Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 41 Pindah Sekolah


__ADS_3

“Dirga...! Kau kenapa nak ?” menghampiri anaknya dan langsung mengankat tubuhnya lalu membaringakn ke tempat tidurnya. Raut muka yang cemas terlihat jelas dari wajahnya.


“Bangun nak...”mengguncang tubuh anaknya, namun tak ada respons. Ia pun segera keluar mengambil minyak dan barang lainnya dari kotak P3K yang bisa di gunakan untuk menyadarkan anaknya. Dia mengoleskan minyak berbau tajam di hidungya. Beberapa saat kemudian Dirga siuman.


“Ayah...kenapa ayah disini ?” menatap wajah ayahnya yang tampak cemas dengan bingung lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


“Apa yang terjadi pada mu ?” menaruk minyak ke meja setelah Dirga sadar.


“Aku tidak tahu ayah. Aku tidak tahu... aku mencoba mengingat-ingat satu per satu teman ku dan tiba-tiba kepala ku pusing hebat. Apa aku punya teman seorang gadis? Katakan ayah, apa aku melupakan sesuatu ?” menatap mata ayahnya lekat-lekat.


“Itu... itu... kau tidak punya teman seorang gadis nak.” jawab Hadwan gelagapan.


“Sudah larut nak, lebih kau tidur. Besok kau masuk sekolah. Jangan sampai terlambat.” buru-buru pergi lalu menyelimuti tubuh Dirga dan keluar dari kamar itu.


“Tunggu ayah...! Ayah tidak menyembunyikan sesuatu dari ku kan? Tak ada yang ayah sembunyikan atau tutupi dariku kan ?” membuat ayahnya berhenti dan berbalik padanya.


“Ten... tentu saja ayah tidak menyembunyikan sesuatu dari mu, nak. Kau bisa tanya pada mama mu. Sudah larut, ayah mau kembali tidur. Besok saja kita bahas.” menutup pintu kamar Dirga lalu menghapus keringat dingin di wajahnya.


Mentari pagi datang di sambut oleh kokok ayam yang bersahutan membangunkan Dirga yang tertidur lelap. Tidur yang sangat lelap, lebih lelap dari biasanya. Dia segera membuka matanya yang terasa masih berat, merapikan tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah.

__ADS_1


“Mama... ayo berangkat... ayo ma, nanti akan terlambat.” Dirga menunggu mama di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Elsa keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri anaknya. Dia melihat seuntai senyum dari bibir anaknya yang sudah satu bulan lebih tak pernah merekah, kini kembali menghiasi wajahnya.


“Sepertinya kau sudah kembali seperti sedia kala, nak. Semua kembali seperti biasanya.” membalas senyuman Dirga dan berjalan menuju ke mobil. Ia merasa senang karena masalah sudah teratasi, tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.


Di sekolah Dirga masuk ke kelas seperti biasa dan duduk di tempat duduknya seperti biasa. Dia melihat kursi kosong di sebelahnya. Tiba-tiba dia jadi murung tanpa bisa di jelaskan. Ada rasa familiar saat menyentuh bangku di sebelahnya itu dan peesaan sedih yang tak bisa di definisikan.


“Hei apa yang kau lihat ?” tanya anak lelaki yang duduk di barisan sebelah kirinya dengan senyuman menghina. Dirga kemudian beralih menatap anak tadi tanpa berucap sepatah kata pun.


“Apa kau mau duduk di sebelahku ? Jangan harap ya. Kursi kosong di sebelah ku ini hanya untuk Vita. Dia tidak masuk hari ini dan besok masuk. Dasar payah kau...” menunjuk kursi kosong di sebelah kanannya. Dirga tidak menggubris perkataan temannya itu. Siapa juga yang mau duduk dengannya. Baginya selama ini dia selalu sendiri, tak ada teman di dekatnya. Jadi dia juga tidak mengharapkan ada seseorang uang mau berteman dengan dirinya yang autis.


“Whoosh...” suara angin masuk dari jendela kelas. Bersamaan dengan itu Kevin masuk dan duduk di kursi kosong di sebelah Dirga.


