wadah yang mengurungnya tadi terasa panas.
Satu jam berikutnya suhu di sana terasa panas dan susah bernafas. Ia berlarian dan naik ke atas untuk melepas tutup dari wadah itu, namun gagal meskipun sudah berulang kali mencobanya.
Akhirnya ia pun merasa lemas dan semakin sesak nafasnya. Saat ia hampir menutup mata, ia melihat ada seorang gadis kecil yang membuka tutup wadah itu, lalu mengeluarkannya.
“Kau bebas sekarang. Tak ada yang mengurung mu lagi.” menaruh Dirga di telapak tangan kemudian menurunkan ke lantai.
“Siapa kau...kau siapa ?” bertanya pada gadis kecil yang hanya menatapnya dengan senyuman, kemudian pergi meninggalkan dirinya.
Ternyata tadi dia hanya bermimpi, tapi rasanya begitu nyata. Ia seolah merasa terkurung sungguhan dan sempat merasakan sesak, dan kini ia juga merasakan nyaman pada tubuhnya. Seolah ada sesuatu yang telah hilang dari tubuhnya dan kini kembali lagi.
“Hanya mimpi... hanya mimpi...” menatap kedua tangannya lalu menepuk-nepuk pipinya.
Karena sudah terbangun, ia duduk di tepi tempat tidurnya. Walaupun dia sudah tidak insomnia lagi, namun saat terbangun di malam hari ia tak bisa langsung tertidur kembali, harus menunggu setidaknya 30 menit atau satu jam baru ia bisa kembali tidur.
“Dirga...”
Ia kembali mendengar sebuah suara yang memanggil dirinya. Suara itu seperti bergema dan terus menerus memanggilnya dari arah luar kamar.
__ADS_1
Ia akhirnya bangkit dari duduk lalu berjalan ke pintu, membuka sedikit dan mengintip.
“Tidak ada apa-apa...” kembali menutup pintu dan bersandar ke pintu.
“Dirga...”
Namun suara itu kembali terdengar memanggil-manggil namanya. Ia membuka kembali pintu kamar. Meskipun tidak ada siapapun di sana, ia tetap keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali.
Ia berjalan menoleh ke samping kiri dan kanan, namun masih tak ada yang ia lihat. Kemudian ia terus berjalan sampai keluar dari dalam rumah dan menuju ke teras depan.
Di sana ia melihat Firoz yang sudah terlepas dari tali pengikutnya dan berubah menjadi sebuah serigala kecil berwarna putih.
Baru berjalan lima langkah, ia kembali mendengar suara yang memanggil namanya tadi. Ia mencari darimana sumber suara itu berasal. Dan ternyata suara itu menghilang di tempat dia menemukan Firoz pertama kali, di sumur tua sebelah rumahnya.
Dirga berjalan ke tembok pembatas antara rumahnya dengan rumah kosong milik tetangga di ikuti oleh Firoz yang dari tadi menempel dan bermain-main di kakinya.
Dia memanjat pagar pembatas lalu duduk di sana, menghadap ke rumah kosong itu. Setelah 10 menit ia duduk. Tiba-tiba dia melihat sesosok wanita berbaju merah tersenyum ke arahnya dan melambaikan tangan padanya.
Sontak Dirga langsung turun dan masuk ke halaman rumah kosong itu. Firoz masih mengikutinya dan ikut melompat turun dari pagar.
Dirga berdiri di depan rumah kosong itu. Di dalam rumah kosong itu sekarang sangat ramai. Terlihat banyak orang sedang mengadakan pesta, entah merayakan acara apa. Banyak orang berseliweran di dalam rumah itu.
Beberapa dari mereka mengetahui kehadiran Dirga dan melambaikan tangan padanya untuk bergabung. Ia pun tertarik untuk masuk ke dalam sana. Namun Firoz terus menggigit celananya sehingga membuat Dirga tak jadi masuk ke rumah itu.
Ia pikir pasti Firoz melarangnya masuk ke sana karena suatu hal. Benar saja, saat ia melihat lagi, sekelompok orang di rumah kosong tadi tiba-tiba menghilang, dan tiba-tiba tercium aroma bau terasi gosong.
Karena tidak mau bertemu dengan penghuni lainnya, ia pun memilih segera kembali ke rumah bersama Firoz. Karena tidak semua makhluk astral baik seperti manusia. Beberapa dari mereka juga ada yang jahat.
__ADS_1
Dirga kembali ke kamarnya dan merasa heran, kenapa dia bisa melihat kembali dengan tiba-tiba. Ia tidak memikirkan hal itu lagi dan memilih untuk tidur lagi.
BERSAMBUNG...