Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 125 Berlatih Pedang


__ADS_3

Lin Han masih kembali diam dan memanggang babi hutan. Dia tidak menganggap serius perkataan Dirga. Karena tak semua orang berani dan berhasil masuk ke sana, mungkin juga itu berlaku pada dirinya.


“Hey... aku serius... aku tidak bercanda. Jika kau tahu lokasinya maka tolong tunjukan tempat itu padaku.” ucap Dirga lagi saat melihat lawan bicaranya tidak menganggapnya serius.


Lin Han tidak menanggapi perkataan Dirga, dia menyisihkan babi hutan yang sudah matang dan kembali memanggang babi hutan lainnya untuk dimakan bersama nanti.


“Hey bung... bisakah kau sedikit serius ?” tanya Dirga kembali karena merasa lelaki itu cuek padanya.


“huft...”Lin Han menghembuskan nafas lalu menatap Dirga.


“Kau yakin mau ke sana ? Bagaimana kalau kau tidak bisa kembali ?” tanya Lin Han lagi namun Dirga tetap teguh pada pendiriannya.


“Ya aku yakin aku bisa mengambil embun es abadi di sana dan kembali dengan selamat.” jawabnya tegas dan mantab yang membuat Lin Han hanya bisa menggelengkan kepala saja melihatnya keras kepala.


“Baiklah aku akan tunjukkan tempat itu padamu nanti tapi sekarang kau harus lebih kuat dari sebelumnya. Setidaknya kau harus bisa bermain pedang.” ucap Lin Han. Dirga tampak tertegun mendengar kata lelaki itu barusan.


Aroma daging panggang yang matang terasa harum dan menusuk hidung. Lin Han dan Andrew yang ada di sana tergoda untuk menyantapnya.


“Bermain pedang ? Itu.. satu-satunya hal yang aku tidak bisa.” ucap Dirga kemudian pada Lin Han dan ikut menyantap daging panggang itu. Lin Han sesekali melempar senyum ke arah Dirga sambil makan daging panggang.


“Berarti kau sama saja dengan mengantarkan nyawa mu pergi ke sana jika tak punya keahlian pedang.” jawab Lin Han dengan entengnya.


Mata Lin Han tertuju pada pedang sebuah yang tergantung di leher Dirga.


“Apa yang ada di leher mu itu adalah pedang penghancur jiwa ?” tanya Lin Han saat menatap liontin berbentuk pedang yang bersinar seperti pedang penghancur jiwa.


Dirga mengangguk sambil memegang pedang penghancur jiwa dan melihat wajah lelaki itu yang tampak terkejut.

__ADS_1


“Bagaimana bisa kau memiliki pedang legendaris itu... bahkan pemimpin kami pun tak mempunyai pedang itu.” ucap Lin Han yang masih tak percaya pada apa yang dilihatnya.


“Sebenarnya ini... adalah pemberian dari orang tuaku.” ucap Dirga lagi yang membuat Lin Han semakin terkejut dan takjub padanya.


“Jadi... jadi kau adalah keturunan dari keluarga Roussel yang selama ini di cari untuk melenyapkan Arthur dari muka bumi selamanya ?!” tanya Lin Han lagi dan Dirga hanya mengangguk lagi menatapnya.


“Lalu apa kau tahu siapa yang bisa mengajariku keterampilan berpedang ?” tanya Dirga pada Lin Han barangkali saja dia mengetahuinya.


“Kalau soal keterampilan berpedang itu gampang sekali. serahkan saja itu padaku. Hmm... tapi sekarang aku mau menyantap ini dulu.” ucap Lelaki itu sambil mengambil daging panggang dan segera menyantapnya.


“Oh... benarkah kau mau melatihku menggunakan pedang ? Aku senang sekali mendengarnya...” balas Dirga sambil tersenyum lebar pada Lin Han.


Beberapa saat kemudian tim dua dan tim satu kembali kau dan di mana tempat mereka bersembunyi sebelumnya. Dari luar hutan mereka mencium aroma harum yang menggoda perut mereka.


“Tepat sekali di saat kita sedang kelaparan mereka sedang menyiapkan makanan untuk kita.” ucap Edie pada rekan lainnya sambil tertawa lebar. Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam hutan dan bergabung dengan yang lainnya.