“Dia... teman... jadi aku memang punya teman ? Siapa dia, siapa namanya ?” tanyanya penasaran yang membuat Kevin ganti bingung mendengar pertanyaannya.


“Temanmu... gadis itu... si Raneea. Apa kau lupa ?” jawaban dari Kevin membuatnya yakin bawha dia memang punya seorang teman sebelumnya. Tapi kenapa dia sama sekali tak ingat dan bahkan tak ada satupun memori yang dia ingat tentang gadis itu. Bagaimana penampilan fisiknya sikapnya dan lainnya, dia sama sekali tidak tahu.


“Ceritakan padaku tentang anak itu.” pinta Dirga pada Kevin dan sesekali menatap ke papan tulis karena pelajaran masih berlangsung. Kevin mendekati Dirga tapi dia merasakan ada energi panas dari tubuh anak itu.


“Arghh....aku tidak tahan berada di dekat mu lama-lama. Lepaskan pelindung itu dari tubuhmu !” teriak Kevin yang merasakan tubuhnya mulai panas lalu dia menghilang sebelum tubuhnya terbakar.

__ADS_1


“Whoosh....” Kevin menghilang tanpa jejak. “Tunggu jangan pergi ! Kau belum cerita padaku.” melihat angin yang berhembus ke luar jendela bersamaan dengan perginya Kevin. Dia lalu memegang kalung di lehernya.


“Apa ini yang di maksud pelindung oleh Kevin ?” gumamnya yang baru tahu manfaat dari kalung yang dia pakai itu.


“Teng... teng... teng...” bel berdentang yang menandakan pelajaran sudah usai hari itu. Semua anak berhamburan keluar dari kelas termasuk Dirga yang memilih keluar terlahir karena malas bicara dengan teman-teman sekelasnya.


“Ayo masuk...” Elsa membuka pintu dan Dirga langsung masuk lalu duduk di depan. Dia masih memikirkan perkataan Kevin. Apa benar dia punya teman bernama Raneea.


“Ma... mama tahu teman ku yang bernama Raneea tidak ? Apa benar dia adalah teman ku...” tanyanya dengan polos dan rasa ingin tahu pada mamanya. Seketika raut wajah Elsa berubah jadi pucat. Dia tidak tahu kenapa anaknya bisa mengingat kembali nama itu, padahal kata master Ah tong hipnosin kapan lalu itu berhasil.


“Mama tidak pernah tahu kau punya teman itu. Sudah jangan di bahas lagi. Mama tidak mau kau bertanya itu lagi.” wajahnya berubah dari yang semula pucat menjadi geram. Dirga yang tahu mama marah, tidak berani bertanya lebih lanjut lagi.


Keesokan harinya di sekolah dia kembali melihat kursi kosong di sebelahnya. Dia memikirkan kembali nama itu dan berusaha keras mengingatnya. Namun lagi-lagi dia merasakan kepalanya pusing sekali. Dia lalu berdiri dan berjalan menghadap Bu Lily untuk izin ke toilet. Namun belum sempat dia mengutarakan maksudnya. Kepalanya semakin pusing dan dia tidak kuat lagi sampai akhirnya terjatuh.


Bu Lily yang melihatnya jatuh langsung membawanya ke UKS. Kemudian dia menelepon Elsa menyampaikan kejadian barusan.


Satu mingu berturut-turut Dirga sering pingsan di kelas tanpa sebab. Elsa yang kembali mendapat laporan dari Bu Lily menjadi sangat cemas sekali. Dia tidak ingin anakanya mengalami kejadian itu lagi. Untuk meminimalisir dan menghindari kejadian yang sebelumnya terulang lagi, ia memutuskan untuk memindah sekolah anaknya ke sekolah lain agar kenangan itu tidak mengganggu anaknya lagi.


Dirga yang mengetahui mamanya akan mencarikan sekolah baru untuknya, menolak untuk pindah. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa harus mengikuti keinginan mama dengan berat hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2