Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 76 Satu Ciuman


__ADS_3

Saat mata Dirga terbuka, sinar violet pekat keluar dari matanya. Sinar itu menembus tabung kaca tempatnya berada dan membuat tabung itu pecah. Bahkan sinar itu hampir mengenai Rheva untung saja dia dengan cepat bisa menghindar.


Air dari tabung bercampur pecahan kaca memenuhi ruangan itu.


“Sial apa yang terjadi pada anak itu ?” ucap Rheva menghindari serangan yang kembali di lancarkan Dirga padanya.


Dirga seolah mengejar Rheva dan mengikuti kemanapun gadis itu pergi sambil terus menyerangnya.


Rheva membawanya keluar dari rumah, agar rumahnya itu tidak hancur oleh kekuatan Dirga.


“Menurut buku yang ku baca, terapi itu berhasil. Tapi tak ada penjelasan tambahan...” ucapnya menghindari serangan Dirga lagi.


“Dirga... apa kau sadar pada apa yang kau lakukan ?” tanyanya tapi tak mendapat jawaban dari anak itu. Gadis itu tidak tahu kenapa Dirga bisa sampai hilang kesadaran seperti itu dan masih terus menyerangnya.


Rheva sudah bersabar pada perlakuan Dirga. Tapi sekarang dia tak bisa menahan diri lagi dan terus mengalah. Dia melakukan perlawanan dan serangan balasan pada anak itu.


Gadis itu menggunakan kekuatan sihirnya untuk melumpuhkan Dirga. Dia mengeluarkan kain panjang berwarna hitam.


“Teknik ilusi...!” seketika kain panjang tadi terbuka dan melilit erat tubuh Dirga. Seberkas sinar turut mengiringi kain itu membelit tubuh Dirga dan membuat tubuhnya menjadi tampak kabur seperti mozaik lalu menjadi bayangan hitam dan hilang.


Rheva menarik lagi kain tadi. Saat dia menarik kain itu terlihat tubuh Dirga yang jatuh tersungkur ke tanah.


“Argh...” Dirga mengerang kesakitan. Dia bangkit dan kembali melawan Rheva. Dia merasa marah terhadap serangan yang barusan di lancarkan gadis itu dan melukai dirinya. Dia lalu mengejar gadis itu.

__ADS_1


Rheva berkelit dan bisa lolos dari kejaran anak itu. Dirga tak mau menyerah, dia terus mengejar gadis itu sampai membuatnya terpojok. Saat tak ada lagi ruang untuk kabur bagi Rheva, Dirga berhasil memegang gadis itu. Dan kini dia memegang tubuh gadis itu. Dia melancarkan serangannya menggunakan teknik krav maga dan menyerang beberapa titik vital di lengan gadis itu.


“Sial... aku tak bisa menggerakkan tangan ku yang mati rasa saat ini. Dia lalu merapalkan sebuah mantera. Dimana mantera yang dia ucapkan menjadi rantai panjang bercahaya yang menarik tubuh Dirga dan menghantamkannya pada pohon.


“Brak...” tubuh Dirga terpental menghantam beberapa pohon dan membuatnya tumbang.


“Dirga... sadarlah ! Ayo kita akhiri ini semua. Aku Rheva... aku teman mu, bukan musuh mu. Aku tidak mau bertarung melawan teman ku sendiri !” teriak gadis itu agar anak itu kembali sadar. Dia sekali lagi merapalkan mantera, lalu keluarlah kunci besar bercahaya dan masuk menembus kedua lengannya yang tak bisa di gerakkan itu, dan seketika tangannya kembali berfungsi lagi.


“Aku hanya bisa melakukan serangan jarak jauh kali ini. Karena jika aku sampai tertangkap lagi, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku. Serangannya sangat mematikan.” gumam Rheva bersiap melakukan serangan jarak jauh.


Dirga bangun lalu mengambil pohon tumbang di belakangnya dan melemparnya ke arah Rheva. Gadis itu menggunakan kekuatan sihirnya lagi untuk menghalau tiga pohon besar yang mengarah padanya.


“Api pelahap massal... !” kobaran api muncul di udara dan langsung melahap tiga pohon tadi dan menjadikannya abu.


