
Keesokan harinya Elsa mengantar Dirga berangkat sekolah sebelum berangkat kerja. Dia melihat punggung anaknya masuk ke kelas sampai menghilang dan berdiri di dekat mobil. Setelah tak terlihat sosok anaknya barulah dia melangkahkan kaki menuju ke ruang guru untuk menemui wali kelas, menanyakan dugaanya secra diam-diam tanpa sepengetahuan anaknya setelah melihat kejadian sebelumnya.
Di ruang guru, Elsa bicara dengan wali kelas Dirga, Bu Lily dan menanyakan kecemasan yang menimpa anaknya. Dia tak bisa bicara lama karena terbentur dengan jam kerja. Kadi dia langsung bicara ke inti permasalahannya.
“Bu Lily maaf bertanya. Kemarin itu Dirga saat pulang tidak seperti biasanya. Dia pulang dengan baju yang kotor juga di ikuti oleh beberapa anak yang mengejarnya dengan membawa kerikil. Tetapi dia bilang tidak terjadi apa-apa padanya. Apakah terjadi sesuatu padanya, Bu? Tolong di jelaskan.” tanya Elsa dengan tidak sabar sambil menatap jam tangan di pergelangan tangan kanannya.
“Begini Bu Elsa sebenarnya beberapa waktu lalu ada kejadian di kelas di tengah pelajaran.....” Bu Lily menjelaskan kejadian dari awal di kelas dan kejadian setelah peristiwa itu sampai hari ini yang telah membuat Dirga menjadi terkenal di sekolah dan mendapat bully-an karena hal itu.
Elsa mendengarkan penjelasan dari Bu Lily dengan seksama dan membuat dirinya tak terima mendengar perlakuan para murid lainnya pada Dirga. Namun Bu Lily berpesan padanya untuk tidak khawatir karena berada dalam pengawasannya, sehingga Dirga tidak akan mendapatkan perlakuan seperti itu lagi dari siswa lainnya.
Setelah mendapatkan cukup penjelasan dari Bu Lily, Elsa segera berpamitan karena harus segera berangkat kerja.
Beberapa hari berlalu, namun Dirga masih mendapatkan perlakuan yang sama dari teman-temannya meskipun para murid sudah mendapatkan pengarahan dan peringatan dari guru agar tidak mem-bully Dirga hanya saja perlakuan itu sedikit berkurang. Setidaknya mereka tidak menyakiti melalui tindakan fisik.
“Lihat itu dia kan anak yang aneh tempo hari itu?” ucap seorang anak lelaki yang berjalan melewati Dirga pada teman di sebelahnya.
“Iya benar, wah bisa-bisa nanti dia bilang ada roh di sebelah ku.” berkata sambil tertawa mengejek menatap Dirga lalu berlalu meninggalkannya.
Dirga yang merupakan anak autis tak punya rasa emosi dan dendam pada para temannya yang memperlakukan dirinya begitu,hatinya bersih. Malah Raneea yang selalu tidak terima dirinya mendapat perlakuan seperti itu.
Suara tawa anak yang mengejeknya tadi masih terngiang di telinga Dirga dan nampak raut kesedihan di wajahnya yang di ketahui oleh Raneea.
__ADS_1
“Sudahlah, ayo kita masuk ke kelas. Biarkan saja mereka. Nanti juga akan capek sendiri membicarakan mu.” hibur Raneea agar anak itu tak bersedih. Selama ini hanya Raneea teman satu-satunya Dirga dan yang selalu menghiburnya saat dia merasa sedih katena perlkakuan para teman-temannya.
Tak terasa dua tahun telah berlalu. Hari-hari Dirga yang terasa menyedihkan karena aksi bully dari teman-temannya tak lagi terasa pilu dengan hadirnya Raneea yang selalu mengisi harinya dan menyemangatinya, membuat hatinya bertambah kuat dan tak mempedulikan rasa sakit pemberian teman sekolahnya.