“Hey Lin Han aku melihat para tahanan yang berada di kaki gunung sana diperlakukan dengan tidak manusiawi. mereka sering mengalami siksaan dan menjalani kerja rodi untuk membangun benteng.” ucap Edie menjelaskan yang dia ketahui pada Lin Han dan semua yang ada di sana.


“Sudah kuduga para tahanan akan di perlakukan seperti itu.” jawabnya lalu beralih menatap tim dua. Rudolf sebagai pemimpin tim dua segera melaporkan apa yang dia temukan.


“Kami menemukan banyak jalan yang bisa dijadikan sebagai jalur untuk melarikan diri. Ada lebih dari tiga titik yang bisa kita jadikan akses untuk kabur dari tempat ini. namun sebaiknya kita semua perlu kesana untuk mengejarnya lagi dan memilih jalur mana yang paling aman untuk kabur dari sini.” ucap Rudolf menjelaskan panjang lebar pada Lin Han dan semua rekan yang ada di sana.


“Bagus... ku rasa operasi penyelidikan kalian semua sangat bermanfaat. Kita akan segera mengecek lagi dan menyusun rencana setelah ini.


Satu hari telah berlalu. Keesokan paginya mereka kembali mengadakan diskusi membahas rencana apa selanjutnya yang akan mereka lakukan. Banyak dari mereka yang memberikan usul terkait rencana selanjutnya.


Sementara yang lain melakukan diskusi, beberapa dari mereka berjaga di sekitar hutan untuk mengantisipasi serangan mendadak jika musuh mengetahui keberadaan mereka. Sedangkan lainnya ada yang berlatih.

__ADS_1


Lin Han dan Dirga sekarang sedang berlatih memainkan pedang. Lelaki yang di kenal sebagai raja pedang di Pixy itu mengajarkan permainan pedang pada Dirga.


“Ayo kita mulai latihannya sekarang. Kuharap kau cepat menguasai teknik pedang yang ku ajarkan padamu karena waktu kita tidak lama.” ucap Lin Han pada Dirga.


“Ya aku akan berusaha.” jawab Dirga singkat dan terlihat serius sekarang.


Mereka berdua berdiri berhadapan. Lin Han menarik pedangnya dan bersiap mengayunkannya. Hal yang sama dilakukan oleh Dirga. Dia mengaktifkan pedang penghancur jiwa miliknya. Terlihat seberkas sinar menyala Jingga saat udah itu sudah aktif.


“Trang... !” Lin Han mulai mengayunkan pedangnya dan menebaskan pada Dirga tanpa ragu dan tanpa mengurangi kecepatannya.


Dirga menangkis serangan pedang dari Lin Han. Dengan sekuat tenaga dia menahan serangan Lin Han yang mampu membuatnya terdesak.


“clang... !


Dengan satu ayunan pedang dari line Han membuat pedang yang dibawa Dirga terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah serta pedang yang ada di tangan Lin Han sekarang sudah berada di depan leher Dirga dan bersiap memenggal nya.


“Argh.... !” pekik Dirga menyerah setelah mendapat satu kali serangan dari Lin Han.


Lin Han menarik kembali pedangnya dari leher diri Dirga setelah mendengar anak itu menyatakan dirinya menyerah.


“Ayo... ini baru permulaan, kau sudah menyerah ? Bagaimana bisa kau akan menghadapi lawan mu di lembah kegelapan nanti ?!” ucap Lin Han mengayunkan pedangnya lagi dan bersiap menyerang Dirga.


Dirga mengambil pedangnya yang terjatuh dan segera siaga menerima serangan yang dilancarkan oleh Lin Han.


“Aku tidak salah belajar pada orang yang mahir bermain pedang sepertimu.” ucap Dirga sambil tersenyum kecil dan bersemangat mengayunkan pedangnya lagi melawan Lin Han.


“Trang... !” Setelah beberapa kali gerakan, Dirga bisa membaca arah serangan dari Lin Han. Dan kali ini dia bisa menahan serangan lelaki itu meskipun dia masih terdesak oleh serangan tajam dari Lin Han.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2