Di saat perhatian Rheva teralihkan pada pohon tadi, Dirga mengambil kesempatan dan bergerak cepat. Dia berhasil meraih tubuh gadis itu yang terlambat menyadarinya dan lengah. Anak itu pun mencengkeram leher Rheva.


Dirga menatap kosong gadis itu. Sinar pekat di kedua matanya terasa panas bagi Rheva. Dia lalu memegang wajah anak itu dan menutup kedua matanya karena tak tahan dengan kekuatan mata itu.


Dirga melepaskan tangannya dari leher Rheva dan membuat gadis itu menapakkan kakinya kembali ke tanah. Gadis itu mengira jika Dirga sudah sadar, namun dugaannya salah besar.


Saat Dirga membuka matanya kembali, terlihat kemarahan meluap dari anak itu. Sinar violet di kedua matanya semakin pekat dan dia kembali meraih tubuh gadis itu dan akan melancarkan serangan lagi.


Rheva mulai pasrah dan menerima serangan anak itu. Yang bisa dilakukannya hanya terus memanggil namanya dan terus memegang wajahnya. Dia memutar otak mencari cara bagaimana menyadarkan anak itu.

__ADS_1


Saat Dirga akan kembali menggunakan teknik krav maganya pada gadis itu, Rheva memberanikan diri dan nekat mendekatkan bibirnya dan mencium bibir anak itu. Dirga menghentikan serangannya. Dia merasakan ciuman itu dan membuatnya teringat pada sesuatu.


Rheva yang merasa Dirga tak melakukan perlawanan, memperdalam ciumannya hingga membuat anak itu merengkuh pinggang rampingnya.


“Rasa ini...aku pernah merasakan kelembutan ini...” guman Dirga dalam hatinya lalu muncullah sosok Rheva di mata nya. Kesadarannya berangsur-angsur pulih dan saat matanya kembali normal dia benar-benar melihat sosok itu di depannya. Dia yang masih rindu dengan rasa lembut itu tak sadar ingin merasakannya lagi saat gadis itu mengakhiri ciuman.


Dirga meraih tubuh gadis itu dan mencium bibirnya. Setelah kesadarannya pulih dia mengakhiri ciumannya itu.


“Rheva... kenapa kau... apa yang ku lakukan padamu...” melepas tangannya dari pinggang gadis itu lalu memegang bibirnya karena merasa malu telah ******* bibir gadis itu.


Gadis itu langsung mundur begitu Dirga sadar. Dia juga merasa malu dan wajahnya merona. Namun dia pura-pura melupakan kejadian barusan


“Huft...syukurlah kau sudah sadar.” ucap gadis itu mengeluarkan nafas lega dan terjatuh saat mundur menghindari Dirga yang mendekatinya.


“Bruk...” suara Rheva jatuh dan terjengkang. Dirga menghampirinya lalu melihat beberapa bagian dari tubuh gadis itu terluka. Dia mengulurkan tangannya lalu menariknya agar berdiri.


“Apa kau terluka ? Apa yang ku lakukan padamu ?” melepaskan tangan Rheva setelah berhasil membantu gadis itu berdiri. Gadis itu tampak kesal melihat tampang innocent Dirga.


“Apa yang kau lakukan pada ku ? Apa kau tak ingat semua luka di tubuhku ini ulah siapa ?” tanyanya dengan kesal lalu pergi meninggalkan anak itu. Dirga yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya jadi bingung melihat gadis itu marah.


“Jadi maksud mu aku yang membuat mu jadi begini ?” tanyanya sambil mengingat apa yang sudah ia lakukan. Dan hanya ciuman itu saja yang dia ingat yang membuatnya bertanya-tanya apakah gadis marah karena dia sudah menciumnya. Dia lalu mengejar dan menghentikan gadis itu.


“Apa kau marah karena aku...” Dirga tidak melanjutkan ucapannya dan menyentuh bibir Rheva. Gadis itu merasa malu dan menampik tangan Dirga.

__ADS_1


“Baiklah... aku akan menebus semua salahku padamu...” memegang tangan Rheva agar tidak pergi lagi darinya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2