Elsa pun yang semula berniat untuk memindahkan Dirga ke sekolah lain, mengurungkan niatnya itu karena sealu melihat wajah Dirga yang selalu tampak ceria setiap pulang sekolah meskipun beberapa kali dia melihat ada beberapa anak yang masih suka mengejek putranya saat dia lihat dari depan gerbang sekolah. Dia masih mentolerirnya, jika aksi yang di lakukan para temannya lebih parah dari sebelumnya, maka ia tak ragu dan tak segan akan memindahkan Dirga ke sekolah lain meskipun anaknya nanti tidak mau pindah sekolah.
Beberapa hari kemudian di siang hari yang terik di musim panas.
Raneea keluar dari kelas. Saat itu ada kegiatan hari peringatan kemerdekaan di sekolah dimana akan di adakan acara berbagai lomba yang akan di selenggarakan dua hari lagi. Jadi para murid sibuk mempersiapkan berbagai hal, mulai dari memasang atribut bendera negara mengelilingi sekolah juga persiapan lainnya.
Dia berjalan dengan bersenandung di tengah keramain. Dari kejauhan ada beberapa anak yang berjalan ke arahnya membawa sekotak bola kasti. Di belakang anak tadi ada sekelompok anak yang berlarian dan tidak sengaja menabrak gadis di depannya.
“Oups.... hampir saja.” ucap Raneea menahan tubuhnya yang hampir jatuh karena ada bola kasti yang meluncur di dekat kakinya.
“Kau tak apa?” tanya Dirga yang melihat ada seorang anak lelaki yang berjalan dari samping kiri dan terpeleset karena menginjak bola yang meluncur ke arahnya.
“Bruk...” sontak saja dengan jatuhnya anak lelaki tadi, Raneea juga ikutan jatuh.
“Maaf...” ucap anak tadi berdiri dan membantunya berdiri. Setelah melihat Raneea yang baik-baik saja, dia pun berlalu pergi meninggalkannya.
“Ayo kita pergi...” Dirga melangkahkan kakinya namun ia menoleh ke belakang dan melihat temannya itu tak kunjung jalan, malahan dia sibuk mencari sesuatu.
__ADS_1
“Ada yang hilang? Biar ku bantu mencarinya.” Dirga kembali dan menghampiri Raneea yang masih sibuk mencari sesuatu dan ikut mencarinya. Dia masih belum tahu apa sebenarnya yang di cari gadis kecil itu. Namun dia melihat benda yang bersinar di dekat tanaman di dekatnya.
“Apa ini ya...” memungut bros berwarna emas yang berbentuk pedang yang terliliti dedaunan dan membaliknya. Ada sebuah tulisan bahasa asing di baliknya yang kemudian menyebar ke angkasa terkena sinar matahari, seketika langit berubah gelap dan angin berhembus kencang.
“Gawat... cepat kembalikan itu padaku.” kata Raneea sambil mengambilnya dari tangan Dirga. Ia lalu seperti merapal sebuah mantra yang membuat langit dan bumi gelap tadi berangsur kembali menjadi cerah serta angin sudah tidak berhembus kencang lagi.
“Ayo pergi dari sini.” Dia menyematkan bros itu secepat mungkin lalu segera pergi seperti ketakutan.
Dirga yang penasaran dan belum sempat bertanya tentang be da tadi segera ikut berjalan mengikuti Raneea pergi. Dan dia tak pernah tahu benda apa sebenarnya benda tadi.
Satu bulan kemudian...
Saat pulang sekolah Raneea yang berjalan di samping Dirga menarik tangannya agar berhenti berjalan. Ia memandang Dirga dengan tersenyum namun raut wajahnya nampak sedih.
“Ada apa dengan mu? Ada apa, kenapa kau tampak murung?”
“Tidak... tak ada. Sayang sekali aku harus pergi karena suatu hal. Jaga dirimu baik-baik, Dirga.” memegang tangan Dirga dengan mata sedikit berair.
“Kau mau kemana? Jangan bilang kau mau...” menarik tangan Raneea yang melepaskan genggamannya. Namun dia terus berlari meninggalkan Dirga karena dia tak bisa menahan bulir air matanya yang mulai menetes. Dia menghilang dari hadapan Dirga dengan beberapa bayangan hitam yang mengejarnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1